
Cukup jauh Tantra berjalan menyusuri jalan utama akses Villa.
Tantra berhenti di pintu depan sebuah villa besar. Tantra melihat villa itu sekilas lalu berbalik badan karena sang sopir menghampirinya dengan menggendong Zafran.
"Maaf Tuan, Den Zafran nangis nyariin Tuan."
Tantra pun menggendong Zafran yang sudah mulai tenang.
"Mma… mma…" suara Zafran memanggil-manggil Mommynya.
"Iya nak, kita cari Mommy yah?" Tantra mencoba menenangkan sang putra.
"Mma… mma…" Kali ini Zafran menunjuk ke arah Villa besar di depan Tantra.
Zafran mulai merengek minta masuk ke dalam Villa itu.
Tantra menuruti kemauan putranya. Ia mendekat ke pagar dan memanggil petugas yang menunggu Villa.
Beberapa kali Tantra memanggil namun tak ada jawaban dari orang di Villa tersebut.
Tantra meminta sang sopir untuk memanggil petugas penjaga Villa keluarga Barata. Tantra meminta tolong kepada mereka untuk meminta izin memasuki Villa tersebut.
Setelah diperiksa, Villa itu ternyata kosong. Matahari yang sudah mulai tenggelam membuat Villa itu tampak gelap karena tak ada satupun lampu yang dinyalakan.
Pintu depan Villa itu terkunci. Tantra dan para petugas mengambil kesimpulan jika Villa itu tertutup dan tidak ada orang disana. Mereka memutuskan untuk keluar Villa.
Namun saat Tantra tersadar, Zafran sudah tidak berada di dekatnya.
Ia pun bertambah panik dan mencoba mencari Zafran.
"Zafraaaann… Zafraaaann.." Tantra memanggil-manggil sang putra.
Sang supir menemukan Zafran sudah berdiri di pintu samping Villa yang berhadapan dengan kolam renang. Pintu samping itu terbuka sedikit karena berhasil di dorong oleh Zafran.
"Mma.. mma.." Zafran masih terus memanggil Mommynya dan menunjukkan ke dalam Villa.
Tantra dan para petugas pun memasuki Villa tersebut. Mencoba memeriksa di setiap kamar.
Ketika tiba di depan pintu kamar atas, Zafran menangis kencang dengan merentangkan kedua tangannya ke pintu tersebut.
Tantra membuka pintu itu. Alangkah terkejutnya ia melihat sang istri berada diatas ranjang itu dengan kondisi mengenaskan.
Laura tanpa busana dengan tangan terikat di ranjang. Bibirnya berdarah, wajahnya bengkak dan masih ada beberapa titik di tubuhnya yang terlihat merah bahkan berdarah.
"LAURA?"
Tantra segera menurunkan Zafran dari gendongannya. Ia bergegas melepas ikatan di pergelangan tangan Laura.
Ikatan itu terlalu kuat sampai menyayat pergelangan tangan istrinya.
Tantra mengambil selimut yang tergeletak di lantai untuk menutupi tubuh Laura.
"Laura, siapa yang melakukan ini kepadamu?" Air mata Tantra pun mengalir deras di pipinya. Sungguh hatinya ikut tersayat melihat kondisi miris istrinya.
__ADS_1
Laura hanya menatap Tantra dengan pandangan matanya tanpa bisa berkata apapun. Tubuhnya terlalu lemah. Suaranya habis. Sehari semalam Laura tak makan dan tak minum. Seharian pula ia berteriak meminta tolong dan berusaha terlepas dari ikatannya.
Kini tubuhnya benar-benar lemah.
Tantra menggendong tubuh Laura yang tertutup selimut. Ia berteriak memanggil sang sopir untuk menggendong Zafran dan segera menyiapkan mobil.
Tak butuh waktu lama, Tantra sudah meninggalkan komplek Villa itu. Ia membawa Laura ke rumah sakit.
Tantra meminta Arga mengurus semuanya.
"Jangan sampai ada yang tau kondisi istriku! Siapapun itu! Termasuk keluarga Barata terutama Lira, putrinya!" Titanya.
Mereka telah sampai di rumah sakit. Mobil berhenti di depan pintu IGD.
Tantra turun dengan menggendong Laura. Memboyongnya masuk dan berteriak kepada petugas.
"DOKTER!! TOLONG ISTRI SAYA!!"
Petugas medis yang berjaga di ruang IGD langsung mengarahkan Tantra untuk membaringkan Laura di atas brankar.
Laura segera mendapat pertolongan pertama. Setelah beberapa saat dokter selesai memeriksa Laura, beliau memanggil Tantra untuk menjelaskan kondisinya.
"Pasien atas nama Laura mengalami dehidrasi. Tubuhnya lemas sehingga kami harus memberikan cairan untuk memulihkan kondisinya. Beberapa luka lebam dan memar serta robekan di kulitnya telah diobati."
Dokter itu menjeda ucapannya sejenak kemudian melanjutkan lagi.
"Menurut analisa awal saya, pasien mengalami depresi berat. Jika keluarga berkenan, kami akan mendatangkan psikiater untuk membantu mengobati pasien. Dan jika keluarga berkenan, kami bisa melakukan visum supaya hasil tersebut bisa dipakai untuk melapor ke pihak berwajib."
Tantra pun menyetujui semua. Tim dokter segera menangani Laura. Bukan hanya satu psikiater, tapi Tim yang terdiri dari beberapa orang dokter, psikiater dan psikolog bergerak untuk menyembuhkan Laura. Baik secara fisik maupun psikis.
"Tuan, apa saya perlu memanggil pihak berwajib untuk menangani kasus nona Laura?"
"Jangan! Aku sudah meminta bantuan detektif untuk menyelidiki kasus ini. Aku tidak mau kasus Laura ini sampai terekspos apalagi sampai keluar di media manapun!"
Untuk sementara Tantra menyerahkan penyelidikan kasus Laura pada detektif yang ia bayar. Tantra hanya pasrah menunggu laporan darinya.
Tantra ingin fokus pada kesembuhan Laura. Selalu setia bersamanya. Menemani sang istri menjalani masa-masa berat dalam hidupnya kali ini.
Hampir dua bulan Laura menjalani terapi. Selama itu pula Tantra bahkan tak bisa menyentuh Laura.
Laura mengalami trauma sehingga ia tidak bisa bersentuhan dengan laki-laki.
Beruntungnya, terapi itu berhasil dijalankan. Kini Laura sudah bisa menerima keberadaan Tantra, dekat dengan suaminya membuat hatinya lebih tenang. Tantra sering memeluk Laura. Mendekap tubuh sang istri dengan penuh cinta dan sayang.
"No matter what happens to you, I will always love you."
Berulang kali kalimat itu keluar dari mulut Tantra untuk meyakinkan sang istri.
Benar saja, berkat usaha kerasnya, Laura kini mulai stabil. Kondisi fisik dan mentalnya sudah membaik.
Tantra merasa lega, kebahagiaan keluarganya telah kembali. Laura mulai bermain lagi bersama Zafran. Putranya kini bisa mendapatkan kembali kasih sayang penuh dari sang Mommy.
Tantra melihat senyum kebahagiaan itu telah kembali. Ia mendekat ke tempat Laura bermain bersama Zafran kemudian dia duduk di sebelahnya, merangkul pundak istri yang amat dicintainya.
__ADS_1
"Terimakasih sayang. Kamu sudah bersabar untukku. I'm so sorry, aku sangat menyesal karena bersikap egois dan hanya mementingkan kesenangan ku. Aku berjanji, aku akan menjadi istri penurut. Selalu mematuhi perintahmu."
Mendengar istrinya bicara, Tantra semakin mengeratkan pelukannya dan mengecup pucuk kepala Laura.
Kemesraan itu terganggu setelah ponsel Tantra berdering.
Panggilan dari Arga.
Tantra segera menjauh dari istri dan putranya untuk menjawab panggilan itu.
"Tuan, kami telah menerima laporan dari detektif. Pelaku kekerasan pada Nona Laura adalah Mike Bourdon. Semua bukti yang menguatkan pernyataan itu telah berhasil dikumpulkan. Apakah ini saatnya untuk meringkus Tuan Mike?"
Tanpa sadar rahang Tantra mengeras. Kebenciannya pada Mike semakin menumpuk.
"Jangan! Tak perlu! Serahkan saja semua pada George. Hubungi dia! Biarkan George bersenang-senang dengannya." Titah Tantra pada Arga. Nada suaranya terdengar mengerikan.
Selesai dengan panggilannya, Tantra kembali bergabung bersama anak dan istrinya. Ia hanya ingin menikmati kebahagiaan yang sempat hilang ini.
**
Setelah hampir dua minggu merasakan ketenangan hidup. Kini Tantra terbangun di kamarnya karena suara tangis sang putra.
Tantra beranjak dari ranjang dan masuk kedalam kamar Zafran untuk mengetahui penyebab sang putra menangis pagi-pagi begini.
"LAURA?"
Tantra begitu terkejut ketika melihat tubuh sang istri tergeletak di lantai.
Ia segera menggendong tubuh Laura dan membawanya kembali ke kamar. Membaringkannya di atas ranjang.
Tantra meminta kepala pelayan untuk memanggil dokter keluarga.
Tak sabar menunggu kedatangan dokter keluarga, Tantra pun menelepon Rania. Ia harus meminta bantuan sahabatnya itu untuk memeriksa Laura.
Tak selang berapa lama, Rania sudah datang di kediaman Ardikusuma bersamaan dengan dokter keluarga.
Rania terlebih dulu memeriksa Laura. Ia menghela napas. Karena mengetahui musibah yang dialami Laura, Rania tidak memiliki keberanian untuk menjelaskan diagnosanya pada Tantra.
Ia mempersilahkan dokter keluarga Ardikusuma untuk memeriksa Laura dan menyampaikan diagnosanya.
Dokter itu mulai menjelaskan pada Tantra.
"Nona Laura pingsan karena kelelahan. Nona Laura harus mengurangi aktivitasnya dan harus banyak istirahat supaya janin di dalam perutnya bisa tumbuh sehat."
Seperti tersengat petir, tubuh Tantra mematung tak percaya mendengar penjelasan dokter.
Laura hamil? Laura hamil! Anak siapa? Anaknya kah? Atau anak Mike?
Tubuh Tantra terhuyung. Ia mulai limbung.
Beruntung ada Rania di sampingnya.
"Tra, tenang. Kamu harus bisa berpikir waras! Laura baru sembuh. Dia bisa kembali shock jika mendengar kabar ini. Kamu harus bisa menenangkannya! Tapi sebelumnya, kamu harus lebih dulu membuat dirimu tenang.
__ADS_1
Tantra menarik napas dalam dan menghembuskannya. Mencoba tenang dan mewaraskan pikirannya.
Ia mulai berpikir kapan terakhir kali ia berhubungan badan dengan Laura.