
Jauh di lubuk hatiku
Masih terukir namamu
Jauh di dasar jiwaku
Engkau masih kekasihku
Naff - Kau masih kekasihku
*
Tantra masih terpaku di tempatnya berdiri. Seolah kakinya tak bisa untuk melangkah dan menjauh dari wanita yang begitu ia rindukan.
Laura menggenggam tangannya. Masih tak mampu mengelak dari hatinya yang masih condong pada Masyita.
Laura tidak bisa tinggal diam. Acara ini dihadiri banyak orang. Ia tak mau Tantra sampai mempermalukan diri sendiri. Ia harus bertindak.
"Nona dan Tuan, terima kasih karena bersedia hadir dalam acara perusahaan kami. Silahkan menikmati hidangan terbaik dari kami." Ini adalah kata-kata terbaik yang bisa keluar dari mulut Laura untuk mengusir Dito dan Masyita dari hadapan Tantra.
Laura menarik tangan Tantra dan mengajaknya pergi dari kedua pasangan itu.
Bukan Laura namanya jika menyerah pasrah pada keadaan. Sebisa mungkin ia membuat Tantra tak memandang Masyita.
Ia tau suaminya itu terus mencari keberadaan wanita idamannya melalui sorot matanya. Begitu Tantra menangkap sosok Masyita, Laura langsung menghalangi pandangan suaminya.
Sakit hati?
Jelas sekali Laura merasa sakit. Tapi ia harus mengabaikan dulu rasa sakitnya untuk harga dirinya dan suaminya. Ia tak bisa membiarkan Tantra berbuat kesalahan dengan memberikan perhatian pada istri orang di hadapan semua koleganya.
"Mantra! Look at me!" Ucapan Laura ini masih tidak digubris oleh Tantra.
Laura memaksa Tantra melihatnya. Ia menarik wajah Tantra dengan kedua tangannya. "Look at Me! Dia bukan istrimu! Dia hanya Mantanmu! Jangan menghancurkan semua yang sudah kamu bangun hanya karena perasaanmu! Dia hanya masa lalumu!"
Laura menepuk pelan pipi Tantra. "Mantra! Wake up! Please! Sadarlah! Kamu tidak boleh merindukan istri orang!"
Tindakan Laura ini sejenak membuat Tantra sadar. "Peluk aku." Ucapnya lirih.
Tanpa memperdulikan reaksi orang disekitarnya, Laura langsung mendekatkan tubuhnya dan memeluk suaminya.
Tantra membalas pelukan itu. Mendekap erat tubuh yang selalu diinginkannya setiap malam.
"Sebaiknya kita pulang sekarang." Ajak Tantra.
__ADS_1
"Tapi acaranya belum selesai. Bagaimana jika para tamu mencarimu?" Sahut Laura.
"Aku membutuhkanmu sekarang! Kita pulang!" Suara Tantra sedikit bergetar.
Entah apa yang dimaksud Tantra.
Membutuhkan Laura? Bukankah istrinya ada disampingnya sekarang?
Meski tak paham betul maksud suaminya, Laura tetap beranjak dan menuruti permintaan tantra.
Baru saja hendak melangkah pergi, Tantra dikejutkan oleh Masyita yang tiba-tiba pingsan karena menahan sesak di dadanya.
Tantra berlari ke arah tubuh yang sudah tergeletak di lantai. Dia sudah tak bisa menahan rasa, meluap begitu saja. Tantra sangat khawatir pada Masyita.
"Ta, kenapa ta? Syita? Bangun sayang? Laura dan beberapa pelayan menghampirinya. Tantra meminta pada pelayan untuk melihat piring Masyita, memastikan apa yang telah dimakan oleh Masyita.
"Coba lihat! Apa di menu makanannya ada kerang?" Tantra menyuruh pelayan untuk memastikan apa yang telah dimakan oleh Masyita.
"Be-benar Tuan. Di dalam menu tumisan ada kerang bambu." Jawab si pelayan.
"Siapkan mobil! Aku akan membawanya ke rumah sakit." Tantra memberi perintah pada para ajudannya.
Ketika hendak menggendong tubuh Masyita, Dito datang mengambil alih posisi Tantra.
Tantra masih tak melepaskan tangannya dari tubuh Masyita.
"Saya yang akan membawa ISTRI SAYA ke rumah sakit!" Dito mempertegas kata istri untuk menyadarkan Tantra bahwa dirinyalah yang berhak atas Masyita karena statusnya sebagai suami.
Tantra melepas tubuh Masyita dari gendongannya dan menyerahkannya pada Dito. Meski tidak rela, namun ia pun tak bisa berbuat apa-apa karena sadar bahwa dirinya tak berhak atas Masyita sekarang.
Dito berjalan cepat keluar dari hotel dengan diikuti Bayu, sang asisten.
Tantra juga mengekor di belakang mereka . Ingin memastikan kondisi Masyita baik-baik saja. Tanpa memperdulikan semua mata yang menatap aneh ke arahnya. Tantra mengabaikan itu semua. Pikirannya sekarang hanya terisi oleh Masyita.
Tiba-tiba ada sebuah tangan yang menariknya.
"Laura?"
"Biarkan dia bersama suaminya!" Laura menarik Tantra untuk menepi. Tersembunyi dari semua mata yang mencari mereka.
"Tapi ini keadaan gawat. Aku harus memastikan dia baik-baik saja!" Ujar Tantra dengan panik.
"Apa kamu masih mencintainya?" Laura memasok banyak oksigen untuk menguatkan dadanya saat memberi pertanyaan ini pada Tantra. Ia harus siap mendengar jawaban yang mungkin bisa menghancurkannya.
__ADS_1
Tantra menangis, bahkan sampai terisak.
Rasanya sulit untuk percaya. Baru kali ini Laura melihat sosok Tantra seperti ini. Sosok yang menyedihkan. Tantra yang terlihat rapuh.
Hilang semua sosok yang cerdas, berkharisma dan berwibawa. Berganti menjadi sosok Tantra yang lemah dan rapuh hanya karena wanita bernama Masyita.
"Jika kamu memang mencintainya, biarkan dia bahagia bersama suaminya. Jangan memaksakan diri masuk dalam kehidupannya lagi. Bisa jadi kehadiranmu justru menyiksanya jika dia sudah mulai mencintai suaminya." Laura mencoba meyakinkan Tantra.
"Mantra, relakan dia!" Laura berkata tegas.
"Ta-tapi aku harus menyusulnya sekarang. Kumohon.." Tantra benar-benar mengiba.
"Ini keadaan gawat. Masyita mempunyai alergi pada kerang. Dia pernah masuk ICU dan tidak sadar selama beberapa hari karena saluran pernapasannya tertutup oleh lendir."
"Aku harus pergi! Aku harus memastikan dia baik-baik saja." Tantra khawatir pada kondisi Masyita tanpa memperdulikan bagaimana perasaan istrinya.
"Listen to me! Mantra! Jika kamu menyusulnya, itu artinya kamu melepaskanku! Sekali lagi Laura berkata tegas. Ia harus melakukan ini.
"Aku tidak akan melepasmu! Kumohon Laura, mengertilah! Aku hanya ingin memastikan keadaannya baik-baik saja. Tolong mengertilah!" Tantra merengkuh tubuh Laura. Ia memeluk dan mencium kening istrinya. Setelah itu Tantra berbalik dan pergi meninggalkan Laura.
Tantra berlari ke arah mobilnya dan menyusul Masyita. Tak lupa ia menelpon Rania untuk memastikan kalau Dito membawa Masyita ke Rumah Sakit tempat Rania.
Rumah sakit Rania adalah rumah sakit terbaik dan terdekat dari lokasi acara.
Begitu mendapat kepastian dari Rania, Tantra langsung menancap gas dan melajukan mobilnya dengan kecepatan maksimal.
Begitu sampai di rumah sakit, Tantra berlari menuju IGD. Ia melihat Dito yang sedang duduk sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Bagaimana kondisinya? Apa Syita baik-baik saja?" Pertanyaan Tantra terkesan mendesak.
"Pulanglah! Istrimu menunggumu di rumah!" Dito menjawab dengan ketus. Tak ada nada hormat sama sekali dalam ucapannya.
"Aku akan pulang setelah memastikan Syita baik-baik saja." Jawab Tantra.
"Kau tidak berhak mengkhawatirkannya!" Sentak Dito. Dia berdiri dan berhadapan dengan Tantra.
"Aku akan tenang jika Masyita berada di tangan tepat!" Ucapan Tantra ini seolah menyalahkan Dito atas kejadian yang menimpa Masyita. Seolah Dito telah lalai menjaga Masyita.
Dito meraih kerah baju Tantra dan mencengkramnya. Tangannya mengepal. Siap melayangkan bogem pada lawan bicaranya.
Beruntung Rania datang tepat waktu dan berhasil melerai mereka sebelum terjadi baku hantam.
"Pulanglah! Istrimu pasti menangis di rumah karena suaminya justru mengkhawatirkan istri orang!" Dito berkata penuh kemarahan.
__ADS_1