
Bibir Laura seolah menjadi obat untuk semua rasa rindu, rasa khawatir, takut kehilangan dan semua perasaan yang membelenggunya selama mencari sang istri.
Tantra menekan kepalanya, semakin memperdalam ciumannya. Seolah tak ada ampun untuk Laura bahkan untuk sekedar mengambil napas.
Laura butuh bernapas! Ia menarik kepalanya menjauh dari Tantra. Namun harus dengan tenaga kuat karena Tantra sama sekali tak ingin melepasnya. Laura bahkan harus mendorong tubuh Tantra supaya bibir Tantra bisa terlepas darinya.
"Are you crazy? Mantra? Apa kamu mau membunuhku?" Laura berkata sambil terengah-engah. Ia masih berusaha mengatur nafasnya.
Tantra seperti tuli. Ia sudah tidak bisa mendengar apapun yang ada disekelilingnya. Ia sangat menginginkan Laura sekarang.
Tantra menggendong tubuh Laura dan didudukkan di atas meja makan menghadap ke arahnya. Posisi kepala Laura tepat di depannya. Tantra melingkarkan kaki Laura untuk membelit pinggangnya. Sekali lagi ia tarik tengkuk Laura dan mulai menciumnya.
Seolah tak puas dengan itu. Tangannya mulai beraksi. Matanya telah diliputi gaiirah. Semua pertanyaan yang ia siapkan untuk sang istri musnah dari pikirannya.
Sekali lagi Tantra membuat Laura sulit bernapas. Sang suami terlalu agresiif kali ini. Laura harus mengambil tindakan. Tenaganya tak cukup kuat untuk lepas dari Tantra. Ia harus memikirkan cara.
Tangan Laura meraba di sekitar meja makan. Ia mencari benda yang bisa ia gunakan tanpa melihat karena wajahnya tak bisa ia palingkan dari Tantra.
Laura berhasil mendapat suatu benda. Benda yang tadi ia gunakan untuk memotong sayuran.
Laura menepuk-nepuk pundak Tantra. Ia tak bisa bicara karena mulutnya masih dibungkam oleh mulut Tantra.
Laura berusaha menepuk pundak Tantra dan menunjuk benda yang ia bawa.
Tantra melirik tangan Laura yang terangkat dengan membawa sebuah pisau. Keningnya berkerut. Tak mengerti maksud sang istri. Tantra melepas pagutannya dan bertanya, "Kenapa sayang? Kenapa membawa pisau?"
Laura mengarahkan pisau itu di depan Tantra.
"Berani maju lagi, aku potong milikmu!" Ujar Laura dengan menatap tajam suaminya sambil mencoba bernapas normal.
Haisss… istrinya ini sungguh kejam. Tantra hanya bisa menghela napas.
"Sayang, aku kangen! Apa kamu tidak kangen denganku?" Tantra berkata dengan nada dibuat manja dan memelas.
"Enggak! Enak aja! Habis buat salah! Datang-datang langsung main nyosor aja!" Ujar Laura dengan sewot.
"Awalnya aku mau minta maaf dan menjelaskan semua padamu. Tapi entah mengapa, melihat tubuhmu membuatku tak bisa bertahan. Rasanya ingin kulepas semua." Tantra menjelaskan dengan nada penuh rayuan.
"Apanya yang dilepas?" Tanya Laura.
"Rasa rinduku sayang!" Tantra mencoba mendekati Laura. "Ayo kita kamar? Aku akan menjelaskan semua." Sekali lagi ia coba merayu sang istri.
"Udah aku bilang! Berani maju lagi, aku potong sampai habis!" Jawab Laura tegas.
__ADS_1
Tantra pasrah. Istrinya memang masih Laura. Butuh tenaga ekstra untuk menaklukkannya.
"Katakan disini saja! Aku akan menyimak sambil memasak." Laura mulai menata bumbu dan mengirisnya.
"Memasak? Kamu bisa memasak sayang?" Tanya Tantra heran.
BRAAAK !!
Laura memukul pisau itu di meja dengan sangat keras.
"Iya… iya… istriku kan, istriku pandai memasak. Aku lupa. Masakan istriku paling enak di dunia." Jawab Tantra sambil menelan ludah.
"Lanjutkan!" Titah Laura.
Tantra mulai menceritakan kejadian saat ia menyusul Masyita ke rumah sakit. Menceritakan penyesalannya, kebodohannya dan setiap usahanya mencari laura. Ia ceritakan semua dengan bahasa yang ia pilih paling tepat untuk meyakinkan sang istri.
"Hiks… hiks…" Laura mengusap air matanya.
"Sayang…" Tantra mendekatkan tubuhnya, memeluk kepala Laura dan menempelkan di dadanya. "Sayang, aku disini sekarang. Aku bersamamu. Aku akan terus bersamamu. Tak perlu bersedih lagi okey?"
Laura masih berusaha mengusap air matanya.
"Perih… mataku perih. Bawang merah ini selalu membuatku menangis!"
Sekali lagi Tantra harus bersabar menghadapi istrinya. Sungguh ia berpikir jika Laura sedih karena mendengar ceritanya. Namun semua penjelasan itu terasa tak berarti sekarang. Seperti tak ada satupun yang didengar oleh Laura.
"Kenapa harus menangisi bawang merah? Aku menjelaskan panjang lebar padamu, kenapa tak kamu dengar? Malah sibuk sama bawang merah!" Ujar Tantra dengan sangat kesal.
Melihat suaminya uring-uringan, Laura mengusapkan jari tangannya tepat di mata Tantra.
"Aauuww!! Perih… perih… Mataku perih!" Tantra segera menuju wastafel dan menyiram matanya dengan air.
"Tuh kan! Perih kan? Makanya jangan meremehkan kekuatan si bawang merah!" Perkataan Laura seolah penuh dendam.
Tantra benar-benar tidak habis pikir dengan tingkah istrinya. Tak ada kesan manis dan romantis. Semua perbuatan Laura sungguh diluar ekspektasi Tantra.
Namun inilah Laura. Istri yang sangat ia rindukan. Istri yang sempat membuat hampa hidupnya. Istri yang sangat disayanginya. Mungkin sekarang Tantra mulai sadar bahwa Laura adalah istri yang sangat dicintainya.
"Assalamualaikum…" Terdengar suara bunda memberi salam dan mulai masuk rumah.
Bunda langsung menuju dapur dan menaruh belanjaannya di meja makan.
"Kamu sudah pulang nak?" Bunda menghampiri sang putra dan mengusap punggungnya.
__ADS_1
Tantra meraih telapak tangan bunda dan menciumnya.
"Apa kamu sudah makan? Ini masakan istrimu loh! Duduklah nak, istrimu akan menyiapkan makanan untukmu." Bunda menarik kursi untuk Tantra duduk. Kemudian menatap Laura seolah memberi isyarat kepada menantunya untuk melayani sang suami.
Tantra sangat antusias. Kedatangan bunda benar-benar menolongnya. Ia sudah tak sabar menunggu Laura melayaninya.
Laura memang tak bisa membantah perkataan bunda. Ia siapkan nasi di piring dan mengambil sayur serta lauk kemudian disajikan di meja makan.
Laura menyendok sayur dan lauk untuk diletakkan di piring Tantra.
"Selamat menikmati suamiku tersayang." Ucapan Laura dibuat manis dan senyum yang terlihat sangat dipaksakan.
"Terimakasih istriku sayang." Tantra mencium pipi Laura di depan bunda. Ciuman itu langsung dibalas cubitan oleh Laura di pundak Tantra.
"Aauuww, atit." Ucapan Tantra dibuat-buat.
Tantra mulai menyendok makanannya dan memakannya.
Seketika matanya membulat. Kerongkongannya seolah menolak untuk menelan. Lidahnya kaku dan gak dapat mengecap. Rasa makanan itu bahkan sampai ke ujung kepalanya.
Laura duduk di depan Tantra dengan tangan terlipat di depan dadanya.
"Enak?"
Tantra mengangguk ragu sambil tersenyum. Makanan itu masih penuh di dalam mulutnya. Belum bisa ia telan.
"Ditelan dong! Habiskan yah?" Ucap Laura dengan senyum penuh arti.
Tantra membuka ruang lebar di kerongkongan dan menelan makanan itu dengan sekuat tenaga.
"Mau tambah?" Laura hendak menyendok sayur lagi di depan Tantra.
Tantra menggeleng cepat. Belum berani untuk mengatakan tidak. Ia tidak ingin istrinya marah.
Masih satu sendok? Ayo habiskan Tantra! Kamu pasti bisa! Masuk mulut dan langsung ditelan. Sabar Tantra! Kali ini aku harus mengalah! Nanti malam giliran kamu yang kutelan!
Tantra membulatkan tekad dan mulai menghabiskan makanan 'istimewa' karya sang istri.
##
Biar si Otor makin semangat nih,
Tinggalin kopi, bunga, bintang dan vote nya dong ^_^
__ADS_1
Enjoy Reading everyone 🥰🥰🥰