
Syahdan sedang mengikuti meeting super penting di akhir tahun saat Khairy menelepon dan mengabari tentang Ratria. Polisi telah mendatanginya di rumah orang tua sesuai dengan alamat yang tertera. Syahdan memang lebih suka menuliskan alamat orang tuanya di manapun dan untuk keperluan apapun.
Dan sekarang, manager Air Asia itu telah berjalan tergesa menuju bangsal kamar perawatan Ratria berada. Ingin segera tahu kondisi gadis keras kepala yang baru menjadi korban serempet mobil di terminal.
Polisi yang sempat menunggu di depan berkata, jika hasil pengamatan CCTV, kesalahan berasal dari Ratria sendiri. Dan sesuai dengan keterangan jujur dari pengendara mobil yang tidak sengaja menyerempet dan melukai kaki Ratria.
Syahdan telah sampai di kamar rawat Ratria dengan diantar oleh seorang suster jaga. Lelaki itu agak terkejut dan berusaha tenang saat tiba di ruangan, Ratria tengah berbincang sambil tersenyum dengan seorang lelaki yang duduk dekat di samping ranjangnya. Mereka terlihat akrab dan seperti telah lama saling kenal.
"Assalamu'alaikum,!" sapa Syahdan sebagai tanda kedatangan dirinya.
Ratria yang hilang senyum saat melihat Syahdan datang, menjawab salam dengan lirih dan pelan. Sedang lelaki yang duduk itu segera berdiri dan berbalik sambil menjawab salamnya juga.
"Emm, anda suami Ratria,?" tanya lelaki itu dengan ramah dan melempar senyuman.
Lelaki itu bergeser menepi. Syahdan dapat memandang Ratria seluruhnya. Ratria sedang berpaling wajah darinya.
"Betul, anda,,?" Syahdan nampak berkerut dahi. Seperti tidak asing dengan lelaki tampan itu namun lupa siapa dan di mana.
"Kenalkan, mas. Saya Jati. Mohon maaf, saya tidak sengaja telah menyebabkan Ratria terluka." Lelaki itu berekspresi menyesal dan nampak sungguh-sungguh.
Syahdan juga tersenyum dengan hangat dan mengangguk. Jati begitu sopan dan terlihat berpendidikan. Namun diam-diam tercekat kemudian. Menyadari nama yang disebut lelaki itu barusan. Jati... Jati Hutomobowo kah?
Tidak salah. Itu pastilah dosen Ratria yang fotonya ada di buku alumni kampus Ratria. Dan Ratria diam-diam juga menyukai lelaki ini?
"Sama-sama, mas. Saya Syahdan. Saya juga minta maaf dengan kejadian ini. Mungkin istri saya sedang sangat buru-buru," sahut Syahdan tak kalah hangat dan sopan.
"Iya mas. Tidak mengapa. Mungkin ini cara dariNya agar saya bertemu Ratria lagi. Sebab istri mas Syahdan adalah mantan mahasiswa saya yang baik," ucap Jati berterus terang.
"Wah, kebetulan sekali ya, mas,," timpal Syahdan sambil mendekati ranjang Ratria.
Wajah itu masih juga berpaling. Paham jika Ratria masih menyimpan amarahnya. Dan Syahdan tidak bisa tahu luka apa saja di kaki Ratria. Sebab selimut pasien telah menutup sebatas dada Ratria.
__ADS_1
"Emm, mas Syahdan. Sebab anda sudah datang, sebaiknya saya pamit dulu. Sekali lagi saya minta maaf."
Jati berpamitan dan mengulur tangan pada Syahdan. Keduanya telah berjabat tangan.
"Ratria, aku pamit dulu. Maafkan aku, habiskan obatmu. Makanlah yang banyak dan teratur."
Jati berkata sambil bersalaman juga dengan Ratria. Keduanya berpandangan beberapa saat dengan tangan yang belum terlepas.
"Iya, pak. Aku minta maaf juga. Pak Jati hati-hati di perjalanan." Ratria menyambut dengan tatap semangat dan wajah merona. Salam tangan keduanya telah terlepas.
Jati telah benar-benar berlalu setelah bersalam sapa dengan Syahdan di pintu. Mantan dosen Ratria itu sedang dalam perjalanan dari Surabaya menuju arah balik kota Malang. Sedang mengurusi kepindahan mengajar dari kota Malang ke kota Surabaya. Dan Jati memang berasal dari kota Surabaya.
🍃🍃🍃
Syahdan tidak duduk di kursi yang tadi diduduki oleh Jati. Namun duduk di ranjang, di samping kaki Ratria. Gadis itu sedang miring memunggungi. Bahu dan punggung indah yang berbalut baju pasien itu nampak terguncang sesekali sebab tangis.
Luka yang didapat adalah keretakan tulang dan keremukan jempol kaki. Jempol Ratria terancam diamputasi sebab remuk dan retak. Tindakan amputasi akan dilakukan demi menghindari luka yang infeksi
"Tenang, Rat. Amputasi itu tidak dilakukan jika lukamu tidak menunjuk gejala infeksi apapun. Jadi semua tergantung kondisi kamu sendiri." Syahdan berusaha menenangkan.
"Jika infusmu habis. Kamu sudah boleh pulang. Tapi harus datang kontrol dua hari lagi," sambung Syahdan.
"Pulang?," tanya Ratria tiba-tiba. Namun tidak merubah posisi tidurnya yang miring.
"Iya. Kamu harus menghabiskan obatmu di rumah." terang Syahdan.
"Aku pulang di rumah siapa,?" Ratria bertanya lirih. Syahdan agak terkejut dengan ucapan Ratria yang terkesan telah pasrah.
"Tentu pulang ke rumahku denganku," jawab Syahdan tegas. Tidak ada reaksi dari Ratria. Bahunya tidak lagi terguncang. Tangisnya telah berhenti.
"Kamu harus sadar, Rat. Jika ada apa-apa denganmu. Orang yang paling dicari dan paling disalahkan di alam raya ini adalah aku. Contohnya seperti sekarang. Jadi kamu harus tinggal bersamaku," Syahdan kembali menegasakan. Tidak ingin melonggarkan kesempatan.
__ADS_1
"Maafkan aku, pak Syahdan. Setelah kakiku tidak sakit, aku akan pulang," Ratria menanggapi.
"Pulang ke mana?" tanya Syahdan cepat. Heran dengan ucapan Ratria.
"Ke Blitar," jawab Ratria.
Syahdan terdiam. Tidak ingin membantah. Risau jika Ratria emosi dan lalu berubah pikiran.
🍃🍃🍃
Syahdan selalu disekitarnya, akan aneh jika minta bantuan pada perawat untuk membantunya berjalan. Sedang mereka tahu jika Syahdan adalah suaminya.
"Pelan-pelan, Rat."
Syahdan menegur Ratria yang menepis tangannya saat ingin memindahkannya ke kursi roda. Dokter melarang Ratria berjalan untuk sementara demi mencegah pendarahan yang parah.
"Jika pendarahan parah, kamu akan menginap lama di sini. Dan jempol kakimu akan terus basah lalu infeksi." Syahdan berkata sungguh-sungguh.
Wajah Ratria kian cantik saat tegang dengan mata yang melebar.
"Kerudung kamu mana, Rat?" tanya Syahdan dengan membungkuk di samping Ratria. Gadis itu tengah duduk di tepi ranjang dengan meringis bersiap pindah sendiri ke kursi roda.
"Tadi aku pingsan di aspal. Kata perawat kerudung dan bajuku basah. Tadi memang hujan deras," terang Ratria. Dan Syahdan pun dengan cepat mengangkat Ratria untuk dipindahkan ke kursi roda. Mencari kesempatan saat terlena.
Ratria terdiam pucat dan tidak bersuara. Begitu juga saat Syahdan mendorongnya keluar menuju mobil yang telah disiapkan cukup dekat dengan ruang perawatan. Dan terus diam dengan berpaling wajah saat Syahdan kembali mengangkatnya ke mobil.
"Terimakasih, pak Syahdan. Maaf merepotkanmu." Ratria merasa segan disaat merasa dirinya tak berdaya. Syahdan hanya diam tanpa angguk dan sahutan. Hanya fokus pada jalanan di depan.
"Pak Syahdan, jangan angkat aku lagi. Biarkan aku belajar sendiri. Tidak ada orang lain lagi di sini. Aku bisa berjalan dengan tumitku. Jempol kakiku bisa lebih kutinggikan daripada tumitku," ucap Ratria dengan sedikit menunduk.
Syahdan telah menghentikan mobil di garasi rumah dinasnya. Terdiam sejenak menyimak ucapan Ratria. Tapi kembali tidak menanggapi apapun ucapan Ratria. Juga membiarkan saat Ratria keluar mobil dengan berjalan menumit. Bahkan kursi roda yang disiapkan pun dilewati begitu saja. Kaki itu berjalan dengan tidak memakai alas kaki. Syahdan hanya mengamati dengan menahan nafas tegangnya.
__ADS_1