
" Kau ingin nama mu siapa ? " tanya Akira pada Narra.
" Apa saja asal tidak menimbulkan kecurigaan " jawab Narra datar.
" Baiklah " ujar Akira seraya beranjak dari tempat duduknya. Tatkala Akira hendak keluar dari pintu , Narra menghentikannya.
" Tunggu !
aku mau ... bilang makasih buat semuanya dan maaf kakak .. " tanpa melihat ke arah Narra , Akira berkata.
" Terima kasih saja tidak cukup !
kau harus pastikan orang itu mendapat hukuman setimpal " Akira pun langsung pergi , sedangkan Narra melanjutkan hari dengan berbaring di atas kasur.
Dia berpikir untuk berterima kasih juga pada Yota kalau bukan karna dia , Narra tidak akan bisa tinggal di Apartemen ini.
Benar Yota adalah pemilik Apartemen itu , papanya yang membangun itu untuk Yota.
Ditengah acara merenungnya , tiba tiba saja ingatan Narra mengarah pada Deska.
Khususnya kalimat Deska sebelum pergi ke Amerika.
Yups , setelah melarikan diri dengan mobil hitam dari Rumah Sakit , Deska datang ke Apartemen Narra.
Sebelum itu , di jalan yang sepi dia menyewa orang untuk membawa mobilnya dan dia sendiri naik taxi agar body guardnya terkecoh.
Benar saja rencananya itu berjalan dengan mulus.
Makanya dia berhasil sampai di tempat Narra.
Begitu tiba , dia mengetuk pintu.
Mendengar ada yang datang , Narra bergegas membukakkan pintu.
__ADS_1
Betapa terkejutnya dia saat melihat orang itu adalah Deska , apa lagi dia masih tampak pucat.
" Deska ! , ada apa ini ? " tanya Narra kaget sekalian bingung.
" Aku ingin bicara dengan mu " sahut si empu dengan mimik wajah serius. Lalu Deska langsung masuk begitu saja dan menutup pintunya rapat rapat.
Narra hanya terdiam melihat tingkah Deska yang aneh itu.
" Baiklah .. apa yang ingin kau bicarakan ? " sebelum menjawab pertanyaan Narra , Deska mengeluarkan kotak hadiah kecil dari saku bajunya.
" ini untukmu ! " ucapnya seraya menyodorkan kotak itu pada Narra.
Tentu saja Narra bingung bagaimana bisa pria yang dia juluki mulut paku dan berhati dingin bagai kutub selatan itu
jadi baik seperti ini.
" Apa yang terjadi ?
kau yakin tidak sedang kesurupan demam tinggi atau jangan jangan kau habis kecelakaan dan kepalamu terbentur ya ? " bukannya marah seperti biasanya Deska malah berkata.
" Tampaknya sakit mu sangat parah ...
aku harus hubungi dokter apa ?spesialis otak atau kejiwaan ? " lagi lagi Deska tidak marah atau pun berdecak.
" Bagaimana perasaanmu padaku ? "
Boomm bumi serasa berguncang setelah Deska menanyakan itu pada Narra.
" Apa !
eee , itu ... sulit di jelaskan "
Narra mulai keringat dingin , jantung nya berdetak kencang hingga rasanya mau lepas.
__ADS_1
" I Love You
aku ingin hidup bahagia bersamamu besok aku akan ke Amerika.
Tapi .. aku janji begitu kembali aku akan melamarmu secara resmi.
Jadi ... apa jawabanmu ? "
Dug dud dug ... jantung Deska tidak kalah cepat dengan jantung Narra menunggu jawaban seperti apa yang akan keluar dari mulut wanita yang tengah berdiri dihadapannya saat ini.
Tanpa di sangka Narra berkata.
" Apa aku bisa percaya kata kata mu ? " jawabnya tampak ragu.
" Kotak itu berisi kalung !
bagiku itu hal paling berharga yang ku punya.
Aku bahkan bersedia menukar nyawaku dengan itu , karna kalung ini satu satunya peninggalan dari ibuku.
Aku menjadikannya jaminan agar kau percaya "
Narra tampak diam sejenak memikirkan apa keputusannya.
" Kalau begitu ... aku ..... terima dan aku akan menunggu hingga kau kembali ... "
Mengingat semua itu membuat Narra kembali menangis mengenang bagaimana sikap Deska yang sekarang jauh berbeda.
" Kau bilang bersedia menukar nyawamu untuk kalung itu tapi ...
kau membuangnya !
Semoga kau bahagia Deska .. " gumamnya sendirian
__ADS_1
Bersambung ...
mohon dukungan kalian 🙇