
" Ya udah sana , jangan lupa minum air hangat. Semoga aja kamu gak sakit nanti " jawab Vani yang sebenarnya mengkhawatirkan Narra.
Ketika sibuk bersih bersih di dekat kasir , Vani menemukan buku. Dia pun langsung bertanya pada pelayan lain. Tapi , tak ada yang ngaku sebagai pemiliknya.
Seketika itu , dia melihat Narra yang lewat membawa pesanan salah satu pengunjung Cafe.
" Ra sini dulu ! " Narra yang baru memberikan pesanan langsung berjalan menghampiri Vani.
" Apa ini buku lo ? " melihat buku bersampul biru itu , Narra menganggukkan kepalanya pertanda dialah pemilik benda tersebut.
" Isinya hanya pusisi kak .. " jelas Narra pada Vani yang tampak sangat kepo dengan buku itu.
" Benarkah ? boleh ku baca ? " tanyanya spontan dan bersemangat. Atau lebih tepatnya dia sangat berharap Narra memberi izin untuk membaca buku yang katanya berisi puisi.
" Boleh. Tapi , mungkin isinya tidak sebagus yang kakak pikirkan " jawab Narra apa adanya.
" Aku akan tetap membacanya " sahut Vani yang orangnya memang pala batu , alias bandel.
" Ya sudah , terserah kakak saja " Narra lalu pergi melanjutkan pekerjaannya dan Vani membaca buku pusisi miliknya.
Halaman pertama ..
Saat senyuman hanyalah kebohongan
dan tangisan yang menjadi bukti kejujuran hati .
Jika kenangan jadi alasan untuk bertahan
Rasa sepi sebagai teman dan angan angan jadi hiburan
Di manakah keadilan ?
Ingin rasanya mengungkapkan rasa sakit yang tak tertahan
Tapi tak bisa ...
__ADS_1
karna kepercayaan hanyalah mainan dan janji hanyalah kisan
Setelah membaca pusisi itu , Vani tampak tertegun seolah menghayati puisi tersebut.
" Kenapa kak ? puisinya aneh ya ? " ujar Narra begitu melihat raut wajah Vani yang terkesan kosong.
" Puisimu sangat menyentuh. Hingga rasanya aku ingin menangis " jawabnya dengan mata berkaca kaca.
" Sebaiknya tidak usah baca lagi. Ehh , tunggu bentar ya kak , ada telfon " Narra pun keluar untuk mengangkat telfonnya yang barusan bergetar.
" puisinya sangat bagus ! apa dia juga bisa menulis puisi cinta ? jika begitu aku akan meminta bantuannya " gumam Vani sendiri seraya senyum senyum.
Cukup untuk membuatnya jadi bahan gosip penduduk sekitar yang berpikir Vani sudah tak waras.
Kembali ke Narra ..
Karna ini nomor yang tak di kenal , maka Narra pun bertanya pada si penelfon.
" Hallo .. maaf ini siapa ya ? " ucapnya lembut dan terkesan santai.
" Apa ? siapa kau ? " tanya Narra yang sangat terkejut.
" Kau tidak perlu tau siapa aku. Ku dengar kau putrinya Lee Ran dan Nasya , pasangan Jaksa dan Dokter yang meninggal dalam kecelakaan bus tragis " lagi lagi ia berkata hal aneh , bahkan cenderung seakan dia ini orang terdekat Narra.
" Apa yang kau inginkan ? " tanya Narra , seolah ia tau apa tujuan dari pria ini.
" Tidak banyak. Aku ingin kau tetap di Indonesia " jawabnya santai.
" Apa maksudmu ? " tanya Narra lagi.
" Ku beri kau peringatan. Jika sampai kau mencoba mengungkap kecelakaan bus itu , maka nasibmu tak akan jauh berbeda dari kedua orang tuamu.
Camkan itu baik baik " kemudian orang itu mematikan telfonnya secara sepihak dan membuang ponselnya begitu saja ke Sungai.
" Hallo haloo..... siapa sih ? " Narra mencoba menghubungi kembali nomor itu tapi tak bisa.
__ADS_1
" Dasar ! ini pasti ponsel sekali pakai "
gumamnya lalu kembali ke Cafe dan bersikap seolah tak ada yang terjadi.
****
Tak terasa waktu terus berlalu , sekarang Narra sudah di semester terakhir.
" Sebentar lagi aku Wisuda. Andai Ayah dan Ibu masih hidup. Aku ingin sekali kalian datang sambil membawa bunga , coklat , dan kue seperti saat aku perpisahan TK di Seoul.
Siapa yang akan datang ? aku tidak punya siapapun lagi sekarang "
gumam Narra seorang diri di kamarnya mengingat sekarang dia hanya sendirian. Tanpa keluarga , tanpa sahabat , bahkan teman.
*****
Masih di hari yang sama.
Saat jarum jam menunjuk pukul 3 sore , Narra berencana ziarah ke makam pamannya.
Setelah bersiap siap , dia pun berjalan menuju lift. Lalu memesan ojek online dan langsung menuju ke pemakaman umum.
Dia juga membeli kembang di warung dekat makam. Saat memasuki area pemakaman , Narra merasa sedikit ngeri. Secara , makam pamannya jauh ke dalam.
Yang artinya , ia harus melewati banyak makam dulu baru sampai ke makam pamannya.
Dengan kaki yang gemetaran dan mulut komat kamit membaca Ayat Kursi , Surat Al -Falaq , An - Nas.
Berharap penghuni makam tidak mengganggunya.
Perlahan tapi pasti , Narra terus melangkah ke dalam.
Setelah gemetaran cukup lama , baru lah ia bisa bernafas dengan lega karna sudah bertemu dengan makam pamannya.
Bersambung ....
__ADS_1
komen dikit lah ....