
" Narra adalah anak yatim piatu sejak usianya 15 tahun. Dan sekarang , dia hidup sebatang kara karna pamannya juga sudah lama meninggal " jelas Yota pada Luri.
" Apa ... kkkau .. bercandakan ? selama ini dia terlihat bahagia " ujar Luri yang masih tak percaya dengan apa yang di katakan Yota barusan.
" Dia hanya pura pura , karna tak ingin orang lain tau penderitaannya " sambung Yota mencoba meyakinkan Luri atas apa yang dia sampaikan tadi.
" Tetap saja , sikap adikku itu wajar .. "
ucap Luki yang ternyata sedari tadi mengawasi mereka dari kejauhan.
" Kau hanya temannya kenapa reaksimu berlebihan ? " tanya Luki seakan menyudutkan Yota.
" Menurutmu itu hal yang mudah untuk dia ? " jawab Yota yang dengan berani membantah Luki. Hal yang belum pernah dia lakukan sebelumnya.
" Kalau menurutmu itu berat untuknya , maka pacaran saja dengan Narra.
Apa kau tidak tau bedanya cinta dan persahabatan ? " sahut Luki tak mau kalah debat.
" Apa kau sedang mengancam ku ? " kali ini Yota juga tak tinggal diam , dia terus menjawab semua perkataan Luki padanya.
" Tidak ! aku memintamu memilih antara adikku dan narra ? " mendengar hal itu baik Yota maupun Luri sama sama terkejut.
" Kakak... jangan bilang begitu aku menyayangi Yota .. " rengek Luri yang takut kalau kalau Luki menunaikan kata katanya untuk memisahkan mereka.
" Karna itulah aku melakukan ini. Kau tidak bisa hidup dengan laki laki yang memendam perasaan pada gadis lain "
Setelah merenung beberapa saat Yota akhirnya memberikan jawabannya pada Luki.
" Aku ... memilih ... Luri " ucapnya dengan suara bergetar dan air mata yang tertahan.
" Baiklah , akan ku anggap itu sebagai sumpah mu dan ku pegang kata kata mu. Ayo luri ! , kita pulang " Luki membawa adik kesayangannya itu masuk ke mobil dan dengan cepat ia mengebut meninggalkan Yota sendirian.
Yota menangis dan menjatuhkan tubuhnya di atas pasir pantai sembari menyesali perbuatannya. Siapa yang tidak akan sedih saat harus merelakan kepergian sahabatnya. Orang yang selalu bersamamu dalam suka maupun duka harus pergi demi kebahagiaanmu sendiri.
" Aku minta maaf Ra ...
maafkan aku ... karna tak bisa lagi ada untukmu. Ini akan jadi hari yang paling ku sesali " gumam Yota yang merutuki dirinya sendiri. Seluruh kenangan bersama Narra , dari awal mereka bertemu , semua perdebatan dengannya , tangis tawa bersama hingga hari ini terputar di kepala Yota.
" Maaf Ra.... maaf ... " ucapnya terus menerus.
__ADS_1
*****
Malam hari ini kegiatan Narra tidak ada.
Kebetulan juga Cafe sedang tutup karna pemiliknya pergi liburan.
Dia pun memutuskan pergi ke Taman yang tak jauh dari komplek Apartemennya.
Tak lupa sebelum ke taman ia memesan secangkir Capucino di salah satu Cafe di dekat Taman sebelum akhirnya ia duduk di kursi umum yang tepat mengarah ke sinar bulan.
Narra menulis sesuatu di buku Diary nya.
Waktu terus berjalan ....
Aku melaluinya sendirian tanpa hadirmu teman ..
Sejak pertengkaran jadi alasan perpisahan
Hingga kini semuanya tinggal kenangan yang tak mudah kulupakan
Selalu terbayang senyummu , canda tawamu , yang membuatku ingin kembali ke masa lalu
Saat bersamamu waktu berjalan begitu cepat dan tanpamu waktunya berjalan lambat
Meski kau kini telah pergi tanpa ada kepastian akan kembali
Setelah menulis semua itu , Narra menghela napas seraya mengusap air matanya yang mulai berjatuhan.
Tiba tiba saja ingatannya mengarah pada sang ibu yang dulu pernah berpesan.
Narra jangan pernah merasa sendirian Jika menangis tak ada yang menghiburmu , jika sepi tak ada yang menemanimu
*Di saat seperti itulah Allah ada untukmu , selalu bersamamu dan tetap
Jangan pernah gantungkan hatimu pada manusia karna mereka bisa berubah tapi berharaplah hanya pada Allah*
Saat melamunkan sang ibu mendadak ada suara yang membuyarkan lamunannya.
" Narra ... " ia melihat ke kiri , ke kanan tapi tidak ada orang.
__ADS_1
" Mungkin hanya perasaan ku saja " gumamnya pelan dan melanjutkan kegiatannya.
" Narra ... " suara itu terdengar lebih keras dari sebelumnya.
Sambil melihat ke sekeliling , Narra yang sudah sangat emosi pun berkata.
" Hei ... siapa kau ? berhentilah mempermainkan ku " teriak Narra penuh amarah seraya berkacak pinggang.
" Dasar payah " ucap seorang pria. Lalu ia berjalan mendekati Narra dari arah belakang sambil memegang sebuah kotak di tangannya.
Saat sudah tepat di belakang Narra , pria itu berkata.
" Kau tidak bisa menemukanku ? "Narra sangat terkejut hingga Capucino yang ia pegang jatuh , tumpahnya di atas sepatu putih yang ia kenakan lagi.
" Ya ampun... jadi kotor. Sebanarnya kau siapa ? " ucap Narra seraya membersihkan sepatunya dengan tisu.
Bukannya menjawab pria itu malah terus saja tersenyum manis.
" Jika kau tidak segera menjawab , ku telfon Polisi ! " ancam Narra yang mulai kesal dengan tingkah pria sok kenal ini.
" Silahkan saja. Dalam film film biasanya mereka datang saat tragedi yang tak di inginkan sudah terjadi " ucap pria itu dengan santainya yang justru membuat amarah Narra makin berkobar.
" Kau mengancamku ? " tanya Narra dengan nada tinggi.
" Kau tidak lihat tampang ku imut begini ? bagaimana kau bisa berpikir aku sedang mengancam. Oh iya
Ini untukmu ! " jawab pria itu dengan pedenya seraya menyerahkan kotak yang sedari tadi dia pegang.
" Hei pria bertopeng yang mengaku sok imut ! kau pikir aku akan menerimanya ?
pergilah ! , aku tidak butuh hadiahmu " ucap Narra yang langsung mematahkan kepedean dan mentak pria ini.
" Setidaknya buka dulu baru putuskan mau atau tidak .. " sahutnya bersikeras sekaligus tak terima.
" Tidak ! tak akan pernah " sayangnya Narra jauh lebih bersikeras.
" Dasar keras kepala ! " ucap pria itu sambil hendak memukulkan kotaknya pada kepala Narra , untungnya Narra segera berbalik dan ...
thanks buat yang udah baca
__ADS_1
jangan lupa like , komen kalau ada yang butuh saran dari karya ini atau karna kurang deskripsi dan sebagainya
😊😊😊