
Ratria yang sedang menyiram sedikit tanaman hias di bawah teras, amat terkejut saat melihat mobil sport gunung yang disopiri Arka itu memasuki rumah dinas. Jika memang Syahdan ada di dalam, tumben sangat pulang cepat. Kaca mobil itu gelap sekali.
Benar, Syahdan terlihat berjalan dari garasi dan menuju di teras ke arahnya. Ratria segera menamatkan siraman dan meletak ember pengucur. Mencuci tangan di kran air yang ada di ujung teras agak lama. Syahdan telah berdiri di samping dan menungguinya.
"Assalamu'alaikum!" sapa Syahdan tersenyum. Ratria telah selesai mencuci tangan dan baru berbalik badan pada Syahdan.
"Wa'alaikumsalam,,! Pak Syahdan, sudah pulang?" sambut Ratria yang juga tersenyum. Menyambut tangan Syahdan yang mengulur panjang padanya. Menempelken di hidung dan keningnya dengan cepat.
"Iya. Aku memaksa bossku agar memberiku izin untuk pulang lebih cepat hari ini. Besok tanggal merah, Rat. Aku libur." Syahdan menyerahkan tas kerjanya pada Ratria. Bergeser mendekati kran air untuk membasahi wajah dan meraupnya dengan tangan berulang kali..
"Rajin sekali kamu, Rat. Padahal ini musim hujan." Syahdan memuji sang istri sambil menyambar tangan halus itu untuk dibawanya masuk ke dalam rumah.
"Memang musim hujan, tapi sudah hampir seminggu belum hujan juga. Nanti mereka kehausan dan justru malah mati setelah hujan." Ratria menjelaskan dengan tergesa mengimbangi langkah Syahdan.
"Tanaman kamu di rumah dinas Sirah Kencong, siapa yang yang biasanya menyiram?" tanya Syahdan. Membawa Ratria duduk sejenak di teras untuk melepas sepatu dan sarung kaki dengan cepat.
"Sekarang tentu saja mbak Lusi. Dulu sih juga aku. Jika aku lupa atau sangat malas tidak menyiram, nenekku diam saja tidak menegur. Hanya tidak memberiku uang jajan saat aku memintanya." Ratria tersenyum masam sambil bercerita. Merasa sedih dan rindu ingat sang nenek.
Mereka telah duduk di ruang televisi dan berdampingan di sofa yang panjang. Syahdan nampak lelah dengan meletak punggung dan kepala di sandaran sofa.
"Pak, kamu tidak melepas baju dan mandi?" tanya Ratria. Biasanya Syahdan langsung membuka baju dan pergi ke kamar mandi. Meski sedang pulang lambat sekalipun.
"Tolong, Rat. Lepaskan bajuku," Syahdan lirih meminta.
"Aku,,,??" respon Ratria terkejut. Menunjuk dadanya sendiri dengan dahi berkerut.
"Heeemm," gumam Syahdan. Dengan cepat mengambil tangan Ratria dan meletaknya di dada.
"Ayo, bukakan," arah Syahdan dengan pandangan penuh senyum. Kembali merasa berdebar saat jari-jari lentik itu disinggahkan di dadanya.
"Iyyya, akan aku lepas baju kamu," Ratria cepat menyahut. Melolosi kancing baju jas kerja dengan lumayan lancar. Dan tiba di kancing baju kemejanya.
"Pak Syahdan, kamu tidak memakai kaos dalam??" tanya Ratria salah tingkah. Kulit dada Syahdan yang cerah langsung terlihat begitu kancing bulat itu terpisah.
"Iya, pagi tadi buru-buru..Aku nyari-nyari nggak ketemu," jelas Syahdan.
Memandang wajah Ratria lekat-lekat. Sambil bibirnya tersenyum. Membuat Ratria enggan meneruskan. Namun Syahdan kembali menyambar tangannya dan dikembalikan lagi ke dada.
"Teruskan," ucap Syahdan. Pandangan mata itu mulai menggelap.
"Tapi jangan memandangku, pejamkan matamu," tegur Ratria tersipu. Wajah kabut itu kembali cerah tersenyum dengan mata yang telah menutup. Dan Ratria meneruskan layanan lepas bajunya.
"Pak, apa tidak pernah bertemu mas Rio di bandara?" tanya Ratria. Syahdan mengangguk.
"Tadi bertemu saat makan siang. Dia bersama Judith. Sepertinya something happen at them, Rat," Syahdan membocorkan prasangkanya.
__ADS_1
"Memangnya, ada apa dengan mas Rio dan mbak Judith?" tanya Ratria berkernyit dahi. Kemeja Syahdan telah tertanggal sempurna. Hanya perut dan dada menggiurkan itu yang kini terhampar.
"Mereka sangat akrab dan ada sesuatu terselubung. Mungkinkah mereka saling suka?" tanya Syahdan merasa terheran.
"Pak Syahdan, apa kamu merasa cemburu pada kakak lelakiku?" tanya Ratria dengan serius dan tegang.
"Apa, Rat,,?!" seru Syahdan sambil membuka matanya. Dengan cepat ditariknya Ratria ke pangkuan. Ratria yang coba lolos tak ada gunanya.
"Kamu bilang aku cemburu?" tanya Syahdan ternganga. Ratria menoleh dan mengangguk.
"Dengar, Ratria. Mungkin dulu bisa jadi aku akan merasa cemburu jika Judith didekati lelaki lain."
"Tapi sekarang, aku sudah punya kamu. Bahkan aku sudah mendapatkan kehormatanmu. Untuk apa aku cemburu pada Vario? Justru aku mendukung jika mereka memang berjodoh."
"Lagipula, aku dan Judith hanya sebatas sahabat atau juga saudara. Tidak pernah ada hubungan istimewa di antara kami, Ratria." Syahdan menjelaskan dengan terang.
"Tapi mbak Judith sangat tidak suka padaku. Dia pasti sangat menyukai kamu. Kamu memang sangat perhatian padanya. Kalian begitu dekat. Sukar dipercaya jika di antara kalian tidak ada yang istimewa. Aku tidak percaya, pak Syahdan,," tolak Ratria pada penjelasan Syahdan barusan.
"Ratria,,!!" seru Syahdan. Gemas dengan Ratria yang selalu keras kepala. Kini tubuh indah itu telah tengkurap di sofa dan ditindihnya.
"Katakan sekali lagi. Kamu percaya apa tidak?" desak Syahdan di telinga Ratria.
"Pak Syahdan, jangan begitu. Badanmu bau asem,,!!" seru Ratria. Merasa tidak nyaman dan sempit.
"Iya, baiklah. Aku terpaksa pura-pura percaya saja. Menepilah, pak Syahdan,,!" pinta Ratria berseru.
Syahdan dengan cepat kembali duduk dan menyandar. Tidak ingin Ratria jadi kesusahan bernafas.
"Ayo kita mandi bersama, Rat," pinta Syahdan melembut. Ratria yang baru duduk tenang, terkejut.
"Aku sudah mandi. Tidak mau," ketus Ratria pura-pura merajuk.
"Mandikan aku, Rat," Syahdan kembali menggoda.
"Tidak mau,,,! Nanti aku basah. Modus,,!!" jawab Ratria berseru.
"Ayo kita nonton bioskop, Rat,"
"Tidak,,,"jawab Ratria cepat namun terhenti. Sadar dengan kata dan isi ajakan Syahdan.
"Bohong,,,??!" tanya Ratria memicing tak percaya. Syahdan menggeleng tersenyum.
"Aku ingin menonton film komedi, yang bikin ngakak Rat. Ayo kita mencari hiburan,,," ucap Syahdan. Telah berdiri dan menarik tangan Ratria.
"Aku mandi. Kamu bersiap-siap, Rat. Akan kutelepon dulu si Arka," ucap Syahdan. Memasukkan Ratria ke dalam kamar untuk bersiap. Sedang dirinya berjalan pelan menuju kamar mandi sambil menelepon.
__ADS_1
π
Arka telah meluncur tenang membawa mereka menuju Surabaya kota, sehabis waktu maghrib. Dan si boss meminta untuk singgah dulu ke salah satu rumah makan.
"Pak Syahdan, itu mobil baru kamu, kenapa nggak pernah dipakai lagi?" tanya Ratria. Di hadapannya telah tersedia tom yam pedas yang masih nampak berasap di meja. Juga ada gunungan ayam dadu crhispy serta segelas besar jus jambu biji warna merah.
"Tidak. Aku lebih suka mobilku yang lama. Hasil keringatku sendiri." Syahdan menyeruput teh manis hangat setelah menjawabnya. Ada nasi dan tongseng daging kelinci pedas di depannya. Juga masih berkebul asap yang terlihat sangat lezat.
"Hasil keringat sendiri? Jadi, bonus itu bukan hasil keringat?" Ratria mendetailnya. Juga menyeruput jus jambunya.
"Jangan-jangan yang kubilang kemarin benar,, bosmu mempunyai anak perempuan yang sedang ingin menikah,,?" tebak Ratria bertanya. Syahdan memandang tajam tiba-tiba.
"Tidak usah membahas yang di rumah, Rat. Kita nikmati yang sudah di depan kita ini saja. Kamu tidak pakai nasi?" Syahdan menjawab abai, melihat menu milik Ratria. Tidak ada nasi sebutir pun.
"Tidak. Aku diet, pak Syahdan," jawab Ratria. Mulai menyentuh makanan seperti hal sang suami. Akur dengan teguran Syahdan padanya. Namun dalam hati tentu saja bertanya-tanya.
"Tapi jangan terus-terusan tanpa nasi, Rat. Nanti kamu kurus," ucap Syahdan di sela mengunyah daging kelinci di mulutnya.
"Iya,," angguk Ratria.
Syahdan memandang Ratria yang nampak makan bersemangat meski tidak memakai nasi sama sekali. Merasa lega sebab itu memang inginnya, bukan sebab Ratria sedang tidak ada nafsu makan.
π
Ratria memandang Syahdan yang sedang berjalan ke arahnya. Penasaran dengan tiket film yang berhasil didapat atau tidak.
"Dapat,,??" tanya Ratria. Menahan nafas penasaran. Syahdan memicing mencurigakan.
"Dapat," jawab Syahdan tersenyum. Ratria melepas nafas dan tersenyum.
"Coba lihat," ucap Ratria sambil mengulurkan tangan. Syahdan meletak kedua tiket itu di tangannya. Dan beriringan menuju pintu masuk. Mendekati pegawai sobek tiket yang menghadang di pintu.
"Menurutmu, apanya yang ngeri,,, dan apanya yang sedap, ya Rat,,?" tanya Syahdan menoleh. Ada senyum menyeringai dan sedikit mesum di bibirnya.
"Apapun itu, film ini harus lucu. Bukan film ples-ples seperti yang sedang kamu pikir, pak Syahdan," gemas Ratria menjawab.
Pandangan Syahdan membuatnya tidak nyaman. Tapi tidak juga menyalahkan. Sebenarnya sama juga dengan yang sedang dipikirnya.
Tidak habis pikir dengan judul film kali ini. Kenapa juga film komedi yang diputar malam ini punya judul Ngeri-ngeri Sedap... Jujur, sebetulnya Ratria pun memikirkan yang tidak-tidak di kepalanya. Teringat pada percintaan bersama Syahdan pada malam pertama mereka di vila.
Jadi, bagaimana jalan cerita film komedi Ngeri-Ngeri Sedap ini sebenarnya? Dan lampu benderang dalam gedung, baru saja dimatikan. Syahdan pun terlihat tegang menantikan. Begitu juga dengan Ratria yang sedang penasaran.
...ππππππ...
πππVote Senin,,,,, jangan lupa sangkutin padaku,,, please... Terimakasih ππππ
__ADS_1