TANTRA

TANTRA
Bab 70


__ADS_3

"Sayang, bertahanlah! Ku mohon! Ku mohon sayang!" Tantra mengatakannya dengan suara serak akibat menahan tangisnya.


Ia terus menggenggam tangan Laura. Mengusap wajahnya, mencium keningnya. Tak sedetikpun ia biarkan tanpa memberi semangat pada Laura.


Salah satu bidan datang menghampiri Laura. "Ibu, sadar ya bu… ibu harus tetap sadar sampai operasi dilakukan." Bidan itu beralih ke Tantra. "Pak, jangan sampai ibu nya pingsan ya pak. Bahaya buat janinnya pak."


Tantra melihat wajah Laura. Secara perlahan mata istrinya mulai menutup.


Tantra panik!


Ia menepuk pipi Laura dengan perlahan.


"Sayang… sayang…" Tantra terisak isak. Lelehan air mata mengucur deras di pipinya.


"Sayang, ku mohon bertahanlah untukku! Untuk anak kita! Ku mohon sayang… sadarlah…"


Nyatanya Laura sudah tak kuat bertahan. Ia menutup matanya.


"Sayang!! Laura!!" Tantra semakin panik. Suaranya meninggi.


"DOKTEERR!!!" Tantra berteriak memanggil dokter.


Dokter dan tim medis berkumpul di sekeliling Laura.


"Apa yang kalian tunggu? Kenapa lama sekali istriku harus menunggu dioperasi!"


Tantra mulai tidak stabil. Emosinya memuncak. Rasa panik dan khawatir menyelimutinya.


Laura memerlukan tindakan darurat dan segera. Sudah tak bisa menunggu para perawat mempersiapkan ruang operasi, Laura harus memakai ruanh operasi yang sudah disiapkan untuk pasien lain.


Semua tim medis yang menangani Laura bergegas. Namun Laura masih belum bisa di operasi.


"APA YANG KALIAN TUNGGU?"


Tantra berteriak. Rasanya ia ingin menyeret semua tim medis di rumah sakit itu untuk bergegas menangani sang istri.


"Maaf pak, kami masih menunggu dokter anastesinya datang." Jawab salah seorang perawat.


Tubuh Tantra menjadi lemas. Ia menempelkan kepalanya di tembok. Air matanya mengucur deras. Tantra menangis terisak.


Bunda berusaha menenangkan sang putra. Ia menepuk-nepuk punggung Tantra.


"Nak, istighfar nak. Minta sama Alloh. Semoga Alloh memudahkan kelahiran putramu. Jaga emosimu. Ingat nak, istrimu membutuhkan semangatmu juga."

__ADS_1


Tantra memeluk bunda. Menjatuhkan kepalanya di pundak sang ibu.


Perawat menghampiri Tantra dan memberitahu bahwa Laura sadar.


"Pasien sudah sadar pak. Namun janin di dalam perut pasien terus berusaha keluar sehingga membuat pasien kesakitan."


Tantra berlari ke ranjang Laura. Menggenggam lagi tangan istrinya.


Laura memang sudah sadar. Namun kondisinya kini lebih menghawatirkan. Janin di perut Laura berusaha keluar. Seolah menarik perutnya. Laura merintih bahkan berteriak kesakitan.


Dokter anastesi sudah datang. Semua tim medis juga sudah siap di ruang operasi. Beberapa perawat memindahkan Laura dari ruang persalinan ke ruang operasi.


Tantra terus mendampingi sang istri. Berada di sampingnya dan menggenggam tangannya. Mencium tangannya, mengusap keningnya, membelai rambutnya. Melakukan apapun untuk menyemangati istrinya.


Hingga sampai di ruang operasi, Tantra meminta izin kepada sang dokter untuk tetap menemani sang istri menjalani operasi.


"Baik. Bapak boleh menemani pasien tapi tidak boleh mengganggu jalannya operasi."


Tantra bersedia. Tantra segera mensterilakn tubuhnya dan masuk ke dalam ruang operasi.


Laura di pindahkan ke brankar operasi. Dokter anastesi duduk disebelahnya, dibantu dua orang perawat untuk membuat tubuh Laura miring dan menekuk tubuhnya.


Laura kesakitan.


Tantra tau itu adalah suntikan obat bius. Harus masuk seluruhnya supaya operasi bisa dijalankan.


Jarumpun menusuk punggung Laura. Namun rasa sakit itu masih kalah dengan sakitnya kontraksi yanh dialami Laura.


Hingga beberapa saat Laura mulai tenang. Obat bius itu mulai bekerja.


Perawat memasangkan penutup di dada Laura.


"Coba gerakkan kakinya bu." Ujar salah seorang asisten anastesi.


Kakinya sudah tak bisa dirasa lagi. Laura memcoba menggerakkan tangannya, namun tak bisa juga. Obat biusnya sudah bekerja.


Dokter obgyn masuk dengan beberap petugas operasi mulai mengambil alih.


Operasi mulai dilakukan.


Tantra masih setia disebelah Laura. Mencoba mengajaknya bicara. Namun dari tempat duduk Tantra, ia bisa melihat jelas apa yang sedang dokter lakukan pada perut istrinya.


Ia melihat dokter mulai menyobek perut sang istri.

__ADS_1


Tantra mengalihkan pandangannya. Bukan karena tak kuat mental melihat tubuh di sayat. Tantra sudah terbiasa melakukan itu dulu ketika masih di fakultas kedokteran.


Tapi melihat tubuh orang yang dicintai disayat hingga sobek, membuat jatuh mentalnya. Ia tak tega.


Tantra memilih untuk memandamh wajah Laura.


Hingga beberapa saat, dokter telah berhasil mengeluarkan janin dalam perut Laura. Tali pusat di potong dan terdengarlah tangisan bayi menggema di ruang operasi.


"Selamat ya pak, bayinya laki-laki."


Rasa haru, lega, bahagia berkumpul dalam hati Tantra. Berhasil membuang semua rasa cemas dan khawatir yang telah menyelimutinya.


"Alhamdulillahirrobbil Alamiin… sayang, anak kita sudah lahir. Terimakasih sayang. Terimakasih…" Tantra menangis haru. Ia menciumi seluruh bagian wajah Laura.


Laura pun tersenyum. Ikut terharu melihat kebahagiaan Tantra.


Dokter obgyn telah menyerahkan bayi Laura pada seorang dokter anak untuk diperiksa.


Tantra pun mengikuti dokter anak itu untuk. Dokter anak itu memastikan bayi terlahir sempurna. Memeriksa denyut jantung,tangan dan kaki si bayi. Memastikan semua sempurna.


"Selamat ya Tantra, bayimu terlahir sehat."


Tantra menoleh setelah mendengar suara yang sangat familiar di telinganya.


Ya! Suara itu milik sang sahabat.


"Ra? Rania?" Tantra memeluk tubuh Rania. "Aku bahagia Ra! Aku sangat bahagia!" Air mata Tantra kembali tumpah hingga membasahi pundak Rania.


Rania membalas pelukan Tantra.


Rania sudah dari awal berada di dekat Tantra ketika mendengar Laura akan melakukan persalinan.


Namun kecemasan Tantra membuatnya hanya fokus pada Laura dan mengabaikan sekitarnya.


Rania yang melihat Tantra begitu sedih pun menjadi tidak tega. Ia hanya mampu memandang tanpa berani mendekat.


Rania berusaha membantu apa yang ia bisa. Tanpa Tantra ketahui, Rania membantu menghubungi dokter anastesi supaya segera bersiap datang ke rumah sakit.


Dan sekarang, Rania melihat sendiri bagaimana kebahagiaan terpancar dari mata sang sahabat, membuat Rania sadar, betapa besar cinta Tantra untuk Laura.


'Aku akan mengikhlaskanmu bersamanya, karena aku melihatmu begitu bahagia.'


Rania telah merelakan Tantra.

__ADS_1


__ADS_2