Telah Dikawin Gantung

Telah Dikawin Gantung
26. Tamu Berlainan


__ADS_3

Kelebat nama-nama orang yang kemungkinan sebagai pelaku pengetuk pintu, muncul bergiliran di benaknya. Nama Vario adalah orang pertama yang hadir.


Dan saat tiba nama Syahdan juga kemungkinan, Ratria justru bergegas menuju pintu. Merasa iba jika reputasi lelaki itu akan tercoreng saat seseorang memergokinya mendatangi kamar asrama Ratria di malam yang buta. Tidak ingin jika lelaki itu tertimpa skandal di kamarnya.


Ceklerk,!


"Mas Rio,,?" sebut lirih Ratria setelah membuka pintu kamar. Rio berdiri kaku di depan pintu kamar dengan membawa sebuah tas besar.


"Boleh masuk ke kamar kamu lima menit saja, Rat,?" tanya Rio tanpa merasa perlu basa-basi. Tentu saja Ratria terkejut dan bingung. Namun teringat saat terakhir Rio rela meminjamkan kamar untuk dirinya di rumah perkebunan. Ratria mengangguk.


"Lima menit saja ya, mas. Aku takut ketahuan," bisik Ratria membolehkan. Dan Rio segera mengangguk.


"Thanks, Rat," ucap Vario. Ratria segera menepi dan Rio pun buru-buru masuk melewati pintu yang dipegang Ratria.


"Sini, Rat. Aku ingin menitip barang-barang ini untuk keluarga kita di Sirah Kencong." panggil Rio sambil meletak bag besar itu di meja.


"Iya, mas," ucap Ratria setelah sangat dekat.


"Rat, di dalam sini ada baju-baju untuk adik kita. Sama baju untuk ayah dan ibu. Size mereka ber empat tidak sama. Tapi bercampur baur dan tidak rapi. Aku buru-buru, nggak nyangka ada kamu," jelas Rio. Lelaki yang biasanya dingin dan pelit bicara itu telah menjelaskan cukup panjang. Vario seperti bersemangat berjumpa dengan adik perempuan tirinya dengan tiba-tiba.


"Mas Rio, kapan pulang,?" sela Ratria setelah mengangguk.


"Aku akan lama tidak pulang. Jadwal cutiku belum ada," jawab Rio. Lelaki itu sedang meraba masuk ke saku celananya.


"Rat ini untuk kamu. Aku beli dari Jaya pura minggu lalu. Khusus buat kamu," terang Rio sambil mengulur kotak kecil dan angpau dari flanel bentuk kupu-kupu pada Ratria.


"Apa ini, mas?" Ratria menunjuk dua benda yang sudah digenggamnya.


"Lihatlah. Terima saja. Selama bekerja, aku belum pernah memberi apapun untukmu," ucap Rio sungguh-sungguh. Dan Ratria pun pasrah mengangguk.


"Terimakasih ya, mas,?" sambut Ratria tersenyum dengan cerah. Terharu dengan semua perhatian Rio. Tidak menyangka jika Rio mempunyai jiwa yang hangat sebagai seorang kakak, juga sebagai seorang anak.


"Sama-sama, Rat. Kamu pun juga telah berkorban sangat banyak," ucap Vario.


"Rat, kurasa cukup dulu. Aku akan keluar. Jaga dirimu. Salam buat keluarga kita." sambung Rio bersiap keluar.

__ADS_1


"Iya, mas. Mas Rio juga jaga diri, ya. Assalamu'alaikum," Ratria menyerukan salamnya.


"Wa'alaikumsalam,!" sambut Rio tanpa perlu menoleh. Lelaki itu membuka pintu dan menyelip keluar dengan cepat.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Merasa gembira dan tidak menyangka, Ratria langsung memakai gelang cantik dari emas putih bertabur intan asli dari Jayapura, Irian Jaya. Tidak menyangka Vario yang biasanya kaku dan dingin serta terlihat membenci, ternyata diam-diam memikirkan dirinya.


Juga angpau kain flanel kupu-kupu itu ternyata berisi uang kertas asing bernilai ratusan dolar USA. Mungkin Rio mendapatkan saat dirinya bertugas di penerbangan. Ratria tersenyum haru sekaligus bahagia.


Tok,.Tok,, Tok,,


Ketukan di pintu kembali terdengar. Kali ini lebih pelan dan lirih dari ketukan siapa pun. Orang di luar sangat menyadari jika malam telah larut. Ratria bertanya-tanya, untuk apa Vario kembali datang ke kamarnya,,?


Ratria kembali tergesa membuka pintu kamarnya.


Serasa berhenti saja detak jantung di dalam dada. Orang itu bukanlah yang disangkanya barusan. Lelaki yang berdiri menjulang itu bukan Vario. Tetapi manager yang terhormat, ialah bapak Syahdan yang tampan..


"Pak Syahdan,,?!!" Ratria benar-benar berseru. Bahkan Syahdan pun sampai terkejut dengan respon heboh Ratria.


"Aku terkejut, pak. Untuk apa kamu datang lagi?!" bisik hardik Ratria.


"Apa kamu merasa surprise dan senang, sebab aku datang,?" tanya Syahdan dengan lirih dan memandang lekat wajah Ratria yang seperti sihir saja malam itu.


"Apa,,?!!" Ratria bertanya keras kembali.


"Pelankan suara kamu, Ratria,,!" tegur Syahdan dengan lirih sekali lagi.


"Aku ada perlu denganmu. Kamu sangat membahayakanku jika terus berbincang di sini. Ayo masuk saja,,!" kata Syahdan sambil menarik cepat lengan Ratria melewati pintu dan masuk ke dalam kamar. Ratria telah keluar kamar sebab berjaga agar Syahdan tidak menerobosnya. Sekarang justru Syahdan yang menariknya ke dalam kamar. Dan Ratria terseret kuat tak berdaya menahan.


Ceklerk..klik..


Syahdan telah menutup rapat pintu kamar dan menguncinya.


"Pak Syahdan, kamu suka sekali menerobos kamarku! Apa bagimu mengasyikkan,,?!!" tanya seru Ratria dengan menarik tangannya.

__ADS_1


"Kamu begitu manis menyelundupkan kakak lelaki tirimu ke dalam kamarmu. Tapi kamu sangat pelit padaku. Itu kurang terpuji, Ratria," tegur Syahdan dengan tajam.


"Kamu melihatnya,?!" Ratria terkejut. Khawatir jika Syahdan kembali memberinya ancaman.


"Tenang dan bersikaplah yang manis. Kamu pasti paham, aku bisa melakukan apa saja dengan pelanggaran yang dilakukan kakakmu. Posisi kakakmu sedang bagus di Juanda. Apa kamu tidak khawatir pada kenyamanan kerjanya,?" Syahdan kembali berulah.


"Kami satu keluarga. Dia kakakku. Apa ada yang salah,?" sanggah Ratria dengan rasa sangat geram.


"Baiklah, tidak ada yang salah. Sekarang bersikaplah yang manis saja padaku," bujuk Syahdan dengan ucapan yang lembut.


"Pak Syahdan ada perlu apa datang lagi ke kamarku? Kenapa tidak menunggu besok saja? Apa sangat penting?" cerca tanya Ratria.


Lelaki gagah dan tegap itu telah duduk di ranjangnya. Dengan santai, memutar kepala dan mata menulusur isi di kamar Ratria. Tidak ada kursi di kamar asrama bandara. Jika berdandan di cermin, dilakukan dengan terus berdiri, atau sambil duduk di ranjang.


"Aku hanya ingin memberikan honor untuk kamu. Jujur saja, kedatangan kamu ke rumah dan bertemu dengan ibuku, telah melancarkan urusanku. Jadi aku ingin memberi kamu sedikit bagianmu. Meski itu bukan kewajibanku," jelas Syahdan akan maksud datangnya.


Lelaki itu mengeluarkan sebuah amplop dari dalam saku jaket. Syahdan sangat tampan dengan jaket bahan jins warna hitam.


"Aku tidak memerlukan honor apapun." Ratria bermaksud menolak. Wajah jutek itu membuatnya makin cantik.


"Kamu bisa membeli banyak baju atau apa saja dengan uang ini. Ayolah, terima saja, Ratria," Syahdan kembali menyodor amplop tebal itu pada Ratria.


"Aku tidak mau. Aku tidak ingin kamu makin semena-mena padaku," Ratria tetap tegas menolak.


"Apa kamu benar-benar tidak butuh uang dariku,?" tanya Syahdan tersenyum. Ratria menganggap itu adalah senyum meremehkan.


"Ti...Dak..!!" jawab Ratria menegaskan.


"Benarkah? Bukankah baju tidur dan baju dalamm yang kamu beli di butik Tunjungan tadi juga dengan memakai uangku,,??" tanya Syahdan dengan nada mengejek.


"Appaaa,??!" tanya Ratria berusaha menenangkan gemuruh dadanya.


"Ini...Ini cukup jadi bukti bahwa secara tidak langsung, aku telah membelikan baju tidurmu dan baju dalammu,," ucap Syahdan sambil tersenyum penuh makna pada Ratria.


Syahdan menunjuk baju tidur dan baju dalammann yang baru di beli Ratria dan teronggok begitu saja bersama bag butik tempat beli. Di sampingnya tergeletak sebuah amplop dengan sampul sama persis dengan yang Syahdan tengah pegang saat itu.

__ADS_1


Ratria terkejut hingga rasanya kaku-kaku, dengan lidahnya yang kelu, sebab menahan seribu rasa malu. Merasa jika dirinya sedang ditangkap basah oleh Syahdan yang terhormat...


__ADS_2