Teka Teki Satu Juni

Teka Teki Satu Juni
DI IZINKAN MASUK


__ADS_3

Yota , yang masih mengusap lembut lengannnya yang habis di pukul tongkat bis *** alias tangan Narra


berkata :


" Gadis ini benar benar ya .. "


Body guard yang ada di sana pun tak bisa menahan tawa melihat pertunjukan di depan mereka.


Di tengah tawa Pak Ravi mendadak maju ke garda terdepan dan menghampiri para body guard itu seraya berkata " Biarkan dia masuk ! ini perintah tuan Deska "


Mendengar ini para body guard pun menjawab dengan serentak.


" Baik pak " ucap mereka semua dengan tegas. Lalu memberi jalan pada Narra.


Setelah saja Narra lewat , mereka kembali merapat untuk menutup jalan.


" Maaf tapi hanya Nona Narra yang di izinkan masuk ! " ucap salah satunya pada Yota yang kebetulan berdiri di depan body guard tersebut.


" Kau pikir aku ingin masuk ? " hal ini membuat Yota yang sudah tidak mampu membendung amarah pun , jadi meluapkannya pada body guard itu.


" Yota tenanglah ! kita duduk di sana ya ? " ucap Luri dengan lembut. Amarah Yota yang tadi memuncak seketika lenyap , melihat senyum manis Luri padanya.


Untung Narra tidak melihat ini jika tidak , akibatnya bisa sangat buruk.


minimal dia akan mual.


Setelah masuk , Narra langsung duduk di samping Deska sembari menampilkan senyum termanisnya.


" Kenapa kau berisik sekali ? " ucap Deska yang seolah hendak memulai perang. Mendengar pertanyaan barusan senyum Narra langsung menghilang dan berganti dengan raut wajah kesal.


" Untungnya kau baru sadar dari koma ya... jika tidak aku sudah menendang mu ke lantai 1 " gerutu Narra dalam hatinya.


Meski kesal , Narra tetap bertanya keadaan Deska agar terlihat normal seperti orang pada umumnya.


" Jadi ... bagaimana kondisimu ? " tanya Narra sambil berusaha tersenyum lagi , tapi bukan Deska namanya kalau tidak ketus cara bicaranya.

__ADS_1


" Kau tidak lihat aku baik baik saja " jawab Deska tanpa melihat ke arah Narra sedikitpun.


" Huhhh ..... seharusnya aku tidak bertanya " ucap Narra seraya mengumpat dalam hati.


Sadar tangannya terasa berat ia kemudian melihatnya.


Dia baru ingat kalau membawa buah untuk orang yang raganya mulai pulih tapi jiwanya memburuk.


Ia pun meletakkannya di atas meja yang dekat dari Deska.


sekarang Narra beralih menatap pria dingin yang sedang duduk santai seraya membaca buku di atas ranjang rumah sakit.


" Pantas saja nilainya yang paling tinggi


lagi sakit begini otaknya masih bisa mengerti buku " gumam Narra melihat Deska yang begitu menikmati bukunya.


" Omong omong , apa kau menyukai kiela ? " buku yang baru saja Deska balik seketika sobek , sangking kagetnya mendengar pertanyaan Narra.


Deska menutup buku itu dan melemparnya ke sofa dan sekarang Deskalah yang menatap ke arah Narra.


" Dari mana kau tau tentang dia ? " tanya Deska dengan nada super dingin.


" Dasar mulut besar keriput ! " gumamnya sambil mengingat wajah Pak Ravi di kepalanya , lalu kembali lagi ke dunia nyata.


" Aku tidak menyukainya " singkat , padat dan jelas. Itulah gambaran gaya bicara Deska.


" Benarkah ? lalu kenapa kau rela menutupi fakta tentang kematiannya.


Padahal kau tau kakaknya akan menyalahkanmu " namun Narra bukanlah orang yang akan menyerah begitu saja.


" Entahlah mungkin ...


karna dia satu satunya orang yang bisa memahamiku "


Jedueerrr...

__ADS_1


Bagaikan suara petir jawaban Deska barusan sungguh tak terduga.


Narra terkejut bukan main , untuk pertama kalinya Deska memuji seseorang bahkan dia seorang perempuan.


" Tapi , aku rasa dia itu orang yang jahat. Karna memintamu mengorbankan diri untuk kepentingannya " dan ternyata Narra juga lebih mengejutkan.


" Dia tidak mengorbankan ku ! buktinya , dia menyiapkan surat pemeriksaan dan rekaman video yang menyatakan kalau dia sakit kanker "


Melihat mata Deska yang tampak berkaca kaca Narra berkata :


" Jadi karna itu kau seperti habis menangis ? " mendengar itu , Deska lalu mengusap wajah terutama bagian bawah mata dan pipi chubinya.


" Aku tidak menangis ! " ucapnya tegas.


" Baiklah ... akan ku anggap kau habis cuci muka. Buah itu dari aku Luri dan Yota " ucap Narra seraya menunjuk ke bingkisan di meja.


" Kau berteman lagi dengan Yota ? " kali ini giliran Deska yang melontarkan pertanyaan.


" Iya ... , kenapa ? "


" Tidak ada " jawab Deska ketus. Narra lalu berdiri seakan hendak pamit.


" Aku pergi dulu , semoga cepat pulih "


Saat Narra hendak menyentuh gagang pintu , tiba tiba pintunya langsung terbuka. Padahal bukan pintu otomatis.


Benar saja ternyata ada pelakunya , melihat pria berbadan tinggi dan berjas hitam yang pasti bukan Pak Ravi.


Dan lagi wajahnya persis seperti Deska.


Narra melihatnya dari ujung kaki hingga kepala.


Dan betapa terkejutnya ia saat tau kalau pria itu adalah ...


bersambung ....

__ADS_1


tanks buat yang baca 😊


semoga sehat selalu ...😀


__ADS_2