
Tantra mengambil ponselnya yang sedari tadi berdering. Ia menerima panggilan itu tanpa melihat siapa nama yang muncul di layar ponselnya.
"Halo? Iya. Tapi ini jam 1 pagi." Tantra terdiam beberapa saat untuk menyimak lawan bicaranya.
"Baik Pa. Nanti siang kami berdua akan pulang." Tantra menutup panggilannya.
"Kenapa papa menelpon jam segini?" Tanya Laura dengan hati-hati.
"Ada urusan bisnis katanya. Beliau memintaku untuk kembali ke kantor. Besok ada pertemuan penting dengan tamu dari swedia membahas bisnis ArdTara yang bergerak dibidang ritel." Jawab Tantra.
"Untuk urusan bisnis ya? Selalu urusan bisnis!" Ucapan penuh kekecewaan terlontar dari mulut Laura.
"Dari dulu selalu seperti itu. Apa pernah Papa bertanya bagaimana keadaanku?" Lanjutnya.
"Jangan begitu sayang. Tuan Ardikusuma sangat menyayangimu. Dia bekerja keras, semua itu untuk membuatmu bahagia. Hidup dalam kemawahan dan berkecukupan." Tantra mencoba membesarkan hati istrinya.
"Tapi terbuktikan, kemewahan justru membuat aku tersiksa. Bertemu dengan orang-orang palsu yang hanya tulus pada harta papaku!" Laura mulai tersulut. Namun emosinya langsung mereda setelah melihat wajah Tantra.
"Kau tau Mantra? Justru aku lebih bahagia tinggal di rumah sederhana bersama bunda. Meski fasilitasnya terbatas, tak ada pendingin ruangan dan satu kamar mandi yang digunakan untuk seluruh penghuni rumah, tapi aku merasa tenang disana. Bunda tulus menyayangiku. Memberikan seluruh kasih sayang dan perhatiannya padaku." Ucap Laura dengan sendu.
Tantra mengusap lembut kepala Laura menggunakan tangan kirinya. Ia ingin menunjukkan segala rasa sayang pada istrinya.
Hingga mereka tiba di rumah dan masuk ke dalam kamar. Tantra meminta Laura untuk merebahkan tubuhnya.
"Tidurlah! Istirahatlah sayang. Nanti siang kita harus kembali ke ibu kota."
Tantra juga merebahkan tubuhnya di samping Laura. Ia tarik lembut tubuh sang istri dan memeluknya.
*
Kini mereka telah kembali ke ibu kota. Tantra memutuskan untuk pulang ke kediaman utama supaya Laura tidak merasa sendirian di apartemen. Semenjak berada di rumah bunda, Laura sudah terbiasa hidup berdampingan dengan orang lain. Jadi Tantra memutuskan membawanya tinggal di kediaman utama karena ada banyak pelayan yang bisa menemaninya.
Tantra tak mau Laura kesepian karena dirinya harus meninggalkannya untuk waktu yang cukup lama.
Tantra mendapat tugas untuk pergi ke Swedia. Selama kurang lebih 1 bulan, Tantra akan berdiskusi sambil menjalin kerjasama dengan perusahan ritel nomer 1 di dunia yang berada di Swedia.
"Kamu jaga diri yah? Hanya satu bulan aku disana. Setelah itu aku akan selalu bersamamu dan tak akan melepasmu." Tantra berkata sambil memeluk erat sang istri.
Laura sedih. Hubungannya dengan Tantra telah membaik namun harus berpisah karena urusan bisnis.
Laura akan merasa rindu. Namun gengsinya terlalu tinggi untuk sekedar mengatakan itu.
__ADS_1
"Apa tidak bisa dipercepat? Kenapa harus 1 bulan? Bukankah itu terlalu lama?" Kata Laura dengan sendu.
"Kenapa? Takut kangen ya?" Tantra memang senang menggoda istrinya.
"Dih! Ngapain! Gitu aja kangen!" Sekali lagi gengsinya mengalahkan hatinya.
"Aku berangkat yah? Jaga diri baik-baik!" Tantra mengecup kening sang istri, lalu beralih ke pipi dan bibirnya.
Sungguh berat tapi Tantra harus menjalaninya. Ini adalah sebuah tugas penting untuk ekspansi bisnisnya ke dunia internasional.
Baru tiga hari setelah keberangkatan Tantra, Laura sudah merasa kehilangan. Ia meraih ponselnya dan mulai mengetik kontak atas nama suaminya. Baru akan memencet tombol telpon tapi ia urungkan.
"Masak iya sih aku yang nelpon duluan? Harusnya kan dia!" Laura teguh pada gengsinya.
Ia membuka pesan terakhir dari Tantra yang dikirim 3 hari lalu.
I've Arrived in Sweden. Do you miss me baby?
Pesan ini seolah obat rindu untuk Laura.
Laura benar-benar bosan. Menjalani hidup sendiri tanpa Tantra ternyata tidak mudah. Sudah satu minggu Tantra tidak menelponnya. Satu minggu sudah ia tak mendengar suara Tantra.
Dua minggu sudah ia menahan rindu. Ia sudah tidak tahan. Rasa itu mengalahkan egonya, gengsinya runtuh. Laura mengambil ponsel dan menelpon Tantra.
"Halo.."
Laura tertegun. Itu bukan suara sang suami. Dengan ragu Laura bertanya, "Ha-halo.. ini siapa?"
"Saya Arga, Nona. Tuan Muda masih ada pertemuan jadi belum bisa menerima panggilan. Apa Nona ada pesan untuk Tuan Muda? Nanti saya sampaikan." Jawab sang asisten di seberang sana.
"Tidak! Tidak perlu. Terimakasih." Laura menyudahi panggilannya. Sungguh kecewa. Ia benar-benar tidak bisa mengetahui kabar suaminya.
Laura mulai risau. Ia sampai tak berselera untuk makan. Tubuhnya mulai lemah.
Laura sungguh tidak mengerti dengan hatinya. Dulu saat dia bersembunyi dari Tantra sampai 1 bulan lamanya, tak sampai tersiksa seperti ini. Tapi sekarang? Dirinya seperti orang gila karena merindukan Tantra.
Laura pergi ke taman kota untuk mengalihkan pikirannya. Kebiasaannya dulu saat bosan adalah melihat anak-anak PAUD dan TK bermain disana. Sungguh menghibur hati Laura.
Tanpa terasa Laura mengusap perutnya. Tiba-tiba muncul keinginan dalam hatinya untuk memiliki anak. Hal ini semakin membuat Laura rindu pada Tantra.
Laura merasa ada titik air jatuh di kepalanya. Ia menengadah. Hujan mulai turun membasahi tubuhnya.
__ADS_1
Laura beranjak dari tempat ia duduk. Berjalan keluar taman untuk mencari tempat berteduh. Namun tak ia temukan hingga ia berdiri di pinggir jalan. Laura melihat halte kosong yang bisa ia gunakan untuk berteduh.
Laura duduk dan terpaku. Ia mengambil ponselnya dari dalam tas dan mulai menghubungi seseorang.
"Halo, George? Bisakah kamu menjemputku?"
Orang yang dihubungi Laura pun datang dan mengantarnya ke kediaman utama.
Semenjak kehujaan itu, kondisi Laura semakin memburuk. Ia mulai demam dan mengigau. Laura selalu memimpikan Tantra setiap malam.
Tiga hari setelahnya Laura baru bisa beraktifitas lagi. Ia memutuskan untuk bertemu George. Laura butuh teman untuk diajak bicara.
"What the problem dear? Ada masalah dengan suamimu lagi?" Tanya George.
Laura menangis. Semakin dalam dan terisak.
"Come on dear! Ceritakan padaku!" Pinta George.
Laura pun mulai menceritakan rasa rindunya. Tanpa malu Laura menceritakan sambil menangis terisak.
Cukup lama mereka berada di cafe. Hingga malam terasa semakin gelap. George berinisiatif mengantar Laura pulang ke kediaman utama.
"Aku akan mengantarmu pulang. Si tua bisa marah jika tau aku telat mengantarmu pulang!" Kata George.
"Tidak George! Aku sudah berpesan pada kepala pelayan bahwa aku akan pulang ke apartemen malam ini." Laura mulai beranjak tapi tiba-tiba tubuhnya terhuyung ke samping.
Beruntung George sigap menahan tubuhnya.
Karena merasa khawatir, George memutuskan untuk mengantar Laura sampai di dalam apartemennya.
George masuk dan duduk di sofa ruang tamu di apartemen Tantra. Ia menunggu Laura menyuguhkan minuman untuknya.
Tiba-tiba bel pintu apartemen berdering.
"George! Bisakah kau membuka pintu? Mungkin itu petugas kebersihan." Laura berteriak dari dapur.
George berdiri dan berjalan ke arah pintu. George membuka pintu dan,
"Surprise!!" Teriak Tantra dengan semangat di balik pintu.
Namun semangat itu langsung berubah menjadi amarah ketika melihat seorang pria berada di apartemen bersama istrinya.
__ADS_1