TANTRA

TANTRA
Bab 61


__ADS_3

"Kamu tahu kenapa Tantra tak bisa mencintaimu?" Laura masih tak mengalihkan pandangannya dari rania. "Itu karena kamu tidak pernah tulus padanya!"


"Tau apa kamu tentang ketulusan?" Tatapan Rania semakin menajam pada Laura. "Selama ini aku selalu menemani Tantra, membantunya, bahkan disaat orang-orang meragukannya tapi aku terus mendukungnya. Aku setia menemaninya bahkan disaat paling sulit dalam hidupnya! Tiba-tiba kamu datang dan merebutnya!"


"Sudah kubilang aku tidak merebut Tantra dari siapapun!" Ujar Laura dengan kesal.


"Kau tau Rania? Apa yang selama ini kamu lakukan kepada Tantra itu tidak tulus! Kamu selalu berusaha ada untuknya bukan untuk membuatnya bahagia, tapi memuaskan rasa cintamu padanya! Saat tau Tantra berpisah dengan Masyita, apa yang kamu rasakan?


Kamu bersedih karena melihat Tantra sedih. Bukan karena merasakan kesedihannya. Pasti muncul perasaan lega di hatimu karena ada peluang untukmu bersama Tantra, iya kan?"


Rania merasa dicecar perkataan laura. "Apa salahnya? Aku memiliki peluang! Aku tidak merebut Tantra dari Masyita!" Rania masih penuh emosi.


"Jika memang kamu tulus pada Tantra, kenapa kamu tidak berusaha menyatukan mereka?"


Pertanyaan Laura ini membuat Rania terdiam.


"Apa pernah terlintas di pikiranmu untuk menyatukan kembali? Apa pernah kamu berusaha walau dalam bentuk sekecil apapun untuk membuat Tantra kembali bersama Masyita?"


Rania semakin sesak.


Laura melihat Rania terdiam seolah menjawab semua pertanyaannya. Laura yakin jika apa yang dia pikirkan tentang Rania adalah benar. Rania egois untuk mencintai Tantra.


"Jika kamu memang tulus mencintai Tantra, biarkan dia bahagia!" Laura melembutkan suaranya.


"Bertahun-tahun aku menemaninya. Bertahun-tahun aku mencintainya dalam diam. Bertahun-tahun aku menyembunyikan perasaanku padanya. Apa kau tau bagaimana rasanya? Dan sekarang dengan mudahnya kamu bilang padaku untuk merelakannya?" Rania setengah berteriak. Emosinya sangat tidak stabil. Linangan air mata meluncur turun di kedua pipinya.


"Sayang, aku sudah dapatkan obatnya." Tantra datang tiba-tiba dan mendekat ke istrinya.


Seketika Rania menjauhkan wajahnya. Mencoba menyembunyikan tangisannya dari Tantra.


"Terimakasih ya Ra, sudah menyempatkan waktu untuk menemani Laura." Tantra tersenyum ceria. Namun senyuman itu langsung menghilang begitu melihat raut wajah sahabatnya. "Ra? Kamu kenapa? Kamu nangis?" Tantra melihat mata sembab Rania yang masih memerah.


Tantra mendekat ke Rania. Ia mengusap air mata yang masih menetes di pipi Rania. "Kenapa Ra? Apa yang membuatmu menangis seperti ini?"


Rania mengarahkan pandangannya ke arah Laura. Tantra mengikutinya dan melihat Laura. Kemudian Rania beranjak dan berlari pergi dari pasangan suami istri itu.


Tantra melayangkan pandangan penuh tanda tanya pada Laura. "Rania kenapa?"


Laura mengangkat bahunya. "Entahlah. Kenapa tidak kau tanyakan saja padanya?"

__ADS_1


"Laura!" Tantra menahan suaranya. Ia tiba-tiba mencurigai istrinya. "Apa yang sudah kamu lakukan pada Rania?"


Laura begitu kecewa pada Tantra. Sikap Tantra seolah menuduhnya.


Laura beranjak dari duduknya dengan kasar. "Kalau kau memang peduli padanya, kenapa tidak kau kejar saja dan memeluknya?" Laura melangkah pergi.


Tantra menjadi bingung. Ia mengikuti langkah Laura menuju parkir mobilnya. Tantra menggandeng tangan Laura namun langsung dihempaskan olehnya.


Tantra segera menuju mobil dan membuka pintu untuk istrinya.


Laura masuk dan duduk di kursi samping kemudi. Masih dalam mode diam. Laura bahkan enggan melihat ke arah Tantra.


Tantra masih menganggap tangisan Rania adalah karena ulah Laura. Meski kesal namun ia tak bisa marah kali ini. Ia harus menjaga kesehatan mental sang istri yang sedang hamil.


Tantra melihat perut Laura. Ia menghela napas. Ia mengangkat tangannya hendak memegang perut Laura. Namun Laura langsung menepis tangan itu.


"Mau apa kamu?" Tanya Laura seolah menantang.


"Aku hanya ingin menyapa anakku." Tantra berkata dengan lembut.


Ia pun mengelus perut Laura sambil berkata, "Nak, kalau ibu lagi marah, kamu jangan ikut marah ya sayang. Kamu harus tetap sehat dan bahagia sampai nanti ketemu sama ayah ya?" Tantra mencium perut Laura.


Laura menjadi terenyuh. Tantra bicara seolah janin di perut Laura sudah bisa mendengarnya. Tantra berkata dengan penuh kasih sayang.


"Ya baiklah. Mommy, ada yang sedang diinginkan? Apa ada makanan yang sangat ingin mommy makan?" Tanya Tantra dengan nada manja.


Laura berpikir sejenak. "Sepertinya aku ingin makan bebek bumbu item."


"Yang di depan rumah sakit ini?" Tanya Tantra tak percaya. Ia tidak menyangka sang istri justru ngidam makanan kaki lima.


Laura mengangguk yakin.


"Tapi itu kan tidak sehat? Makanan itu berlemak!" Seru Tantra.


"Itu makanan berlemak yang enak." Laura menirukan perkataan Tantra.


Tantra tetap menuruti Laura meski ia lebih menginginkan Laura mengkonsumsi makanan yang lebih menyehatkan untuk janinnya.


Sikap Laura kini berubah manja. Ia selalu minta disuapi oleh Tantra. Laura bahkan sama sekali tak menggunakan tangannya selama makan.

__ADS_1


Suap demi suap Tantra lakukan dengan sayang. Hingga sampai suapan terakhir, Laura meraih tangan Tantra dan menjilati jarinya.


Tingkah Laura ini mengundang perhatian orang disekitarnya, membuat Tantra malu dan segera menyelesaikan makannya.


"Kamu gak makan?" Tanya Laura yang melihat piring Tantra masih utuh namun sudah beranjak dari kursinya.


"Tidak. Aku akan membungkusnya dan memakan di kantor." Jawab Tantra.


"Kau akan ke kantor?" Tanya Laura dengan tatapan kecewa.


"Iya sayang. Ada rapat penting yang harus kuhadiri. Aku akan ke kantor sebentar saja ya? Tapi kamu jangan kembali ke apartemen. Mulai sekarang kita akan tinggal di kediaman utama, kediaman Papa." Jelas Tantra.


"Kenapa harus kesana? Aku lebih suka tinggal di apartemenmu." Sahut Laura.


"Sayang, aku tidak akan tega membiarkanmu sendirian di apartemen. Jika di kediaman Papa, akan ada banyak orang yang menjagamu dan menolong jika kamu memerlukan bantuan." Tantra mencoba meyakinkan sang istri.


Laura hanya bisa menuruti sang suami. Meski dirinya tak terlalu nyaman tinggal di rumah sang Papa.


Siang ini Laura merasa kesepian. Ia sangat merindukan Tantra. Padahal baru beberapa jam saja berpisah tapi Laura sangat menginginkan berada di pelukan sang suami saat ini.


"Aku sangat bosan! Aku butuh seorang teman sekarang!" Laura mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi George.


Tak menunggu lama, George sudah datang di rumahnya. Kini mereka berdua mulai bercengkrama di taman dekat kolam renang.


"Apa si tua ada di rumah?" George bertanya sambil melihat sekeliling rumah.


Laura berdecak.


"Jangan begitu! Dia itu Papaku! Hormatlah sedikit padanya!" Balas Laura.


Mereka pun lanjut mengobrol dengan diselingi candaan ringan.


Tanpa mereka sadari. Mobil Tantra telah memasuki halaman depan rumah. Tantra turun dari mobilnya dan mulai melangkah masuk ke dalam rumah. Tantra langsung menuju kamar hendak menemui sang istri.


"Kemana Laura? Kenapa tidak ada di dalam kamar?" Tantra pun bertanya pada pelayan.


Pelayan itupun menjawab, "Nona Laura ada di kolam renang bersama temannya, Tuan."


Tantra mengernyitkan dahinya. "Teman? Teman siapa?" Ia pun segera menuju ke halaman samping rumah mendekat ke kolam renang.

__ADS_1


"Dia lagi!" Tantra sangat geram melihat Laura yang nampak bercanda riang dengan George. Tangannya mengepal erat. Rahangnya mengeras. Dengan langkah berat dan cepat, Tantra menghampiri pemuda itu.


"Kau berani menemui istriku lagi?" Tantra menarik kerah baju George sampai membuat pemuda itu berdiri dihadapannya.


__ADS_2