
Ini baru hari keempat mereka berada di kepulauan Derawan. Tuan Ardikusuma memberi mereka untuk menikmati bulan madu di pulau itu selama 7 hari.
Namun di hari keempat ini, Tantra memutuskan untuk kembali ke ibu kota. Ia yakin jika ia tetap disini bersama Laura, ia harus menghadapi rencana-rencana yang disusun oleh Tuan besar untuk menyatukan dirinya dengan Laura.
Bukan tidak mau. Tantra hanya belum siap untuk melakukan hal itu dengan laura. Tantra ingin menyatukan dirinya dengan wanita yang dicintainya. Bukan hanya karena dorongan gairah semata.
"Kenapa kita harus buru-buru pulang? Aku belum menikmati semua keindahan alam disini!" Tanya Laura.
"Ada pekerjaan yang harus aku lakukan di ibu kota karena itu kita harus pulang sekarang juga. Lagipula, bukankah sahabatmu akan berulang tahun?" Sahut Tantra.
"Stella maksudmu? Ulang tahunnya masih 2 hari lagi!" Jawab Laura. "Apa pesawat pribadi papa sudah siap menjemput kita?" Laura bertanya untuk memastikan.
"Saat sampai di pelabuhan aku akan menghubungi Rio untuk menyiapkannya. Cepat kemasi barangmu!" Sanggah Tantra dengan tegas.
Laura hanya bisa pasrah kali ini. Ia pun berkemas dan bersiap untuk pulang.
Mereka berdua kini dalam perjalan untuk kembali ke ibu kota. Semenjak meninggalkan pulau, Laura tak pernah terpisah dari Tantra. Dia selalu berada disisi Tantra. Saat duduk pun ia tak sungkan untuk bersandar pada pundak Tantra. Baik itu di speedboat, mobil maupun pesawat. Laura sudah merasa nyaman bersama Tantra.
Butuh beberapa jam perjalanan dan akhirnya mereka telah sampai di rumah. Tepatnya kediaman utama Ardikusuma.
Tantra menaruh koper dan barang bawaannya di kamar. Ia bergegas mandi dan berganti baju kerja.
"Apa kau akan langsung pergi kerja?" Tanya Laura pada Tantra yang sudah bersiap rapi di depan cermin.
"Ya!" Satu jawaban singkat dari Tantra.
"Apa kamu bisa mengantarku sepulang kerja? Aku ingin membeli hadiah untuk ulang tahun Stella." Laura mulai bersikap manja.
"Hari ini aku cukup sibuk. Sudah 3 hari aku meninggalkan pekerjaanku. Maaf!" Jawab Tantra dengan sedikit nada penyesalan.
Sikap Tantra ini membuat Laura kecewa. Tantra bersikap seperti Papanya. Menjadi orang yang gila kerja. Dan itu membuat Laura muak.
Setelah Tantra berangkat, Laura seolah mencari pelarian. Ia pergi menemui teman-temannya. Mulai bersenang-senang menggunakan uang Papanya.
Laura bahkan tidak pulang sampai keesokan paginya. Tantra mulai khawatir. Ingin menghubunginya namun Tantra tak memiliki nomor telepon Laura. Dari dulu Tantra tak pernah menanyakan nomor telepon istrinya itu.
Ia pun bertanya pada Rio. Setelah mendapatkannya, Tantra langsung menghubungi nomor itu namun tak pernah mendapat jawaban dari Laura.
Sudah dua hari Laura tidak pulang. Tantra semakin cemas. Ia meminta tolong pada orang suruhan Tuan Besar untuk melacak keberadaan istrinya.
Tak menunggu lama, lokasi keberadaan Laura sudah bisa didapatkan. Tantra bergegas pergi ke tempat tersebut.
__ADS_1
Tantra berhenti di depan pintu masuk. Ia menjadi ragu untuk melangkah. Pasalnya, tidak pernah sekalipun dalam seumur hidupnya pergi ketempat hiburan malam seperti ini. Sebuah klub malam yang berisik dengan pencahayaan yang minim.
Demi menemukan istrinya, Tantra pun nekad untuk masuk ke tempat tersebut.
Pencahayaan yang minim dan lampu sorot berwarna-warni membuat Tantra kesulitan untuk mencari keberadaan Laura.
Ia melihat sekeliling. Mengamati setiap wanita dengan wajah blasteran yang bertubuh tinggi dan berambut hitam.
Tantra melihat ke atas. Ada sekumpulan orang yang tengah berpesta di lantai dua. Tantra pun menaiki tangga untuk memastikan keberadaan istrinya.
Benar dugaan Tantra. Istri cantiknya tengah menikmati pesta. Ulang tahun sahabatnya itu dirayakan ditempat ini. Dengan hingar bingar musik DJ dan botol penuh alkohol berbagai jenis yang tersaji di meja.
Tantra mulai mencari Laura. Sorot matanya langsung berubah tajam saat melihat Laura yang mulai mabuk sedang berada di pelukan laki-laki berwajah blasteran.
Tantra mengenal wajah itu. Dia adalah Mike bourdon, kekasih Laura.
"Jadi selama ini dia tidak pulang karena bersama Mike?" Tantra bergumam dalam hatinya.
Tantra berjalan mendekat. Ia menghampiri istrinya.
Tepat di depan Laura, Tantra menarik tangan istrinya itu dan mengajaknya pulang. Namun tindakan Tantra ini langsung direspon oleh Mike.
"HEI YOU!"
Kepalan tangan Mike langsung mendarat di pipi Tantra. Membuatnya jatuh tersungkur di lantai.
Tantra bangun dan menghampiri Mike. Ia menarik pria itu supaya terlepas dari Laura. Tantra langsung menonjok perutnya dengan kepalan tangan yang tak kalah kuat dari Mike.
"STOP! STOP IT!! STOP!" Laura berteriak untuk menghentikan aksi mereka berdua.
"What are you doing here?" Ungkap Laura penuh kemarahan pada Tantra.
"Pulang!" Sahut Tantra dengan tatapan tajam. "Pulang denganku sekarang!"
"No! Aku sedang berpesta! Aku bersenang-senang disini!" Ucap Laura yang mulai mabuk. "Kamu yang seharusnya pulang! Tempatmu bukan disini Mantra! Orang sepertimu tidak pantas berada disini!"
Tantra menjadi pusat perhatian teman-teman Laura. Termasuk Stella.
Gadis itu mendekat ke Laura dan menanyakan siapa pemuda yang sudah mengganggu pestanya.
"Laura, dia siapa? Apa kau mengenalnya?" Tanya Stella. Gadis itu menatap Tantra dengan kagum. Ia terpesona pada Tantra.
__ADS_1
"Dia?" Laura menunjuk Tantra. "Dia hanyalah pembantu kesayangan ayahku! Ha.. ha.. ha.." tawa Laura sangat nyaring. Ia seolah puas mempermalukan Tantra.
Tantra mengepal tangannya erat. Ia sangat geram dengan sikap Laura. "Pulang sekarang!" Gigi Tantra merapat keras. Ia berusaha menahan emosinya.
"Apa dia merepotkanmu honey?" Tanya Mike dengan sok jagoan. "Apa perlu aku menghajarnya supaya dia pergi dari sini?" Mike mengepalkan kedua tangan tepat di depan wajahnya untuk memberi ancaman.
"No! Jangan sayang! Jangan melukai mesin pencetak uangku! Dia sudah bekerja keras sehingga kita bisa menikmati uang Papa dan bersenang-senang! Ha.. ha.. ha.."
Ucapan Laura ini membuat Tantra muntab. Kemarahannya sudah tidak bisa dibendung lagi. Tantra menggendong tubuh Laura dengan posisi tubuhnya di atas pundak Tantra. Tantra membawa gadis itu pulang seperti sedang menggendong karung beras.
Laura berteriak meminta meminta tolong. Namun Tantra berkata dengan tegas. "Jika ada yang berani menghalangiku dan istriku pulang, aku pastikan tempat ini akan rata dengan tanah sebelum matahari terbit besok!"
Ungkapan penuh amarah ini membuat teman-teman bergidik. Mereka memberi jalan supaya Tantra bisa melangkah.
Tantra turun ke lantai satu dan keluar dari klub malam itu. Ia menghempaskan tubuh Laura di kursi belakang lalu duduk disebelahnya. Tantra mengunci pintu mobil dan meminta sang sopir untuk jalan dan mengantar mereka pulang ke kediaman utama.
Tantra hanya diam selama diperjalanan. Ia mengabaikan Laura yang terus meronta dan tak berhenti memakinya.
Hingga sampai dirumah, Tantra kembali menggendong Laura dan berjalan masuk ke kamar. Semua pelayan di rumah itu sampai menghampiri mereka berdua karena suara Laura yang menggema keras memenuhi setiap sudut rumah.
Sampai di dalam kamar, Tantra masih belum melepaskan Laura. Ia membawa istrinya masuk kedalam kamar mandi.
Tantra melepaskan Laura. Ia mengambil shower dan menyiram tubuh Laura dengan air dingin. Tantra juga menyiram kepala Laura dengan air dingin itu sehingga membuat Laura berteriak.
"Aaaaggghhhh!!!! STOP!! STOP IT!!"
Tantra seolah tak peduli dengan teriakan Laura. Ia terus saja menyiram kepala gadis itu.
"STOP IT!! MANTRA!! STOP!!"
Laura beringsut dan jatuh terduduk di kaki Tantra. Ia mulai menangis terisak. "Please! Mantra! Stop it!"
Tantra mematikan air dan menaruh shower itu. Ia tidak tega melihat kondisi Laura yang menangis terisak.
Tantra mengambil handuk besar dan melingkarkannya di pundak Laura. Tantra menyentuh pundak Laura dengan kedua tangannya. Ia mengangkat tubuh istrinya itu perlahan.
"Bersihkan tubuhmu! Aku akan menyiapkan air hangat untukmu." Tantra menaruh bathrobe di gantungan lalu ia pergi meninggalkan Laura.
Tantra pergi ke dapur untuk menyiapkan minuman hangat untuk istrinya.
Tiba-tiba seorang kepala pelayan menghampirinya seraya menundukkan badan. "Permisi Tuan muda. Anda diminta menemui Tuan Besar di ruang kerjanya."
__ADS_1
"Baiklah, aku akan segera kesana." Jawab Tantra. Ia pun segera menuju ruang kerja untuk memenuhi panggilan mertuanya.