
Bunyi gedoran di pintu kamar melenyapkan akhir mimpi dan langsung ambyar seketika. Hilang tanpa bekas, apa saja yang dimimpikannya barusan. Hanya merasa begitu berat saat bangun dan melangkah laju menuju pintu. Sambil menyambar handuk untuk menutupi lengan bahunya yang terbuka. Sedikit ingat dengan pesan Syahdan padanya semalam.
"Mas Hendra,?" sapa Ratria.
Hendra berdiri dengan ekspresi menunggu saat Ratria membuka pintu. Terdiam sejenak melihat wajah ayu bangun tidur tanpa kerudung dengan rambut indah tergerai berantakan.
"Ratria kamu baru bangun,? Ini sudah hampir pukul tujuh. Schedule kita dimajukan tiba-tiba. Bukan lagi pukul delapan," ucap Hendra berusaha tenang. Meski sebenarnya was-was dan terburu.
"Kok tiba-tiba, mas,?" tanya heran Ratria. Gadis itu menyembunyikan diri di balik pintu dengan sebagian wajah dan bahu tertutup handuk yang nampak.
"Pak Leo yang mendapat email dari panitia hampir dini hari. Dan baru mengabarkan ke kita subuh tadi. Kamu belum melihatnya,?" tanya Hendra berkernyit. Dan Ratria menggeleng.
"Semalam aku pukul setengah dua belum tidur, mas. Panas, AC kamarku rusak kayaknya. Nggak bisa dinyalain," terang Ratria.
"Subuh kamu nggak bangun,?" tanya Hendra tersenyum. Ratria menggeleng ragu.
"Alarmku mati, mas. Aku lagi dapet," terang Ratria dengan jujur. Dan Hendra mengangguk memahami.
"Baiklah, kamu cepat bersiap, Ratria. Jika terpaksa telat, kamu pergi ke aula nyusul kami. Kamu masih ingat jalan menuju aula bandara kan,?" tanya Hendra serba salah. Ratria cepat mengangguk. Tidak ingin menjadi beban yang menyusahkan.
"Iya, mas. Nanti kususul. Kalian duluan saja. Akan aku usahakan cepat-cepat," janji Ratria dengan menunjuk tanda akan segera menutup pintu kamar.
"Oke, Ratria. Bersiaplah dengan tenang," timpal Hendra tersenyum. Lelaki itu berbalik dan bergegas meninggalkan lorong kamar Ratria.
πΆπΆπΆ
Karena sudah terlanjur lambat, Ratria merasa santai saja saat bersiap. Merasa yakin jika bukan hanya dirinya saja yang akan datang terlambat seminar di aula pagi ini. Berkata tidak tahu perubahan terbaru, akan menjadi senjatanya.
Dan berusaha berpenampilan seperfect mungkin seperti biasanya.
__ADS_1
Tulisan aula bandara pada papan tergantung, sudah terlihat di ujung lorong dari tempat Ratria berjalan. Melirik jam cantik di tangan yang masih menunjuk pukul setengah delapan. Sebuah ide muncul sebab perutnya yang terasa sangat perih. Saat datang bulan, rasa lapar akan membuat Ratria angkat tangan.
Gadis cantik berkerudung dengan penampilan modis, tengah merasa nikmat dengan secangkir susu segar tanpa gula yang hangat dan sepotong puding alpukat. Bukan menuju masuk ke dalam aula, namun Ratria justru membelok masuk ke cafe gaul di samping aula.
"Ehm, di sini rupanya,?" teguran tajam disertai duduknya seorang lelaki di depan Ratria, cukup mengejutkan lamunan.
"Pak Syahdan,?!" seru Ratria tak menyangka. Lelaki yang terlihat kian cerah di pagi hari yang terang itu seperti hantu saja efeknya.
"Cepat habiskan, setelah itu masuklah bersamaku. Kafe ini begitu banyak cctv. Logo di pinmu begitu jelas terbaca," ucap Syahdan dengan lirih namun sangat terdengar.
"Jadwal pukul delapan, kenapa ditukar pukul tujuh tiba-tiba? Pak Syahdan yang tukar? Sudah biasa ya, mencampur urusan pribadi dengan urusan kerja? Enak ya jadi orang penting,," Gumam Ratria namun Syahdan mendengar.
"Kamu pikir aku instan saja dengan jabatanku yang sekarang. Yang jelas, saat aku melewati masa magang, aku tidak pernah mencuri waktu. Apalagi menyalahgunakan kepercayaan seperti kamu. Sifat seperti itu akan menghalangi suksesmu," Syahdan menjelaskan dengan aura berwibawa. Kesan dari sikap liarnya semalam, hilang seolah tidak pernah dilakukannya.
"Aku akan masuk ke dalam sekarang, pak," Ratria tiba-tiba jadi segan. Gadis itu telah berdiri dari kursi.
"Habiskan dulu. Kamu akan semakin susah untuk sukses jika memubadzirkan sesuatu yang sudah kamu beli dan miliki," ujar Syahdan penuh arti. Seolah ucapannya sedang menyiratkan sebuah maksud. Ratria merasa tersindir sekali lagi.
"Sudah habis, pak Syahdan," ucap Ratria setelah menghabiskan susu segar hangat hingga di tetes terakhirnya.
"Lap mulutmu," ucap Syahdan sambil menyodor kotak tisu di meja. Lelaki itu masih menempel di kursinya.
Ratria mencabut selembar tisu. Mengelap bibir dan sekitar mulutnya dengan pelan. Tersenyum saat sadar jika ujung bibir dan mulut telah basah bekas susu. Melirik manager Air Asia yang telah berdiri dan meninggalkan mejanya dengan tenang. Ratria bergegas menyusul tergesa.
"Pak Syahdan sendiri kenapa tidak masuk aula,?" tanya Ratria pelan di belakang pak Syahdan.
"Jangan pikir aku sama denganmu. Dari pagi-pagi aku sudah datang, memberi sambutan dan sekarang adalah break time ku." Syahdan menjawab pelan sambil terus berjalan.
Ratria kembali melirik jam tangan. Pukul delapan kurang lima menit. Benar yang diyakininya, beberapa orang dengan pin berlogo di dada yang sama dengan miliknya, masih terlihat antri di depan pintu masuk ke dalam aula. Merasa dirinya tidak terlalu salah dan juga jadi lega.
__ADS_1
"Orang-orang sepertimu cukup banyak. Cepatlah masuk ke dalam," ucap Syahdan sambil berhenti dan menepi. Lelaki itu tidak berniat untuk masuk.
Ratria urung berbicara lagi dengan Syahdan. Beberapa orang peserta nampak datang lagi dan akan melewati pintu yang sama dengan Ratria.
ππππππ.
Acara telah selesai lebih cepat lagi dari waktu yang telah dikatakan oleh manager Air Asia pada Ratria semalam. Seminar sosialisasi dari dua perusahaan besar nasional itu telah selesai sebelum adzan Ashar mengalun.
Tentu saja hal ini justru sangat menggembirakan hampir bagi seluruh peserta undangan terpilih tersebut.
"Rat, kita pergi jalan-jalan sekarang saja bagaimana,?" tanya Hendra pada Ratria. Mereka hanya berdua menuju lorong kamar di asrama. Pak Leo, bu Siska dan Galih telah kabur duluan entah ke mana. Mereka tidak singgah dulu ke kamar.
"Mas Hendra bilang, kemarin habis isya kan? Habis isya saja ya, mas. Aku ingin istirahat dulu di kamar," tolak Ratria lembut pada Hendra.
"Iyalah, Rat. Kita istirahat dulu. Lumayan ngumpulin tenaga. Dah, istarahatlah," sahut Hendra setelah sampai di depan kamar Ratria.
"Iya, mas." Gadis itu mengangguk dan membuka pintu kamarnya.
Dan Hendra berlalu setelah Ratria tidak nampak lagi di balik pintu.
ππππππ
Mobil yang membawa Ratria dan Syahdan telah berhenti di luar pagar tinggi dari sebuah rumah cluster yang megah. Sopir Arka yang sudah dihafal Ratria bergegas turun sebentar untuk memencet tombol otomatis gerbang itu. Tidak ada security yang berjaga.
"Ini rumah siapa, pak,?" tanya Ratria setelah menahan diri untuk tidak bersuara selama di perjalanan dari bandara. Sebab Syahdan yang duduk bersama sopir di depan hanya diam dan tidak mengajaknya berbicara.
"Rumah orang tuaku. Mereka ingin melihatmu," ucap Syahdan singkat dari depan.
Ratria terdiam. Mengingat jika orang tua Syahdan yang akan ditemuinya, adalah anak dan menantu almarhum kakek Yakub yang pernah dirawat oleh alamarhum ayah Ratria di perkebunan.
__ADS_1