TANTRA

TANTRA
Bab 51


__ADS_3

Tantra duduk bersandar di dinding rumah sakit. Dirinya sudah bertekad tidak akan meninggalkan Masyita sebelum memastikan kondisinya baik-baik saja.


"Sebaiknya kamu pulang Tra. Jika Masyita sudah sadar, aku akan memberitahumu." Rania mencoba memberi saran.


Rania duduk disebelah Tantra. Dengan setia ia menemani sahabatnya itu di saat sulitnya. Rania tau ini adalah saat-saat paling sulit untuk Tantra. Tidak ada yang lebih berharga baginya selain Masyita.


"Dia bukan lagi kekasihmu Tra. Sudah ada suaminya yang menunggunya." Rania masih mencoba meyakinkan Tantra.


"Aku akan menunggunya. Kamu tau Ra? Setelah sekian lama aku mencoba melupakannya, tapi tetap tak bisa. Aku masih mencintainya Ra! Biarkan aku menunggunya. Aku ingin bicara dengannya." Suara Tantra sangat memelas.


Sudah beberapa jam mereka bertiga menunggu Masyita sadar. Hingga seorang perawat keluar dan memanggil, "Keluarga pasien Masyita Anindya?"


Mereka bertiga berdiri serentak dan menghampiri perawat tersebut.


"Saya suster! Saya suaminya!" Dito berbicara dengan tergopoh-gopoh.


"Silahkan bertemu dokter dulu pak. Dokter akan menjelaskan kondisi pasien pada anda." Dito pun berjalan dibelakang perawat tersebut untuk masuk ke ruang IGD.


Tantra hanya bisa diam. Dirinya tak memiliki status apapun bagi Masyita. Tantra hanya berharap dirinya bisa bertemu dengan Masyita.


"Aku ingin bertemu dengannya Ra." Tantra berkata sangat lemah.


"Akan aku usahakan. Tunggu disini!" Rania masuk kedalam ruang IGD.


Setelah beberapa waktu Tantra menunggu, akhirnya sahabatnya itu keluar membawa berita baik untuknya.


"Kondisinya baik-baik saja. Bahkan dia sudah sadar sekarang. Masuklah! Dito mengizinkan kamu bertemu dengannya."


Tanpa membuang waktu, Tantra masuk dan mencari bed Masyita. Ia melihat gadisnya yang lemah tergeletak diatas bed perawatan.


Tantra berjalan mendekat. Mulai terlihat tangan Dito yang menggenggam erat tangan Masyita. Meski cemburu namun Tantra tidak peduli. Ia ingin bicara dengan Masyita.


Masyita melihat Dito dengan tatapan memohon. "Bolehkah?"


Bukannya menjawab, Dito malah memperingatkan Tantra.


"Hanya bicara! Tak ada kontak fisik dan tidak lebih dari 30 menit! Masyita harus segera istirahat dan dipindahkan ke kamar rawat."


Tantra menunggu Dito berlalu pergi meninggalkan mereka berdua. Setelah ruangan cukup sunyi, Tantra mulai bertanya. "Bagaimana keadaanmu sayang? Apa kamu baik-baik saja?"


Tangan Tantra bergerak hendak membelai kepala Masyita. Namun gadis itu langsung menghindar. "Ingat mas! Pesan suamiku, tidak boleh ada kontak fisik!"

__ADS_1


Dada Tantra terasa nyeri. Bukan hanya sikap Masyita yang menolaknya, tapi juga panggilan Masyita. Ia memanggil Dito sebagai suaminya.


"Kamu sangat menghormatinya ya?" Tantra menatap lekat mata Masyita. "Apa kamu mencintainya?"


"Awalnya tidak." Masyita mulai menjawab. "Tapi aku sudah berjanji untuk berusaha membuka hatiku padanya. Berkat semua ketulusannya, kasih sayangnya, perhatiannya dan cintanya, berhasil membuatku luluh. Aku mulai mencintainya."


Masyita balas menatap Tantra. "Mas, aku sudah bahagia bersamanya. Aku bisa mencintainya. Kamu juga pasti bisa mas. Aku lihat istrimu sangat cantik. Dari caranya melihatmu, aku sangat yakin kalau dia sangat mencintaimu."


"Apa kamu bahagia?" Sekali lagi Tantra bertanya.


"Aku sangat bahagia mas. Apalagi saat ini ada buah cinta kami disini." Masyita mengusap lembut perutnya.


Seolah dilempar dari lantai tujuh belas. Hancur! Bukan hanya hatinya, tubuh Tantra seolah terlepas dari tulangnya. Begitu sakit mendengar orang yang sangat dicintai ternyata sudah tertanam cinta begitu dalam pada orang lain.


Tantra mencengkram erat pinggiran bed pasien Masyita. Ia mengeram, mencoba menahan semua emosinya. Ingin rasanya berteriak untuk meluapkan semuanya, tapi ia sadar sedang dimana ia sekarang.


"Mas, seorang wanita yang telah menyerahkan tubuhnya dengan rela pada seorang suami, pasti wanita itu sangat mencintai suaminya. Karena ia rela tak hanya memberi tubuhnya saja, tapi juga hatinya dan seluruh cintanya. Begitu juga istrimu."


Masyita mencoba menenangkan Tantra. "Mas, pulanglah. Biarkan aku bahagia dengan keluargaku. Berusahalah untuk bahagia dengan keluargamu. Pulanglah mas. Istrimu pasti menunggumu!"


Untuk kesekian kalinya Tantra merasa hancur karena Masyita. Jika dulu rasa sakit itu karena Masyita meninggalkannya, kini rasa sakit itu bertambah karena mendengar ungkapan cinta Masyita pada suaminya.


Selama ini Tantra yakin jika Masyita masih mencintainya. Ia yakin jika Masyita menerima Dito karena terpaksa.


Tantra pulang dengan putus asa. Ia melampiaskan semua sesak di dadanya di dalam mobilnya. Ia pukul kemudi bahkan membenturkan kepalanya dan berteriak penuh amarah.


Cukup lama Tantra menangis di dalam mobil. Hingga semua emosi mulai meluap dan tersisa isakan tangisnya, ia ingat akan Laura.


Bagaimana Laura pulang? Tadi dia menjemput Laura dari salon langsung ke hotel. Laura berangkat bersamanya dan tidak membawa kendaraan. Apa Laura pulang naik taksi?


"Laura pasti pulang naik taksi. Sebaiknya aku langsung pulang ke apartemen." Tantra mulai memacu kencang mobilnya menuju apartemen.


Hal yang membuat Tantra kaget begitu sampai di apartemennya adalah kondisi apartemen yang masih gelap. Seolah belum ada seseorang yang memasuki apartemen tersebut.


Tantra masuk dan mencari keberadaan Laura. Ia ingin memastikan jika Laura sudah pulang ke apartemen.


"Laura… Laura… Kamu dimana?" Tantra terus mencari di setiap ruangan. Tapi tetap tak menemukan keberadaan Laura.


Tantra memperhatikan kondisi ruangan. Apartemennya dalam kondisi sama seperti terakhir kali ia pergi pagi ini. Itu artinya Laura tidak pulang ke apartemen.


Tantra melihat jam di pergelangan tangannya. Sudah jam 2 pagi.

__ADS_1


"Apa mungkin ia pulang ke kediaman utama? Apa Laura akan mengadu pada Tuan Besar?" Tantra mencoba memikirkan semua kemungkinan. Akhirnya ia memutuskan pergi ke kediaman utama untuk menemui Laura.


Begitu sampai di depan kediaman utama, Tantra menjadi ragu. Ia memilih turun dari mobil dan bertanya pada petugas keamanan yang berjaga di depan rumah.


"Pak!" Sapa Tantra pada security di dalam pos.


Security itu berjalan dengan tergopoh-gopoh menuju ke arahnya.


"Selamat malam Tuan Muda. Saya akan segera membuka pintu pagarnya." Kata security tersebut.


"Tidak perlu pak. Saya hanya mau bertanya. Apa nona Laura pulang ke sini?"


Security itu menggeleng. "Belum pak. Sudah lama nona Laura tidak berkunjung kemari. Tadi Tuan Besar hanya pulang sendiri bersama sopir."


"Ya sudah kalau begitu. Tak perlu bilang ke Tuan besar jika saya kemari, oke?" Pinta Tantra pada security itu.


Tantra kembali ke mobilnya. Ia mulai berpikir untuk mencari keberadaan Laura.


"Apa Laura memutuskan untuk menginap disana?" Tantra melajukan mobilnya kembali ke hotel. Ia berharap bisa menemukan Laura disana.


Sia-sia. Tantra tak juga menemukan Laura. Tidak ada daftar pemesan kamar atas nama Laura.


Tantra meremas kepalanya. Menjambak rambutnya. Kemana istrinya pergi?


Tantra mencoba mengingat ucapan terakhir Laura padanya.


Listen to me! Mantra! Jika kamu menyusulnya, itu artinya kamu melepaskanku!


Kata-kata Laura mulai terngiang-ngiang di telinganya dan memenuhi isi kepalanya. "Apa mungkin Laura benar-benar meninggalkanku? Aku harus memastikan dia pergi kemana!"


Tantra memanggil manajer hotel. Ia meminta rekaman cctv hari ini. Tantra memerintahkan pihak keamanan untuk mencari keberadaan Laura dan waktu terakhir kali Laura berada di hotel.


Perintah dari sang Tuan Muda langsung dijalankan. Semua petugas keamanan dan IT hotel bergerak untuk mencari Laura. Tak peduli sudah jam berapa sekarang, mereka berjibaku untuk menemukan sang Nona Muda.


"Tuan Muda, petugas kami berhasil menemukan sesuatu. Mari saya antar ke ruang kontrol." Manajer hotel itu mengantar Tantra menuju keruangan yang ada di lantai 3.


Tantra mengambil langkah cepat. Dengan setengah berlari ia menghampiri petugas tersebut.


"Apa yang kamu dapat?" Tanya Tantra dengan tegas.


Petugas itu menunjukkan gambar yang terlihat di monitor.

__ADS_1


Tantra memicingkan matanya. "Itu Laura! Dengan siapa dia?"


Laura terlihat keluar dari hotel bersama seorang pria. Tantra semakin tak percaya saat melihat Laura naik ke sebuah mobil sedan bersama pria tersebut dan pergi meninggalkan hotel.


__ADS_2