TANTRA

TANTRA
Bab 12


__ADS_3

"Selama ini aku berusaha supaya kita bisa segera bersatu. Tapi semua usahaku malah membuat kita berpisah."


Tantra melepaskan pelukannya dari tubuh Syita.


"Sia-sia, harapanku sudah hilang. Semangat Hidupku menghilang."


Tantra menunduk dan bertumpu pada kedua tangannya.


"Apa kamu tidak ingin tau kenapa aku meninggalkan profesi kedokteranku? Kenapa kamu tidak bertanya padaku ?" Meski diucapkan dengan lirih, namun penuh penekanan.


"Mas, aku sudah mengambil keputusan! Apapun alasan yang aku ketahui nantinya, tidak bisa merubah keputusanku! Aku sudah terlanjur menerima lamaran Dito." Masyita menjawab pelan namun penuh dengan tegas.


"Kenapa kamu menerima lamarannya? Karena aku tidak jadi dokter?" Sekali lagi Tantra bertanya.


Syita mengangguk tanda pembenaran. "Selain itu, Dito sudah berkorban banyak untukku. Dia sampai meninggalkan pekerjaannya demi menemaniku dimasa sulitku."


"Yah, itulah perbedaanku dengannya. Aku mencari pekerjaan demi kamu. Dan dia meninggalkan pekerjaannya demi kamu." Tantra menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Mas…" Syita mengusap punggung Tantra.


"Apa kamu mencintainya ?" Tantra lalu menatap wajah Syita dengan intens.


"Aku akan berusaha! Karena aku tahu, Dito adalah pria yang baik."


"Jika suatu saat aku tau dia menyakitimu, aku akan merebutmu kembali darinya. Karna sampai kapan pun aku akan tetap mencintaimu!"


Tantra kemudian beranjak dari duduknya. Ia pergi tanpa pamit pada Syita maupun mamanya.


Dengan menahan rasa yang teramat menyesakkan di dada, Tantra keluar dari rumah itu.


Sendirian di dalam mobil, ia mengendarai mobil itu dengan hati-hati meskipun dirinya diliputi emosi. Karena ia sadar mobil yang ia kendarai adalah milik Rania. Oa harus mengembalikan mobil itu utuh kepada pemiliknya.


Kini mobil itu telah sampai di halaman rumah Rania.


Melihat kedatangan Tantra, Rania langsung turun dari kamarnya di lantai dua dan keluar untuk menemui Tantra. Ia bersiap untuk memberi ucapan selamat kepada Tantra. Karena yang Rania tau, hari ini Tantra melamar Masyita.


tok.. tok..


Tantra bangkit, melepas seatbelt lalu turun dari mobil. berdiri di depannya dengan mata sembab dan wajah yang terlihat sedih. 


"Ada apa Tra?" Tanya Rania.


Tantra meraih telapak tangan Rania. Ia letakkan cicin di tengahnya, lalu ia tutup telapak tangan Rania.

__ADS_1


"Sudah ada cincin yang tersemat dijari Syita. Aku terlambat!" Tantra lalu menempelkan kepalanya di pundak Rania. Tantra menunduk seolah ingin menjatuhkan beban pikirannya.


Rania masih bingung, tidak tau apa maksud Tantra.


"Masyita menerima lamaran Dito! Dia akan jadi istri Dito! Aku kalah Ra! Aku hancur!"


Serasa tidak percaya dengan apa yang telah ia dengar, Rania mencerna perlahan perkataan Tantra lalu melihat cincin ditelapak tangannya.


Rania menepuk perlahan punggung Tantra sambil mengusapnya. Ia kini telah memeluk tubuh Tantra untuk menenangkannya.


Ada sedikit perasaan bahagia di hati Rania. Karena kejadian ini berarti ada kesempatan untuknya bersama Tantra. Meskipun ia sadar bagaimana sulitnya menggeser nama Masyita di hati Tantra.


Namun jika mengingat semua pengorbanan dan ketulusan yang sudah dilakukan Tantra, Rania sangat iba padanya. seperti bisa merasakan sakit dan hancurnya hidup Tantra.


Selesai dari rumah Rania, Tantra langsung pulang ke rumahnya.


"Assalamualaikum." Tantra melangkah masuk ke rumah


Belum sempat bunda menjawab salamnya, Tantra langsung masuk ke kamarnya tanpa memperdulikan apapun bahkan siapapun disekitarnya.


Bunda yang merasa aneh dengan sikap putranya kemudian mendekat ke kamar Tantra. Bunda mengetuk pintu kamar yang sudah dikunci. Namun tidak ada sahutan dari pemilik kamar.


Bunda memutuskan untuk menelpon Rania. Menanyakan penyebab sikap putranya yang tiba-tiba terlihat putus asa.


Rania kemudian menceritakan apa yang telah dialami Tantra. Tanpa sadar air mata bunda menetes di pipinya.


Rania menyanggupi permintaan bunda. Bukan hanya untuk Tantra namun juga untuk memperjuangkan cintanya.


*


Sudah beberapa hari Tantra menyendiri di kamar. Ia tidak masuk kerja bahkan tidak meminta izin atau memberi keterangan apapun ke perusahaan.


Setiap hari Rania berkunjung untuk menghibur dan memberi semangat pada Tantra. Namun semua terasa sia-sia karena Tantra tidak bergeming dari tempatnya.


Tantra masih dalam kesendiriannya. Merasa nyaman hanya dengan menatap langit kamarnya seolah tidak peduli lagi dengan masa depannya, terutama karirnya.


Pekerjaannya ia biarkan begitu saja. Dan itu membuat Emma khawatir. Sudah 3 hari Tantra absen tanpa keterangan. Telepon dari Emma pun tidak dijawab.


Terus menerus merasa khawatir, Emma lalu memutuskan mencari alamat rumah Tantra. Berniat mengunjungi kediaman pujaan hatinya.


Sesampainya di rumah Tantra, ia langsung disambut oleh bunda. Emma lalu mengenalkan dirinya dan menjelaskan bahwa dia adalah atasan Tantra di tempat kerja.


Bunda langusng mempersilahkan Emma masuk dan duduk di ruang tamu.

__ADS_1


Tanpa basa basi Emma langsung menanyakan kabar Tantra dan mengapa dia absen beberapa hari tanpa kabar.


Bunda masih bimbang untuk menceritakan kondisi putranya. Wanita yang ada di hadapannya ini baru ia kenal. Apa pantas ia menceritakan masalah putranya.


Emma meyakinkan bunda kalau tindakan Tantra ini akan berpengaruh buruk untuk karirnya. Padahal prestasi Tantra dinilai memuaskan.


Masih ragu namun bunda memutuskan untuk menceritakan masalah Tantra pada Emma. Perihal putranya yang kehilangan semangat hidupnya karna kandasnya hubungan dengan kekasihnya.


"Masyita?" Emma sangat terkejut mendengar penjelasan Bunda.


"Loh, nak Emma tau tentang Masyita?" Tanya bunda.


Emma menunjukkan wajah bersedih seolah bersimpati pada kondisi Tantra. Namun tidak dengan hatinya.


Seolah ada bunga berkelopak yang sedang mekar dalam hatinya. kesempatannya untuk mendapatkan hati Tantra seolah terbuka lebar.


Ia meminta izin pada bunda untuk menemui Tantra. Tapi sampai dengan panggilan berulang kali di depan pintu kamarnya, Tantra tak juga menjawab panggilannya.


Emma akhirnya pergi meninggalkan rumah Tantra untuk kembali ke kantor. Hari ini ia seperti mendapat semangat baru dalam hidupnya.


Setelah mendengar suara mobil Emma menjauh dari rumah, Tantra baru keluar dari kamarnya untuk ke kamar mandi.


Begitulah setiap hari. Tantra hanya keluar kamar sebentar untuk ke kamar mandi atau mengambil minum. Sedangkan untuk makan, bunda yang mengantarnya ke kamar.


Bunda yang melihat putranya sudah masuk lagi ke kamar, lalu mendekat. Ia melihat pintu kamar Tantra sedikit terbuka. Bunda masuk kemudian duduk disisi tempat tidur. 


Bunda membelai lembut pundak putranya. "Nak, jangan seperti ini. Bunda mengerti apa yang kamu rasakan. Tapi hidup tetap harus berlanjut nak. Tak perduli seberapa pahit untuk dijalani."


"Bunda, impianku sudah hancur." Tantra meletakkan kepalanya di pangkuan bunda. Kali ini air matanya menetes di pangkuan sang ibu.


"Semua sia-sia bunda. Kenapa bukan aku yang menjadi jodoh Masyita?"


"Nak, jodoh itu sudah ditulis bahkan sebelum kita terlahir di dunia. dan semua yang ada di dunia ini ada batas waktunya. Begitu juga dengan jodoh."


"Bunda juga ditakdirkan berjodoh dengan ayahmu. Namun kami tidak ditakdirkan bersama sampai tua. Ayah mu terlebih dulu berpulang. Seberat apapun kenyataannya, Kita harus tetap menjalaninya."


"Kita tidak tahu dengan siapa kita berjodoh, dan kita tidak tahu sampai kapan kita bersama dengan jodoh kita. Manusia hanya ditugaskan untuk menjalani hidup dengan sebaik mungkin. Jika satu mimpimu hilang, kejar mimpi yang lain nak."


"Selama Alloh masih memberi kita nafas, jantung yang masih berdetak, dan darah yang terus mengalir dalam tubuh kita, maka selama itu kita harus bersyukur dan berjuang untuk hidup."


"Ikhlas kan dia nak. Sulit memang. Sebuah kesabaran yang berujung dengan keikhlasan adalah hal indah yang sulit untuk dilakukan. Tapi itulah perjuangan."


"Alloh pasti sudah mempersiapkan yang terbaik untukmu nak. Bunda selalu meminta itu pada-Nya."

__ADS_1


Tantra menyimak setiap ucapan bunda. Menancapkan dalam fikirannya supaya ia bisa bangkit dari keterpurukannya ini.


Doa-doa bunda terus dipanjatkan untuk putra tercintanya. Hingga suatu pagi, doa itu seolah terjawab dengan Kedatangan Rania.


__ADS_2