
Semester terakhir kelas 11 sudah berlalu.
Kali ini Narra mendapat peringkat ke dua Ipa tertinggi , setelah Deska tentunya.
Dalam acara ini , tentu ada kegiatan penyerahan hadiah , karna itulah orang tua murid di undang.
Narra terdiam sambil berusaha menahan air mata melihat kedatangan wali murid lain.
Tak berapa lama datanglah buk Jenie guru baru , yang membuyarkan lamunannya.
" Selamat untukmu Narra , oh iya , orang tuamu mana ? " tanya buk Jennie yang membuat rasa sakit di hati Narra makin terasa.
" Mereka ......" Narra tidak bisa menjawab pertanyaan buk Jenie , berat lidahnya terasa berat.
Yota yang sedari tadi memperhatikan Narra datang menghampiri , dan mengalihkan perhatian buk Jenie.
" Buk Jenie kau tidak akan memberi selamat untukku ? " ucap Yota dengan ekspresi kesal.
" Ya ampun Yota kau mengagetkan saja , kalau begitu selamat juga untuk mu ! " ucap buk Jennie seraya tersenyum manis.
" Nahh , begini kan adil "
" Eee , dasar anak ini , ada telfon ibuk pergi dulu "
Setelah buk Jenie jauh , terjadi kecanggungan antara Narra dan Yota. Usai pertengkaran waktu itu.
" Makasih " ucap Narra lirih seraya berjalan pergi.
Karna tidak ingin lagi merasa canggung Yota lalu menghadang Narra.
" Aku ingin bicara dengan mu " ucapnya sambil menarik tangan Narra menuju kelas.
" Begini ..
aku mau minta maaf atas perkataan ku.
Aku sadar sudah melewati batas "
Narra melihat di mata Yota terpancar jelas rasa penyesalan.
__ADS_1
Setelah membuang napas panjang ia menatap Yota dan berkata :
" Tidak apa apa , lagi pula kau berhak marah.
Orang tuamu pasti datang kan ? " tanya Narra mengganti topik.
" Ya .. mama , papa ku disini "
" Kau beruntung ...
Entah kenapa sangat sulit bagi ku mengatakan bahwa orang tua ku sudah tiada.
Meski aku tau kenyataannya , aku lebih memilih berbohong dengan mengatakan mereka pergi sebentar dan akan kembali.
Padahal tidak ...
tidak akan pernah kembali " Narra pun menangis sambil membelakangi Yota.
" Akuu...
tidak tau harus bilang apa untuk membuat mu lebih baik.
Satu hal yang ku tau darimu , bahwa kau gadis paling kuat yang pernah ku kenal.
Saat susana sedih sedang berlangsung tiba tiba saja tanpa permisi Deska lewat tepat di tengah tengah Narra dan Yota.
" astaga ! apa kau tidak lihat ada orang ? " ucap Yota dengan nada tinggi.
Tapi Deska pergi begitu saja seolah tidak mendengar apapun.
" Anak itu benar benar ! " gerutu Yota yang makin geram pada Deska.
" Sudahlah Ta , apa kau pernah lihat dia bersikap sopan ? " ucap Narra.
" Tapi tetap saja menyebalkan "
Lagi lagi ada yang memotong pembicaraan mereka , bukan Deska melainkan Luri.
" Kalian sudah baikan ? " ucapnya dengan keras dari depan pintu.
__ADS_1
Lalu berlari menghampiri 2 manusia yang jadi orang terdekatnya itu.
" Aku senang sekali kalian tidak bertengkar lagi.
Dia sudah minta maaf belum kak ? " belum sempat Narra menjawab , Yota memotongnya sambil melotot pada Luri.
" Memang kenapa jika aku belum minta maaf ? "
" Tentu saja aku akan memaksamu minta maaf.
Kau sangat menyeramkan saat marah ..
Berjanjilah padaku kau tidak akan memarahiku seperti itu " Luri lalu mengulurkan kelingkingnya.
Sebagai bukti dia bersungguh sungguh agar Yota berjanji.
Tapi bagi Yota melihat ekspresi Luri saat kesal itu suatu kenikmatan.
" Tidak mau !
dan jika itu kulakukan apa yang akan terjadi ? " wajah Luri bukannya kesal malah tersenyum manis menatap ke belakang Yota.
" Kau akan menerima pukulan bertubi tubi dari ku " ucap pria tinggi , tampan yang bukan murid dari arah belakang.
Sontak saja Yota berbalik dan terdorong , oleh Luri yang langsung menghampiri serta memeluk erat pria itu.
" Aaaa....
sayangku sudah pulang..
aku sangat merindukanmu... " ucap Luri dengan nada manja.
" Aku juga , kau semakin manis ya sekarang ... " ucap pria itu sambil mencubit gemas pipi Luri.
Melihat itu amarah Yota jangan di tanya lagi.
Ibarat bahasa api yang bergejolak di siram bensin ,
mengebu gebu...
__ADS_1
bersambung .....
bagaimana menurut kalian aksi Yota berikutnya ? dan kira kira siapa pria itu ?