TANTRA

TANTRA
Bab 21


__ADS_3

Laura masih tidak percaya atas apa yang ia dengar. Dia dijodohkan! 


Laura menolak mentah-mentah perjodohan ini. Dia adalah gadis modern yang berpendidikan. Paksaan menikah adalah hal konyol yang melanggar haknya sebagai perempuan untuk memilih pasangan.


Laura protes, membantah semua perintah ayahnya untuk perjodohan ini. 


"Papa tidak berhak mengaturku untuk memilih pasangan hidup. Aku sudah besar Pa! Aku sudah dewasa!"


Meski menekankan kata dewasa, nyatanya Laura mengungkapkannya seperti anak umur 10 tahun yang protes kepada ayahnya.


Laura beralih ke Tantra. Ia menatap pemuda yang duduk di seberang meja. "Who are you? Apa yang kamu lakukan sampai Papa tidak mau mendengarkanku?" Ungkapan penuh benci dan kemarahan ia lontarkan pada Tantra.


Tantra menjawabnya dengan wajah datar. "Perkenalkan Nona Laura, nama saya Tantra Wirapraja. Saya asisten pribadi Tuan Ardikusuma."


"I dont care!" Ujar Laura penuh kebencian.


Sekali lagi Laura mencoba untuk membujuk Papanya supaya membatalkan keputusan ini.


"Papa, Laura sudah dewasa. Laura bisa memilih pendamping hidup sendiri. Please Pa." 


"Memilih pria amerika pemalas itu?" Tanya Tuan Ardikusuma.


"Namanya Mike Pa! Mike Bourdon." Laura sedikit menekan menyebut nama Mike karena Papanya seolah tidak pernah sudi untuk menyebut nama kekasihnya itu. Namun tetap saja di acuhkan oleh Papanya.


"Pria yang telah menelan 15 Milyar uang Papa? Apa itu pilihan seorang wanita yang sudah bisa berpikir dewasa?" Pertanyaan Tuan Ardikusuma ini semakin menyudutkan Laura.


"Papa, uang itu tidak hilang! Mike menginvestasikan uang itu untuk membeli klub bola! Dia juga sedang berjuang untuk bisnisnya Pa. Bukankah Papa sendiri yang bilang kalau kita harus bisa bersabar jika ingin sukses memulai usaha? Kami sedang mengusahakan itu Pa." Ungkapan Laura mulai memelas. Ia seperti memohon supaya sang ayah mau mengerti keinginannya.


Namun semua alasan yang diungkapkan Laura tidak ada satupun yang berhasil menggoyahkan keputusan Papanya.


Laura yang sangat kesal lalu melontarkan kalimat ancaman. "Kalau Papa tetap memaksaku menikah dengannya-" Laura menatap Tantra penuh kemarahan.


"Papa harus siap untuk kehilangan putri semata wayang Papa!" Laura beranjak dari duduknya. Menatap tajam pemuda di depannya.

__ADS_1


"Tidak ada bantahan! Kau harus menikah dengan Tantra atau nama Ardikusuma harus ku cabut dari nama belakangmu! Begitu juga dengan semua fasilitas yang sudah Papa berikan untukmu!"


Laura menatap pias. Ia sungguh tak percaya pada apa yang baru ia dengar. Ayah yang selalu mencintainya sampai tega membuangnya hanya untuk mempertahankan pemuda tidak jelas menjadi menantunya.


"Pa-Pa…" suara Laura bagai tercekat di tenggorokan. Ia tak mampu mengeluarkan satu kata pun untuk membantah.


"Jika kau sampai menolak untuk menikah dengannya, maka seluruh kekayaan Papa akan diwariskan pada Tantra!" Tuan Ardikusuma berkata tegas.


Laura sudah tak mampu lagi membendung air matanya. Ia menatap ayahnya penuh kekecewaan. Laura pun berlari meninggalkan dua lelaki yang serasa ingin menghentikan hidupnya.


Tantra hanya bisa menatap perdebatan ayah dan anak itu. Tanpa menyanggah atau membela siapapun. Tantra hanya bisa menatap nanar kepergian Laura.


Jauh di lubuk hatinya, ia sangat tidak tega melihat Laura yang menangis karena keputusan ayahnya.


Namun ia juga tidak bisa berbuat banyak karena dirinya sendiri pun terjebak. Tantra sudah menandatangani perjanjian dengan Tuan Ardikusuma. Ia harus menjalankan mandat sesuai perjanjian itu.


Tantra masih terdiam, menunggu Tuan besarnya mengucapkan sesuatu. 


Yang membuat Tantra heran adalah tidak adanya raut menyesal sedikitpun pada wajah Tuan Ardikusuma.


"Tapi Tuan, bukankah Laura menolak pernikahan ini?" Tanya Tantra.


"Dia pasti kembali. Aku sangat mengenal putriku. Dia tidak akan sanggup hidup tanpa fasilitas yang kuberikan." Jawab Tuan Ardikusuma.


"Tapi dia tidak mencintai saya. Bukankah dia sudah memiliki kekasih?" Lanjut Tantra.


"Itu tugasmu! Membuat Laura mencintaimu dan meninggalkan pria Amerika itu! Pemuda itu bukan orang baik. Dia hanya memanfaatkan Laura. Kau harus memisahkan Laura dengannya atau semua hasil kerja kerasku ini akan habis dalam sekejap." Perintah Tuan Ardikusuma kali ini menjadi tekanan berat untuk Tantra.


Tantra menghindari tatapan Tuan besar. Ia melihat jarinya yang mengatup rapat cangkir dihadapannya.


"Tapi-" Tantra mencoba menelan ludahnya dengan berat.


"Bagaimana jika saya tidak bisa mencintai putri anda?" Dengan hati-hati Tantra melontarkan pertanyaan untuk Tuan Besarnya.

__ADS_1


"Tugasmu sekarang adalah menikahi putriku. Memisahkannya dengan pria Amerika itu dan menjaganya agar tetap aman dan bahagia. Sisanya kuserahkan padamu."


Tatapan Tuan besar berubah lembut. Seperti mengungkapkan permohonan melalui pandangan matanya.


"Meskipun aku sangat berharap kau bersedia membuka hatimu untuk Laura. Berharap suatu saat Laura bisa menggantikan posisi Masyita."


Seketika Tantra terbelalak. Telinganya sangat sensitif mendengar nama itu. Ia Sangat terkejut karena Tuan Ardikusuma menyebut nama itu. Dari mana Tuan besarnya itu tau tentang Masyita.


Kening Tantra berkerut. Ia sudah bersiap untuk melontarkan pertanyaan pada pria paruh baya yang sangat ia hormati.


"Pasti timbul tanda tanya besar dalam pikiranmu tentang bagaimana aku bisa mengetahui hubunganmu dengan Putri tunggal dokter Wondo itu kan?" Tepat sasaran. Pertanyaan Tuan besar ini sangat sesuai dengan pemikiran Tantra.


"Aku sudah bilang padamu bahwa aku sangat mengenalmu. Aku bahkan lebih mengenalmu daripada dirimu sendiri!" Ucapan tegas Tuan besar ini tak mampu dibantah oleh Tantra.


Tuan besar beranjak dari duduknya. "Persiapkan dirimu! Kabari keluargamu! 6 bulan lagi acara pernikahan kalian." 


Tantra masih terdiam, mencoba menerima kenyataan yang menimpanya. Entah rejeki atau musibah, Tantra akan menikahi seorang wanita tanpa melamar. Tentu saja tanpa cinta. Baik dirinya maupun wanitanya.


Semakin khawatir karena pertemuan mereka diawali dengan rasa kesal dan sekarang berubah rasa benci. 


Ya, Tantra sadar pasti sekarang Laura semakin membenci dirinya. Laura pasti menganggap Tantra adalah penghalang hubungannya dengan kekasihnya.


Tantra menarik napas dalam. Mencoba menarik semua oksigen yang mampu dihirup ditampung paru-parunya, untuk membesarkan dadanya, melapangkan hatinya, menerima takdir yang terjadi padanya.


Ya, ini mungkin sudah takdirnya. Jodohnya adalah Laura. Gadis blasteran yang arogan dan membencinya.


Tantra pun kembali ke apartemen. Ia pasrah dengan takdirnya. Daripada berlarut-larut memikirkan pernikahan yang sudah dipersiapkan oleh Tuan besar dan orang-orang suruhannya, Tantra lebih memilih untuk menyibukkan dirinya dengan pekerjaan.


Ia juga belum berniat untuk memberi tau bunda tentang rencana pernikahannya.


Begitu mengingat bunda Tantra langsung berpikir bagaimana cara yang tepat untuk menyampaikan ke bunda supaya wanita yang sangat ia sayangi itu mau menerima Laura sebagai menantunya.


Biasanya jika Tantra butuh untuk bicara pada bunda, ia selalu minta tolong pada Rania.

__ADS_1


Ah iya, Rania! Tantra teringat sahabatnya itu. Ia harus menceritakan ini pada Rania. Tantra butuh pendapat Rania.


__ADS_2