
Sepasang suami istri tanpa cinta lagi-lagi berada dalam satu sofa yang sama dengan kesibukan yang berbeda.
Tantra berkutat dengan laptopnya dan Laura yang sedang asyik ngobrol lewat sosial media bersama teman-temannya.
Tantra menutup laptopnya. Ia telah selesai memeriksa semua laporan yang masuk melalui emailnya. Ia beranjak dari sofa.
"Apa kau tidak lapar?" Tanya Tantra.
Jemari Laura yang sedang asyik mengetik pun terhenti. Ia menatap suaminya. "Apa ada makanan?"
Tantra memberi kode melalui gerakan kepalanya. Meminta istrinya untuk mengikutinya ke dapur.
"Coba lihat apa yang bisa kita masak!" Perintah Tantra ini langsung dilaksanakan oleh Laura.
Laura membuka laci tempat penyimpanan makanan. Hanya ada tuna, sarden dan beberapa makanan kaleng. Selain itu Laura hanya melihat mie instan dan beberapa pasta.
"Heran! Dokter kok nyimpennya makanan kalengan! Instan semua lagi! Gak ada pedulinya sama kesehatan!" Laura menggerutu sambil mencari makanan lain yang bisa dimasak.
"Aku bukan dokter! Menyinggungnya kesana terus! Coba lihat di lemari es!" Jawab tantra ketus.
Laura membuka lemari pendingin dan menemukan beberapa frozen food. Laura mengambil kebab dan kentang goreng. Sambil menunggu makanan beku itu, Laura mengambil buah-buahan yang ada di kulkas. Laura mengambil semangka.
Ukurannya yang cukup besar membuat Laura berpikir harus menggunakan pisau besar dan tenaga ekstra untuk memotongnya.
Laura membuka laci dan mengambil pisau yang paling besar. Pisau itu lebih layak disebut kapak kecil. Laura mengerahkan seluruh tenaganya. Ia mengangkat pisau itu dan menghantamkan tepat diatas semangka.
BRAAAKKKK!!!
Semangka itu menggelinding dan jatuh ke lantai. Bukannya terbelah, semangka itu justru hancur berantakan.
Tantra berdiri di hadapan Laura. Menyaksikan semua tingkah Laura. Ingin marah tapi itu Laura. Istri cantiknya itu memang tak pernah melakukan pekerjaan rumah.
"Upss… Sorry." Ucap Laura sambil tersenyum.
"Tenang Mantra! Aku bertanggung jawab! Aku akan membersihkan ini semua!" Baru mau melangkah namun kaki Laura tergelincir air dari buah semangka. Laura jatuh tepat di depan Tantra.
Beruntung Tantra sigap menangkap tubuh Laura. Ia menahan tubuh istrinya itu dengan tangannya.
Jantung Laura berdegup kencang. Posisinya yang berada dalam dekapan Tantra dengan wajah yang nyaris tanpa jarak membuat debaran di dadanya semakin kencang. Pipinya mulai merona. Laura sudah siap! Ia mulai memejamkan matanya. Bibirnya mulai bergerak bersiap untuk menerima kecupan.
Laura menunggu!
__ADS_1
Kenapa lama sekali?
Laura mencoba mengintip dari celah mata yang sedikit ia buka.
"Apa ciumanku begitu nikmat hingga begitu kau nantikan?" Ucapan Tantra ini berhasil menjadi perusak suasana.
Laura berdiri dan mencoba lepas dari pegangan Tantra. Ia merapikan baju dan rambutnya. "Si-siapa yang minta dicium? Aku hanya pingsan sebentar!" Laura berlalu pergi untuk mengambil alat pel.
Tantra mengangkat kedua sudut bibirnya. Ia merasa sangat gemas dengan istri cantiknya. Egonya sangat tinggi. Tidak akan mudah mengakui perasaannya pada orang lain.
Tantra mulai mengambil alih urusan dapur. Menggoreng kentang dan memanggang kebab. Sementara Laura duduk manis dengan mengupas apel.
Tantra telah selesai. Makanan yang sudah matang itu di taruh di piring saji di atas meja depan Laura. Dahinya mengerut ketika melihat apa yang dilakukan istri cantiknya kali ini.
"Apa yang sedang kamu buat?" Tanya Tantra.
Dengan bangga Laura mengangkat apel yang berhasil ia kupas untuk ditunjukkan ke Tantra. Apel tanpa kulit tidak berbentuk dan hanya tersisa sedikit.
Tantra menghela napas. Sekali lagi, itu Laura.
"Laura, itu apel Malang organik! Kamu tidak perlu mengupasnya. Kulitnya bagus untuk kesehatan tubuh. Kamu tinggal memotongnya saja dan membuang bijinya. Kalau kamu memotong kulit dan daging buahnya seperti itu, apa yang akan kita makan? Bijinya?"
Laura mengerucutkan bibirnya. "Mana kutahu kalau apel ini organik! Aku memang tak bisa mengupas buah! Hanya pisang yang bisa ku kupas!"
Namun Tantra mencegahnya. Tantra menahan lengan Laura dan memintanya untuk duduk.
"Maafkan aku. Aku hanya bercanda. Duduklah. Kita makan bersama!" Tantra berkata dengan lembut.
Lagi-lagi Laura luluh dengan sikap manis suaminya. Laura duduk dan menemani suaminya makan. Mereka mulai berbincang, bercanda bahkan tak sungkan untuk tertawa lepas dengan candaan yang mereka buat.
Apartemen ini mulai terasa nyaman untuk mereka berdua. Laura dan Tantra mulai merasakan bahagianya memiliki teman hidup bersama.
Tantra sedang bersantai dengan ponselnya sambil duduk bersandar di atas ranjang. Sementara Laura masih sibuk mengaplikasikan skin care pada wajahnya.
Tiba-tiba ponsel Laura berdering. Ia beranjak dari meja rias untuk menerima panggilan itu.
Laura memilih untuk keluar kamar karena panggilan itu berasal dari Mike. Ia tidak ingin Tantra mendengar pembicaraannya dengan Mike.
"Hi Mike? How are you?" Sapa Laura.
Mike pun mengungkapkan segala rindunya dan cintanya. Ia meminta Laura untuk datang menemuinya di apartemen.
__ADS_1
Laura sudah lama tidak mengunjunginya di apartemen. Semenjak jatah bulanannya dibatasi, Laura sudah tidak berani menemuinya.
Mike terus mencoba merayu Laura.
"Apakah kamu tidak merindukanku sayang? Atau kamu sudah jatuh cinta pada pria kampungan itu?" Suara Mike dari panggilan telepon.
"Mike please! Pria itu suamiku. Jangan menghinanya." Sahut Laura.
"Sepertinya benar jika kamu mulai mencintainya sayang!"
"Mike! Come on! Baiklah, aku akan ke apartemen besok siang. Tunggu aku disana!"
Laura sengaja menuruti keinginan Mike karena tak ingin perdebatan mereka berlanjut.
Setelah panggilan itu terputus, Laura kembali ke kamar dan duduk di samping Tantra. Laura menatap lekat wajah Tantra. Ia *******-***** jarinya sendiri. Ingin mengungkapkan sesuatu namun ia tidak berani.
"Ada apa?" Tantra bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya. Tantra menyadari tingkah istrinya yang seolah menyimpan sesuatu dan ingin mengatakannya.
Laura mengumpulkan nyali untuk mulai berkata, "Mantra, apa kamu punya uang?"
Dahi Tantra berkerut, keningnya menyatu. Pertanyaan Laura ini berhasil mengalihkan tatapannya dari layar ponsel.
"Berapa yang kamu butuhkan?" Tanya Tantra.
"Emm…" Laura bingung bagaimana mengatakannya.
"Sebenarnya aku butuh 200 juta." Laura mengatakannya masih dengan menundukkan kepalanya.
"Baiklah, besok pagi akan kuberikan bilyet giro padamu." Tantra begitu ringan mengatakannya, membuat Laura membelalak. Ia tak menyangka respon Tantra begitu datar.
"Apa kamu tidak bertanya untuk apa uang itu aku gunakan?" Tanya Laura dengan tatapan keheranan.
"Untuk apa?" Tantra bertanya untuk menuruti pertanyaan Laura.
"Tidak! Lebih baik kamu tidak bertanya. Aku akan mengganti uang itu saat aku sudah punya uang sendiri." Jawab Laura.
"Kamu tidak perlu menggantinya! Sudah tanggung jawabku untuk memenuhi semua kebutuhanmu. Asal uang itu kau gunakan untuk keperluanmu, kamu tidak perlu menggantinya." Jawab Tantra.
Laura terdiam. Laura berniat memberikan Uang tersebut untuk Mike karena bulan ini dirinya belum memberi jatah bulanan kepada Mike.
Tantra meletakkan ponselnya. Ia menarik selimut hingga menutup tubuhnya dan tubuh Laura. Tantra mengusap kepala Laura.
__ADS_1
"Tidurlah! Istirahatkan tubuhmu! Aku harus berangkat pagi besok."
Perlakuan Tantra inj sungguh membuat Laura merasa bersalah. Ia begitu baik tapi Laura masih mencampakkannya dan memilih mike.