TANTRA

TANTRA
Bab 48


__ADS_3

"Ada apa memanggilku kemari?" Tanya Laura tanpa basi basi.


Tantra tak menjawab dengan kata-kata, tapi gerakan tubuhnya menunjukkan bahwa dia sedang menginginkan laura.


Laura melepas tangan Tantra. Ia menjaga jarak dan menghindar.


Tantra menyadari sikap Laura. Meskipun ia tidak tahu penyebab istrinya menjaga jarak dengannya. Namun Tantra seolah tidak memperdulikan itu.


"Tunggu disini sampai pekerjaanku selesai. Aku akan mengajakmu ke suatu tempat." Jawab Tantra.


Untuk beberapa lama Tantra berkutat dengan pekerjaannya. Laura menunggunya dengan bosan. Laura melihat jam di pergelangan tangannya.


"Mantra! Ini sudah jam 7 malam! Sampai kapan aku harus menunggumu? Aku bosan! Ini sudah waktunya makan malam." Ujar Laura dengan kesal.


Tantra menutup laptopnya dan beranjak dari kursinya. Ia memanggil Dimas untuk membereskan pekerjaannya dan memasukkan laptopnya ke dalam mobil.


Tantra berjalan mendekat ke Laura dan menggandeng tangan istrinya itu. Mereka keluar dari kantor dan menuju tempat tujuan yang dimaksud oleh Tantra.


Mereka tiba di hotel yang telah dipesan oleh Dimas sebelumnya. Tantra membawa Laura ke rooftop hotel. 


Baru menginjakkan kaki di rooftop itu, sudah terlihat lampu-lampu hias dan dekorasi romantis yang di desain dengan sangat elegan.


Meja makan dengan dua kursi berhadapan serta lilin di tengah meja. Tak ketinggalan juga seorang pemain biola yang mengiringi malam manis mereka dengan lagu romantisnya.


Tantra menarik perlahan tangan Laura. Mengajaknya mendekat ke meja. Tantra menarik kursi dan mempersilahkan istrinya untuk duduk.


Tantra memberi isyarat kepada pelayan untuk mengeluarkan hidangan. Mereka mulai menikmati hidangan dengan para pelayan yang siap sedia melayaninya.


Laura makan seolah tidak peduli dengan suasana sekitarnya. Hingga hidangan di piringnya habis, ia mengambil gelas dan mulai minum. Laura bahkan tak peduli jika Tantra sedari tadi menatapnya. 


Merasa diacuhkan, Tantra memberanikan diri bertanya pada istrinya.


"Apa kamu senang dengan dinner romantis ini?"


Laura mengangguk. "Iya! Senang."


"Tapi kenapa seolah kamu terlihat tidak peduli?" Tanya Tantra lagi.


"Aku senang. Hanya saja, aku sudah terbiasa dengan suasana ini. Maaf, tapi bagiku makan malam seperti ini tak terlalu spesial. Setiap laki-laki akan melakukannya jika ada yang dia inginkan dari wanita yang dikencaninya. Bukan begitu?" Sahut Laura. Laura memang bukan orang yang bisa berbasa-basi. Ia akan mengatakan sesuai yang ada dipikirannya. Terkadang tanpa memikirkan perasaan lawan bicaranya. 

__ADS_1


Laura Merasa hal itu benar karena ia memang tidak suka berpura-pura untuk menyenangkan orang lain.


Tantra mameruh alat makannya. Nafsu makannya tiba-tiba hilang.


Hanya satu pria yang pernah dekat dengan Laura, dan itu adalah Mike. Berarti Laura terbiasa melakukan hal seperti ini dengan Mike.


Namun Tantra sedang tidak ingin membahas Mike. Ia beranjak dan mengajak Laura untuk masuk ke kamar yang telah dipesan.


Tantra tak lagi menggenggam tangan Laura. Ia berjalan sendiri dengan diikuti Laura yang berjalan di belakangnya. Jujur saja, Tantra sedang merasa kesal. Baru kali ini ia mendesain makan malam romantis dengan seorang wanita, tapi wanita itu justru tidak merasa spesial.


Setelah masuk ke dalam kamar, Tantra langsung menuju kamar mandi untuk menyegarkan dirinya.


Setelah selesai mandi, Tantra duduk bersandar di atas tempat tidur dan mulai menyalakan TV. Ia seolah tak peduli dengan sang istri. Tantra ingin menunjukkan bahwa dirinya sedang kesal.


Laura menyadari sikap Tantra. Ia sadar bahwa suaminya itu sedang kesal. Laura pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya, menyemprot wewangian yang memikat. Laura keluar kamar mandi hanya mengenakan bathrobe.


Ia melihat Tantra sedang fokus menatap layar televisi. Laura naik ke atas ranjang dan duduk di pangkuan suaminya. Ia sengaja menghalangi pandangan suaminya. Laura ingin Tantra menatapnya.


Semua suami pasti tak mampu menolak godaan istri bila berada di posisi Tantra. Tapi Tantra tetap acuh. Sengaja supaya Laura yang berinisiatif memulai lebih dulu.


Laura mulai menggoda suaminya. Tangannya mulai bergerak. Saat istrinya mulai aktif, Tantra ikut mengambil peranan. Mereka kembali memadu kasih dalam kamar hotel yang sangat nyaman.


Hingga keduanya merasa lelah. Tantra merebahkan tubuhnya dan mendekap tubuh istrinya.


Tantra mengecup pucuk kepala istrinya itu dan dan mendekapnya lagi.


Laura menarik tubuhnya dan menatap Tantra. Ia ucapkan sekali lagi. "I love you."


Tantra mengusap pipi Laura dan menciumnya. Tanpa membalas ucapan istrinya.


Kenapa dia tidak membalas ucapanku? Apa dia masih marah?


Laura mulai tenggelam dalam pikirannya. Laura berinisiatif untuk meminta maaf.


"Maaf! Aku tak bermaksud mengecewakanmu. Hanya saja makan malam romantis bukan seperti dirimu. Aku menyukai dirimu yang apa adanya. Tantra yang tulus. Makan malam romantis seperti itu hanya untuk lelaki yang sedang menggoda wanitanya." Laura mencoba menjelaskan.


"Maaf. Aku tidak bermaksud menyamakanmu dengan Mike. Tapi tindakanmu tadi memang sama seperti yang dilakukan Mike padaku. Anggap saja aku trauma. Setelah melakukan semua hal manis, ternyata Mike tidak tulus. Aku harap kamu mengerti perasaanku." Tambahnya. 


Tantra mencium bibir istrinya. Hanya sebuah kecupan. "Aku mengerti. Maaf bila aku terlalu bersemangat sampai tidak memikirkan hal itu." 

__ADS_1


"Laura," Tantra melanjutkan. "Aku juga minta maaf. Dulu aku kira kamu sudah tidak per*awan. Ternyata aku salah. Aku lah orang pertama!" ujar Tantra dengan tersenyum bangga.


Laura menepuk pundak suaminya. "ish! sejauh apapun hubunganku dengan Mike, aku tak pernah melewati batas dan menyerahkan milikku yang berharga padanya. Mungkin karena itu dia selingkuh dengan Stella."


"Maaf, aku mengaku bersalah walaupun bukan salah salahku sepenuhnya. Melihat gaya berpakaian dan cara berpacaran kalian, setiap orang pasti menilai jika hubungan kalian tidak jauh dengan frees*x."


"Don't judge the book by its cover!" ujar Laura kesal.


"But, First impression is important! Kesan pertama itu penting! Kita bisa melihat seorang preman dari tato dan tubuh kekarnya kan? Juga penampilannya. meskioun setiap penampilan tidak menjamin baik buruknya seseorang. Tapi penilaian awal kita selalu berasal dari apa yang kita lihat." Balas Tantra


obrolan keduanya pun berlanjyt dan mencairkan suasana. Laura mulai lega karena suaminya bisa memaafkannya. Baginya ini adalah momen yang tepat untuk berterus terang.


"Mantra, bila aku berkata jujur dan mengakui kesalahanku, apa kamu mau memaafkanku?"


"Itu tergantung seberapa fatal kesalahanmu!" Jawab Tantra.


"Sebenarnya uang yang dulu aku pinjam, aku berikan pada Mike." Laura berkata dengan perasaan bersalah.


"Aku tahu! Aku melihat dari rekening koran. Uang itu masuk kerekening Mike Bourdon." Sahut Tantra.


Laura bersyukur karena Tantra tidak marah setelah tau kebenarannya. Laura melanjutkan perkataannya.


"Aku juga meminta maaf. Aku… Aku…" Laura mulai ragu.


"Katakan!" Ujar Tantra.


"Aku melihat wallpaper di ponselmu." Ucapan Laura ini membuat Tangan Tantra berhenti bergerak. Ia tak bisa berkata-kata.


"Aku, aku juga membuka galeri Laptopmu. Maaf, aku membuka folder itu. Folder bertuliskan Sempurna dan semua isi di dalamnya." Laura hendak melanjutkan omongannya tapi masih menunggu respon Tantra.


Karena Tantra hanya diam, Laura pun mulai melanjutkan perkataannya. "Apakah dia kekasihmu? Mengapa kalian putus? Apa karena aku? Karena Papa memintamu untuk menikahiku?"


Masih tidak mendapat respon. Laura kembali berkata. "Rasanya tidak adil! Kamu mengetahui semua kisahku dan masa laluku, tapi tak sedikit pun aku tahu bagaimana masa lalumu."


Tantra tetap tak bergeming. Sungguh ia tak ingin membahas masa lalunya yang sangat menyakitkan itu.


"Sudah larut, tidurlah!" Tantra menarik selimut dan menutup tubuh polos mereka.


"Tidak adil! Kamu tidak pernah mau berbagi kisah!" Laura mengeluarkan jurus ngambeknya.

__ADS_1


"Aku lelah. Aku harus istirahat karena besok kita harus kembali pulang. Papa memanggilku untuk memimpin rapat."


Selesai mengatakan itu, Tantra mengecup kening Laura dan cepat-cepat menutup mata. Ia seolah membungkam Laura dengan sikapnya.


__ADS_2