Teka Teki Satu Juni

Teka Teki Satu Juni
KALUNG IBU


__ADS_3

Pria bertopeng itu langsung pura pura tidak melakukan apapun. Tapi Narra terus menatap tajam ke arahnya.


" Baiklah. Begini saja , kita buat kesepakatan ?


kau beri aku pertanyaan apapun tentang dirimu. Jika aku benar kau harus buka hadiahnya dan jika salah akan ku buka topengnya bagaimana ? " ucap pria itu tampak sangat yakin kalau Narra akan setuju.


" Kau pikir aku tertarik ? " sahut Narra dengan mulut savagenya.


" Jika tidak , kau tak akan dapatkan ponselmu , aku melihatmu meninggalkannya di Cafe saat membeli Capucino " pria ini tak habis akal untuk membuat Narra menurutinya.


" Jadi kau mengikutiku ? " ucap Narra dengan nada tinggi karna marah dan terkejut.


" Ya.... kurang lebih begitu.. " jawab pria itu dengan santainya lagi sembari bergoyang goyang.


" Kembalikan ponselku ! " bentak Narra.


" Kau pikir aku mau , kecuali jika kau ... setuju dengan kesepakatannya " sungguh sepertinya pria ini tidak tau saat wanita sudah sangat marah mereka tidak boleh di pancing lagi. Karna akibatnya bisa lebih buruk dari di kejar anjing galak.


" Dasar pria aneh bertopeng ular ! " teriak Narra sekalian memakinya.


" ini topeng naga ! kau tidak tau bedanya naga dan ular ? " sontak pria ini langsung melakukan klarifikasi seperti seleb yang di tuding terlibat suatu kasus.


" Siapa yang peduli itu naga atau ular atau lintah sekalipun.


Kau ingin pertanyaankan ? dengarkan baik baik ! apa yang akan ku lakukan saat sedih ? " pria itu tertegun cukup lama entah berpikir atau merenung hanya dia dan Tuhan yang tau.


" Kau akan berbohong ! kau tersenyum tapi hatimu menangis.


Kau bilang baik baik saja tapi kau hancur. Jika air mata mu terus menetes kau akan cuci muka agar orang tak sadar kau habis menangis.

__ADS_1


Apa itu cukup ? " mendadak pria itu merubah nada bicaranya sehingga Narra jadi terdiam. Awalnya Narra pikir pria itu akan menjawab hal lain yang umum di jawab orang orang seperti.


" Kau akan menangis " tapi kenyataan nya tidak. Sungguh tak terduga jawabannya itu.


" Apa .. semua ini , siapa kau sebenarnya ? " tanya Narra dengan suara bergetar dan air mata yang berjatuhan.


" Kau ingin tau buka kotaknya ! " Narra pun membuka kotak yang sedari tadi di pegang oleh pria itu. Dan apa yang ia temukan sangat mengejutkan yaitu kalung milik almarhum ibunya.


" Ini.... " belum selesai Narra bicara , pria itu membuka topengnya.


" Sebenarnya satu tahun yang lalu saat kau kelas 12 SMA detektif kang memberiku ini , karna aku tidak punya waktu , jadi baru sekarang bisa ku tunjukkan " Narra lalu memeluk pria yang tak lain adalah Jeefano Park sahabatnya sejak kecil yang datang jauh dari KOREA SELATAN.


Air matanya tak mampu lagi di bendung. Dia hanya akan menangis seperti ini jika di depan Jeef.


kalau di depan orang lain ia akan berusaha sekuat tenaga menahan air matanya.


" Saat tragedi itu terjadi ... aku tidak bisa melihat dengan jelas karna pantulan cahaya dari kalung ini !


Dan


booooommm suara ledakan yang begitu kuat. Hingga kini masih tersimpan jelas di ingatanku.


Ketika setengah sadar. Sayup sayup aku mendengar suara Ambulance. Ku lihat ke kiri , ayah ku tergeletak berlumuran darah.


Aku mencoba memanggilnya sekuat tenaga tapi suaraku seperti hilang begitu saja. Dan saat ku lihat ke kanan ibu ku .... " Jeef memotong ucapan Narra.


" Cukup Ra.. aku mohon hentikan ! kalau bisa lupakan semua itu.


Ingatlah hanya kenangan manis mu selama di Seoul. Dengan begitu kau akan lebih kuat " ujar Jeef sembari membelay lembut rambut Narra.

__ADS_1


" Kau tidak akan mengerti !


bagiku kenangan indah hanya memberi penyesalan hingga saat ini ...


Sedangkan kenangan buruk memberiku pelajaran bahwa aku tidak boleh mengulangi hal itu lagi " melihat Narra seperti ini membuat hati Jeef benar benar sakit. Rasanya pedih , sesak , dan berat. Tanpa di duga ia pun meneteskan air matanya.


" Kau akan jadi yang mana untukku ? " tanya Jeef tiba tiba saja. Mendengar itu Narra memperbaiki posisi duduknya dan menatap Jeef lembut.


" Aku tidak ingin jadi kenangan baik atau buruk untukmu.


Andai bisa , aku ingin kau tidak mengenalku. Namun sayang kenyataannya tak begitu.


Jeef anggaplah aku ini seperti bayangamu.


Meski tak bisa kau sentuh jika kau lari aku menjauh dan saat tak ada cahaya aku menghilang.


Setidaknya kau tau , aku selalu bersamamu , mengikutimu jadi kau yakin bahwa kau tak pernah sendiri " Di saat suasana udah mirip syuting Drakor begini , Jeef malah merusaknya.


" Bayangan ? cocok juga karna kulitmu gelapkan ? " ucapnya santai tapi terdengar perih.


" Kau benar benar ya , aku sudah serius .... " gerutu Narra sembari memukuli Jeef.


" iya.. maaf habisnya kau sangat imut kalau cemberut. Kalau kau jadi bayangan maka aku ingin jadi Spiderman " sungguh Jeef ini memang sulit di tebak. Entah apa yang ada dalam pikirannya tak ada yang tau.


" Apa karna dia pahlawan ? " tanya Narra bingung yang mendadak polos.


thanks buat yang baca


mohon di like , and comen ya ☺

__ADS_1


__ADS_2