
Mobil telah sampai di halaman rumah sakit. Tantra memarkir mobilnya tak jauh dari pintu masuk rumah sakit.
Tantra melepas seatbelt. "Ayo masuk. Kita akan bertemu dokter untuk memeriksamu.
"Kenapa harus ke rumah sakit sih? Memangnya aku sakit apa? Bukankah tadi sudah diperiksa sama Rania?" Jawab Laura dengan malas.
"Kita kemari juga atas saran dari Rania. Sudahlah, hanya diperiksa sebentar saja!" Jawab Tantra.
"Aku baik-baik saja. Tak perlu pemeriksaan dokter!" Sahut Laura.
"Kalau kamu memang baik-baik saja, kenapa sampai pingsan?" Tanya Tantra.
"Aku pingsan bukan karena sakit. Aku pingsan karena mendengar suaramu membentakku!" Jawab Laura tak mau kalah.
Rasa bersalah memenuhi perasaan Tantra. Ia sangat menyesal.
Tantra membelai lembut kepala istrinya. "Maaf. Aku terlalu emosi. Aku menyesal. Maafkan aku."
Sikap Tantra ini membuat Laura luluh. Laura tak lagi mempermasalahkan jika Tantra membawanya periksa ke dokter.
Tantra telah melakukan pendaftaran dan sedang menunggu antrian. Hingga tiba giliran Laura dipanggil masuk ke ruang periksa.
Tantra menggandeng sang istri. Laura masuk kemudian berbaring di atas bed. Sang dokter mulai memeriksa.
"Maaf Pak, saya harus merujuk Nyonya untuk diperiksa oleh dokter Theo." Kata sang dokter.
"Kenapa dok? Kenapa harus pindah dokter? Istri saya sakit apa?" Tanya Tantra dengan khawatir.
"Berdasarkan pemeriksaan awal saya, sepertinya istri anda sedang hamil. Untuk memastikannya, anda bisa memeriksanya ke dokter Theo. Beliau adalah spesialis Obstetri dan Ginekologi.
"Apa tidak ada dokter SPOG wanita di rumah sakit ini?" Tanya Tantra gusar. Rasanya ia sangat tidak rela jika perut istrinya disentuh oleh pria selain dirinya.
"Beliau adalah dokter kandungan terbaik di rumah sakit ini pak." Jelas sang dokter.
"Saya tidak peduli! Saya tidak mau ada lelaki lain yang menyentuh tubuh istri saya!"
Laura sampai terbelalak mendengarnya. Tantra marah jika ia dipegang lelaki lain? Kenapa suaminya itu berubah posesif?
"Mantra, dia hanya memeriksaku. Bukan bertindak aneh-aneh padaku!" Laura heran dengan sikap posesif suaminya.
__ADS_1
Namun semua protes Laura hanya menguap di luar telinga Tantra. Pria itu tetap mencari dokter perempuan untuk memeriksa istrinya.
Tantra berhasil mendapatkan spesialis kandungan untuk istrinya. Sesuai arahan dokter, Laura melanjutkan pemeriksaannya.
Dokter kandungan itu mulai menuangkan gel di perut Laura. Lalu menggunakan transducer untuk memeriksa.
Tantra memperhatikan layar monitor usg dengan seksama.
"Nah ini sudah kelihatan janinnya." Ujar dokter yang bernama Ria.
"Selamat ya Pak, Bu. Alhamdulillah, audah terdapat janin di perut ibu." Lanjutnya.
"Alhamdulillaaaaaaah…" Ujar Tantra penuh rasa syukur.
Karena terlalu bahagia mendengar kehamilan Laura, Tantra sampai menciumi istrinya di ruang periksa itu. Laura sampai malu karena disaksikan oleh perawat dan dokter yang memeriksanya.
Tantra kembali fokus pada layar monitor usg. "Berapa usia kehamilannya dok?" Tanya Tantra dengan tidak sabar.
"Kalau melihat dari pemeriksaan usg nya, usia kandunga sekarang memasuki 8 minggu." Jelas dokter Ria.
"Delapan minggu? Berarti sudah dua bulan? Kok bisa?" Tanya Laura keheranan.
"Kok bisa gimana sih sayang? Ya bisalah kan sesuai pemeriksaan dari alat usg nya!" Jawab Tantra.
Laura menjelaskan seperti itu karena yang dia pahami tentang kehamilan adalah mual dan ngidam. Laura pikir setiap wanita hamil pasti mengalaminya.
"Kehamilan pada setiap ibu itu berbeda-beda." Dokter Ria mencoba menjelaskan. "Memang tanda-tanda umum kehamilan adalah mual, lemas dan pusing. Namun tidak semua wanita hamil mengalaminya. Sekarang coba saya tanya, Apa dalam dua bulan ini ibu merasa mudah lelah? Pusing dan badan berasa sakit semua?"
Laura mengangguk.
"Untuk masalah ngidam pada ibu hamil itu lebih berpengaruh pada psikologis. Coba saya tanya lagi, apa selama dua bulan ini ibu merasa sangat ingin dekat dengan suami? Apa ibu merasa ingin selalu ditemani dan disayang suami? Lebih dari biasanya?"
Laura mengangguk lagi.
"Perasaan ibu hamil akan menjadi lebih sensitif. Itu adalah pengaruh hormon dan akan mempengaruhi kondisi psikologis pada ibu hamil."
Begitu mendengar semua penjelasan dokter, Tantra menjadi sangat merasa bersalah. Ia tidak pernah menghubungi Laura selama berada di Swedia. Bahkan saat Laura menelpon, dia masih mengacuhkannya.
"Meski kehamilan ibu termasuk sehat, namun ibu tetap harus menjaganya. Selalu konsumsi makanan sehat. Ingat prinsipnya, harus bersoh, matang sempurna dan sehat. Jangan terlalu lelah atau melakukan aktifitas berlebihan. Begitu juga dengan pikiran. Jangan sampai stress atau terlalu emosional." Lanjut Dokter Ria.
__ADS_1
"Saya akan meresepkan obat dan ingat ya ibu, obatnya harus dirutin diminum. Obat itu sangat berpengaruh pada perkembangan janin dalam kandungan."
Setelah semua pemeriksaan selesai, Tantra mengajak Laura duduk di ruang tunggu. Tantra selalu menggandeng tangan Laura dan menuntunnya seolah Laura sulit untuk berjalan.
"Mantra! Aku bisa jalan sendiri! Kamu dengar kan kata dokter tadi? Kehamilanku sehat! Aku dalam keadaan baik-baik saja." Laura mulai risih dengan sikap posesif Tantra.
"Bukan kah tadi kamu membenarkan ucapan dokter yang mengatakan bahwa kamu ingin dekat dengan suami, ingin ditemani dan disayangi?"
Laura tak mampu mengelak. Ia tunduk pada semua perlakuan Tantra padanya.
"Kamu tunggu disini ya? Aku akan ke farmasi untuk mengambil obat." Belum sempat melangkah, Tantra berpaling lagi ke Laura. "Kamu tidak boleh sendirian. Aku akan menelpon Rania."
Tantra menunggu beberapa saat setelah menelpon Rania. Sahabatnya itu pun datang menghampirinya.
"Ra! Apa kamu tau Ra? Aku akan memjadi seorang ayah!" Ujar Tantra kegirangan. Sakinh bahagianya, Tantra sampai memeluk erat Rania.
Merasa sadar karena diawasi Laura, Tantra segera melepas pelukannya.
"Apa kamu tidak ingin mengucapkan selamat padaku Ra?" Tanya Tantra dengan rona wajah penuh kebahagiaan.
"Selamat ya!" Jawab Rania singkat. Entah Tantra sadar atau tidak dengan kondisi Rania sekarang. Mata gadis itu berair dengan menahan sesak di dadanya.
"Oh iya Ra, aku minta tolong kamu temani Laura sebentar ya? Aku akan ke farmasi untuj mengambil obat.
"Pergilah! Aku akan menemaninya." Jawab Rania.
Setelah Tantra mulai menjauh, Rania memutuskan untuk duduk dengan mengambil jarak dari Laura.
Ia masih menatap Laura penuh kebencian.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" Tanya Laura.
"Aku sangat membencimu!" Rania berkata dengan menahan sesak di dadanya.
"Aku tahu!" Jawab Laura. "Aku tahu kau membenciku karena Tantra mencintaiku. Tapi aku tidak tahu dimasa kesalahanku sampai kau membenciku."
"Kau telah merebut Tantra!" Ujar Rania dengan nada marah yang masih bisa ditahan.
"Aku tidak pernah merebut Tantra dari siapapun! Kamu tahu dengan jelas bagaimana kami menikah!" Laura menjawab tegas.
__ADS_1
"Bukan salahku jika kau sampai kehilangan Tantra! Salahkan dirimu sendiri karena tak berani mengungkapkan perasaanmu padanya!" Laura menatap tajam pada Rania.
"Kamu tahu kenapa Tantra tak bisa mencintaimu?" Laura masih tak mengalihkan pandangannya dari rania. "Itu karena kamu tidak pernah tulus padanya!"