
Rania terus mengajak bicara Tantra. Membahas kenangan indah mereka sewaktu kuliah. Diiringi candaan yang membuat Tantra terkekeh. Pandangan Tantra pun selalu menghadap Rania. Hal ini membuat Laura muak.
Rupanya rasa muak tidak hanya dirasakan Laura. Rania juga merasakannya karena di sepanjang perjalanan keluar dari rumah sakit, tak sedetik pun Tantra melepas tangannya dari menggenggam Laura.
Meskipun wajah Tantra menghadap ke arahnya, tapi tangan itu tergenggam erat untuk istrinya.
Sabar Rania! Dia melakukannya hanya untuk sebuah kewajiban.
Rania selalu meyakinkan dirinya bahwa Tantra tidak mencintai Laura.
Mereka bertiga telah sampai di tenda warung pedagang kaki lima. Rania menunjuk kursi paling ujung. Ia pun memesan makanan sesuai selera Tantra.
Rania mampu mendeskripsikan rinci selera Tantra. Seperti minta bebek bagian paha dan di goreng kering, sambal dipisah, serta es teh manis dengan sedikit gula.
Rania seolah menunjukkan bahwa dialah orang yang mengerti Tantra. Dan ini semakin membuat Laura muak.
Rania masih sibuk mengenang masa lalunya dengan Tantra. Sampai suara Laura mengganggu topik mereka.
"Eeuuuhh… Mantra! What is that?" Laura mengambil tisu gulung yang ada di atas meja. "Is this toilet paper? Kenapa ada diatas meja makan?"
Tantra terkekeh melihat tingkah Laura. "Ini tisu! Jadi tisu toilet kalau ditaruh di toilet! Jadi tisu makan kalau ditaruh dimeja makan!" Tantra menyobek beberapa bagian tisu gulung itu untuk mengusap kening Laura. Namun Laura langsung menahan tangan Tantra.
"Are you kidding me? No, Thanks! I have my own tissue!" Laura menepis tangan Tantra. Bukannya marah, Tantra malah semakin terkekeh melihat tingkah istrinya.
Rania melanjutkan obrolannya dengan Tantra sampai makanan yang dipesan datang dan disajikan di hadapan mereka.
Tantra mencuci tangan di wadah berisi kobokan, dan mulai makan. Tantra dan Rania mulai menikmati nasi bebek goreng favorit mereka.
Namun tidak dengan Laura. Laura tak sedikitpun menyentuh piringnya. Tantra menyadari itu dan meminta Laura untuk mencicipinya.
"Ayo makan! Ini enak. Cobalah!" Tantra mengambil nasi dengan potongan daging bebek menggunakan jarinya dan ia arahkan ke mulut Laura. "Cobalah! Aaaa…" Tantra meminta Laura membuka mulutnya.
"No! That is fat! Lemak!" Sahut Laura.
__ADS_1
"Ini enak! Ini lemak yang enak! Cobalah!" Tantra menyodorkan tangannya tepat di mulut Laura. Ia menatap Laura dengan pandangan sayu yang membuat orang susah untuk mengatakan tidak.
Laura membuka mulutnya. Tangan Tantra pun masuk ke rongga mulut dan sedikit disesap oleh Laura.
"Bagaimana? Enak kan? Mau aku suapin lagi?"
Laura mengangguk. Makanan itu terasa enak. Entah karena rasanya memang enak atau karena makan dari tangan Tantra.
Laura mulai menikmati makanan itu. Sesuap demi sesuap terasa sangat nikmat. Tantra terus menyuapi Laura dengan sabar. Senang rasanya melihat istri cantiknya menikmati makanan kaki lima di pinggir jalan.
Melihat istrinya antusias, muncul ide untuk mengerjai Laura. Tantra bersiap menyuapi makanan dan Laura pun membuka mulutnya. Bukannya mendekat, Tantra justru menjauhkan tangannya dari mulut Laura. Dengan bodohnya Laura membuka mulut dan maju mengikuti gerakan tangan Tantra.
Saat sadar dirinya sedang dikerjai oleh Tantra, Laura menahan tangan Tantra dan mendorongnya masuk ke dalam mulutnya.
Hap! Laura berhasil memakan nasi yang ada di jemari tantra. Namun Laura ingin membalas suaminya. Ia gigit satu jari Tantra hingga si empunya jari meringis kesakitan.
"Aduh! Kok digigit sih?" Ujar Tantra.
"Biarin! Salah sendiri usil!" Sahut Laura.
"Aauuww… ampun… ampun…" Tantra meringis sekaligus tertawa karena ulah Laura.
Interaksi mereka berdua menjadi perhatian para pengunjung tempat makan tersebut. Sepasang sejoli dengan wajah yang menawan sedang bercanda mesra di warung pinggir jalan.
Terlihat manis dan romantis bagi orang lain tapi tidak bagi Rania. Tanpa sadar satu tetesan air mata lolos dari pipinya.
Rania sudah tak kuat. Ia tak ingin Tantra melihat tangisannya. Rania segera beranjak dan berlari cepat meninggalkan tempat itu.
Tantra kaget melihat sahabatnya tiba-tiba pergi tanpa berkata satu kata pun. Tantra ikut beranjak, hendak menyusul Rania.
Namun Laura mencegahnya dengan menahan tangan Tantra.
"Aku harus menyusul Rania! Kenapa dia pergi begitu saja?" Ujar Tantra.
__ADS_1
"Telpon saja! Tanya via telpon! Jaman udah canggih! Gak perlu kejar-kejaran kayak film india!" Ucap Laura dengan sewot.
Laura paham kondisi. Rania pergi karena sakit hati. Sakit hati melihat sikap Tantra padanya.
Tapi Laura tidak peduli. Ia ingin egois kali ini. Karena ia pun menikmati sikap Tantra yang sangat manis padanya. Dia merasa berhak karena dialah istri Tantra yang sah.
Kali ini Tantra patuh pada Laura. Ia kembali duduk di sebelah Laura dan menyuapi istrinya.
Laura tak peduli dengan sekitar. Tak peduli dengan pandangan orang-orang di sekeliling yang melihat. Entah mereka menganggap Laura norak karena mempertontonkan kemesraan di muka umum, atau pandangan heran karena melihat wanita bule dengan penampilan kelas atas makan di kaki lima pinggir jalan.
Laura tak peduli. Ia hanya ingin menikmati waktunya bersama Tantra. Sampai mereka selesai makan dan Tantra mengajaknya pulang.
Di sepanjang perjalanan, Tantra hanya terdiam. Alih-alih fokus mengemudi, Tantra justru melamun memikirkan sikap Rania. Ini kedua kalinya Rania pergi meninggalkannya secara tiba-tiba. Pertama dulu saat ia menyampaikan akan menikahi Laura. Dan sekarang saat ia bersama Laura.
Tantra seolah tenggelam dalam lamunannya. Ia sampai tidak menyadari ponselnya bergetar karena ada panggilan masuk.
Laura menatap aneh. Ia pikir Tantra terlalu fokus mengemudi mobil sampai tak sadar ponselnya bergetar. Laura memegang pundak Tantra. Ingin memberitahu bahwa ada panggilan di ponselnya.
Tantra menoleh ke Laura. "Kenapa Ra?"
Kaget. Keduanya tercengang. Laura paham betul panggilan itu untuk siapa.
Bukan Laura melainkan Rania. Laura yakin Itu panggilan Tantra untuk sahabatnya. Ternyata sedari tadi suaminya sibuk memikirkan Rania.
Wajah Laura seolah berubah. Ekspresinya menunjukkan bahwa ia tidak suka dan terlihat marah. Tapi Laura tak mampu mengungkapkan amarahnya. Ia sadar bahwa dirinya bukanlah siapa-siapa untuk Tantra.
Laura teringat ucapan Rania bahwa Tantra menikahinya hanya karena tanggung jawab.
Mengapa sesakit ini? Aku belum mencintainya, tapi kenapa aku merasa sakit saat tau ada perempuan lain yang hinggap di pikirannya?
Laura menahan rasa itu. Mencoba tenang dan memberi tahu Tantra bahwa ada panggilan masuk di ponselnya.
Tantra meraih ponsel yang tergeletak di dashboard mobil dan menjawab panggilan itu.
__ADS_1
Tiba-tiba ekspresinya berubah. Tampak ketegangan di wajah Tantra.
"Baiklah, pesankan tiket pesawat untuk dua orang. Atur pertemuan dengan direktur PT. Andromeda! Aku akan menemuinya setelah tiba disana!"