
"Aku belum makan sejak pagi." Laura menjawab lesu.
"Kenapa tidak makan? Kamu jangan ceroboh seperti itu! Kamu itu sedang hamil! Jadi jangan egois!" Emosi Tantra meluap begitu saja. Sungguh kesal dengan tingkah Laura yang kini mulai kekanakan.
Hiks… Hiks…
Laura menunduk sambil menangis terisak.
Tantra menghela napas. Semenjak hamil, istri galaknya ini sudah berubah menjadi istri yang sensitif dan mudah menangis.
"Laura, maafkan aku." Lagi lagi harus Tantra yang mengalah. Ia harus menekan segala ego dan emosi untuk menenangkan istrinya.
"Kenapa kamu tidak makan?" Tantra membelai lembut pundak Laura dan mengangkat dagunya supaya bisa melihat wajah sedih istrinya.
"A-aku, hiks.. hiks.." masih tersisa isak tangis di mulut Laura. Seolah suaminya telah berlaku sangat kasar padanya.
"A-aku ti-tidak bisa makan jika tidak disuapi sama ka-kamu, Mantra."
"Ya sudah, sekarang kita turun. Aku akan meminta pelayan menyiapkan makanan dan akan menyuapimu sampai habis semua makanan tak tersisa." Ujar Tantra.
Senyuman di bibir Laura langsung merekah. Dengan semangat dia berdiri dari ranjang dan menarik tangan suaminya. "Ayo! Kita makan!"
"Eits… itu semua tidak gratis!" Sanggah Tantra.
Kening Laura berkerut. "Apa aku harus membayarmu?"
Tantra mengangguk. Ia menunjuk bibirnya sebagai tebusan.
"Cium?" Tanya Laura.
Tantra tersenyum dengan yakin.
Laura mendekat ke tubuh Tantra dan melingkarkan tangannya di leher suaminya.
"Aku akan memberikan lebih dari itu bahkan sampai membuatmu sangat puas! Tapi,"
"Tapi apa?" Tanya Tantra.
"Temani aku makan sekarang sebelum anakmu mulai memberontak lagi!" Laura menarik tangan Tantra dengan keras sampai tubuh suaminya itu terhuyung dan hampir jatuh dari ranjang.
*
Tantra menepati janjinya. Ia menyuapi Laura dengan tangannya sendiri. Laura sangat menikmati makanannya. Ia bahkan tak sungkan untuk menjilati jemari Tantra.
__ADS_1
Jika sedang makan bersama Tantra, nafsu makannya akan naik berkali-kali lipat. Ini bahkan piring ketiga yang ia habiskan.
Tantra terkekeh sambil menggelengkan kepalanya. "Makanmu banyak sekali? Pasti anakku akan tumbuh sehat disana." Tantra mengelus lembut perut Laura.
Laura hanya tersenyum. Namun tiba-tiba terlintas dipikirannya bahwa risiko kehamilan akan membuat tubuhnya gemuk.
"Mantra, bagaimana jika badanku gemuk? Apa setelah melahirkan kamu akan meninggalkanku?"
Tantra mengecup kening Laura. "Tidak akan sayang. Aku tidak akan meninggalkan istriku. Bukankah aku sudah berjanji dari dulu? Apa kau masih meragukanku?"
"Iya, itu kan dulu. Saat tubuhku masih indah. Gimana kalau tubuhku sudah tak seindah dulu? Padahal selalu ada cewek cantik di sekelilingmu!"
"Tidak akan! Meski tubuhmu berubah, meski wajahmu berubah, aku tidak akan berpaling darimu karena sekarang aku sangat mencintaimu!" Tantra menjawab dengan mantab.
"Baiklah, aku akan mengawasimu setiap waktu untuk membuktikan perkataanmu!" Sahut Laura.
Perasaan Tantra langsung tidak enak. Sepertinya sang istri merencanakan sesuatu yang akan mengganggu aktivitasnya.
"Mulai besok, aku akan mengikutimu kemanapun kamu pergi. Termasuk ke kantor dan bertemu klien." Jawab Laura mantap.
Tantra hanya bisa menelan ludah. "Tapi sayang, kau akan capek jika mengikutiku."
"Tidak! Aku tidak akan capek! Lagi pula, pola makanku bisa jika terjaga karena ada kamu yang setiap saat bisa menyuapiku."
Tantra mulai resah. Ia harus segera menghubungi orang-orang kepercayaannya di kantor untuk mengatur semuanya.
Tantra harus keluar kamar supaya pembicaraannya tidak didengar oleh Laura.
"Mulai besok Nona muda akan datang ke kantor. Atur semuanya dan jangan sampai Nona Muda bertemu dengannya, kamu paham?" Tantra menutup panggilannya dan kembali masuk ke kamar bersama istrinya.
Sesuai perjanjian, Laura melayani Tantra hingga membuat suaminya sangat puas.
Tantra sangat menikmati kehamilan Laura. Karena semenjak hamil, istrinya lebih bersemangat untuk merayunya dan meminta untuk melakukan hubuungan badan.
Bentuk tubuh Laura memang berubah. Tapi perubahan ini semakin menyenangkan Tantra karena tubuh Laura terlihat semakin berisi dan wajahnya pun semakin bersinar cantik.
"Aku mencintaimu sayang. Semenjak hamil kamu menjadi semakin panas. Aku suka. Aku akan membuatmu sering hamil supaya kamu bisa selalu melayaniku di ranjang seperti ini."
Laura langsung menyentil mulut Tantra.
"Jangan sembarangan kalau bicara! Kamu pikir hamil itu enak?" Laura sangat kesal mendengar ucapan Tantra. Kalau Laura sering-sering hamil, bisa punya berapa anak mereka nantinya.
*
__ADS_1
Pagi pun tiba. Tantra sudah bersiap menggunakan setelan baju yang sudah disiapkan Laura. Saat Tantra hendak memasang dasi, ia mencari keberadaan sang istri.
"Sayang, kamu dimana? Minta tolong pakaikan dasiku."
Laura datang dengan dandanan yang sangat cantik. Mini dress tanpa lengan dan blazer yang menutup lengannya. Serta make up yang sudah terpoles di wajahnya membuat Laura terlihat semakin cantik.
"Kenapa berdandan seperti itu?"
Tantra seperti keberatan dengan penampilan Laura. "Aku tidak ingin mata para lelaki di kantor terpesona memandangmu karena dandananmu itu!"
"Aku ingin menunjukkan bahwa Tantra Wirapraja sudah memiliki istri yang sangat cantik. Supaya para wanita disekitarmu sadar bahwa mereka tidak memiliki kesempatan untuk mendekatimu dan mencari perhatian padamu!"
Sekali lagi Tantra mengalah. Ia mendekati tubuh istrinya dan menunjukkan dasinya yang hanya terlilit asal di lehernya.
Laura mulai membenahi, memasang dasi Tantra dengan benar. "Sudah rapi!" Serunya.
Tantra melepas kancing blazer Laura. "Biarkan ini terbuka! Biarkan dunia tau bahwa ada kepemilikanku di tubuhmu! Biar dunia tau bahwa kamu hanya milikku!"
Tantra merengkuh pinggang Laura, membuat tubuh sang istri menempel di tubuhnya. Tantra mengecup bibir Laura.
"Ingat! Setiap inci tubuhmu hanya milikku! Tidak ada yang boleh menyentuhnya selain aku! Jadi jangan coba berjabat tangan dengan siapapun jika aku tak mengizinkannya!"
Laura hanya mengangguk. Wajah Tantra terlihat sangat serius. Seolah itu adalah peringatan keras untuknya.
Mereka berdua turun untuk sarapan. Seperti biasa, Tantra menyuapi Laura dengan tangannya sendiri sampai semua makanan habis tak tersisa.
Setelah itu mereka bersiap untuk berangkat ke kantor dengan diantar supir pribadi keluarga Ardikusuma.
Sesampainya di perusahaan ArdTara, Tantra meminta sang sopir untuk masuk ke parkir basement. Ia meminta sang sopir untuk berhenti tepat di depan lift khusu direktur yang terletak di parkir basement.
"Kenapa kita turun disini? Bukankah biasanya Papa selalu turun di lobby depan?" Laura Sungguh tak mengerti. Yang ia tahu, para petinggi perusahaan dan tamu-tamu besar akan turun di lobby dan disambut oleh security dan petugas yang jaga di resepsionis.
"Tidak untuk saat ini. Jarak antara lobby dan lift cukup jauh. Aku tidak ingin kamu capek berjalan menuju ruanganku."
Tantra lalu turun dari mobil dan membantu sang istri untuk turun.
Disana sudah ada Arga, sang asisten yang siap menyambutnya.
"Selamat pagi Tuan, selamat pagi Nona." Sapa Arga dengan membungkukan badannya.
"Perintah Tuan sudah mulai kami laksanakan pagi ini." Ucap Arga.
Namun Tantra langsung memberi kode dengan matanya supaya Arga diam dan tidak membahasnya lagi di depan Laura.
__ADS_1
Arga pun diam dan tak melanjutkan ucapannya.
Laura mulai merasa curiga pada sikap kedua lelaki di depannya. Ia merasa ada yang disembunyikan sang suami darinya.