
Tidak munafik jika dirinya pun merasa tegang yang hebat. Judith adalah perempuan yang bisa di sentuhnya dengan kesadaran kepala dan mata. Bukan wanita yang sekedar datang dalam khayalan atau pun bidadari penggoda dalam mimpi. Judith adalah wanita sekaligus istri yang bisa disentuh, dipeluk dan juga diraba dengan nyata. Bukan hanya bayangan yang akan lenyap setelah raganya tak perlu lagi sosoknya. Judith adalah gadis pertamanya yang wujud dan tentu saja akan menjadi yang terakhir untuknya.
Tapi Judith terasa amat kaku dan tegang. Paham jika sang istri belum maksimal mengharapnya. Vario sangat ingin menjadi lelaki sekaligus seorang suami yang didambakan istrinya. Bukan sekedar perasaan menuruti atau juga memenuhi. Dan perasaan Judith masih sekedar mengikuti terhadapnya.
"Dit, apa kamar ini nyaman?" bisik Vario di kepala sang istri.
"Iyya, nyaman sekali." Judith menanggapi sambil memegang erat tangan Vario yang melingkari perut dan dadanya. Seperti berusaha menahan agar tidak bergerak lebih lagi.
"Apa aku memelukmu seperti ini kamu suka?" Vario mengeratkan pelukannya. Tangan Judith kian dalam mencengkeram lengannya.
"Aku,,, aku, iyya, aku suka. Tapi aku ingin cepat tidur saja. Aku sangat capek, mas Rio," ucap Judith. Cengkeraman tangan dan jari berkukunya mengendor.
"Aku juga capek kok, Dit. Ayolah kita tidur," sambut lembut Vario. Bergeser maju dan merangkul bahu Judith bersisian di samping. Membawa maju menuju tempat tidur.
"Kamu tidak ingin ke kamar mandi lagj?" tanya Vario sambil merebah. Judith sudah merebah kaku dan sedang memandangnya.
"Tadi sudah. Malas keluar lagi. Budhe tidurnya di mana, mas?" tanya Judith agak gugup. Vario sudah merebah miring memandang padanya.
"Kamar yang belakang, di dekat dapur. Kamu lihat kan, pintu yang ada gantungan kayu dan bertulis ayat kursi itu, Dit," terang Vario. Judith mengangguk.
"Jadi, dari SMA hingga tamat kuliah tinggal di sini? Tujuh tahun?" tanya Judith. Tertarik dengan perjalanan hidup suaminya.
"Lebih banyak tahun dari itu, Dit. Pas ibuku baru meninggal, budhe membawaku selama tiga tahun. Lalu ayahku mengambilku. Kemudian ayahku menikah dengan ibunya Ratria dan pergi jauh ke Blitar. Aku dibawa budhe dan tinggal di sini lagi. Tapi ayah kembali mengambilku dan mengajakku tinggal jauh di Blitar. Sekolahku pun dipindah. Tapi akhirnya kembali lagi ke sini. Sampai sekarang," terang Vario. Menyimak wajah Judith yang sedikit berubah.
"Apa mas Rio juga sempat tinggal serumah bersama Ratria saat di Blitar?" Judith memandang lekat suaminya. Seperti sangat penting jawaban yang akan didengar dari bibir lelaki tampan di depannya.
"Tidak, Dit. Kami tidak pernah tinggal dalam satu rumah. Kami sangat jarang bertemu," ucap Vario menegaskan. Judith terus menatapnya.
"Ratria itu bukan seperti gadis gunung. Sangat cantik. Bisa jadi jika bukan saudara, mas Rio akan suka pada Ratria,,," keluh Judith dengan ekspresi mencermati wajah tampan suaminya.
"Menurutmu begitu?" tanya Vario tersenyum.
"Kenapa tersenyum, iya kan?" kejar Judith dengan perasaan tidak suka.
__ADS_1
"Apa kamu masih sakit hati dengan Ratria? Kamu masih ingat dengan pak Syahdan? Kamu rindu dengannya?" tanya Vario yang kini tanpa dengan senyum. Merubah posisi menjadi terlentang. Tidak lagi miring dan memandang Judith.
"Iya. Jujur saja, aku sebal dengan Ratria. Tapi sekarang aku kan membicarakan kamu, bukan mas Syahdan. Aku sudah menikah denganmu, dan tidak ingin berfikir tentang lelaki lain."
Judith merasa tidak nyaman jika Vario bersikap agak acuh. Disentuhnya bahu Vario yang masih abai dan tidak mau menoleh.
"Mas, kamu tidak suka dengan ucapanku? Aku minta maaf. Tapi aku tidak bisa menipu perasaanku. Apa salah jika aku jujur?" ucap Judith terdengar gusar.
Vario tiba-tiba bergeser dan memeluk. Membelai rambut Judith yang lembut dan panjang.
"Dengar, Dit. Lapangkan hatimu. Kamu sudah jadi istriku dan aku sudah jadi suami kamu. Kita sudah saling memiliki. Hubungan ini harus kita pertahankan untuk selamanya. Jangan pernah lagi memikirkan orang lain. Pikirkan saja tentang kita. Fokus pada pernikahan kita,,," redam Vario. Terus membelai rambut dan kepala Judith yang harum.
"Jika kamu ingin tahu. Ratria itu memiliki darah campuran. Jepang dan Inggris. Dulu di Sirah Kencong, adalah sarang para gerilyawan dan pejuang kita. Sebab itulah tentara Jepang yang berebut dengan Inggris bersiaga di sana dalam waktu yang lama. Sebab lama, tentara-tentara itu menggunakan perempuan pribumi di sana. Dan lahirlah keturunan mereka, yang salah satunya mungkin leluhur Ratria itu. Yang detailnya bagaimana, aku tidak tahu, Dit," terang Vario.
"Menggunakan,,?" tanya Judith dengan dahi berkerut merut. Memandang wajah Vario menuntut penjelasan.
"Mereka meniduri para wanita pribumi tanpa menikahi. Mungkin ada juga satu, dua, yang dinikahi. Bagaimana, sudah jelas?" tanya Vario dengan gemas. Judith terasa tegang dipeluknya.
Vario tersenyum dengan pemikiran Judith yang ternyata cukup polos. Entah kurang wawasan atau polos, memang tipis bedanya. Dan Vario kian mengeratkan pelukannya.
"Dit, sekarang aku ingin bertanya denganmu." Vario memandang Judith sangat dekat.
"Tanya apa?" sahut Judith terheran. Vario terdiam, lalu tersenyum mencurigakan.
"Dit, tidakkah kamu berminat ingin menggunakanku?" tanya Vario. Meski tidak memungkiri jika perasaannya juga tegang, tapi masih ada senyum yang berusaha disimpan dengan rapat.
"Mass,,,!" Judith seketika menghardik, namun ada senyum yang manja di wajah memerahnya.
Dengan cepat menarik selimut dan membalikkan badan memunggungi suaminya. Dan orang yang dipunggungi sedang tersenyum lebar sekarang.
"Dit, gerah seperti ini kamu memakai selimut?" tanya Vario. Bergeser mendekat sambil menarik selimut yang dijepit Judith di kakinya.
Selimut dengan mudah telah terbuka. Judith membiarkan ditarik lepas oleh Vario. Mungkin benar apa yang dikatakan suaminya. Hawa di kamar memang gerah. Tidak ada AC atau juga kipas angin. Kipas penggerak udara yang pernah ada di kamar, entah ke mana rimbanya.
__ADS_1
Vario dengan cepat menggantikan tugas senang selimut yang telah ditariknya. Memeluk Judith dengat hangat di belakang.
"Dit, tidak apa jika begini kan? Ayo kita tidur. Besok kita bangun pagi-pagi," ucap Vario dari belakang.
Judith tidak bersuara. Pelukan Vario sangat hangat dan nyaman terasa. Tidak yakin sendiri, bisa tidur atau tidakkah malam ini. Sebab hatinya tak reda berdebar riuh dengan detak jantung yang kian laju dan bising.
"Dit, kamu sudah tidur?" panggil Vario. Sangat yakin jika Judith masih terjaga dan sama sepertinya. Tidak bisa tidur dan resah.
"Aku belum tidur," sahut Judith dengan gugup. Merasa berdebar dengan apa yang akan Vario lakukan.
"Dit, berbaliklah. Menghadaplah padaku." Vario menarik lengan Judith agar berbalik. Judith dengan mudah menuruti.
Mereka saling menatap dalam bisu. Vario tidak ingin menyiakan peluang yang ada. Perlahan mendekatkan wajah dan merapati bibir Judith. Terdiam sesaat, terasa mendapat sambutan, sebab Judith terus pasrah membiarkan.
Tangan Judith yang terkepal kaku, diambil Vario agar melingkar di lehernya. Mereka mulai melanjutkan kembali pagutthan. Saling melummatt pelan dan saling menghisap dengan lembut. Ini adalah pengalaman asyik masyuk yang sama-sama pertama kali bagi mereka.
🍃🍃
Budhe Utami meletak bungkusan di pangkuan Judith, berisi dua kotak nasi goreng yang lengkap dengan telur orak arik serta sayap ayam goreng di dalamnya. Yang satu kesukaan Vario sangat pedas dan yang satu tidak pedas untuk Judith.
"Dimakan ya, dihabiskan. Kalian yang rukun dan sayang-sayang. Nanti jika kalian ke sini lagi, Judith harus sudah hamil. Dengar Vario,,?!" tegur budhe Utami dari luar pintu mobil. Mereka telah siap meluncur pulang sehabis subuh.
"Siap, budhe. Aku usahakan. Jangan khawatir," janji Vario dengan yakin. Melirik Judith yang nampak sedang malu.
"Janji kalian lho... Yo wes sana. Hati-hati kalo nyetir, Vario. Kamu bawa anak orang," pesan budhe utami. Bergerak mundur dan menutupkan pintunya.
"Terimakasih, budhe. Salam buat pakdhe, maaf nggak bisa nunggu. Assalamu'alaikum..!!" Seru Vario. Melambai tangan sebentar pada budhe Utami.
"Budhe, terimakasih. Assalamu'alaikum,,!" pamit Judith pada budhe Utami. Judith juga melambai tangan sambil terus tersenyum pada budhe. Berpamit pulang kembali menuju apartemen dengan meluncur laju dan cepat. Subuh itu jalanan masih lengang dan sepi. Belum ada aktivitas padat yang biasa memenuhi ruas di jalanan.
Semalam,,, mereka terpaksa menghentikan kegiatan panas saling sentuh. Judith ketakutan jika mereka hanyut dan kalap, mengakibatkan tempat tidur akan jadi kotor dan bernoda. Juga tidak ada kamar mandi dalam kamar. Rasanya tidak nyaman. Judith memohon pada Vario untuk menghentikannya. Tentu saja Vario langsung paham dengan tidak keberatan. Yang akhirnya mereka sepakat lanjut tidur dan pulang lebih cepat subuh ini.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃
__ADS_1