TANTRA

TANTRA
Bab 23


__ADS_3

Satu hal yang sudah diduga oleh bunda, rasa sakit hati Rania. Rania pergi bahkan tanpa berpamitan pada Bunda. 


Bahkan panggilan Tantra pun ia acuhkan. Tantra mengejarnya sampai mobil Rania keluar dari area perumahan Tantra.


Bunda sangat mengerti perasaan Rania karena beliau pun menginginkan gadis itu yang menjadi menantunya.


Namun Bunda tak dapat merubah keputusan Tantra. Kejadian ini seolah sudah tertulis menjadi Takdir bagi Tantra. Menjadi jalan hidup yang harus ia jalani.


Dalam kepasrahannya bunda berserah.


Jika memang gadis itu adalah jodoh Tantra, semoga putraku selalu bahagia bersamanya.


Waktu terus bergulir menuju tanggal pernikahan. Keluarga besar Tantra sudah berada di Jakarta. Menempati salah satu hunian mewah milik Bos ArdTara corp.


Meskipun banyak dari sanak saudara yang bertanya-tanya karena pernikahan Tantra yang sangat mendadak, tapi mereka abaikan karena sibuk menikmati fasilitas bak hotel berbintang di kediaman Tuan Ardikusuma.


Sampai hampir tiba waktu akad nikah. Tantra mulai cemas karena belum ada kabar dari Laura. Bagaimana jika gadis itu benar-benar membatalkan acara ini?


Tantra cemas bukan karena takut kehilangan Laura. Dirinya cemas karena keluarga besarnya sudah terlanjur diundang ke ibukota. 


Dan pagi ini adalah waktunya. Acara sakral yang akan di selenggarakan di rumah utama Tuan Ardikusuma.


Semua persiapan telah selesai. Mulai dari mendekor ruangan, hidangan, dokumentasi hingga para petugas pencatatan sipil dan penghulu yang sudah duduk rapi di hadapan Tantra.


Tantra menarik napas kuat. Entah kenapa dirinya cukup nervous padahal sama sekali tidak ada perasaan untuk Laura.


Tuan Ardikusuma merentangkan tangannya, bersiap menggenggam tangan Tantra. 


Setelah tangan itu terpaut dan tergenggam erat, sebuah perjanjian suci mulai diikrarkan.


"Saya nikahkan engkau Tantra Wirapraja dengan putriku yang bernama Laura Romhilda binti Ardikusuma dengan maskawin berupa koin emas seberat 10 gram Tunai!"


Tantra menjawab dengan satu Tarikan napas, "Saya terima nikahnya Laura Romhilda binti Ardikusuma dengan mas kawin tersebut tunai!"


SAAAHHH !!!!


Teriakan dari para saksi dan hadirin menggema dalam ruangan tersebut, melepas semua rasa cemas di dada. 

__ADS_1


Tantra mencoba lagi untuk bernapas normal setelah dadanya sedikit terhimpit rasa nervous.


Penghulu telah selesai membacakan doa untuk keutuhan rumah tangga pengantin. Sekarang waktunya penandatanganan surat nikah dan dokumen lainnya untuk pencatatan sipil.


Penghulu meminta pihak keluarga untuk menghadirkan mempelai wanita.


Tampak ketegangan di raut wajah Tantra. Namun ketegangan itu tak berlangsung lama setelah seorang gadis berwajah blasteran mulai berjalan dengan dipandu oleh sang penata rias.


Sang pengantin wanita dengan kebaya putih dengan bagian leher atas berbentuk sabrina yang berkesan simpel namun tetap elegan.


Sebagai pengantin wanita, Laura tampak anggun dan sangat cantik.


Laura seolah bertransformasi menjadi gadis yang anggun lagi santun. Riasan jawa di wajahnya semakin menampilkan kesan wanita priyayi membuat para tamu terpana melihatnya, melihat kecantikannya.


Tak terkecuali dengan Tantra. Meskipun hatinya belum tergerak untuk Laura, namun matanya tak mampu berkedip karena terpesona kecantikannya.


Laura duduk di sebelah Tantra untuk menandatangani semua berkas dan dokumen pernikahan. Tantra mengambil cincin dan menyematkan di jari manis Laura dan begitupun sebaliknya.


Setelah itu Tantra meletakkan telapak tangannya dengan lembut di kepala Laura sambil membaca doa pernikahan untuk sang pengantin wanita.


Tantra menarik tangannya dari atas kepala Laura lalu duduk lagi menghadap Penghulu.


Laura melirik pemuda di sampingnya, dengan enggan ia meraih tangan Tantra dan menciumnya. Setelah itu ia segera menarik tangannya.


Sang Penghulu berkata lagi, "Loh Mas Tantra, kok pengantin wanitanya ndak dicium? dicium dulu toh, biar tambah mesra."


"No! Don't do that!" Sahut Laura dengan tatapan mengancam ke arah Tantra.


Ucapan Laura ini menimbulkan banyak tanda tanya pada orang-orang yang hadir termasuk para tamu dan keluarga Tantra.


Tantra kemudian berinisiatif untuk meredakan hal ini.


"Nanti saja Pak, di dalam kamar. Mungkin Laura malu." Jawab Tantra asal dan membuat para tamu tertawa.


Rangkaian acara sakral akad nikah telah selesai. Kini semua bersiap untuk berangkat untuk acara resepsi pernikahan yang digelar di ballroom hotel mewah di ibu kota.


Hotel tempat berlangsungnya acara ini adalah salah satu hotel mewah milik ArdTara corp. Hotel yang memiliki ballroom megah dan luas dengan daya tampung lebih dari 5000 orang.

__ADS_1


Ballroom yang sangat luas kini mulai dipenuhi oleh tamu undangan. Tentu saja bukan undangan dari Tantra maupun teman-teman Laura. Sebagian besar undangan adalah rekan bisnis dan kolega Tuan Ardikusuma.


Tantra lalu mengingat satu nama dalam daftar undangan. Direktur PT. Andromeda! 


Tantra sangat mengenal direktur muda itu. Direktur muda yang telah merampas mimpinya. Akankah direktur muda itu hadir? Akankah ia hadir bersama istrinya?


Ah, mengingat wanita itu membuat rasa rindu kian memuncak dalam hati Tantra. Ia sangat berharap bisa berjumpa dengan pujaan hatinya, berjumpa dengan Masyita.


Tantra yang kini tengah berdiri di pelaminan bersanding dengan Laura, mulai mencari-cari dengan tatapan matanya. Mencari keberadaan Dito dan Masyita.


Gerak gerik Tantra ini mulai dirasakan Laura. Laura melirik pasangannya yang nampak gelisah seolah menunggu sesuatu. Namun ia memilih untuk mengabaikannya.


Laura lebih peduli pada tubuhnya merasa sangat lelah menyambut banyaknya tamu yang ingin berjabat tangan untuk mengucap selamat kepada mereka.


Ia harus merasakan kakinya yang seolah ditarik kencang karena harus berdiri ditempat selama beberapa jam.


Hingga jumlah tamu dalam antrian mulai sedikit, Laura memilih pamit untuk istirahat karena sudah tidak kuat untuk menahan rasa lelahnya.


Laura naik ke lantai atas hotel tersebut. Lantai tempat kamar presidential suit yang telah di dekorasi untuk malam pertama pasangan pengantin baru.


Laura memasuki kamar tersebut. Ia melihat sekeliling kamar mewah yang telah didekor indah. Laura berjalan mendekat ke sisi ranjang.


Ia melihat sekumpulan kelopak mawar merah yang ditata membentuk simbol cinta. Pandangannya seolah ditarik pada sebuah baju seksi berwarna merah, berbahan tipis dan tembus pandang yang tergantung tak jauh dari pintu kamar mandi.


Laura mulai mencium bau ruangan yang dibuat sensual seolah menambah hasrat untuk pasangan pengantin baru.


"Apa-apan ini? Dia bisa menikahiku tapi jangan harap bisa menikmati tubuhku!"


Laura memilih masuk ke kamar mandi untuk berendam air hangat. Alih-alih mengenakan baju seksi itu, Laura justru mengambil piyama panjang miliknya yang sudah ia siapkan di dalam koper.


Laura yang sudah selesai mandi lalu menyibak kumpulan kelopak bunga mawar di atas ranjang hingga jatuh berserakan di lantai.


Laura mengambil air dingin dan ia siramkan di salah satu sisi tempat tidur. "Jangan harap kau bisa tidur satu ranjang denganku!"


Laura melakukan semua ini sebelum Tantra masuk masuk ke kamar.


Laura merebahkan tubuhnya di sisi ranjang yang lain. Ia gulung tubuhnya dengan selimut dan menahan bagian bawah kakinya dengan bantal.

__ADS_1


"Good night pemuda menjengkelkan!" Laura mulai memejamkan matanya.


__ADS_2