Teka Teki Satu Juni

Teka Teki Satu Juni
DASAR MUNAFIK


__ADS_3

Setelah selesai melakukan persidangan , Narra kembali ke Kantor.


Kali ini penampilannya juga mencuri perhatian.


" Gini ya ... rasanya jadi seleb , ribet. Mau gimana juga pasti di ghosipin " gumam Narra seraya berjalan menuju ruangannya.


" Jaksa Gil , kenapa kau berpakaian tidak resmi seperti itu ? " tanya Jaksa Cha Eun Woo begitu melihat Narra.


" Jas saya basah senior , maunya tadi pakai kemeja aja. Cuman , karna lagi musim dingin gak kuat.


Jadinya saya pakai jaket ini kenapa gak boleh ya ? "


tanya Narra dengan nada malas.


" Hhuhh .. baiklah , ku rasa kali ini kau boleh berpakaian begitu. Tapi lain kali tidak lagi " jawab Jaksa Cha dan berlalu pergi.


" Astaga .... mahluk yang satu itu " Narra kembali ke ruangannya dengan mulut komat kamit.


Di sana ia tampak merenung sambil terus memutar kursi duduknya.


" Siapa pengkhianat yang di maksud ?


apa aku harus periksa seluruh orang di kejaksaan ini , kan gak mungkin "


Saat Narra terbenam dalam lamunannya , Hye mi dan Pak Bae justru makin bingung melihat tingkah Narra.


Yang terus berputar sambil merenung di atas kursi.


" Aku masih tidak percaya bahwa manusia aneh yang di sana itu adalah atasan ku .. " batin Hye mi sambil memandang Narra.


Tiba tiba.


Tok.. tok ... suara ketukan pintu.


" Masuk ! " ucap Pak Bae.


" Permisi Pak , Pimpinan meminta Jaksa Gil menemuinya " ucap seorang pria yang juga Jaksa junior di sana.


Seketika Narra menghentikan wahana komedi putarnya dan berjalan keluar.

__ADS_1


*****


Jujur aja ... jalan Narra gak terlalu lurus , sebab rasa pusing habis berputar tadi sebenarnya belum hilang. Begitu mendapati ruangan Pimpinan Narra masuk dan langsung duduk.


" Jaksa Gil , ku rasa kau sudah tau kenapa aku memintamu kesini " ujar Pimpinan membuka suara.


Narra yang masih keliangan tetap merespon. " Jika pimpinan ingin tau jawaban saya tentang kasus kecelakaan bus itu ,


maka keputusan saya sudah bulat , dan tidak bisa di tukar jadi berbentuk persegi ( maklum masih pusing jadi ngomongnya agak ngawur )


" Maksudnya ? " tanya Pimpinan meminta penjelasan.


" Saya tidak akan berhenti menyelidiki kasus itu, apapun yang terjadi. Permisi .. " ucap Narra dan berlalu keluar.


Setelah saja Narra menghilang dari pandangan ,


Pimpinan tampak marah , dia menendang meja di depannya lalu menelfon seseorang.


" Hallo ... , kita punya mangsa baru " ucap Pimpinan pada seorang pria melalui panggilan suara.


" Benarkah ? , kirim semua informasi tentangnya. Sudah lama aku tidak bermain .. " sahut seseorang dari seberang.


Mendadak Narra masuk lagi ke dalam.


" Ada apa ? " tanya Pimpinan yang kaget akibat ulah Narra.


" Ini pak , pulpen saya ketinggalan " ucap Narra yang cengengesan sambil memungut pulpennya lalu melenggang keluar.


" Tunggu ! , biar saya lihat pulpennya " ujar Pimpinan. Tanpa ragu Narra langsung menyerahkan apa yang diminta.


" Ini hanya pulpen biasa , bukan alat penyadap " batin Pimpinan sambil memperhatikan pulpen di tangannya dengan saksama.


Kemudian menyerahkannya kembali pada Narra.


Saat di lorong menuju ruangannya Narra tersenyum sinis sampai semua yang berpapasan dengannya dibuat bingung sekaligus heran.


" Apa dia sudah benar benar gila ? " bisik salah seorang Jaksa pada temannya.


" Entahlah , kurasa karna tekanan hidup dia jadi begitu " sahut sang teman.

__ADS_1


Untung Narra tidak mendengar ini , jadinya ia tetap happy.


Narra mengeluarkan alat penyadap berbentuk lingkaran kecil yang ia tempel di meja Pimpinan tadi.


Baru setelah itu ia sengaja menjatuhkan pulpen agar nanti bisa mengambil alat penyadap itu kembali.


Dan ya ... , rencananya memang berjalan mulus.


Hal inilah kiranya yang membuat Narra terus tersenyum sepanjang lorong.


Sekarang dia tau bahwa Pimpinan bukanlah orang baik baik.


" Dasar munafik ! " ucap Narra penuh amarah.


" Pantas saja dia sangat memaksaku untuk berhenti dari kasus itu.


Tapi ... siapa yang dia telfon dan kenapa ? untuk ini aku harus berhati hati. siapapun dia , pasti orangnya sangat berbahaya ! " batin Narra.


*****


Ketika siang hari di Kantor , Narra yang tampaknya kurang kerjaan terus saja mengikuti Hye mi kemanapun.


Mulai dari mejanya , sampai naik turun antara lantai 4 dan lantai 5.


Saat di loby , Hye mi yang muak tiba tiba berbalik dan berkata " Kau mau apa ? " sehingga Narra pun hampir menabraknya.


" Astaga ! , kau membuat ku terkejut " ucap Narra protes.


" Dan kau membuat ku ingin keluar dari kantor ini ! " sahut Hye mi tak mau kalah.


thanks buat yang udah baca 😊


jangan lupa like 😄


dan comen positifnya ya 😁


dukungan kalian sangat berarti buat author .....


jaga selalu kesehatannya ... 😉

__ADS_1


__ADS_2