
Saat di perjalanan , Deska bertanya.
" Kalau boleh tau , kenapa kamu selalu jalan kaki ke sekolah ? maksudku , kau kan bisa naik bus " Pertanyaan itu membuat Narra lama terdiam. Hingga akhirnya berbohong.
" Aku lebih suka jalan kaki , selain dekat juga bikin sehat " jawab Narra tanpa melihat ke arah Deska.
Melihat Narra yang tampak sedih , Deska pun bergumam dalam hatinya.
" Aku tau pasti dia berbohong , tapi kenapa ? ".
Tak ingin ambil pusing , ia pun menginjak pedal gas hingga akhirnya tiba di apartemen Narra.
" Makasih buat tumpangannya , aku masuk dulu ".
Deska terus menatap Narra yang perlahan menjauh , sambil terus bertanya tanya ada apa dengannya.
Ketika tiba di kamar Narra langsung menghempaskan tubuhnya ke atas kasur.
Ia mengambil bingkai foto yang terletak di sebelah kanan kasur , tepatnya di atas meja kecil yang biasa di gunakan Narra untuk belajar.
Matanya terus mengeluarkan air tatkala memandangi foto keluarganya di masa lalu.
Tapi berbeda lagi dengan Deska , baru saja ia masuk ke rumah , papanya langsung melayangkan pukulan tepat ke bibirnya.
Sehingga membuat bibir Deska mengeluarkan darah.
" Sebenarnya apa maumu ? , kau mencoba bunuh diri ? , apa mempermalukanku membuatmu bahagia ? " ujar papanya seraya terus memukul dan menendang Deska hingga ia tak mampu lagi bangun.
Hidung , bibir , dan pelipisnya mengeluarkan darah tapi ia malah tertawa.
" bahagia ? , tentu saja , melihat orang yang ku benci menderita aku sangat bahagia " Ucapnya dari atas lantai , mendengar itu papanya langsung memegang kerah baju Deska.
__ADS_1
" Dasar anak kurang ajar , kau akan menyesali ini Deska " Bentak papanya yang marah besar.
" Satu satu nya hal yang ku sesali adalah , kenapa aku tidur di malam ulang tahunku . Jika saja aku bangun aku tidak akan kehilangan mama.
Kau sudah membuat ku menderita dan melukaiku , tapi luka terbesar yang kau berikan adalah , kepergian mama.
Apa salah ku padamu ? "
Deska tak lagi dapat membendung air matanya , mengingat apa yang sudah dia alami selama ini.
Menyaksikan itu papanya melepas cengkeramannya pada kerah baju Deska , lalu pergi tanpa berkata apapun lagi.
Sementara Deska di peluk oleh asisten nya Pak Ravi , yang sudah bersamanya sejak usia 5 tahun.
" Tenanglah tuan muda , aku mohon padamu ... " Ucapnya sembari membantu Deska bangun.
Pak Ravi kemudian mengajak Deska kekamar untuk mengobati lukanya , hingga akhirnya ia tertidur.
Sambil terus menatap Deska yang tertidur pulas , dengan wajah tenang . Pak Ravi menangis , dalam hati ia bergumam.
××××
Keesokan harinya di sekolah .....
Narra yang tengah berjalan menuju kelasnya terkejut bukan main , tatkala melihat Deska dengan wajah babak belur.
Tanpa pikir panjang ia pun berlari menghampiri Deska.
" Kamu kenapa ? " tanya Narra panik dan khawatir.
Tapi dengan nada dingin Deska menjawabnya.
__ADS_1
" Bukan urusanmu " ucapnya tanpa melihat sedikitpun ke arah Narra di samping , ia melewati Narra dan terus berjalan.
Meski begitu Narra tidak menyerah , ia kembali menghampiri Deska.
" Deska tunggu , lukamu cukup parah , sebaiknya kau ke rumah sakit " Ucapnya masih tampak khawatir.
Kali ini Deska menatap mata Narra dengan tajam , seolah menyimpan amarah yang besar di hatinya.
" Kau tidak dengar ya , ini bukan urusan mu jadi berhentilah ikut campur , aku tidak butuh belas kasihan darimu "
Seketika Narra tertegun dan bingung , ia terus bertanya tanya apa dan dimana letak kesalahan nya.
" Sebenarnya apa maksudmu ? " tanya Narra yang masih berharap Deska akan menjelaskannya.
Kekesalan Deska pun memuncak , dengan nada tinggi ia berkata :
" Kau di suruh Rahel tuk jadi temanku kan ? , dia menceritakan rahasiaku padamu , dan kau jadi kasihan lalu peduli padaku " Narra tampak mengerutkan keningnya seraya mencoba menjelaskan pada Deska.
" Aku berteman dengan mu bukan karna kasihan , tapi karna... "
Belum selesai ia bicara Deska langsung berkata :
" Berhentilah berbohong , kau pikir aku percaya ? , mulai saat ini dan seterusnya , jangan pernah bicara dengan ku lagi " Narra pun tampak marah dengan sikap Deska yang semakin menjadi jadi.
" Baik kalau itu mau mu " Ucapnya dengan nada menyolot , lalu mereka pun berjalan berpisah yang satu ke arah timur dan satunya ke barat.
Menyaksikan drama live yang baru saja tayang , trio kurang kerjaan pun berbisik.
" Rencana mu berhasil Hana .. " ucap Saumi setelah Deska dan Narra menjauh.
" Iya , gak sia sia kamu telfon Deska dan nunjukin rekaman cctv di resto dekat pantai semalam " sahut Yuyu sambil menyeringai.
__ADS_1
bersambung ...
mohon dukungannya 🙇