Telah Dikawin Gantung

Telah Dikawin Gantung
62. Saling Menerima


__ADS_3

Malam yang kian merangkak, membawa hawa dingin menusuk dan seperti akan membekukan apa saja. Begitu juga di sofa ruang tamu dalam vila, tak luput dari sapuan hawa gunung yang menerpa turun menuju dataran di bawahnya.


Dan Syahdan yang masih duduk menyandar diam sambil mengamati Ratria, sangat paham jika gadis itu juga sedang merasa dingin yang sangat.


"Rat, kita pindah ke dalam. Kamu akan beku jika terus duduk di sini. Ayo ikut aku," tegur Syahdan pada Ratria yang tengah asyik berbalas pesan di inbox medsos birunya.


Ratria memegang ponsel di pangkuan serta menoleh Syahdan di sampingnya. Hanya menurut saat Syahdan mengambil tangan dan membawa Ratria ke dalam sebuah kamar di vila. Dan itu adalah kamar sang tuan pemilik vila.


"Pak Syahdan, apa aku harus menemanimu menginap di vila? Di kamar kamu?" tanya Ratria saat Syahdan telah menutup pintu kamar. Syahdan mengangkat sebelah alis tersenyum. Lalu mengangguk yakin pada Ratria.


"Apa kamu lebih suka tidur dalam kamarmu di rumah dinas? Tapi tentu saja aku akan ikut," tegas Syahdan dengan memandang lekat Ratria.


"Jika aku turun, pak Syahdan di sini saja. Kamarku sangat sempit," jawab Ratria dengan membalas pandangan Syahdan yang mendebarkan hatinya.


"Justru sempit itulah yanga bagus," goda Syahdan tersenyum. Menarik-narik pelan ujung kerudung Ratria yang depan.


"Ish, pak Syahdan!" tegur Ratria sambil menarik kerudungnya dari pegangan Syahdan.


"Okelah, Ratria. Kamu duduk saja di sini. Aku akan mandi air hangat sebentar. Dari datang tadi aku belum mandi, tamuku sudah menungguku saat datang." Syahdan sambil menyalakan mesin penghangat di kamarnya.


"Rat, sehabis mandi, aku ingin berbicara serius denganmu," ucap Syahdan. Menyambar handuk dan menuju kamar mandi.


Ratria mengangguk meski Syahdan sudah melesat melewati pintu di kamar mandi. Lalu duduk perlahan di tepian ranjang. Menutupi kaki dan paha bergamisnya dengan selimut yang masih terlipat sangat rapi. Matanya menjelajah mengamati ruang kamar dalam vila.


Tidak ada set sofa, hanya ada satu sofa jumbo yang panjang dan menghadap meja tivi. Ada almari pendingin yang enrah apa saja isinya. Atau bisa jadi kosong tanpa isi. Mengingat jika Syahdan sudah lama tidak menunjungi pabrik teh dan perkebunan di Sirah Kencong.


Juga ada meja berkaca dengan bingkai kayu jati tua yang diukir halus dan detail. Ratria yakin jika itu adalah meja rias dan tentu saja peninggalan kakek Yakub. Dan sebuah almari kayu dengan ukiran model serupa dengan bingkai kaca di meja rias. Dilengkapi cermin besar di sepanjang pintu almari yang sebelah.


Kamar ini sangat besar dengan ranjang yang berukuran sangat luas.


Syahdan telah keluar dari kamar mandi. Menunggu dengan rasa gelisah akhirnya berakhir.


"Lepas saja kerudung kamu itu, Rat. Kamu nggak bawa baju ganti kan? Itu beberapa bajumu di sana," terang Syahdan sambil menunjuk almari besar tadi dengan dagu dan gerak matanya.

__ADS_1


"Aku tidak ingin tukar baju," jawab Ratria singkat.


"Tukarlah dengan baju di almari. Nanti baju yang kamu pakai itu bisa kusut. Kamu tidak malu memakai lagi baju kusut?" kata Syahdan. Sebab dirinya tahu, seluruh baju baru Ratria dalam almari tidak mungkin dibawa jalan. Bibirnya tersenyum tipis dan samar.


Dia pun menuju almari dan mengambil pakaian untuk dirinya. Memakai di sana tanpa pergi lagi ke kamar mandi. Ratria cepat-cepat menunduk membuang pandangan.


"Kuambilkan baju kamu ya, Rat,!" seru Syahdan dari balik pintu almari. Sudah selesai memakai baju di badan. Dan menutup pintunya dengan membawa baju yang dipilihkan untuk sang istri.


Ratria menerima tanpa bantah. Namun seperti keberatan dengan model baju yang diambilkan Syahdan untuknya.


"Aku tidak suka model ini," ucap Ratria. Telah berdiri dari duduk di ranjang.


"Kamu pilih saja sendiri di almari, Rat," sahut Syahdan. Sedang mengeringkan rambut dengan handuk. Rambutnya sudah sangat pendek kembali dan nampak baru saja bercukur.


Beberapa baju tidur di almari memiliki model yang sama. Terbuka dan seksi. Sebenarnya Ratria suka sekali seperti itu, kebanyakan baju tidurnya memang model begitu.


Baju-baju panas untuk Ratria yang disimpan dalam almari Syahdan, siapa lagi yang menyiapkan kalo bukan pengasuhnya, mbak Lusi. Tapi ini bukan kamarnya sendiri di rumah dinas. Melainkan kamar Syahdan di vila!


Tapi untuk apa bimbang lama-lama. Memang sudah konsekwensi pilihannya. Bersedia ikut Arka dan dibawa ke vila, artinya dirinya memang harus siap untuk berserah diri pada Syahdan, suaminya. Terlepas Syahdan berminat padanya sebagai istri atau tidak. Ratria harus bersiap dan merela.


Syahdan sedang merapikan tas kerjanya. Nampak tertegun sejenak saat memandang Ratria yang sedang menghampirinya di sofa. Tubuh sempurna itu telah berbaju tidur kesukaannya. Stelan baju tidur dengan atasan menggantung di perut tanpa lengan. Tapi bercelana pendek dengan warna merah terang dan bukan lagi warna ungu.


"Ratria, apa bajumu ini baru?" Syahdan menepikan tas kerja dan berdiri dari sofa mendekati Ratria.


"Aku tidak tahu, pak Syahdan. Aku tidak merasa membeli. Mungkin ini baju bekas milik pacarmu?" goda Ratria pada Syahdan. Berusaha tenang menghempas tegangnya.


Syahdan berkerut dahi dengan wajah menegang sesaat. Nampak berusaha santai dan tenang.


"Meski kamar ini lumayan hangat. Tapi bajumu itu pasti masih membuat kamu dingin. Tapi lagi,, kamu nampak cantik, Rat. Baiknya kita berbicara di tempat hangat saja," ucap Syahdan dengan lirih.


Mengambil tangan Ratria dan dibawanya ke ranjang. Syahdan merasa berdebar dan lega yang bertubi. Ratria seperti telah rela dengan pernikahan mereka. Dan lebih lega lagi, gadis cantik itu juga menyadari posisinya sebagai istri yang perlu patuh pada suami. Syahdan merasa bahagia dan lega yang sangat.


"Rat, aku ingin membuat sepakat denganmu," ucap Syahdan memulai. Menaikkan sebelah kaki di ranjang menghadap Ratria yang duduk miring menjuntai kaki di tepi ranjang.

__ADS_1


"Sepakat? Apa itu, pak Syahdan?" kepo Ratria menoleh pada Syahdan.


"Rat, bagaimana kalau kita sama-sama ikhlas dengan pernikahan kita ini? Kita sama-sama belajar untuk saling menerima? Kamu berusaha menerimaku sebagai suami kamu. Dan aku juga akan berusaha menjadikan kamu sebagai istriku yang sesungguhnya. Bagaimana?" tanya Syahdan perlahan dan tegas. Nampak tenang meski dadanya sedang menggelegar bergemuruh.


Ratria mengangguk dan memandang Syahdan dengan lekat. Dan anggukannya membuat Syahdan merasa kian lega.


"Jika aku menolak kamu, seharusnya aku tidak datang untuk menemui kamu di vila ini, pak Syahdan. Bukankah jika aku datang padamu seperti ini, kamu pun sudah berfikir pada kepatuhanku padamu, kan?" sambut Ratria yang kemudian menunduk.


"Jadi, kamu setuju? Pernikahan ini kita lanjutkan saja sampai kapan pun? Kamu mau menerimaku sebagai suami kamu?" tanya Syahdan berdebar. Wajah cantik itu mengangguk dengan masih menunduk.


"Pak Syahdan pun sudah baca sendiri di inbox facebook kan? Mereka tahu aku sudah menikah sebab aku memang sudah jujur pada mereka. Aku menerima pernikahan kita, tidak ingin lagi menutupi. Aku lelah, pak Syahdan," sambut Ratria menjelaskan.


Syahdan meraup wajahnya penuh syukur. Ah, rasanya lega sekali.


"Rat," sebut Syahdan dengan lirih.


"Apa, pak Syahdan?" Ratria menoleh.


"Boleh aku memeluk kamu sekarang,,?" tanya Syahdan berharap terus terang dengan tegang.


"Boleh. Peluk saja aku, pak Syahdan," sahut Ratria mengangguk dengan tatap sayunya.


"Ah, Ratria....Terimakasih, Rat," ucap Syahdan. Ditariknya lembut tubuh Ratria ke dalam pelukannya.


Syahdan merasa debar hangat di dada. Rasa tenang dan nyaman memeluk tubuh lembut sang istri. Bukan lagi rasa debar yang penuh kecemasan seperti biasanya. Kini Ratria telah menerima pernikahan dan pasti akan rela disentuhnya. Sebab, Ratria pun sedang membalas pelukannya sangat erat....


🍃🍃🍃🍃🍃🍃


🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Terimakasih yg sllu jejak komen.. vote..hadiah..like..dll ya kak,,,!!


Yang belum pernah ngasih, ayolah dooong..!!

__ADS_1


Jangan lupa klik kolom minta update yaa,,!!😘


__ADS_2