Telah Dikawin Gantung

Telah Dikawin Gantung
80. Perjodohan


__ADS_3

Hari syukuran nikah antara Ratria dan Syahdan di rumah orang tua, di Surabaya kota...


Istri dari putra sulung keluarga Adam, telah didandani sedemikian cantik dan memukau. Menantu wanita kedua, sebab adik lelaki dari suami sudah menikah terlebih dahulu, sedang berada di kamar suaminya untuk menunggu panggilan agar keluar dari kamar.


Dan pada akhirnya, Ratria sudah berdiri di antara keluarga mertua bersama suami untuk menyambut para tamu yang diundang.


Di sebelahnya berdiri mendampingi, yaitu sang kakak lelaki, Vario. Menyambung pak Adam dan bu Anisa, kedua mertua Ratria. Sedang di samping, Syahdan didampingi adik-adik lelakinya, Khairy dan Kahfi. Mereka bertiga cukup mirip dengan kadar dan style ketampanan yang berlainan. Adik lelaki yang kedua, Farhan, terpaksa izin tidak datang.


Judith dan Kedua orang tua diminta oleh pak Adam untuk bersantai di dalam rumah. Sebab kedua orang tua Judith baru datang dari Kalimantan. Mereka cukup berbesar hati dengan keputusan putra sulung dari keluarga bapak Adam. Dan mungkin mereka sedang menghibur sang putri tunggal, Judith, untuk menerima kenyataan dengan lapang.


Acara syukuran itu sederhana. Sebagai syarat untuk mengumumkan kepada para tetangga sekitar, bahwa Syahdan dan Ratria telah menikah. Sekaligus sah sebagai pasangan suami istri yang halal.


Acaranya tidak berlangsung lama. Undangan tidak terlalu banyak. Hanya para tetangga di komplek perumahan serta beberapa rekan dekat pak Adam dan bu Anisa. Syahdan pun hanya mengundang beberapa saja dari mantan rekan kerja di maskapai.


Rencananya, Syahdan justru akan menggelar acara syukuran nikah dengan sedikit lebih meriah di perkebunan Sirah Kencong, Blitar saja.


Acara dengan urutan, datang, bersalaman, makan dan pulang dengan membawa jajanan serta souvenir itu akhirnya selesai. Cukup singkat dan cepat. Acara yang dimulai tepat pukul dua siang itu, bisa selesai tepat saat adzan maghrib berkumandang.


Seluruh penerima tamu di pihak keluarga pak Adam, merasa sangat lega sekali. Terutama Ratria dan Syahdan, mereka kerapkali saling pandang dan tersenyum dengan rasa senang dan lapang.


"Vario, bagaiman jika kamu tidak pulang dulu. Temani adik kamu, Ratria. Kami pun sudah menjadi keluarga kamu sekarang. Kami akan mengadakan bincang penting keluarga. Sebaiknya pulang nanti saja, Vario. Ayo, masuk rumah lagi," ajak pak Adam, ayahnya Syahdan kepada Vario. Lelaki muda itu sedang makan dengan santai bersama Ratria dan Syahdan saat pak Adam datang menghampiri.


"Iya, Vario. Ikutlah bincang keluarga ini. Entah apa yang akan dibincangkan, aku pun tidak tahu, Vario. Hanya ikut menyimak saja," Syahdan menimpali. Pak Adam mengangguk, lalu menepuk pundak Vario satu kali dan berbalik pergi ke dalam rumah.


"Iya, mas Rio. Pulang agak nanti saja ya. Lagipula mbak Judith masih di dalam. Tadi datang bareng kan?" ucap Ratria pada Vario.


"Iyalah, Rat," jawab Vario sambil mengangguk. Masih berupaya melenyapkan isi piringnya yang sedap.


🍃

__ADS_1


Ruang keluarga yang biasanya lengang, kini nampak penuh dengan sepuluh orang yang tengah duduk di sana. Yaitu, Vario, keluarga Judith, dan keluarga pak Adam. Dan perbincangan seperti yang telah dikatakan pak Adam tadi telah nampak dimulai.


"Begini anak-anak,, kalian kami ajak berkumpul, untuk kami ajak berdiskusi bersama." Ini adalah sambutan dari pak Adam.


"Dengan kebersamaan keluarga kita ini, antara aku dengan pak Afandi, telah bersepakat hal penting. Berencana meneruskan persahabatan kami menjadi keluarga. Yaitu, kami berdua telah bersepakat untuk menjodohkan anak-anak kami dengan harapan ada jodoh untuk menuju pernikahan."


"Dan yang dimaksudkan adalah anakku yang kedua, yaitu Khairy. Ingin aku dekatkan dan jodohkan dengan putri pak Afandi, Judith. Bagaimana,,?" tanya pak Adam, memandang Khairy dan Judith bergantian.


"Ini serius,,?!" tanya Judith terkejut tak percaya.


"Betul sekali, Dit. Kamu di sini sendiri, nak. Nggak ada yang jaga kamu lagi. Jika kamu keberatan, lebih baik pulang saja ke rumahmu di Jakarta." Wanita seusia bu Anisa yang pasti adalah ibunya Judith, berbicara dengan lembut dan tegas.


"Tidak mau, ma. Aku sangat suka di Surabaya. Kalian pun tidak pernah pulang," keluh Judith. Menahan rasa amarah dan kecewa.


"Kamu, Khairy? Apa keberatan untuk menjaga anak perempuanku?" tanya pak Afandi pada Khairy.


"Siap, om. Saya bersedia. Bahkan jika Judith juga setuju, saya bersedia menikahi segera, om," sambut Khairy setelah mengangguk.


"Kalian tidak pernah membicarakan ini terlebih dulu padaku,,!" protes Judith tiba-tiba. Tak bisa lagi menahan kecewa pada orang tuanya.


"Ini demi kebaikan dan keamanan masa depan kamu, Dit,," bujuk pak Afandi.


Semua mata tertuju pada Judith. Begitupun dengan Ratria dan Syahdan. Terus menyimak dengan tegang tanpa mampu berkata apapun.


Ratria hanya merasa berhak untuk sekedar menjadi seorang penyimak saja. Meski niat hati ingin membela Judith yang menyedihkan.


Vario juga membungkam dan menyimak. Wajah tampan yang terlihat datar tanpa gelagat dan ekspresi, ternyata sedang mengeras di pelipis dan juga di rahang wajahnya.


"Aku tetap keberatan, pa!" seru Judith.

__ADS_1


"Mas Khairy, maafkan aku. Aku tidak bisa memaksakan diriku untuk mencoba dekat bersamamu. Aku tidak bisa,,," ucap Judith dengan serba salah dan ekspresi tidak nyaman.


"Tapi, Dit. Kita bisa berkaca pada pasangan mas Syahdan dan istri nya. Mereka dulu tidak saling suka. Tapi sekarang, mereka pasti tidak ingin terpisahkan. Bagaimana kalau kita mencoba dulu, Dit?" Khairy juga mencoba membujuk. Bagaimanapun, Judith memang sudah diinginkan olehnya dari dulu.


"Betul itu, Dit. Apa yang dikatakan Khairy itu betul,,," sahut bu Anisa, ibunya Khairy ikut membujuk.


"Maaf, tante. Tapi saya merasa tidak bisa. Saya tidak bisa memaksa diriku sendiri." Judith kukuh menolak.


"Kenapa, Dit. Apa ada lelaki lain yang dekat dengan kamu saat ini?" tanya ibunya.


Dan tak disangka. Judith mengangguk tiba-tiba. Semua orang yang duduk dan menyimak, sepertinya terkejut. Juga terheran penasaran.


"Betul, Dit? Siapa,,?" tanya pak Afandi mendesak.


"Betul, pa. Aku sudah ada kekasih. Jadi, tolong berhenti menjodohkan aku." Judith berkata dengan meyakinkan.


"Siapa, Dit? Siapa lelaki yang jadi kekasih kamu?" tanya beruntun ini dari Syahdan. Sebagai orang yang pernah menemani, tentu Syahdan seperti tidak percaya. Sangat paham bagaimana Judith selama ini. Tidak pernah sekalipun bersama lelaki selain bersamanya. Kecuali....


"Mas Vario... Dialah lelaki itu..!" jawab Judith dengan jelas dan nyaring.


Vario begitu terkejut. Tidak menyangka jika Judith akan menyebut dirinya.


Kini semua mata tengah menyorot ke arah wajah Vario. Hingga Vario merasa tegang serba salah. Tidak tahu bagaimana menanggapi.


Vario mencari jawaban di wajah Judith. Yakin jika gadis cantik itu sedang terdesak untuk sekedar meminjam namanya.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Tolong kasih 5 bintang untuk novel ini ya.. Bermimpi banyak bintang....bintangku dikiit...😉 🤕

__ADS_1


Yang sudah ngirim 5 bintang, terimakasih..😘


__ADS_2