TANTRA

TANTRA
Bab 38


__ADS_3

Pagi ini Tantra bersiap. Ada meeting penting untuk proyek besar senilai ratusan Miliar untuk anak perusahaan ArdTara corp yang bergerak dibidang pertambangan.


Tantra mulai membuka laptop untuk memastikan semua laporan sudah terkirim via email. Namun ada satu hal yang mengganggu Tantra. Satu Notifikasi email yang memberitahunya tentang penarikan uang di rekeningnya.


Tantra membuka Notifikasi itu dan membacanya. Itu adalah pemberitahuan pencairan Bilyet giro yang ia berikan pada Laura.


Jadi dia  memberikan uang itu untuk Mike!


Tantra mengetahui itu karena perpindahan uang tercatat masuk ke rekening atas nama Mike Bourdon.


Tantra menutup laptopnya. Ia bergegas pergi keluar apartemen tanpa berpamitan pada Laura.


Meski begitu ia bisa mendengar suara Laura yang berteriak memberitahunya bahwa istrinya itu akan pergi menemui Stella.


Karena tidak ingin melampiaskan amarahnya, Tantra memilih pergi dan mengacuhkan omongan Laura.


Tantra berangkat menuju kediaman utama. Ia harus menjemput Tuan besar. Nilai investasi untuk proyek sangat besar dan Tuan Besar sebagai Chairman harus mengetahui semua rencana sebelum perusahaan miliknya yang dipegang oleh Tantra memutuskan untuk berinvestasi.


Mereka berdua berangkat dalam satu mobil. Mobil mewah milik Tuan Besar melaju menuju hotel tempat pertemuan.


Sebentar lagi meeting di mulai. Meeting ini juga dihadiri oleh beberapa pengusaha dan pejabat setempat yang turut andil dalam pelaksanaan proyek ini.


Tantra dan tuan Ardikusuma selaku tamu utama duduk di kursi kebesaran. Meeting dimulai. Beberapa pihak mempresentasikan plan mereka. Mulai Tim geologi yang menerangkan keakuratan titik pengeboran sampai Tim ekologi yang menerangkan dampak proyek itu pada lingkungan.


Meeting itu berlanjut dengan adanya diskusi dan pertanyaan-pertanyaan dari pihak yang akan berinvestasi, termasuk Tantra.


Saat meeting sedang genting. Tiba-tiba ponsel Tantra berdering. Ia langsung menerima panggilan itu.


Tantra berbicara sambil berbisik. "Iya Laura? Aku masih meeting. Bisakah-" Tiba-tiba Tantra terdiam. 


Ia terdiam karena mendengar suara Laura yang menangis terisak.


"Mantra… hiks.. hiks.." suara Laura menangis terisak dari seberang telepon.

__ADS_1


"Laura? Kenapa? Kamu kenapa?" Tantra mulai panik.


Laura tidak menjawab. Dia semakin menangis terisak.


Tantra sungguh tidak tega mendengar suara tangis Laura. "Kamu dimana? Kirim lokasimu! Aku akan segera kesana."


"Aku-aku di taman kota." Laura menjawab sambil terisak-isak.


"Tunggu disana! Aku segera kesana!" Tantra kemudian pamit kepada tuan Ardikusuma yang duduk disebelahnya.


"Pa, aku harus pergi. Aku perlu menemui Laura." Kata Tantra.


"Ini proyek besar! Seharusnya kamu bisa bersikap profesional dengan membedakan mana yang lebih penting untuk dilakukan! Jangan terlalu menuruti kemauan Laura yang kekanak-kanakan!" Sanggah Tuan Ardikusuma dengan suara pelan namun tegas.


"Tapi Laura membutuhkanku sekarang. Tidak ada yang lebih penting dari itu kan Pa? Bukan kah tugas utama yang Papa berikan padaku adalah menjaga Laura?" Ucapan Tantra ini cukup untuk membuat Tuan Ardikusuma tak mampu menyanggah.


"Pergilah! Lindungi dia! Aku akan menangani kontrak kerjasama proyek ini." Titah Tuan Ardikusuma ini langsung dilaksanakan oleh tantra.


Dengan sopan Tantra berdiri dan pamit undur diri untuk meninggalkan meeting. Tantra bergegas pergi dari ruangan dan mengabaikan semua pendapat negatif orang-orang yang hadir dalam pertemuan tersebut. Menurut mereka, sikap Tantra kali ini kurang profesional.


Begitu sampai di trotoar depan taman kota, Tantra bergegas masuk dan mencari Laura.


Tantra menuju kursi tempat ia menemukan Laura saat pertama kali datang ke taman kota.


Benar dugaannya, Laura ada disana. Laura duduk sendirian sambil menangis terisak. Tangisan yang memilukan membuat Tantra tidak tega padanya.


Tantra berjalan mendekat dan duduk disebelahnya. Laura menoleh kepadanya. 


"Mantra… aku, aku hancur… aku hancur…" Laura kembali menangis.


Tantra menarik tubuh Laura dan mendekapnya. Tantra tak ingin bicara apapun. Ia hanya ingin melindungi Laura dan membuatnya tenang. Tantra membiarkan Laura menumpahkan semua rasa sesak di dadanya dalam dekapan tantra. Sambil sesekali ia belai lembut rambut dikepala Laura.


Cukup lama Laura terisak hingga air matanya membasahi jas dan kemeja Tantra. Setelah sesak di dadanya mereda, Laura mulai membuka suara.

__ADS_1


"Dia… dia menghianatiku! Di bersamaku hanya karena menginginkan hartaku!" Laura kembali terisak.


"Aku mencintainya Mantra! Aku tulus mencintainya! Tapi kenapa dia begitu tega?" Laura seolah meratapi cintanya.


Ia merasa begitu sakit hati. Selama ini ia sangat mempercayai Mike. Mencintainya dengan tulus karena mengira bahwa Mike telah berani berkorban untuknya.


"Aku rela melakukan apapun! Karena yang aku tau, Mike sudah berkorban banyak untukku. Dia rela meninggalkan negaranya demi aku! Tapi nyatanya? Dia melakukan itu karena ingin mendapatkan harta Papaku! Harta! Bukan aku!" Air mata Laura seolah enggan untuk berhenti.


"Dan yang membuatku lebih hancur. Sahabat yang begitu aku percaya, justru rela menghianatiku! Dia bermain dengan Mike dibelakangku!" Tangisan Laura semakin menjadi.


"Kenapa Mantra? Kenapa tidak ada orang yang tulus padaku? Semua hanya karena harta Papa! Mereka mendekatiku karena harta Papa!" Laura mulai berteriak. "Ini tidak adil! Ini sungguh tidak adil! Aku begitu tulus menyayangi mereka! Tapi kenapa mereka begitu tega? Kenapa Mantra?" Laura menangis sambil menepuk-nepuk dada Tantra.


"Aku mencintainya Mantra! Aku sungguh mencintainya! Dia laki-laki pertama yang bisa merebut perhatianku! Dia lelaki pertama yang mengisi hatiku!" Laura kembali memeluk tubuh Tantra.


Sebenarnya Tantra kurang memahami apa yang terjadi pada Laura. Cerita Laura hanya sepotong-sepotong. Namun yang Tantra lihat dan dapat ia rasakan, Mike telah membuat Laura sakit hati. Laura terlihat begitu rapuh dan hancur.


Tantra sengaja hanya diam tanpa bertanya apapun. Ia lakukan itu supaya Laura merasa nyaman dan bersedia untuk mencurahkan semua perasaan yang membuatnya sesak.


Tantra masih memeluk Laura. Menempelkan kepala istrinya itu di dadanya. Sambil membelai lembut kepala Laura, Tantra berkata untuk mengajaknya pulang.


"Kita pulang yah?" Tantra membantu Laura berdiri. Ia pandu istrinya untuk berjalan keluar dari taman kota dengan tangan yang selalu melingkar di pundak sang istri.


Laura berjalan sangat lamban. Tubuhnya terlihat sangat lesu. Tulangnya seperti sulit sekali untuk menyangga berat tubuhnya. Tantra dengan sabar menuntun sang istri.


Namun awan tiba-tiba berubah gelap. Rintik air hujan pun mulai turun. Tantra tak ingin istrinya kehujanan.


"Kita cari tempat berteduh ya?" Karena gerakan Laura yang sangat lamban, Tantra pun berinisiatif untuk menggendong istrinya itu. Tantra mengangkat tubuh Laura dengan menggendongnya ala bridal.


Tantra berjalan cepat untuk mencari tempat berteduh tapi tak ada tempat di dalam taman itu yang bisa ia gunakan. Dengan setengah berlari, Tantra keluar menuju trotoar.


Tantra melihat halte yang bisa ia gunakan untuk berteduh. Tantra bergegas kesana karena air hujan sudah mulai terasa lebat.


Tantra berhasil membawa Laura berteduh di halte meskipun baju mereka sedikit basah karena terkena air hujan.

__ADS_1


Tantra menelepon sopir Tuan Besar untuk menjemputnya. Ia menunggu dengan duduk disamping Laura. Pandangan Laura kosong, tubuhnya pun lemah. Tantra menyandarkan kepala Laura di pundaknya. Ia merangkul pundak Laura dengan satu lengannya. Mereka masih menunggu hingga mobil penjemput mereka datang. 


__ADS_2