
Pesawat berhasil landing dengan sempurna. Para penumpang pun mulai melepas sabuk pengaman mereka dan beranjak dari kursi.
Begitu juga dengan Tantra. Ia beranjak dari duduknya hendak keluar untuk mengambil barang di kabin atas.
Tanpa sengaja kaki Tantra menendang kaki Laura.
"Auucchh… My leg!" Laura meracau kesakitan.
"Maaf, maaf nona, aku sungguh tidak sengaja." Ucap Tantra dengan penuh penyesalan.
"Sekalipun kakimu tidak punya mata seharusnya bisa kau jaga agar tidak menyakiti orang!" Ujar Laura kesal. Laura pun beranjak dan meninggalkan Tantra.
Tantra tidak ambil pusing dengan ucapan Laura. Ia pun bergegas meninggalkan pesawat.
Sampai di pintu keluar, Tantra sudah disambut oleh orang suruhan Tuan besar. Tantra pun mengikutinya memasuki mobil SUV mewah yang terparkir tepat di pintu keluar terminal kedatangan.
Sang supir pun melajukan kendaraan itu menuju Lanta industri.
Disinilah Tantra sekarang. Di sebuah perusahaan produksi sepatu terbesar se Asia Tenggara yang memiliki lebih dari 5 pabrik yang tersebar di kota metropolitan ke 2 di negeri ini.
Pintu mobil dibuka oleh seorang security. Nampak seorang pria muda berlari menghampiri mobil tersebut.
"Selamat pagi Tuan muda." Masih terengah-engah pria muda itu membungkuk untuk memberi salam pada Tantra yang baru turun dari mobil.
"Siapa nama anda ?" Tanya Tantra pada pemuda itu.
"Sa-saya Dimas. Saya asisten anda di perusahaan ini Tuan muda." Masih dengan sedikit membungkukkan badan, pria itu menjawab pertanyaan Tantra.
"Dimas, jangan panggil saya Tuan muda. Saya sama halnya dengan mu disini. Saya pun seorang karyawan dari Tuan Ardikusuma. Jangan berlebihan menghormati saya." ini adalahperintah pertama yang Tantra berikan pada asistennya.
"Maaf tuan muda. Tapi saya sudah mendapat perintah dari pusat bahwa panggilan untuk anda adalah Tuan muda. Saya tidak berani mengabaikannya."
Kali ini perintah Tantra pada asistennya sendiri terkalahkan oleh perintah langsung dari Tuan besar.
Tantra pun mulai bekerja dibantu oleh Dimas. Cukup sulit untuk menyelesaikan masalah di perusahaan ini.
Neraca keuangan yang berantakan. Kerjasama dengan pihak vendor yang tidak terkelola dengan baik. Dan angka kerugian yang tercatat dalam kurun waktu 5 tahun terakhir memaksa industri ini harus memutus hubungan kerja dengan hampir seperempat karyawan pabrik.
__ADS_1
Semua hal itu membuat adanya demonstrasi besar-besaran dari para karyawan karena pesangon yang belum dibayar oleh perusahaan.
Cukup lama Tantra mempelajari berkas dan permasalahan di perusahaan ini. Hingga ia pun menemui inti masalahnya yaitu kolusi dan korupsi yang dilakukan oleh beberapa kepala bagian di perusahaan itu.
Tantra pun mengeluarkan para penghianat dari Lanta industri. Ia pun mulai membentuk kerjasama dengan perusahaan yang kredibel sesuai bidangnya.
Butuh waktu berbulan-bulan bagi Tantra untuk menstabilkan neraca sampai di laporan akhir perusahaan itu mampu mencatat keuntungan meskipun belum terlalu besar.
Demonstrasi pun bisa diredam. Angka PHK mulai menurun. Kondisi perusahaan mulai stabil.
Kini saatnya Tantra kembali menghadap Tuan besar. Bersiap menerima kompensasi yang beliau janjikan.
Tantra pun kembali ke Jakarta. Ia menuju gedung kantor megah milik ArdTara corp, tempat Tuan Besarnya.
Tantra memasuki ruangan kerja milik Tuan besar. Sudah ada Rio dan dua orang yang tidak dikenalnya.
Tuan besar menyambutnya, mempersilahkan untuk duduk di tengah-tengah pertemuan keempat orang itu.
"Selamat atas keberhasilanmu. Kini Lanta industri bisa terselamatkan berkat usahamu. Sesuai janjiku, aku sudah mempersiapkannya untukmu." Tuan besar menyanjung Tantra dan memberi perintah dengan isyarat kepada dua orang didepannya.
Kedua orang itu pun menyodorkan dokumen di meja depan Tantra. Kedua orang itu adalah notaris dan pengacara Tuan besar.
Itu adalah dokumen pengalihan kepemilikan saham Lanta industri. Jelas tertulis bahwa Tuan Ardikusuma selaku pemilik saham terbesar menyerahkannya kepada Tantra Wirapraja dan menunjuknya sebagai presiden direktur dari Lanta industri.
"Aku menyerahkan apa yang aku janjikan padamu. Namun-" Tuan besar menekankan perkataannya.
"Ada beberapa syarat yang harus kau jalankan. Semua tertulis dalam dokumen itu. Salah satunya adalah kau tetap bersamaku untuk melayaniku, seperti Rio bersamaku." Tuan besar menyambung perkataannya.
Tantra berpikir bahwa tugasnya adalah menjadi asisten pribadi seperti Rio. Tantra pun membaca cepat tiap halaman.
Lembar demi lembar telah ia paraf dan dokumen itu telah selesai ia tanda tangani.
Selesai dari pertemuan itu, Tantra pulang menuju apartemen yang dihadiahkan Tuan Besar padanya.
Tuan besar pun menyuruh Tantra beristirahat karena nanti malam akan ada pertemuan penting.
Tantra pun menikmati waktu istirahatnya setelah beberapa waktu selalu disibukkan dengan pekerjaan.
__ADS_1
Baru menikmati waktu istirahatnya, tiba-tiba ponselnya berdering. Tuan besar mengingatkannya supaya tidak terlambat pada pertemuan nanti malam. Tuan besar juga meminta Tantra untuk menunjukkan penampilan terbaiknya nanti malam.
Tantra menyanggupinya.
Kini Tantra pun bersiap berangkat ke sebuah restoran di hotel mewah. Ia mengendarai mobil SUV nya menuju tempat tersebut.
Tantra sengaja datang lebih awal karena tidak ingin membuat Tuan besarnya menunggu.
Tantra duduk di sebuah ruangan dengan kesan privasi yang telah dipesan oleh Tuan Besar.
Tak menunggu lama, Tuan besar pun datang. Tantra merasa aneh kali ini. Pasalnya Tian besar datang tanpa didampingi Rio. Tantra pun menanyakan keberadaan Rio dan dijawab santai oleh Tuan Besar.
"Pertemuan kali ini tidak melibatkan Rio. Duduklah, ada yang ingin aku bicarakan." Tuan besar menunjukkan dokumen yang telah ditandatangani Tantra tadi pagi.
"Kau sudah bersedia diatas kertas untuk melayaniku. Disini tertulis jelas bahwa kau bersedia untuk menjadi menantuku. Kau bersedia untuk menikah dengan putriku." Tuan Ardikusuma membuka dokumen itu pada halaman yang tertera sesuai yang ia sebutkan. Dokumen itu lalu disodorkan pada Tantra.
Dijebak! Tantra merasa ia telah masuk dalam jebakan Tuan Ardikusuma. Ingin marah namun ia juga salah karena tidak membaca teliti dokumen itu sebelum menandatanganinya.
"Saya belum mengenal putri anda dan Anda pun belum mengenal saya lebih dekat-." belum selesai ucapan Tantra namun langsung disanggah oleh Tuan Ardikusuma.
"Aku sangat mengenalmu! Justru karena aku sangat mengenalmu, aku mau menikahkanmu dengan putri semata wayangku." Jawab Tuan Ardikusuma datar namun tegas.
"Bagaimana jika putri anda menolak?" Tanya Tantra.
"Dia tidak akan bisa menolak." Jawab Tuan Ardikusuma dengan tegas.
Seiring dengan obrolan mereka, masuklah seorang gadis cantik berwajah blasteran bergabung bersama mereka.
"My daddy, I miss you." Gadis itu lalu mencium pipi Tuan Ardikusuma.
"Hei, kamu laki-laki menyebalkan di pesawat itu kan?" Ujar gadis itu pada Tantra.
Tantra beranjak dari duduknya dan memberi salam pada putri tunggal Tuan ardikusuma.
"Selamat malam nona Laura." Ujar Tantra dengan senyum yang sangat ia paksakan.
Laura mengacuhkan sapaan Tantra. Ia beralih ke Papanya. "Ada apa papa memanggilku?" Laura bertanya karena tidak biasanya Papanya mendesaknya untuk hadir dalam suatu pertemuan. Ini pasti sesuatu yang penting.
__ADS_1
"Enam bulan lagi kau akan menikah dengan Tantra! Persiapkan dirimu untuk itu. Semua persiapan pernikahan akan diurus oleh orang suruhan Papa." Tuan Ardikusuma berbicara lalu meneguk minuman dalam gelas yang dipegangnya.
"What ????? Menikah? Dengan pria tidak jelas ini?" Ujar Laura yang terkejut tak percaya.