Telah Dikawin Gantung

Telah Dikawin Gantung
67. Otewe


__ADS_3

Pebincangan bisnis itu diakhiri oleh kedua pihak saat adzan ashar berkumandang dari mushola di perumahan dinas. Dan terjadi mufakat antara Syahdan dan Hero untuk ikut berjamaah di mushola sore itu bersama-sama.


Sedang Diana memilih menunggu di mobil Hero setelah menolak tawaran Ratria untuk berkunjung masuk ke dalam vila. Dan Ratria pun segera melenggang ke dalam vila sebab merasa tidak lagi memiliki urusan apapun di kantor Syahdan. Kantor yang ruangannya menjadi bagian bangunan vila namun memiliki pintu tersendiri di luar.


🍃


Sajadah milik Syahdan dan mukena yang dibelikan Syahdan saat ijab kabul dulu, telah diletak rapi ke dalam laci kembali. Ratria baru menyelesaikan shalat ashar bersamaan datangnya tuan pemilik vila dan kamar.


"Sudah shalat?" tanya Syahdan mendekat.


Ratria mengangguk memandang Syahdan dengan dada berdebar. Lelaki itu nampak cerah berpeci di kepala yang belum dilepasnya.


"Sudah. Apa mereka sudah pergi?" tanya Ratria memandang Syahdan.


"Iya, Rat. Baru saja," jawab Syahdan. Sambil melepas peci dan meletaknya di atas lemari pendingin.


Ratria memandang Syahdan lekat, seperti ada yang akan dikatakan Syahdan padanya.


"Ada sesuatu yang ingin pak Syahdan katakan padaku?" tanya Ratria menyelidik wajah Syahdan yang tampan.


"Iya, Rat. Nanti malam ikutlah denganku kembali ke bandara. Untuk apa kamu di sini? Kamu kan istriku, aku harus membawamu," tegas Syahdan tiba-tiba. Yang tentu saja mengejutkan Ratria. Diam-diam merasa suka dan bahagia.


"Pak Syahdan kenapa jadi memaksaku?" tanya Ratria.


Tapi wajah cantik itu sedang berbinar dengan ekspresi bersemangat. Ternyata Ratria tidak menolak dengan ketus. Syahdan merasa begitu lega.


"Ya sebab kamu istriku, Rat. Kamu harus kubawa ke mana-mana. Lagipula kita ini pengantin baru. Bagaimana jika sewaktu-waktu aku menginginkan kamu?" tanya Syahdan tersenyum. Menaikkan alis menggoda istrinya.


"Aku tidak ingin hamil, pak Syahdan,," keluh Ratria. Berjalan menuju ranjang dan merebah kembali di sana. Menyelimuti dirinya rapat-rapat.


Syahdan menyusul cepat dan menyelip ke dalam selimut yang sama dan sedikit kesusahan. Ratria seperti keberatan dengan Syahdan yang bergabung masuk di selimut yang sama.


"Rat, bagilah selimutnya. Kamu tahu kan, hawa di gunung senantiasa dingin." Syahdan membujuk Ratria. Dan selimut pun melonggar.


"Tidur saja, Rat. Jangan khawatir. Aku sedang banyak pikiran, tidak ingin memaksa menerkam kamu. Hanya perlu di refresh sedikit saja, Rat. Ratria,,," bujuk Syahdan kembali.


Bergeser mendekat, merapati sang istri. Ratria sedikit terkejut, Syahdan telah memeluk erat dirinya. Namun membiarkan dan menikmati pelukan hangat Syahdan padanya.


"Rat, cobalah bayangkan. Kamu pilih yang mana, merasa senang tinggal di sini, tapi aku tidak bersamamu. Atau tinggal di Surabaya, kita tiap hari bersama. Kamu ini sebenarnya merasa suka atau tidak, jika bersamaku?" tanya Syahdan. Tiba-tiba merasa jika dirinya mungkin sedang kekanakan.


Wajah cantik dalam pelukan mendongak dan memandang. Mata jernih itu bergerak-gerak berfikir.


"Aku,,, aku lebih suka di sini. Dan lebih suka jika suamiku juga di sini," Ratria tersenyum. Menyembunyikan wajahnya kembali di dekapan sang suami.

__ADS_1


"Tapi itu masih sangat susah kulakukan saat ini, Ratria." Syahdan seperti mengeluh. Namun matanya memicing sebentar.


"Kecuali,,," uacap Syahdan sengaja menggantung.


"Kecuali apa, pak Syahdan?" tanya Ratria mendongak sangat cepat. Seperti begitu berharap dan penasaran.


"Kecuali,,, aku bisa menghamili kamu. Dan,, kamu panggil aku bukan pak lagi, Ratria," ucap Syahdan dengan tersenyum. Wajah tampannya nampak tegang.


"Haaa,? Apa, pak Syahdan,,? Kenapa berat sekali syaratnya,,? Sebenarnya kamu ingin bersamaku apa tidak??" keluh Ratria beruntun. Syahdan hanya tersenyum.


"Ya sudah. Jadi sementara kamu ikut aku dulu di bandara. Nanti lama-lama pun kamu hamil juga. Tapi sekarang ini, kamu jangan panggil aku dengan pak ya, Rat,," tanya Syahdan dengan mengelus rambut di kepala Ratria.


"Kenapa,,? Aku sudah terbiasa. Dari dulu sudah kupanggil kamu begitu, pak Syahdan," terang Ratria terheran.


"Aku tidak mau sama level dengan dosen kamu, pak Jati,,, juga boss grinfil itu, Hero.. Panggil aku mas ya, Rat," ucap Syahdan bernada membujuk.


Ratria tidak menjawab, tapi menyembunyikan kembali wajah memerahnya ke dada lebar sang suami.


"Rat, apa aku sudah tua di matamu?" tanya Syahdan terdengar kecewa. Ratria mengacuhkan pintanya. Kepala Ratria mengguncang menggeleng.


"Tidak, pak Syahdan. Kamu nampak muda, tidak tua." Ratria sedikit mendongak memandang wajah Syahdan.


"Lalu kenapa, kamu tidak memanggil aku dengan menyebut mas saja, Rat?" desak Syahdan.


"Hemm, terserah kamu, Rat. Istirahatlah, kumpulkan energi kamu untuk perjalanan nanti malam," Syahdan berkata lirih.


Merasa tidak berguna terus membujuk Ratria. Hanya dipeluknya Ratria dengan bertutup selimut lebar sebatas pinggang. Hawa di kamar telah hangat dan semakin nyaman oleh lapisan selimut lebar yang membentangi kedua badan mereka.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃


🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Mobil baru yang dibawa Arka, telah melaju meninggalkan Sirah Kencong menuju arah kota Malang. Melewati jalur dataran tinggi Ngantang dan Pujon. Pemandangan alam menyegarkan dan pertanian hijau yang membentang sepanjang jalan, menjadi menyeramkan serta cukup menegangkan dilihat saat malam.


"Apa kamu merasa takut, Rat?" Syahdan duduk bersama Ratria di bangku tengah. Ratria meminta duduk dekat jendela sebelah kanan.


"Tidak, pak Syahdan. Aku hanya takut jika sendirian. Asal ada teman, aku tidak takut. Sudah biasa melewati perhutani di Sirah Kencong. Meski aku tidak suka mengandalkan orang, tapi jika sendiri, aku berubah sangat takut," terang Ratria menoleh pada Syahdan.


"Saat kuliah, sering lewat sini apa lewat jalur Wlingi-Lahor?" tanya Syahdan. Tertarik dengan masa-masa sekolah Ratria.


"Ya kadang saja lewat sini. Jika ada teman. Lebih sering lewat jalur Wlingi," jawab Ratria.


"Siapa temanmu? Kamu bilang tidak punya teman kuliah dari Sirah Kencong," heran Syahdan.

__ADS_1


"Bukan teman kuliah. Teman sekampung. Kakak kelas. Punya usaha kuliner di kota Batu. Pas libur, terus mau balik ke sana, aku diantarnya hingga ke kota Malang, di kampusku," terang Ratria.


"Baik sekali, bukankah jarak kota Batu ke kota Malang cukup jauh? Siapa nama teman kamu? Lelaki?" desak Syahdan. Ratria mengangguk.


"Ya Dimas itu,,, mas Dimas." Ratria menjelaskan.


"Jadi, setelah tahu dia menyukaimu, kamu juga masih mau diantar?" tanya Syahdan antusias.


"Tidak. Dia bilang suka setelah aku tamat. Sebab dia sangat paham sifat nenekku," jelas Ratria.


"Kenapa kamu tidak belajar pacaran saja dengannya?" Syahdan terus bertanya. Namun tanyanya kali ini membuat Ratria jadi merasa agak kesal.


"Iya, aku juga sempat menyesal. Kalo kupikir-pikir, mas Dimas kece juga, badannya bagus. Anak orang berada, terus sudah punya usaha. Dan,,,masih sangat muda,,!" Ratria sangat bersemangat mengatakannya.


"Auwh.." Tubuh Ratria meliuk tiba-tiba. Syahdan telah menusuk pinggangnya menggelitik. Ratria berusaha bertenang dan menawar rasa geli, segan dengan Arka yang baru saja menoleh sedikit ke belakang.


"Jangan sadis, Rat. Tua-tua pun, aku juga yang menikahi kamu,!" protes Syahdan. Kian menjulur tangan, merasa suka membuat Ratria menggeliat sesekali.


"Siapa yang mulai? Pak Syahdan seperti menghinaku, seolah aku ini perempuan yang tidak laku-laku," protes Ratria. Syahdan mengangkat alis tersenyum.


"Tapi kan kamu bilang memang ingin pacaran dulu, bukan langsung menikah kan?" Syahdan merasa tak bersalah.


"Tapi kan juga harus dengan hati. Bukan asal iya ayo saja, pak,,!" sanggah Ratria. Syahdan tersenyum-senyum mencurigakan.


"Bermakna, pas malam itu kita melakukannya, kamu juga pakai hati?" Syahdan bertanya sangat lirih. Tapi Ratria masih merasa kesal dengan Syahdan.


"Hanya menjalankan tugasku sebagai istri. Aku tidak ingin membuatmu kecewa, lalu Allah mengutukku. Hanya seperti itu, pak Syahdan," tegas Ratria tanpa ampun.


Jawaban Ratria menyesakkan. Syahdan menyandar ke sandaran bangku mobil. Merasa raganya sedikit melemah seketika. Mencoba bersabar dan berlapang. Mengakui dari teori yang sering beredar. Mungkin wanita memang tidak terlalu memerlukan hati dan perasaan. Begitu juga dengan Ratria, yang bahkan baru saja mengakuinya.


"Lalu Vario, kakak tirimu yang tampan itu, apa dulu dia juga perhatian denganmu?" Syahdan tersenyum, menelisik ekspresi di wajah Ratria. Mencoba memecah kebisuan.


"Tidak, justru kupikir, dulu mas Rio sangat membenciku. Dia tidak peduli padaku. Lagipula dia jarang pulang," terang Ratria.


"Kenapa begitu? Apa alasannya?" Syahdan terheran.


"Sebab,, eh, aku pun tidak tahu," ucap Ratria menutupi.


"Kamu tidak mau mengatakan padaku? Apa aku ini masih jadi orang lain bagimu?" tanya Syahdan sambil menggeser duduk dan merapat pada Ratria. Dan Ratria membiarkan. Tidak ingin ribut yang bisa memancing fokus Arka mengemudi.


"Sebab,,, dulu mas Rio sempat suka denganku. Tapi setelah paham jika aku adalah anak ibu sambungnya, dia bersikap seperti membenciku," Ratria menjelaskan. Menoleh pada Syahdan yang juga memandang lekat padanya.


"Sudah kuduga. Dari pertama kamu dan Rio datang ke vila menemuiku, kakak tirimu sangat protective denganmu. Tapi Rio memiliki hati yang baik, Rat. Dia menunjuk sikap yang dewasa." Syahdan mengakhiri bicara sambil menyisip tangan lagi ke punggung dan melingkari pinggang Ratria. Dan erat memegang di sana. Ratria seperti kaku-kaku rasanya.

__ADS_1


🍃🍃🍃


__ADS_2