TANTRA

TANTRA
Bab 33


__ADS_3

Laura pergi dengan penuh emosi. Dengan terpaksa ia harus memesan taksi untuk sampai ke Plaza H.


Begitu sampai di lobby Plaza, Laura menghubungi Mike. Ia  meminta Mike untuk menghampirinya. 


Mike berjalan ke arah lobby. Tanpa sengaja ia menyenggol seorang perempuan tua yang sedang berjalan pelan. Ibu tua itu marah dan melontarkan omelan-omelan kepada Mike.


Mike yang tidak ingin terlibat masalah pun sengaja berbicara menggunakan bahasa inggris supaya ibu itu tau bahwa Mike tidak mengerti apa yang ia ucapkan dan berhenti memarahinya.


Mike berusaha meminta maaf menggunakan bahasa inggris namun ibu itu tetap tak berhenti bicara dan terus memarahi Mike.


Hingga seorang gadis muda datang menyelamatkannya. Gadis itu meminta maaf dengan menggunakan bahasa indonesia. Gadis itu menuturkan permohonan maaf mewakili Mike dan menjelaskan dengan sikap santun dan sopan.


Ibu tua itu pun berhenti marah dan meninggalkan mereka berdua. Mike sangat berterimakasih pada gadis itu. Ia menjabat tangan tangan si gadis dan mengucapkan terimakasih. Mike pun memperkenalkan dirinya.


"Hi, I'm Mike, Mike bourdon!" Mike lalu bertanya pada gadis itu. "You are… a doctor?"


"Yes, I'm. How do you know?" Tanya gadis itu balik.


"Your coat!" Mike menunjuk jas putih yang tergantung di tas gadis itu. "Itu snelli kan?"


Gadis itu kaget mendengar Mike bisa berbahasa Indonesia. "Hei, kamu bisa bahasa Indonesia?"


Mike lalu menjelaskan kejadian tadi dan alasan kenapa ia tidak menggunakan bahasa Indonesia saat berhadapan dengan ibu tua tadi.


Gadis muda itu tersenyum. Merasa apa yang dijelaskan Mike adalah suatu hal yang lucu.


"Senyum yang indah."


Seketika gadis itu terdiam begitu mendengar ucapan Mike.


"Maaf. Tapi aku benar kan? Senyum anda begitu indah. Oh iya, saya belum tau nama anda." Sekali lagi Mike menjulurkan tangannya.


"Rania!" Gadis itu menerima uluran tangan Mike.


Perkenalan singkat itu cukup untuk membuat Mike senang. Mike adalah seorang pecinta wanita. Tak jarang ia tebar pesona pada wanita-wanita yang menarik hatinya.


Mike bergegas menuju lobby. Ia tak ingin Laura menunggunya lama. Ia menghampiri Laura yang sedang berdiri dengan melipat kedua tangannya di depan dada.

__ADS_1


"Hi sweety!" Mike mencium pipi Laura.


"Mana orangnya? Bisnis apa yang ia tawarkan?" Tanya Laura.


Laurang langsung pada inti tujuannya yakni bertemu teman Mike yang menawarkan bisnis padanya. 


Mike mengajak Laura ke coffee shop untuk bertemu temannya. Mike membuka kursi dan mempersilahkan Laura duduk. Mereka sedang berhadapan dengan teman Mike yang memiliki bisnis di bidang food and beverage (F&B).


"Temanku ini sedang mengembangkan bisnisnya. Dia sudah mempunyai 5 kedai kopi di kota ini. Rencananya ia akan menambah gerai di kota kembang. Kita hanya perlu menginvestasikan 500 juta." Mike terus berusaha meyakinkan Laura supaya mau menginvestasikan uangnya untuk modal kedai tersebut.


"Tapi Mike, aku tidak bisa." Laura menolak.


Mike semakin gencar untuk merayu Laura. Ia tak ingin investasi kali ini lepas.


"Sorry Mike. I can't. I have no money." Laura berterus terang pada Mike namun ucapannya tetap tidak dipercaya. 


Laura adalah putri seorang pengusaha terbesar di negeri ini. Itu yang Mike tau. Tidak mungkin seorang Laura Ardikusuma tidak punya uang.


Laura tetap pada pendiriannya. Ia tidak akan menginvestasikan uangnya dan Mike terus saja merayunya. Mike bahkan tidak sungkan untuk mengecupnya.


Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang mengamati mereka dari luar coffee shop.


Rania?


Kali ini Laura merasakan sesak di dadanya. Suaminya menolak untuk mengantarnya tapi malah bertemu dengan Rania di tempat yang sama.


Jadi untuk ini dia habiskan uang Papa?


Laura kembali masuk ke coffee shop. Ia memutuskan untuk mengamati pasangan dengan status sahabat dari coffee shop yang terletak persis di seberang kedai tersebut.


Laura memperhatikan dengan seksama. Ia mengabaikan suara Mike yang belum menyerah dan terus merayunya.


Rupanya Tantra hanya makan setelah itu ia pergi meninggalkan Rania sendiri di kedai tersebut. Ketika langkah Tantra sudah cukup jauh dari kedai tersebut, Laura bergegas masuk dan menghampiri Rania. Tentu saja dengan Mike yang terus mengekor di belakangnya. 


"Ehem… boleh duduk disini?" Laura bertanya sambil menarik kursi yang tadi dipakai Tantra.


"Silahkan Nona Laura dan Tuan Mike." Rania tersenyum ramah pada kedua pasangan di depannya.

__ADS_1


Laura melihat Mike dan memintanya untuk pergi. Mike ingin menolak, tapi melihat wajah Laura yang serius dan menatapnya tajam, sepertinya lebih baik ia menuruti kekasihnya itu.


Kini Laura duduk berhadapan dengan Rania. Inilah saatnya Laura berbicara serius dengan Rania.


Namun belum sempat terucap satu katapun dari mulut Laura, ia sudah diserang pertanyaan dari Rania.


"Jadi itu kekasihmu? Siapa namanya? Mike? Mike bourdon?" Rania mencecar pertanyaan.


"Jadi Tantra sudah menceritakannya?" Sahut Laura. "Ah ya! Sahabat adalah tempat berbagi kisah!" 


"Meskipun kamu tidak mencintainya, setidaknya kamu bisa menjaga namanya. Bagaimana jika kolega bisnisnya melihat kamu bermesraan dengan Mike? Yang mereka tau, kamu itu istri Tantra!" Dengan bijak Rania mencoba memberi saran namun terdengar seperti sebuah omelan.


"Bermesraan?" Tanya Laura.


"Aku melihatnya Laura!" Sahut Rania.


"Apa yang aku lakukan, itu bukan urusanmu, sahabat suamiku!" Laura mengucapkannya dengan tegas.


"Apapun yang menyangkut Tantra adalah urusanku karena aku-" ucapan Rania terjeda.


"Sahabat! Sekeras apapun kau mencintainya, Tantra hanya menganggapmu sebagai sahabat! Aku tau dari pandangan matanya. Cara Tantra memandangmu tak ubahnya seperti dia memandangku. Tak ada yang istimewa dari hubungan kalian berdua. Yang berbeda hanyalah cara kamu memandangnya. Penuh Cinta!" Ujar Laura tanpa jeda.


Rania tersentak. Perkataan Laura ini membuat tenggorokannya tercekat sampai sulit untuk berkata-kata.


"Dari pada sibuk menasehatiku, lebih baik kau nasehati hatimu! Kedatanganmu kesini untuk mendapatkan hati Tantra kan?" Laura melipat tangannya di depan dada dan bersandar pada sandaran kursinya. "Sepertinya kau harus bekerja keras Nona Rania!" 


"Tantra tak akan pernah mencintaimu karena sudah ada wanita yang merebut hatinya! Tantra bersamamu hanya karena sebuah tanggung jawab!" Seru Rania.


"Setidaknya itu cukup untuk menahan Tantra terus bersamaku! Dan," Laura mencengkram pinggiran meja dengan badan yang condong ke arah rania. "Mustahil kau bisa merebutnya dariku!" Laura berdiri hendak pergi meninggalkan Rania. Namun ucapan Rania membuatnya terhenti.


"Kenapa kau lakukan ini?" Tanya Rania.


Laura memalingkan wajah ke arah Rania. "Melakukan apa?" Sahut Laura.


"Menemuiku dan mengatakan semuanya. Apa kau mulai mencintainya?" Ucapan Rania ini membuat Laura tersentak.


Tidak! Aku tidak mencintainya! 

__ADS_1


Laura lebih memilih untuk mengabaikannya dan meninggalkan Rania.


__ADS_2