Telah Dikawin Gantung

Telah Dikawin Gantung
79. Bersama Berdua


__ADS_3

Ratria baru keluar dari kamar mandi hotel dengan handuk yang menutupi seluruh rambut dan handuk yang melilit di badan. Mendekati ranjang tebal yang empuk dan lebar. Duduk di tepi, ada Syahdan yang sedang tidur tengkurap di sebelahnya.


"Mas, bangun. Sudah siang. Lekas mandi lagi, sana,," bujuk Ratria. Menepuk-nepuk punggung Syahdan yang sebagian terbuka tanpa selimut.


"Hemmm,," sahut Syahdan dengan nada yang malas. Merasa begitu lelah dan mengantuk.


"Kamu bilang orang tuamu datang, mau jemput ke bandara. Cepat bangun." Ratria sambil sibuk menggosok handuk di rambutnya.


"Masih nanti siang." Syahdan menjawab dengan suara lirih dan serak.


"Kita sarapan dulu, yuk. Perutku sangat lapar. Rasanya kayak nggak ada tenaga, mas Syahdan,,," bujuk Ratria. Tapi Syahdan tidak peduli. Masih tengkurap tak bergerak. Ratria tersenyum.


"Pak Syahdaaaaan. Paaaaak,,,!" panggil Ratria dengan intonasi yang panjang.


Syahdan mendongak dan begitu cepat membalik badan. Akan menyambar tangan Ratria. Namun, dengan cepat Ratria berdiri berkelit.


"Aku sudah mandi, sudah sangat bersih. Jangan sentuh-sentuh aku dulu. Sana bersihkan dirimu dulu, mas,,," Ratria tersenyum.


Menjauhi ranjang, berjalan mendekati almari dalam hotel. Mengambil baju dan mengenakannya buru-buru. Was-was jika Syahdan tergoda kembali dan lalu mengusiknya. Ratria sudah merasa sangat lelah.


"Pinjam handuk," suara Syahdan yang serak.


Lelaki itu berdiri agak menepi darinya. Sadar diri jika tubuhnya sedang banyak bernoda. Entah di bagian mana saja, bahkan mungkin sudah merata-rata tanpa sadar. Sejak kembali berasyik masyuk bersama sehabis subuh, Syahdan belum sekali pun ke kamar mandi.


"Ini,," ulur Ratria tersenyum. Syahdan menerima dengan ekspresi mengantuk.


"Kenapa tidak mengajakku? Curang ya, mandi sendiri,," keluh Syahdan.


"Aku ingin mandi dan berendam air hangat dengan santai,,," terang Ratria sambil nyengir tersenyum. Syahdan hanya diam memandangi. Lalu berbalik dan berjalan gontai menuju kamar mandi.


Ratria menghela nafas dengan lega. Syahdan nampak cute. Wajah sembab tampannya begitu lesu terlihat. Rambut yang biasa sangat pendek, kini sudah panjang berantakan. Badannya tegap dan kekar berpetak-petak di perutnya. Hanya bercelana sangat pendek, tanpa baju lain yang menutup di sana. Sungguh keren sekali.


Ratria tersenyum. Saat itu, Syahdan memang terlihat low power dan melow. Namun setelah mandi dan makan dengan kenyang. Lelaki itu pasti akan berubah seperti kerasukan banteng lagi padanya.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃


🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Di bandara Juanda...


Vario melihat kelebat Judith di antara para pengunjung kantin bandara saat siang. Sudah beberapa hari Judit tidak datang bekerja. Menolak beberapa tawaran terbang yang sengaja Vario lempar untuknya. Tapi Judith tidak pernah bersedia.


"Judith..!" Vario berseru memanggil. Judith nampak celingukan memilih meja dengan baki makan di tangan.


Kini sedang berjalan cepat menuju ke arah meja Vario. Melempar senyum tipis dan duduk di kursi sebelah Vario. Gadis cantik itu masih nampak pucat, apalagi dengan tampilan wajah tanpa make up.

__ADS_1


"Dit, kamu sakit lagi? Sebenarnya sakit apa? Tapi kamu tidak mengirim surat sakitmu yang belakangan ini, Dit,,?" tanya Vario. Mengamati Judith yang nampak lesu tak ada nafsu makan seperti sebelumnya.


"Aku memang nggak ke dokter, mas Rio," jawab Judith lirih. Menyendok perlahan isi makanan di baki. Tidak ada sayap ayam goreng di sana.


"Yang kamu rasa di badan kamu itu, bagaimana?" tanya Vario sambil makan. Judith menoleh padanya.


"Mungkin sebenarnya aku sedang sakit types. Aku biasa sakit ini. Tapi sudah lama nggak kambuh, baru sekarang saja datang lagi," terang Judith. Menyandar di kursi dan menyudahi makannya. Merasa sama sekali tidak berselera.


"Kamu banyak pikiran, Dit." simpul Vario. Dan terus menyendok isi piringnya dengan cepat.


"Lalu, kamu ke sini tadi naik apa?" Vario memandang Judith. Gadis itu benar-benar menyudahi makannya.


"Naik taksi," sahut Judith. Memandang Vario yang menyuap isi sendoknya yang terakhir.


"Tunggu di sini. Sebentar lagi kuantar. Hari ini aku setengah hari kerja," pesan Vario. Berdiri setelah menghabiskan segelas kecil teh manisnya. Dan berlalu pergi dengan cepat, meninggalkan Judith yang termangu memandang langkah tergesanya.


🍃


Mobil yang Vario bawa, telah sampai di teras lobi appartemen Judith yang mewah. Terletak di luar wilayah bandara, di perbatasan antara kota Surabaya dan kota Sidoarjo.


"Dit, aku ingin singgah ke apartemen kamu. Tapi kamu naik saja dulu. Nanti aku datang!" seru Vario. Judith hampir menutup pintu setelah mengucap salam dan terimakasih. Terdiam sejenak menyimak ucapan Vario.


"Untuk apa?" tanya Judith terus terang.


"Ada,,!" Vario menyahut dan memberi kode pada Judith untuk segera menutup pintu. Sedang ada taksi lain yang juga akan menyandar di halaman teras lobi. Judith segera menutupnya dan mundur.


🍃


Atau mungkin juga sebab obat yang sempat diminum beberapa menit yang lalu. Tapi, secepat itukah obat dalam lambung bereaksi?


Bunyi ketukan di pintu yang ditunggu, akhirnya terdengar. Dengan rasa tegang, dihampirinya pintu dan membukanya.


"Assalamu'alaikum,," salam dari Vario. Dialah yang datang dan mengetuk pintu di apartemen Judith.


"Wa'alaikumsalam,," Judith membalas salam dengan raut tak percaya.


"Mas Rio benar-benar akan mengunjungi apartemenku?" tanya Judith dengan wajah kian pucat.


"Tidak. Aku tidak mengunjungi apartemen kamu, Dit,," jawab Vario tersenym. Judith berkerut dahi tak paham.


"Mas Rio akan turun ?" tanya Judith merasa heran. Sebab, Vario juga baru mengirim pesan bahwa akan bertandang barang sebentar ke dalam apartemen.


"Tidak, tapi aku hanya ingin mengunjungi kamu di apartemenmu, Dit. Paham tidak,,?" ralat Vario sambil tersenyum sangat lebar. Dan Judith juga tersenyum lebar bahkan sedikit tertawa. Sambil membuka pintu lebih lebar.


"Apa saja yang mas Rio bawa,,?" tanya Judith. Mereka telah duduk berhadapan di sofa. Merasa heran dengan bawaan Vario yang banyak.

__ADS_1


Dan Vario sedang membongkar bawaannya dari dalam kantung besar.


"Ini, Dit. Buah pisang dan alpukat adalah buah rekomendasi dokter. Sangat aman untuk perut pasien types. Kamu pasti dianjurkan dokter begitu kan?" Vario memandang Judith sebentar.


"Mas Rio kok ngerti?" tanya Judith tersenyum. Vario mengangguk.


"Ratria. Ibu kami akan membelikan buah ini jika tipes Ratria kambuh. Dia juga punya sakit bawaan seperti kamu. Bisa jadi ibumu pun punya thypes kan?" Vario menebak. Judith kembali tersenyum.


"Iya, itu memang betul, mas Rio," jawab Judith mengakui.


"Ini ada madu murni dan kapsul ajaib untuk kamu minum. Pasti mujarab," terang Vario. Menyodor botol madu dan sebotol kecil kapsul cacing pada Judith.


"Kapsul ajaib? Apa,," dahi cantik Judith bertaut.


"Hargai saja kebaikanku ini, Dit. Percaya saja padaku. Habiskan ya.. Nanti kuberi tahu kapsul ajaib apa itu. Minum pagi dan malam ya. Jangan dibuang dan jangan bohong, Dit." Vario memandang serius pada Judith.


"Iya mas. Akun kuhabiskan semuanya. Pisang,,alpukat,,madu,,,dan yang ajaib ini. Ada yang lain lagi nggak,,," tanya Judith dengan nadanya yang iseng. Mulai keluar kembali sikap manjanya.


"Ada,," sahut Vario dengan nada yang datar. Judith terkejut, penasaran dengan apa lagi yang Vario belikan untuknya.


"Ini. Jangan sampai mulut kamu diam dan perut kamu kosong. Ini adalah camilan senggangmu. Disamping kamu harus teratur makan dengan baik, Dit." Vario berkata dengan mengulurkan sebuah kotak warna biru.


"Cokelat,,??" Judith mengambil perlahan dengan memandang Vario tak percaya. Lalu di bukanya dengan tidak sabar.


"Ah,,,coklat,," Judith tersenyum dengan perasaan yang haru. Dalam kotak itu berisi banyak sekali cokelat batang dengan kemasan yang rapi dan bersih. Vario baik sekali..


"Terimakasih, mas Rio. Ini aku suka sekali. Ah, aku terharu,," ucap Judith tanpa berusaha menutupi rasa hatinya.


"Sama-sama, Dit. Aku hanya ingin kamu cepat sembuh dan kembali rajin bekerja. Bukan absensi yang bolong-bolong kayak sekarang. Kamu harus semangat kembali, Dit. Jika ada apa-apa, kamu bisa bilang dan minta tolong padaku. Jangan khawatir, aku bukan lelaki yang berharap pamrih, Dit," ucap Vario sungguh-sungguh.


"Iya, mas Rio. Sepertinya setelah ini, aku akan sehat dan bersemangat. Terimakasih,"


"Tapi untuk besok dan lusa, aku masih tidak bisa datang kerja. Aku ada pertemuan keluarga di rumahnya mas Syahdan, lusa. Orang tuaku datang. Tapi hanya sebentar. Itupun aku diminta datang ke rumah orang tua mas Syahdan. Sebenarnya aku malas, tapi demi orang tuaku. Kami sudah lama tidak bertemu," ucap Judith nampak sedih.


"Hei, Dit. Apa waktunya sama? Aku pun diminta Ratria untuk datang ke rumah orang tua pak Syahdan. Sebagai wakil dari keluargaku untuk mendampingi Ratria. Acara syukuran nikah mereka. Lusa sore, selepas ashar, Dit,," ucap Vario. Dan Judith pun mengangguk.


"Sama, mas. Kurasa acara kita itu sama,, ha,,ha... Apa kita saudara,,?" tanya Judith sambil tertawa. Dahinya berkerut kemudian.


"Tapi bukan,,, kita tetap tak ada hubungan saudara, Dit. Hanya kebetulan saja,," Vario pun juga habis berfikir.


"Bagaimana kalau aku bareng kamu, datang ke sana, mas? Keberatan nggak?" tanya Judith. Wajahnya berharap. Yang disambut cepat dengan anggukan Vario.


"Besok kujemput. Waktu menyusul ya. Lambat sedikit tidak masalah?" tanya Vario. Dan merasa lega saat Judith mengangguk.


Mereka terlibat dalam suatu obrolan sebentar. Judith nampak gembira dengan sesekali tersenyum dan juga tertawa.

__ADS_1


Tidak lama, obrolan berakhir dengan kata pamit Vario pada sang tuan apartemen. Dan Judith pun melepas kunjungan sahabat barunya itu dengan sisa senyum yang indah di wajah cantiknya.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃


__ADS_2