Teka Teki Satu Juni

Teka Teki Satu Juni
PERTENGKARAN


__ADS_3

Saat di perjalanan , Deska bertanya.


" Kalau boleh tau , kenapa kamu selalu jalan kaki ke sekolah ? maksudku , kau kan bisa naik bus " Pertanyaan itu membuat Narra lama terdiam. Hingga akhirnya berbohong.


" Aku lebih suka jalan kaki , selain dekat juga bikin sehat " jawab Narra tanpa melihat ke arah Deska.


Melihat Narra yang tampak sedih , Deska pun bergumam dalam hatinya.


" Aku tau pasti dia berbohong , tapi kenapa ? ".


Tak ingin ambil pusing , ia pun menginjak pedal gas hingga akhirnya tiba di apartemen Narra.


" Makasih buat tumpangannya , aku masuk dulu ".


Deska terus menatap Narra yang perlahan menjauh , sambil terus bertanya tanya ada apa dengannya.


Ketika tiba di kamar Narra langsung menghempaskan tubuhnya ke atas kasur.


Ia mengambil bingkai foto yang terletak di sebelah kanan kasur , tepatnya di atas meja kecil yang biasa di gunakan Narra untuk belajar.


Matanya terus mengeluarkan air tatkala memandangi foto keluarganya di masa lalu.


Tapi berbeda lagi dengan Deska , baru saja ia masuk ke rumah , papanya langsung melayangkan pukulan tepat ke bibirnya.


Sehingga membuat bibir Deska mengeluarkan darah.


" Sebenarnya apa maumu ? , kau mencoba bunuh diri ? , apa mempermalukanku membuatmu bahagia ? " ujar papanya seraya terus memukul dan menendang Deska hingga ia tak mampu lagi bangun.


Hidung , bibir , dan pelipisnya mengeluarkan darah tapi ia malah tertawa.


" bahagia ? , tentu saja , melihat orang yang ku benci menderita aku sangat bahagia " Ucapnya dari atas lantai , mendengar itu papanya langsung memegang kerah baju Deska.

__ADS_1


" Dasar anak kurang ajar , kau akan menyesali ini Deska " Bentak papanya yang marah besar.


" Satu satu nya hal yang ku sesali adalah , kenapa aku tidur di malam ulang tahunku . Jika saja aku bangun aku tidak akan kehilangan mama.


Kau sudah membuat ku menderita dan melukaiku , tapi luka terbesar yang kau berikan adalah , kepergian mama.


Apa salah ku padamu ? "


Deska tak lagi dapat membendung air matanya , mengingat apa yang sudah dia alami selama ini.


Menyaksikan itu papanya melepas cengkeramannya pada kerah baju Deska , lalu pergi tanpa berkata apapun lagi.


Sementara Deska di peluk oleh asisten nya Pak Ravi , yang sudah bersamanya sejak usia 5 tahun.


" Tenanglah tuan muda , aku mohon padamu ... " Ucapnya sembari membantu Deska bangun.


Pak Ravi kemudian mengajak Deska kekamar untuk mengobati lukanya , hingga akhirnya ia tertidur.


Sambil terus menatap Deska yang tertidur pulas , dengan wajah tenang . Pak Ravi menangis , dalam hati ia bergumam.


××××


Keesokan harinya di sekolah .....


Narra yang tengah berjalan menuju kelasnya terkejut bukan main , tatkala melihat Deska dengan wajah babak belur.


Tanpa pikir panjang ia pun berlari menghampiri Deska.


" Kamu kenapa ? " tanya Narra panik dan khawatir.


Tapi dengan nada dingin Deska menjawabnya.

__ADS_1


" Bukan urusanmu " ucapnya tanpa melihat sedikitpun ke arah Narra di samping , ia melewati Narra dan terus berjalan.


Meski begitu Narra tidak menyerah , ia kembali menghampiri Deska.


" Deska tunggu , lukamu cukup parah , sebaiknya kau ke rumah sakit " Ucapnya masih tampak khawatir.


Kali ini Deska menatap mata Narra dengan tajam , seolah menyimpan amarah yang besar di hatinya.


" Kau tidak dengar ya , ini bukan urusan mu jadi berhentilah ikut campur , aku tidak butuh belas kasihan darimu "


Seketika Narra tertegun dan bingung , ia terus bertanya tanya apa dan dimana letak kesalahan nya.


" Sebenarnya apa maksudmu ? " tanya Narra yang masih berharap Deska akan menjelaskannya.


Kekesalan Deska pun memuncak , dengan nada tinggi ia berkata :


" Kau di suruh Rahel tuk jadi temanku kan ? , dia menceritakan rahasiaku padamu , dan kau jadi kasihan lalu peduli padaku " Narra tampak mengerutkan keningnya seraya mencoba menjelaskan pada Deska.


" Aku berteman dengan mu bukan karna kasihan , tapi karna... "


Belum selesai ia bicara Deska langsung berkata :


" Berhentilah berbohong , kau pikir aku percaya ? , mulai saat ini dan seterusnya , jangan pernah bicara dengan ku lagi " Narra pun tampak marah dengan sikap Deska yang semakin menjadi jadi.


" Baik kalau itu mau mu " Ucapnya dengan nada menyolot , lalu mereka pun berjalan berpisah yang satu ke arah timur dan satunya ke barat.


Menyaksikan drama live yang baru saja tayang , trio kurang kerjaan pun berbisik.


" Rencana mu berhasil Hana .. " ucap Saumi setelah Deska dan Narra menjauh.


" Iya , gak sia sia kamu telfon Deska dan nunjukin rekaman cctv di resto dekat pantai semalam " sahut Yuyu sambil menyeringai.

__ADS_1


bersambung ...


mohon dukungannya 🙇


__ADS_2