Telah Dikawin Gantung

Telah Dikawin Gantung
29. Pilihlah


__ADS_3

Vario menyeret koper hitam menjauhi gedung aula bandara dengan cepat. Lelaki itu akan menuju kantor agency penerbangan tempatnya bekerja. Sedikit melambat saat suara perempuan memanggil dari belakang.


"Mass,,, mass Rio! Tunggu,,!" Rio yakin jika ini adalah suara Judith.


Tak..! Tak..!..Tak..!Tak..! Tak..!..Tak..!


Kaki model yang jenjang itu sedang berjalan mendekatinya. Dan kini telah berdiri tepat di sebelah Rio. Lelaki itu memandang dengan ekspresi bertanya.


"Maaf mas. Aku ingin tahu,, gadis itu tadi siapamu,,?" tanya Judith penasaran. Kepalanya agak mendongak pada wajah tampan di sampingnya.


"Adikku. Sebaiknya kamu jauhi saja suaminya. Mereka sudah menikah," tegur Vario tanpa basa basi.


"Mas Rio sadis." respon Judith.


"Sadis,,?" ulang Vario.


"Iya. Bayangkan jika kamu di posisiku." Keluh Judith.


Rio terdiam, lanjut melangkah dengan pelan. Judith segera mengikutinya. Mereka berjalan bersampingan.


"Aku terbiasa dengan mas Syahdan ke mana-mana. Mas Syahdan lah yang selalu menjagaku. Tapi tiba-tiba menikah."


"Sedang aku tahu mereka tidak saling suka. Mereka terpaksa sebab urusan harta,"


"Hatiku sakit. Aku tidak rela. Rasanya sangat berat jika tiba-tiba harus menjauhi mas Syahdan. Lagipula mas Syahdan pun juga tidak menjauhiku atau menyuruhku menjauhinya. Meski aku sadar, kami belum ada ikatan apa-apa,,,,"


Judith berhenti sejenak. Mengeluarkan tisu dari dalam tas di bahunya. Matanya mungkin akan berair. Dan kembali berjalan cepat m-engejar Rio yang terus saja berjalan.


"Kamu bilang, kalian tak ada hubungan apapun? " tanya Vario saat Judith kembali mengejar dan berjalan di sebelahnya.


"Iya. Meski kami nampak sangat dekat, sebenarnya mas Syahdan belum mengikatku, dan tidak mengatakan parasaan apapun padaku. Tapi aku sangat menyukainya,"

__ADS_1


"Tidak kusangka jika istri kawin gantungnya yang dari gunung itu ternyata sangat cantik," keluh Judit dengan suara kesal dan sedih.


Vario menghela nafas dengan ucapan Judith yang terdengar meremehkan sekaligus memuji Ratria. Mungkin Judith lupa jika dirinya pun berasal dari daerah dan gunung yang sama dengan gadis yang tengah dibahasnya.


"Kamu cantik, Dit. Bisa mendapat lelaki mana saja yang kamu suka. Syahdan suami orang," tegas Vario tanpa memandang pada Judith yang kembali menyeka matanya dengan tisu.


"Tapi hatiku tidak bisa berpaling," jawab Judith dengan jujur. Dan Vario pun bungkam. Tidak ingin lanjut membahas urusan orang lagi.


Sebab telah memasuki sebuah ruangan luas di dalam bandara. Kantor milik agency tempat Vario bernaung hingga sekarang dipercaya sebagai salah satu pegawai staffnya.


Meski kadang lelaki itu juga menerima permintaan untuk disewa dalam penerbangan mendadak dan tiba-tiba. Yang tentu diterima Vario dengan tarif sangat tinggi. Vario adalah lelaki berusia 27 tahun, seorang pramugara berfisik sempurna dengan kualitas tugas yang berdedikasi dan memuaskan.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Bu Anisa sedang menyiapkan makan malam yang terakhir untuk anak-anaknya dengan hati sedih namun bersemangat. Sebab besok pagi dirinya harus terbang ke kota Bontang, Kalimantan, untuk kembali bekerja menyusul pak Adam, suaminya.


Bu Anisa terkejut saat anak lelaki yang disangka tidak jadi pulang sebab telah disuruhnya pergi ke Blitar mengantar Ratria, tiba-tiba muncul dengan mengucap salam di belakangnya.


"Nggak jadi, ma. Gadis itu tidak mau. Hari ini aku kerja," ucap Syahdan sambil mencuci tangan di wastafel.


"Kenapa tidak mau? Mungkin kamu terlihat kayak terpaksa, Dan,,?" terka sang mama sambil menatap sekilas anak lelakinya. Dengan tangan menata makanan di meja.


"Tidak. Dia memang memilih pulang bareng tim kerjanya, ma," terang Syahdan. Merasa jika dirinya telah berusaha maksimal untuk membujuk Ratria agar mau diantarnya.


"Lha katamu, kamu juga ada urusan dengan surat dan akta balik nama kepemilikan pabrik di Blitar, Dan,,?" bu Anisa mengulur segelas air putih pada Syahdan. Dan segera disambut lalu diteguk hingga habis airnya.


"Mungkin ujung minggu saja, ma. Nunggu Judith ada libur. Dia ingin ikut. Penasaran pada hamparan kebun teh di pabrik," jawab Syahdan dengan memegangi gelas yang telah dikosonginya. Seperti sedang sambil memikirkan hal lain.


"Syahdan,,,mama sudah pikirkan semalaman. Kamu itu harus punya ketegasan. Kamu itu sadar nggak,,, sudah nggantungun dua gadis anak orang."


"Ratria kamu nikahi tiba-tiba. Dengan terpaksa dia bersedia. Percaya saja lho Dan, cinta itu datang sebab terbiasa. Terbiasa melihat, berbicara.dan menyentuh. Itu jika kamu memilih Ratria. Lagian dia itu sudah kamu nikahi."

__ADS_1


"Jika kamu pilih Judith, segera saja katakan. Judith itu sangat menyukaimu. Juga dari keluarga yang baik. Sangat cantik,, tidak kalah cantik dari Ratria. Lagian mama nggak enak sama orang tua Judith. Tolong mengertilah, Dan," pungkas bu Anisa dengan merasa lega. Telah membicarakan hal ini dengan Syahdan sebelum terbang kembali ke Bontang.


"Jika kupilih Judith, apa harus kucerai Ratria, ma,?" tanya Syahdan tajam pada bu Anisa.


"Jadi, siapa yang akan kamu pilih? Ratria,?" tanya balik bu Anisa.


Syahdan melepas gelas kosong itu dan berdiri.


"Tolong jangan desak aku dulu, ma. Yang jelas aku sedang bingung. Aku tidak mungkin menceraikan Ratria dalam waktu dekat. Aku kasihan. Aku tidak tega, aku iba. Gadis semuda itu masak harus berstatus janda. Dan akulah yang membuatnya menjadi janda,,, aku akan merasa bersalah, ma,"


"Kasihan juga dengan keluarganya di perkebunan. Aku yang telah membujuk dan memaksa menikahi, masak iya langsung aku cerai," ucap Syahdan yang tidak jadi ke kamar. Namun kembali duduk ke kursinya semula.


Bu Anisa pun mengangguk.


"Lagipula, orang tua Ratria itu juga sangat berjasa pada mama dan papamu. Hutang nyawa lho, Dan. Bagaimana jika kamu pilih Ratria saja?" bu Anisa bertanya hati-hati.


"Bukankah dengan Judith pun kamu tidak mau serius,,, ya lebih baik kamu belajar menerima istri kamu saja. Jelas-jelas sudah jadi tanggung jawab kamu, kan,?" sambung bu Anisa.


"Itulah, ma. Tapi sepertinya Ratria sangat tidak menyukaiku. Aku bukan lelaki yang disukainya, ma." Syahdan menatap sayu bu Anisa.


"Ya itu tugas kamu sebagai lelaki. Sebagai suami. Ambil hati istri kamu, menangkan hatinya, Dan," nasihat bu Anisa.


Syahdan nampak buru-buru berdiri dan akan pergi.


"Ke mana, Dan?" tegur bu Anisa.


"Gerah, aku mandi dulu ke kamar," ucap Syahdan menepi dari meja dan kursi. Sepertinya sedang ada sesuatu yang mengganggu isi di kepala. Lelaki itu berjalan cepat menuju ke kamarnya.


"Cepat turun lagi, Dan. Makan,,!" seru bu Anisa. Syahdan sudah tak nampak lagi kelebatnya.


Bu Anisa meninggalkan ruang makan dengan hati masih berserabut. Berniat memanggil Kahfi dan Khairy di kamar masin-masing agar segera keluar untuk makan malam bersama. Khawatir jika makanan yang telah disiapkan keburu dingin dan mengurangi rasa lezat masakannya.

__ADS_1


__ADS_2