
🍃🍃🍃🍃🍃🍃
🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Setelah terpaksa membenarkan kebohongan Judit di depan kedua keluarga terhormat itu, Vario buru-buru meminta diri kepada tuan rumah sekaligus kepada orang tua Judith sendiri. Dan sempat berbincang lirih dengan Ratria yang mengejarnya di garasi.
Vario mengatakan hal sesungguhnya kepada Ratria, bahwa itu hanyalah akal bulus Judith. Alibi Judith agar diperbolehkan untuk terus berada di kota Surabaya dengan bebas tanpa ada ikatan dengan Khairy. Vario pun terpaksa ikut berperan sandiwara bersamanya.
Kini lelaki tampan itu tengah melajukan mobil dinasnya meninggalkan rumah megah pak Adam dengan si gadis pencipta drama di sampingnya. Sedang duduk mematung, salah tingkah, kikuk dan terlihat bingung sendiri.
"Bagaimana perasaan kamu, Dit? Lega? Kenapa tidak pulang nanti saja? Orang tua kamu kan masih di sana,,," tanya Vario. Berusaha memecah hening dengan bersikap biasa seperti tanpa sesuatu pun yang baru terjadi. Iba dengan Judith yang nampak tidak nyaman.
Judith cepat menoleh dan tertegun sesaat.
"Mas Vario tidak marah padaku?Aku pulang denganmu, sebab aku khawatir jika kamu akan marah. Maafkan aku ya, mas? Terimakasih, tadi sudah membantuku meyakinkan mereka," ucap Judith dengan gembira namun segan. Menoleh dan memandang wajah Vario lekat-lekat.
"Tapi ini beban juga, Dit. Kamu,,,sudah bohong pada orang tua kamu. Otomatis, aku pun terseret. Itu dosa banget lho," keluh Vario mengingatkan kesalahan yang telah dibuat oleh Judith yang juga menyeretnya.
"Iya, mas. Aku sadar. Tapi aku sangat terdesak. Untuk sementara, biar sajalah mereka tahunya seperti ini. Mas Rio, tidak apa-apa kan?" tanya Judith menahan nafas nya. Was-was jika Vario berubah tidak terima.
"Ya, bagaimana lagi, Dit. Sudah terlanjur. Kamu jalani saja dulu. Aku sih hanya figuran saja peranku,,," sahut Vario dengan nada yang santai. Dan Judith merasa jauh lebih tenang dan lega pada sikap pasrah Vario.
Lelaki itu telah memberi rasa aman untuk kesekian kali padanya. Bahkan kali ini sudah sangat serius pertolongan yang diberikan Vario untuknya. Judith merasa beruntung sempat mengenal Vario lebih dekat sebelumnya.
"Kamu ingin ke mana, Dit?" tanya Vario. Telah hampir mendekati persimpangan, antara jalan menuju rumah dinas di bandara dengan jalan menuju apartemen Judith.
"Aku pulang saja, mas. Kepalaku agak pening," sahut Judith.
"Kamu tidak lapar lagi?" tanya Vario. Persimpangan itu telah dilalui dan sedang menuju ke jalur apartemennya Judith.
"Sebenarnya tadi aku belum makan. Kita tadi tiba di sana, orang tuaku baru saja selesai makan.Dan aku segan makan sendiri. Mas Vario sudah makan?" Judith balik bertanya. Vario mengangguk.
"Sudah. Tadi bareng sama Ratria dan pak Syahdan," jawab Vario. Matanya fokus pada jalanan di depan.
"Eh, kita ini ke mana, mas? Kenapa bukan belok di apartemenku?" Judith terheran. Berkerut merut di dahi memandang Vario.
"Cari makan," sahut Vario tegas. Matanya tetap saja fokus di jalanan.
Judith menghela nafas susah payah. Merasa begitu sebak dengan kebaikan lelaki di sampingnya. Vario bersikap sangat perhatian, ke mana perginya sikap dingin lelaki itu selama ini?
__ADS_1
Judith membuang muka ke samping, menyembunyikan bunga senyum di bibirnya.
🍃
Vario kembali melajukan mobil keluar dari pelataran rumah makan yang berlokasi tidak jauh dari apartemennya Judith. Bersama sambut adzan isya mengumandang.
"Dit, mampir di mushola itu dulu, yaa.." ajak Vario. Menunjuk sebuah mushola yang tengah melantun adzan dengan gerak matanya.
"Iya, mas. Aku ngikut saja," jawab Judith dengan mengangguk.
"Kamu shalatnya komplet nggak, Dit?" tanya Vario tiba-tiba. Judith seperti kaget memandangnya.
"Jujur saja, aku suka bolong-bolong. Jarang lima kali," jawab Judith jujur. Nampak malu juga mengakui. Jemari lentiknya sedang saling memelintir.
Vario hanya tersenyum. Tak ada niat untuk mencoba mengoreksi.
"Turunlah, Dit. Mumpung banyak teman. Ikut jamaah, daripada kamu nganggur sendirian di sini," ajak Vario. Kemudian melangkah keluar dari mobil.
Judit yang sempat bimbang, akhirnya keluar dan menyusul. Meski sering bolong, bahkan hari ini masih satu kali saja saat dzuhur, tidak ada salahnya ikut berjamaah shalat isya'. Lumayan bisa menutup satu lubang dengan lebih bagus, bukan?
🍃
"Siapa, Dit?" tanya Vario. Wajah Judith sedari tadi nampak tegang.
"Papa dan mamaku,,,mas," jawab Judith agak terbata. Nampak jika gadis itu sedang resah dan galau.
"Memang kenapa? Kamu nampak panik.." Vario sambil memutar mendekati pintu yang sebelah kemudi. Judith pun masuk dan duduk cepat di kursinya.
"Mereka sudah sampai di apartemen. Sedang menungguku di lobi.." jawab Judith dengan wajah yang bingung.
"Lha terus kenapa, wajah kamu kayak gitu? Apa kamu tidak suka jika mereka menginap di apartemenmu?" tanya Vario terheran. Judith menggeleng.
"Bukan karena aku tidak suka mereka datang. Mereka orang tuaku, tentu saja aku suka. Tapi..." Judith berhenti bicara dengan ragu.
"Apa, Dit,,?" Vario bertanya dengan lembut. Ingin agar Judith berkata terus terang.
Ditolehnya gadis di samping, yang juga tengah menatap resah padanya. Vario mengangguk meyakinkan.
"Mereka ingin bertemu denganmu. Mereka menunggu kita. Katanya ada hal penting yang ingin dibicarakan bersama. Bagaimana ini, mas? Aku khawatir, jika mereka tahu aku berbohong, aku pasti dipaksanya agar pulang ke Jakarta," terang Judith. Matanya penuh cemas.
__ADS_1
"Memangnya, kenapa jika kembali ke Jakarta, Dit? Bukankah rumah dan orang tuamu di sana?" tanya Vario dengan nada yang heran. Telah dibawanya mobil melaju meninggalkan mushola.
"Sebenarnya aku juga sedang punya masalah besar di Jakarta, mas. Nanti saja kuceritakan, yaa. Aku sedang bingung," kata Judith dengan wajah lelahnya. Gadis itu menyandar pasrah di kursinya.
"Ya sudah, kita jumpai orang tua kamu saja. Dengar dulu apa yang mereka ingin bicarakan pada kita. Jangan merasa cemas herlebihan," redam Vario. Menoleh sebentar pada Judith.
"Iya, mas. Terimakasih ya, sudah mau ikut menjumpai orang tuaku," Judith menjawab dengan wajah yang cerah. Sekali lagi, Vario memberinya rasa tenang dan aman. Tidak memberi judge sadis pada kebohongan yang telah dibuatnya, dan kemungkinan justru akan lebih menyusahkan mereka.
🍃🍃🍃
Di sebuah kamar luas yang berada dalam rumah bapak Adam..
Pasangan suami istri yang baru merayakan pernikahan mereka dengan sederhana, sedang duduk di sofa menonton televisi.
Syahdan tengah merebah lelah di sofa dengan berbantal di paha Ratria.
"Apa kepalaku berat, Rat?" Syahdan memandangi dagu Ratria dari bawah dengan wajah penuh senyum.
"Tidak, hanya rasanya aneh. Geli, risih,, aku tidak biasa seperti ini. Kamu jangan gerak-gerak banyak dong, mas,,!" hardik Ratria. Syahdan sedang sengaja menggeser-nggeserkan kepala di pangkuannya.
"Ya sudah, aku diam. Aku lelah, Rat. Ingin tidur seperti ini. Kalo merasa pegel, bilang yaaa,," ucap Syahdan. Membenamkan wajahnya di perut rata Ratria.
"Iya, masseee,,,, tidurlah. Besok kita pergi ke Blitar pagi-pagi, kaan.. Tapi jangan nyucuk-nyucuk hidung kayak gitu,,," tegur Ratria sambil menyentil hidung Syahdan yang mancung. Syahdan hanya tersenyum dan sedikit merenggangkan wajahnya. Merasa sangat damai dan nyaman di saat begitu pada istri. Serasa indah dunia hanya milik dua orang, dan yang lain membayar pajak dengan uang.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃
🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Minta nilai 5 bintang darimu yaa... klik 5 kali.. jangan kurang dari lima yaa..
Bermanfaat utk author, akan nampak di depan, di cover- di atas sinopsis novel ya..
Kakak yg blm prnh ngasih bintang di novel manapun,, ini cara menilai ya..
Beri ulasan dan bintang klik 5 kali.. Di bintang buram/abu2 5 itu ya..😘.
klik juga kolom biru minta update..biar aku semangat..😘 Terimakasih.
__ADS_1