
" Aduhhh .... itu tangan apa teflon sih , keras banget .. " ucap Narra dengan nada kesal.
Pak Bae yang dari tadi mematung kini kembali sadar dan membantu Narra bangun.
" Kau baik baik saja Jaksa Gil ? " tanya Pak Bae , seolah tidak tau apa yang barusan terjadi.
" Menurut Bapak , kalau di gampar sama buldozer gimana rasanya ? " Pak Bae hanya tersenyum manis menanggapi pertanyaan yang dilontarkan Narra.
Karna malu ada stiker telapak tangan di wajah , Narra pun memutuskan memasang perban untuk menutupi stiker itu.
Pak Bae yang memperhatikan Narra dari tadi memberanikan diri bertanya kembali.
" Jaksa Gil , apa kau .... menyukai Hye mi ? " mendengar nama orang yang membuat wajahnya seperti ini , Narra menatap tajam pada Pak Bae.
" Maaf , aku yakin jawabanmu tidak ! " ujar Pak Bae yang merasa ngeri pada tatapan Narra.
" Apa di sini ada mata air yang suci ? " kini giliran Narra yang bertanya.
" Entahlah , memangnya untuk apa ? " jawab Pak Bae dengan pertanyaan.
" Untuk menghilangkan sisa aura jahat dari penyihir tadi ! " jawab Narra yang masih kesal pada Hye mi.
" Atau mungkin aku harus mandi dengan air mawar saja "
gumam Narra yang masih ragu , Pak Bae hanya bisa tertawa kecil melihat betapa kesalnya Narra pada hye mi.
******
Malam hari pun tiba ...
__ADS_1
Saat ini di kantor hanya ada Narra dan Hye mi.
" Aku ... minta maaf untuk yang tadi .. "
ucap Hye mi dengan nada lirih.
" Aku akan memaafkanmu tapi dengan satu syarat ! " jawab Narra tegas.
" Ihhh .... , orang ini , kalau bukan karna foto itu .. aku sudah lama mengajaknya baku hantam " gumam Hye mi di lubuk hatinya yang paling dalam.
" Apa ? " tanya Hye mi lembut terpaksa.
" Nanti kau akan tau , sekarang kita jalankan rencananya " sahut Narra sambil tersenyum sinis.
Narra lalu berjalan menuju ruangan Pimpinan yang di ikuti oleh Hye mi dari belakang.
Tak lama tibalah mereka di depan pintu , disini mereka mengatur peran masing masing.
" Baik , tapi ingat jika kau meninggalkanku sendirian , siap siap harga dirimu hancur "
" Iya tuan muda , silahkan masuk " ucap Hye mi yang tampak pasrah.
Narra yang yakin lalu masuk , dengan saksama ia memeriksa berkas berkas di sana guna mencari dokumen yang di maksud.
" Kenapa tidak ada ? , di mana dia menyembunyi kannya ? " gumam Narra pusing sendiri.
Sementara itu ... , Hye mi terus memantau keadaan di luar.
Tak berapa lama sayup sayup ia mendengar langkah kaki dan suara.
__ADS_1
" Ta ampun , dimana ku tinggalkan kunci mobil ku ya ... ? " Hye mi pun mengintip dari balik dinding lorong.
Benar saja pria itu adalah Pimpinan.
" Hah , bagaimana ini ? " dia pun berlari kecil menuju ke depan ruangan Pimpinan.
" Zagil ... , Gil ... ! " ucapnya sambil terus memberi sinyal X , tapi Narra tak melihat.
Lebih tepatnya dia mengabaikan Hye mi karna menurutnya Hye mi berbohong.
Mendengar Pimpinan yang sudah sangat dekat , Hye mi mau tak mau lari.
Dan bersembunyi di balik tirai jendela sambil sedikit memanjat agar kakinya tak terlihat.
Untung pendengaran Narra tajam , jadinya dia bisa mendengar langkah Pimpinan yang berjarak beberapa langkah lagi dari ruangannya.
Dia pun berlari ke belakang pintu , seketika itu juga Pimpinan membukanya ( untung dia tidak membantingnya , coba jika iya bisa penyok Narra di belakang )
Setelah Pimpinan berjalan masuk ia langsung menuju mejanya.
" Ini dia kunci mobilku , tapi kenapa lampu ruanganku menyala , apa aku lupa mematikannya ? " gumam Pimpinan , saat pria tua itu sibuk berdebat dengan dirinya , Narra ...
Kira kira dia bakal ke tangkap gak ya ... ?
thanks buat yang udah baca 😊
jangan lupa like 😄
dan comen positifnya ya 😁
__ADS_1
dukungan kalian sangat berarti buat athor ....🙇
jaga selalu kesehatannya 😉