
Lima bulan kemudian......
Di vila indah Sirah Kencong...
Huek,,,!! Huek,,!! Huek,,!! Bunyi muntah pagi-pagi itu bukan dari mulut Ratria yang sedang mengandung lima bulan dengan buncit di perutnya. Namun, adalah Syahdan, sang suami tercintalah yang selalu mengalami morning sickness setiap hari sehabis subuh.
Tok...! Tok..! Tok....!
Ratria dan Syahdan berpandangan sambil menoleh ke arah pintu yang masih menutup rapat dan terkunci. Sangat paham dengan siapa yang mengetuk pintu kamar itu pagi ini. Hanya pak Andi sajalah yang biasa melakukannya saat pagi.
"Rat, temuilah pak Andi. Kamu saja yang tanda tangan seperti biasa. Kepalaku sangat sakit, perutku mual," ucap Syahdan meringis sambil memegangi kepalanya. Ratria mengangguk.
"Iya, mas Dan. Kamu berbaringlah saja. Aku temui dulu pak Andi. Setelah urusan pabrik dengannya selesai, nanti aku pijat lagi," sambut Ratria. Mendorong lembut pundak Syahdan agar segera berbaring.
Ratria merasa iba dan tidak tega. Syahdan yang segar bugar saat siang dan malam, akan berubah lemah kala fajar menyingsing. Berlangsung hingga sekitar pukul sembilan pagi. Setelahnya akan sehat kembali dan siap untuk pergi bekerja ke pabriknya.
Dokter sudah memberikan berbagai resep obat untuk Syahdan. Namun, tidak ada yang mempan untuk menghilangkan mabuk mual pusingnya dengan tuntas. Akan datang dan kembali terasa mual hingga muntah saat subuh.
Nasib baik Ratria adalah perempuan cerdas yang bisa diandalkan. Mampu menerima materi dengan cepat. Sehingga terpercaya menggantikan sang suami melakukan tugasnya dengan baik tanpa kesalahan yang betarti apapun.
Meski untuk pekerjaan yang detail, masih pak Andi juga yang mengeksekusi. Ratria hanya perlu tanda tangan kemudian. Atau jika memungkinkan, akan di pending hingga Syahdan datang dengan bugar saat hampir tengah hari.
π
Ratria baru kembali dari pabrik teh dengan wajah cerah berseri. Nampak menggemaskan dengan perut buncit besarnya. Duduk di meja makan bersama sang suami yang tercinta.
"Sudah enakan apa belum badan kamu, mas?" tanya Ratria memandang Syahdan yang terlihat kian tampan.
"Sudah, Rat. Setelah shalat dzuhur aku ke pabrik ya. Gantian kamu yang istirahat," ucap Syahdan. Tersenyum pada Ratria yang memandangnya tanpa kedip.
"Kenapa memandangiku begitu?" tanya Syahdan. Memainkan alisnya naik turun. Ratria justru semakin masam tersenyum.
"Pagi-pagi lunglai loyo, kalo malam garang sekali,," sahut Ratria menggerutu. Syahdan pun tersenyum.
"Harus dong, Rat. Ngasih vitamin sama anak-anakku yang di dalam. Sekalian negur mereka biar nggak nyiksa ayahnya lama-lama,," jawab Syahdan tersenyum dengan mesum.
"Kesiksa,,? Nggak enak banget ya rasanya, mas? Jika saja bisa, aku saja yang mabuk. Kapan ya, kamu sembuh dari mabuk kehamilan, mas. Aku yang hamil, kamu yang mabuk. Dan lama sekali, sudah lima bulan. Kasihan kamu, mas." ucap Ratria merasa bersalah.
Ratria justru merasa jika dirinya sangatlah baik-baik saja. Nafsu makan selalu ada, suka apa saja, dan cenderung suka tidur. Hanya rasa mudah mengantuk itu sajalah yang sedikit terasa mengganggunya. Tapi Syahdan selalu meyakinkan jika tidur itu jauh lebih baik daripada mengalami siksa pagi seperti dirinya.
πππ
Pasangan suami istri yang selalu bahagia itu sedang bersiap di teras vila menunggu jemputan dari sopir Arka. Mereka akan turun menuju rumah dinas, di rumah keluarga ibu Ratria. Sedang ada acara keluarga untuk Ratria sendiri dan juga kakak iparnya, Judith.
"Kapan Vario dan Judith datang, Rat?" tanya Syahdan yang berdiri di depan Ratria.
__ADS_1
"Tadi selepas dzuhur. Aku disuruh turun untuk bantu-bantu, tapi aku tidak turun, sebab kamu belum pulang. Aku nungguin kamu, mas," jawab Ratria sambil memandang Syahdan yang terus tersenyum padanya.
"Kenapa senyum-senyum?" tanya Ratria. Mendekati Syahdan dan berdiri di belakangannya. Syahdan sedang duduk tegak di kursi teras. Dipeluknya tubuh besar itu dan menempelkan dagu pada rambut di atas kepala Syahdan.
"Aku tersenyum sebab ingat jika Judith pun juga sedang hamil. Pasti kalian akan lucu jika didudukkan bersama," ucap Syahdan sambil tertawa. Ratria berdiri lurus dan mengacak rambut Syahdan yang mulai panjang lagi menjadi berantakan.
"Tidak menyangka jika kita berempat menjadi saudara, ya mas. Ha,,ha,,ha,,"
Ratria juga tertawa sambil terus mengacaki rambut Syahdan. Tidak menyadari jika orang yang diacak rambutnya merasa senang dan justru membuat mengantuk.
"Mas, ada mobil datang. Itu siapa,,?" tanya Ratria. Tak ada jawaban, Syahdan telah terseret oleh rasa ngantuknya.
Dari arah gerbang vila nampak sebuah mobil berhenti di sana. Ratria lupa-lupa ingat, siapa pemilik mobil itu.
"Mas, itu adikmu,,! Khairy, mas," seru Ratria mengguncang pelan pundak Syahdan.
"Ada apa,,ada apa, Rat,,!" Syahdan terbangun dan tergagap. Mengikuti tunjuk Ratria pada sebuah mobil yang berjalan merayap lagi menuju parkiran di vila.
"Khairy,,?" gumam Syahdan. Langsung berdiri dan mendekati latar parkir.
Khairy keluar dari mobil dan juga mendekat. Saling bersapa salam dan kemudian berangkulan dengan Syahdan. Mereka bercakap-cakap sejenak hingga Arka datang bersama mobil sport gunung biasanya.
"Yuk, Khai,, kamu ikut saja. Daripada sendirian di vila,," ajak Syahdan pada adiknya.
Kini Khairy sedang ingin menikmati hidup di perkebunan yang sepuluh persen adalah juga miliknya.
πππ
Para undangan telah pamit dan pulang. Ini adalah acara syukuran usia kehamilan Ratria di bulan ke lima dan di bulan ke tiga kehamilan Judith.
Meski budhe Utami juga telah membuatkan acara syukuran di Surabaya sana, tapi Vario akan pulang jika sang ibu tiri juga menyuruhnya untuk pulang. Ibu tirinya amat rajin membuat acara tradisi kehamilan yang kebetulan hitungan minggu bulannya hampir sama dengan Ratria. Yang akhirnya disamakan untuk lebih menghemat tenaga dan waktu.
Mereka sedang duduk bersama di ruang tamu rumah dinas yang tidak seberapa luas. Semua ada dan saling mengobrol di sana. Hanya ayah Vario yang kecapekan merebah di depan televisi, dengan adik lelaki Ratria yang sedang belajar di sana. Adik perempuan sedang dipaksa sang ibu untuk menata piring ke dalam almari kembali setelah digunakan dalam acara makan-makan barusan.
Khairy nampak berdiri menyembul di pintu dengan ekspresi yang gelisah.
"Mas, jam segini ada toko buka nggak?" tanyanya pada Syahdan.
"Eh,, toko,,, kamu mau beli apa, Khai?" tanya Syahdan dari duduknya bersama Ratria di sofa.
"Beli rokok," jawab Khairy. Tangannya mengacak rambutnya sendiri, menghindari pandangan Syahdan kepadanya.
"Jam segini sudah pada tutup, mas. Hampir pukul sebelas. Tapi bentar.. Crys,,!! Crystal,,!!" seru Vario sambil berdiri. Berjalan ke belakang mencari adik perempuannya.
"Tunggu, mas. Biar diantar Crystal. Anak pemilik toko yang di ujung itu adalah teman akrab dia. Tunggu biar ditelponin, nanti akan dibuka sedikit. Rumah mereka gandeng sama toko,," jelas Ratria pada Khairy. Dan lelaki itu pun mengangguk.
__ADS_1
Vario diikuti seorang gadis cantik dari belakang. Dialah Crystal yang akan mengantar Khairy membeli rokok di toko sebelah milik orang tua karibnya yang sudah ditutup rapat-rapat. Crystal sedang memegang ponsel sambil senyum-senyum. Mungkin sedang menyuruh karibnya untuk segera membuka pintu toko.
Adik perempuan Ratria dan Vario itu masih duduk di bangku kelas tiga SMP sekarang. Tapi tidak ada yang percaya jika masih seremaja itu jika tak kenal. Penampilan Crystal yang semampai, sungguh sangat memanipulasi umurnya. Khairy nampak tertegun, bahkan tercengang-cengang memandang gadis jelita yang berjalan acuh itu di depannya.
π
"Yuk, mas, kita kembalikan tikar dan speaker ini ke mushola," ajak Vario pada Syahdan. Panggilan pak pada adik iparnya, telah berganti dengan sebutan mas sejak beberapa bulan yang lalu.
"Yuk, mas," sambut Syahdan. Sama kasus juga, panggilan nama pada kakak iparnya, telah diganti dengan sebutan mas sejak beberapa bulan berlalu.
Dan mereka berdua telah menghilang di luar rumah tertelan kabut malam Sirah Kencong. Hilang dengan berjalan mengusung dua set speaker serta beberapa gulung tikar menuju blok bawah di mushola.
Sudah menjadi hal umum jika para warga mengadakan acara yang mendatangkan banyak orang, akan meminjam tikar dan sound speaker milik mushola. Bukan tidak mampu membeli, tapi demi keringkasan tempat dan penyimpanan. Dan mereka akan memberikan infaq dan sedekah sepantasnya kepada mushola yang berkaitan.
"Uhuk,,uhuk,,,uhuk,,!!" Judith tersedak dan batuk tiba-tiba. Memegangi perutnya dan nampak sangat pucat. Ratria tentu saja terkejut.
"Mbak,,!! Mbak Judith kenapa,,?!" Ratria sangat panik sekali. Didekatinya Judith dan ditepuk-tepuk lembut punggungnya.
"Nggak pa pa, Rat. Aku hanya mual dan pusing,," sahut Judith berusaha memandang Ratria.
"Kok malam-malam, mbak.. Biasanya mual hamil kan pagi-pagi, ya.." ucap Ratria terheran. Dan Judith pun mengangguk.
"Memang selalu malam, Rat. Aku night sickness. Kayak inilah aku.. Enak kamu, yang ngalami suami kamu. Nggak enak banget ini rasanya. Kayak mau muntah, tapi nggak muntah. Juga bukan masuk angin,,," Judith mengeluh dengan menahan rasa mual pusingnya pada Ratria.
"Sabar ya, mbak. Ini sebagian dari syahid kita.. Nyicil.. Mbak Judith beruntung bisa merasakannya. Aku juga ingin ngerasa, tapi tetap saja biasa yang kurasa. Ah, semoga kita nanti bisa melahirkan dengan normal dan lancar. Apalagi anakku dua, cewek-cewek, mbak. Ngeri juga mbayangin gimana sakit kita saat itu,,,," tukas Ratria dengan wajah yang tegang.
"Iya, Rat. Semangat... Meski anakku sementara ini terdeteksi masih satu, tapi dia cowok, Rat. Dokter kata rawan kegedean,,," Judith pun juga resah gulana dan tegang.
"Aduuuh,,!" pekik Judith kembali. Wajahnya lebih tegang sekarang.
"Mbak, aku kasih minyak, yaa,," panik Ratria. Segera disingkapnya rambut Judith di tengkuk. Dan diolesi minyak sambil lembut dipijatnya.
"Sampai jam berapa mualnya hilang, mbak?" tanya Ratria. Ingat pada Syahdan yang tersiksa hingga banyak jam lamanya.
"Nunggu sampai mas Rio datang, Rat,," jawab Judith membingungngkan.
"Kok nunggu mas Rio, mbak?" tanya Ratria tidak paham.
"Eh,,, iya, Rat. Sebenarnya mualku akan hilang jika sudah dipeluk-peluk mas Rio. Soalnya di Sirah Kencong ini dingin banget. Aku akan begini jika merasa dingin yang hebat. Eh..sorry ya, Rat,," ucap Judith nampak segan namun tersenyum.
"Begitukah, mbak,,?" respon Ratria dan tersenyum sangat manis juga pada Judith. Berfikir bisa jadi Syahdan pun sebab merasa sangat dingin saat subuh. Ingin mencoba memeluki sang suami saat subuh besok pagi. Eh,,samakah,,? Mudah-mudahan...
ππππππ The Endππππππ
Harap ikuti akun author rengginan ini yaa... Author sangat ingin dukunganmu di setiap karya baru author.. Author sangat kekuranga followers...πππ
__ADS_1