
Hingga Narra pun tersadar dan langsung bertanya tanya.
" Kakak yakin nama cowoknya Adeska Rumi ? " Narra tampak kacau dan shok. Jauh di dalam hatinya ia berharap jawaban yang akan di berikan Vani adalah " Tidak " namun kenyataannya.
" Iyalah , aku memang lebih tua tapi pendengaran ku masih baik. Memangnya kau kenal dia ? " tanya Vani balik.
" ak - aku.. per - pergi dulu kak ! " Narra melangkah dengan linglung tidak percaya dengan yang ia dengar dari Vani. Sungguh hati kecilnya menentang itu semua.
" Ehh.. kamu mau kemana ? " Narra tidak lagi mempedulikan Vani yang sedari tadi terus memanggilnya.
Karna berjalan tanpa melihat ke depan , Narra bertabrakan dengan seseorang.
Baik Narra maupun orang itu sama sama terjatuh.
" Maafkan aku ..." ucap Narra seraya berusaha bangun.
Dan saat Narra mendongak ke arah orang itu , seketika Narra membeku.
Melihat pria tinggi , tampan , lengkap dengan jas hitam yang membuat aura ketampanannya semakin terlihat.
Yups , pria itu adalah Deska.
Narra perlahan melangkah mundur sambil terus menatap Deska , diiringi tetesan air matanya yang membanjiri pipi chubinya.
Deska juga menatap Narra , tapi dengan tatapan yang tajam seakan menunjukkan bahwa dia sekarang tidak menyukai Narra atau mungkin bahkan tengah membencinya.
" Apa yang kau lakukan disini ?" tanya Deska singkat.
Narra yang merasa ada yang berbeda dari Deska pun berkata :
" Bukankah seharusnya aku yang bertanya ? sedang apa kau disini dengan jas hitam itu ?
apa kau yang akan bertunangan ? " belum sempat Deska menjawab , seorang gadis lalu datang dan langsung memeluk Deska.
__ADS_1
" Sayang ......
ini cincin pertunangan kita bagus tidak ? " ucapnya seraya menunjukkan sepasang cincin mewah yang pasti harganya selangit.
" Iya , bagus ! " jawab Deska dengan nada datar. Karna melihat Deska bersama dengan seorang wanita tentu saja gadis itu selaku tunangan Deska bertanya.
" Siapa dia ? temanmu ya ? " sambil menatap sinis pada Narra , Deska menjawab.
" Bukan ! dia hanya tim dekorasi " Deska menatap tepat mata Narra sambil melontarkan jawaban yang menyayat hati.
" Benarkah ? " tanya gadis itu ragu.
" Tentu saja ! " jawab Deska yakin.
Pandangan gadis itu seketika beralih ke teman temannya yang datang dari luar Negeri.
" Sayang aku ke sana dulu ya " ujarnya dan berlalu pergi.
Jujur saja jawaban Deska tadi ibarat korek api yang di lempar ke arah tumpahan bensin.
Dengan tatapan tajam Narra berkata :
" Waww ... luar biasa ! , kau sangat hebat. Karna kita sudah bertemu seperti ini.
Aku mau mengembalikan kalung yang dulu kau beri sebelum ke Amerika "
Narra melepas dan melempar kalung itu ke Deska.
Kemudian pergi dengan amarah yang memuncak. Dia tidak menyangka Deska akan memperlakukannya seperti ini , namun Deska tidak tinggal diam.
Dia memungut kalung itu dan mengejar Narra , hingga mereka berada di parkiran depan.
Deska menghadang langkah Narra dengan tubuh tingginya itu.
__ADS_1
Bukannya menjelaskan atau minta maaf Deska malah melempar balik kalung itu pada Narra.
" Jika tidak suka jual saja , kau kan butuh uang ? " mendengar itu emosi Narra tidak lagi dapat di tahan.
Dan plak...
suara tamparan yang mendarat tepat di pipi kanan Deska.
Narra hendak menamparnya lagi tapi Deska menahan tangan Narra.
" Hentikan dasar pembohong " ucapnya seakan dia itu korban.
" Kau bilang pembohong ? pikirmu kau itu orang baik ? salah ku juga memang kenapa aku percaya pada orang sepertimu !
seharusnya aku sadar bahwa kata katamu itu hanyalah kiasan " ujar Narra sambil terisak.
" Hah ... kau yang merubahnya menjadi kiasan !
sekarang ku tanya siapa nama dokter yang merawat mu setelah kecelakaan bus itu ? " sungguh di luar kotak sekali pertanyaan Deska ini.
" Kenapa bertanya ? " jawab Narra dengan pertanyaan.
" Jawab saja ! " ucap Deska dengan nada tinggi.
" Namanya Kirana ! " mendengar itu Deska tampak meneteskan air mata.
" Lalu apa yang terjadi pada dokter itu ? " tanyanya lagi.
" Apa maksudmu ? bagaimana aku bisa tau ? " jawab Narra bingung.
bersambung ...
menurut kalian ada apa dengan dokter kirana ?
__ADS_1