TANTRA

TANTRA
Bab 34


__ADS_3

Laura terus berjalan hingga keluar dari Plaza tersebut. Laura berjalan menyusuri trotoar. Percakapan dengan Rania masih terngiang-ngiang di kepalanya.


Langkah kakinya terus berayun sampai ke sebuah taman kota. Laura masuk ke dalam taman tersebut. Taman yang luas dengan pepohonan besar yang terasa rindang. Taman kota ini lebih layak disebut sebagai hutan kota.


Laura memilih duduk di salah satu kursi yang berada di bawah pohon randu. Ia memutuskan untuk menghabiskan sorenya dengan menikmati suasana yang asri dan angin di sekitar pohon yang membuatnya tenang.


Ia mengamati sekitar. Hanya ada beberapa lansia yang berjalan mondar mandir di atas batu kerikil putih dan beberapa rombongan anak prasekolah yang biasa disebut anak PAUD.


Laura memilih untuk mengamati sekumpulan anak PAUD. Melihat tingkah lucu anak-anak itu mampu menghibur hatinya.


Laura tak pernah berinteraksi dengan anak kecil semenjak dia dewasa. Menjadi anak tunggal yang tumbuh tanpa kasih sayang orang tua membuatnya bersikap seperti sekarang. Arogan, sok dan jutek.


Laura yang sedang asyik melihat tingkah lucu anak-anak tiba-tiba dikejutkan oleh seorang anak perempuan yang mengejar bola ke arahnya. Laura mengambil bola itu dan menyerahkannya pada anak cantik itu.


"Tlimakasih tante bule tantik." Kata gadis kecil itu.


"Sama-sama." Laura membalas dengan senyum ramah.


Gadis kecil itu berlari kembali ke teman-temannya.


Ponsel Laura berdering. Ia mengambil dari dalam tasnya dan melihat siapa yang meneleponnya. 


Laura menghela nafas. Ia tekan tombol hijau untuk menerima panggilan itu.


"Iya, kemarilah. Aku kirim lokasinya."


*


Sementara itu, Tantra tengah berkutat dengan pekerjaannya. Hari ini ia ingin menyelesaikan semuanya lebih cepat. Perdebatan dengan Laura tadi pagi sangat mengganggunya. Ia sangat menyesal telah membentak Laura.


Laura bersikap seperti itu pasti ada penyebabnya. Bukannya mencari penyebabnya, Tantra malah menuruti emosinya dan membentak Laura.


Sungguh kali ini dia sangat menyesal. Tantra khawatir Laura akan kembali ke dunianya yang dulu. Berfoya-foya bersama teman-temannya.


Lamunan Tantra terpecah saat terdengar dering ponselnya. Panggilan dari Rania. Tantra menerima panggilan itu dan bergegas pergi meninggalkan kantor. Rania mengajaknya makan siang.


Sebagai sahabat yang baik, Tantra memenuhi permintaan Rania untuk menemaninya makan siang. Tantra datang, makan lalu kembali lagi ke kantor.


Buru-buru? Ya, Tantra ingin pekerjaannya cepat selesai supaya dia bisa segera menemui istrinya dan meminta maaf.


Waktu masih menunjukkan pukul 4 sore. Tantra memutuskan untuk menghubungi Laura.


"Kamu dimana? Aku akan kesana menjemputmu pulang." Setelah mendapat jawaban dari Laura, Tantra bergegas meninggalkan kantor menuju Taman kota sesuai lokasi yang dikirim Laura.

__ADS_1


Jarak kantor Tantra dan taman kota cukup jauh. Butuh beberapa waktu perjalanan hingga ia sampai kesana.


Tantra memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. Ia berjalan menuju taman kota untuk menghampiri istrinya.


Tantra setengah berlari. Ia mencari kesana kemari. Senyumnya muncul tatkala melihat istrinya yang sedang asyik bermain dengan memangku seorang gadis kecil. Pemandangan yang saat indah. Untuk pertama kalinya Tantra melihat wajah dan senyum tulus istrinya.


Tantra menghampiri istrinya dan duduk disebelahnya.


"Hai gadis cantik." Sapa Tantra.


Laura dan gadis kecil itu menoleh ke Tantra.


"Om panggil aku? Apa tante bule?" Tanya si gadis kecil.


Tantra terdiam sejenak. Memperhatikan wajah Laura dan gadis kecil itu bergantian.


"Kamu adalah gadis kecil yang cantik." Tantra mengusap rambut si gadis kecil. "Tante bule juga gadis yang cantik." Tantra beralih ke Laura. "Kalian berdua sama-sama cantik!"


Tanpa sengaja bola yang dipegang Laura jatuh dan menggelinding. Si gadis kecil turun dari pangkuan Laura dan berlari mengejar bola itu.


Tantra dan Laura tersenyum melihat tingkah si gadis kecil itu.


"Maaf!" Perkataan Tantra secara tiba-tiba membuat Laura menoleh ke arahnya.


Sementara Laura, ia hanya menunduk sambil meremas jarinya.


Tantra meraih tangan Laura dan menggenggamnya. Ia satukan tangan mereka dan meletakkannya di atas pangkuannya.


"Jika suatu saat aku lalai, ingatkan aku akan janjiku! Ku mohon!" Ucap Tanta dengan pandangan sendu.


Laura hanya bisa menunduk. Ini sungguh berat baginya. Sangat berat untuk menolak perlakuan manis Tantra seperti sekarang.


"Hayo! Tante bule sama Om pacalan ya?" Suara gadis kecil itu membuyarkan momen manis Tantra dan Laura.


"Kata umi, gak boleh pacalan! Pacalan itu dosa!" Ujar si gadis kecil.


Tantra tertawa mendengar ucapan gadis kecil itu. Ia pun mencoba menjelaskan padanya, "iya, umi bener. Pacaran itu gak boleh. Tapi om dan tante ini sudah menikah. Jadi kami boleh pacaran dong karena sudah sah."


"Mana anaknya? Kan kalau olang sudah menikah itu punya anak! Anaknya om ganteng sama tante bule mana?" Si gadis kecil bertanya dengan polosnya.


Pertanyaan si gadis kecil kali ini membuat Tantra dan Laura merasa kikuk. Mereka jadi salah tingkah.


Hingga suara sang guru terdengar memanggil si gadis kecil. Gadis kecil itu berpamitan dengan melambaikan tangannya. "Dada om ganteng! Dada tante bule! Kapan-kapan kesini lagi ya!" 

__ADS_1


Laura dan tantra membalas si gadis kecil dengan ikut melambaikan tangan kepadanya.


"Cantik sekali yah gadis kecil itu." Ujar Tantra. "Kalau kita punya anak perempuan, pasti secantik itu! Secantik ibunya!" Tantra berkata sambil menoleh dan melihat wajah Laura.


Blusss…


Seketika wajah Laura merona. Ia sungguh malu mendengar ucapan Tantra.


Punya anak? Tantra ingin punya anak denganku?


Laura menoleh ke Tantra saat mendengar Tantra melanjutkan perkataannya. "Kalau anak kita laki-laki, pasti tampan seperti aku!" Ujar Tantra dengan bangganya.


"Ih! Percaya diri sekali? Emang ada yang bilang kalau Tuan Tantra ini tampan?" Kata Laura sambil mengejek Tantra.


"Pastilah tampan! Kalau tidak, tak mungkin bisa bersanding dengan nona Laura." Tantra berkata dengan gaya bak pelayan kerajaan.


Hal itu membuat mereka tertawa bersama. Sore ini terasa begitu indah. Tantra mampu merubah suasana hati Laura dan secara otomatis ia mendapatkan maaf dari istri cantiknya itu.


Laura beranjak dari duduknya. Ia hendak pergi dari taman kota itu. Namun kaki yang mulai melangkah itu tersandung akar pohon sehingga membuatnya terkilir.


Laura meringis kesakitan. Ia sampai duduk di bawah dan memegangi kakinya untuk menahan sakit.


Tantra langsung berjongkok dan melihat kaki Laura.


"Ini terkilir. Kita pulang! Aku akan mengobati kakimu dirumah." Tantra berjongkok membelakangi Laura. Ia menepuk punggungnya untuk memberi kode supaya Laura naik ke punggungnya.


Laura menolak. Ia merasa malu jika harus digendong Tantra dan dilihat banyak orang karena mereka sedang berada di tempat umum.


Tak mau menunggu lama, Tantra menarik tangan Laura dan ia letakkan melingkari lehernya. Tantra berdiri sehingga tubuh Laura terangkat di belakang punggungnya. Tantra mengunci kaki Laura dengan kedua tangannya supaya tubuh istrinya tidak jatuh merosot.


Tantra mulai melangkah dengan menggendong Laura di belakang punggungnya.


Laura merasa malu karena dirinya kini menjadi pusat perhatian. Ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Tantra bagian belakang.


Tanpa sadar tindakan Laura ini justru memancing Tantra. Setiap hembusan nafas Laura yang menyentuh bagian belakang leher Tantra seolah membangkitkan sesuatu dalam diri Tantra.


Konsentrasi Tantra buyar. Fantasinya sebagai laki-laki bermunculan. Hingga sampai di mobilnya. Tantra membuka pintu mobil itu dan hendak menurunkan Laura.


Tantra mendudukkan Laura dengan posisi membelakangi mobil. Tanpa sengaja tangannya justru menyentuh bagian belakang tubuh Laura yang kenyal.


Fokus Tantra buyar. Tantra melepas tangannya membuat tubuh Laura melorot jatuh dan kepalanya terbentur atap mobil.


"Auuww!!! Mantra! Sakit!"

__ADS_1


Keluarlah kata-kata makian dari mulut Laura. Laura kembali ke mode awal. jutek dan menyebalkan.


__ADS_2