Telah Dikawin Gantung

Telah Dikawin Gantung
44. Kupu Malam


__ADS_3

Judith berjalan melenggang sambil menyeret koper kecil yang hanya berisi sangat sedikit baju dan make up. Menuju kantor agency untuk mengambil seragam dari maskapai penerbangan yang menyewanya.


Hanya ada dua staff penjaga malam yang nampak mengantuk di kantor agency. Dan,,, ada Vario.


"Mas Rio!" sapa Judith berseru. Vario menoleh dan tipis tersenyum.


"Dit, seragam kamu. Cepat dipakai saja," ucap Vario sambil mengulur baju seragam baru namun telah licin oleh laundry pada Judith.


"Dandan di mana, mas? Aku kesiangan, nggak sempat dandan. Terbang pukul tujuh, kan?" tanya Judith sambil menimang seragam barunya. Vario mengangguk.


"Nih,,. Dandan satu jam saja, Dit. Jangan telat!" ucap Vario sambil mengulur sebiji keycard di asrama bandara khusus pramugari dan pramugara. Judith telah menyambar kunci kartu darinya.


"Enggak akan telat. Kalo sudah cantik dari kandungan, nggak akan ribet. Thanks ya, mas," sapa Judith sebelum berlalu terburu menuju asrama untuk mengenakan seragamnya.


Tok..Tok...Tok..


Judith telah siap dengan sanggul rapi serta wajah yang dirias serasi. Sangat cantik dan anggun. Nampak sempurna dengan kulitnya yang putih serta tubuhnya yang tinggj. Hanya satu yang mungkin harus didebatkan, terlalu langsing,,,


Ceklerk,,!


"Mas Vario! Kamu,,?!" pekik Judith. Mendapati Vario mengenakan seragam yang sama dengan miliknya. Hanya miliknya bermodel rok perempuan, sedang Vario dengan celana panjang model lelaki.


"Cepat Dit. Kita harus briefing dengan tim kita yang asli milik maskapai. Jangan sampai nama agency kita jadi buruk sebab kita!" tegas Vario terburu.


"Eh, iya mas!" sahut Judith sambil melesat ke dalam mengambil kopernya.


Mereka telah melenggang sangat manis dan cepat. Kaki Vario yang panjang itu mampu diimbangi oleh Judith dengan mudah. Terburu-buru dan terdesak waktu adalah kebiasaan dirinya.


"Mas, kamu nggantiin mas Delon?!" seru Judith di sela derap kaki yang laju melangkah.


"Ya. Orang-orang yang kutawari menolak. Terlalu mendadak dan lama.!" sahut Vario berseru.


Mereka berderap cepat melangkah. Berbagai kemungkinan tugas telah menunggu mereka di dalam pesawat sebelum terbang. Kini mereka sedang menuju ruang briefing. Briefing seluruh awak pesawat yang terlibat dalam penerbangan kali ini di kantor maskapai penerbangan yang menyewa.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃


🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Kamar barunya sedang dinyalakan pendingin oleh calon pemilik baru dengan sangat maksimal. Sebelum kemudian dikecilkan untuk ditinggali dengan nyaman.


Rencana pulang ke Blitar dengan rela dicoretnya sementara. Dokter memberi kabar buruk yang sangat mengecewakan pada kontrolnya pagi tadi. Ada penurunan kondisi pada luka di jempol kakinya. Dan harus ada periksa berkala tambahan empat hari lagi untuk datang dan rontgen kembali.

__ADS_1


Tok,,,! Tok,,! Tok,,!


Seseorang pengetuk kamar, membuatnya bangun dari rebah. Meski heran dan sedikit was-was akan siapa orang di balik pintu, tapi tetap akan dibuka juga. Bi Tina baru pulang dan pak Syahdan sudah meluncur ke bandara satu jam yang lalu.


"Pak Syahdan,,?!" Ratria teheran. Pemilik rumah yang tampan itulah yang sedang berdiri di depan kamar barunya.


"Rat, pilotku mendarat lebih cepat siang tadi. Ini obat kamu. Segera diminum untuk siang ini ya," Syahdan mengulur empat botol kaca sekaligus pada Ratria.


"Banyak sekali. Terimakasih ya pak Syahdan?" Ratria menerimanya dengan wajah berseri.


"Kamu istirahatlah. Aku akan kembali ke bandara. Jika ada apa-apa meneleponlah, Rat," pesan Syahdan. Diperhatikannya wajah Ratria yang basah sebab peluh.


"Kamu tidak menyalakan pendingin?" tanya Syahdan terheran.


"Sudah kunyalakan. Ini sebab obat..Dokter itu memberi obat yang berbeda dari sebelumnya. Aku rasa lebih keras. Jantungku agak keras berdebar," terang Ratria. Seperti sudah paham dengan pandangan Syahdan padanya.


"Baiklah, mungkin jika efek obat itu hilang. Badanmu akan lebih terasa nyaman." Syahdan menimpali. Dan Ratria pun mengangguk.


"Rat," sebut Syahdan dengan pandangan penuh maksud.


"Iya,,?" jawab Ratria memandang.


"Di mana?" Ratria berkerut dahi.


"Belum tahu... Kamu ingin di mana?" tanya Syahdan kembali.


"Aku tidak tahu," Ratria memang tidak tahu apapun. Tidak mungkin juga menyebut Tunjungan. Akan mengingatkan Syahdan pada peristiwa memalukan itu. Saat mereka saling memergoki diam-diam.


"Baiklah, aku akan kembali dulu ke bandara. Aku pulang sebelum isya. Kamu siap-siap ya, Rat." pesan Syahdan sambil memandang lekat. Seperti berat untuk meninggalkannya kembali ke bandara.


"Iya," sambut Ratria mengangguk. Membuang muka dari pandangan lekat Syahdan. Wajah cantiknya telah merona. Ratria sangat cantik mempesona.


"Assalamu'alaikum," pamit Syahdan yang lalu berbalik. Lelaki itu telah hilang di ruang tamu dan menyambung keluar rumah.


"Wa'alaikumsalam," jawab Ratria dengan pelan dan terlambat. Lalu pergi ke dapur yang telah berubah sangat bersih dan mengkilap.


Segera menyambar gelas dan diisinya dengan air putih hingga penuh. Dihabiskannya sekaligus dengan perasaan yang lega. Merasa mulutnya sangat dahaga sekali. Berhadapan dengan Syahdan barusan, mendadak jadi kikuk dan terasa lebih gerah.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Tepat habis isya pukul setengah delapan malam, Ratria yang berkerudung cantik dengan riasan tipis sempurna keluar dari kamar. Hampir bersamaan dengan Syahdan yang juga muncul dari arah kamarnya.

__ADS_1


"Kakimu bagaimana, Rat,?" Syahdan nampak bimbang.


"Tidak apa-apa, pak Syahdan. Rasanya biasa saja. Tidak terlalu sakit. Dan aku sudah membawa obat untuk kutelan setelah makan." Jelas Ratria saat Syahdan nampak bimbang. Sebab sudah merasa senang, khawatir jika Syahdan akan tiba-tiba membatalkan. Merasa sangat bosan mendekam terus dalam kamar dan rumah.


Arka telah melajukan mobil sport gunungnya menuju arah kota. Sesuai permintaan Ratria yang ingin makan malam di tengah keramaian. Dengan tidak peduli bahwa tempat apapun yang dipilihnya adalah warung makan biasa ataupun restoran berbintang.


"Habis ini, kamu ingin pulang atau ke mana, Rat?" tanya Syahdan setelah mengusap bibir merahnya dengan selembar tisu di meja.


Mereka telah selesai makan malam di sebuah restoran padat pengunjung yang berhadapan langsung dengan alun-alun Surabaya. Tentu saja atas pilihan Ratria sendiri. Meski agak jauh dari rumah dinas, tapi rasa puas dan senang, jarak berapapun tidak menjadi penghalangnya.


"Aku sudah sangat lama tidak ke bioskop, pak Syahdan. Kangen lihat cinema," jawab Ratria agak segan.


Merasa dirinya sedikit berlebihan, tapi ingat jika itu adalah kesempatan. Dan belum tentu akan ada waktu lagi untuk bepergian dengan Syahdan.


"Aku paham, Rat. Di Sirah Kencong nggak ada bioskop kan?" Syahdan tersenyum. Ratria mengangguk.


"Mana ada bioskop di gunung, pak.." Ratria tersenyum.


"Di pabrik kamu saja kasih layar tancap. Biar semua pegawaimu bahagia," lanjut Ratria mencoba bercanda.


"Iya, Rat. Dan tugas kamu memegangi tancapannya sekaligus layarnya. Biar orang-orang gagal fokus menonton." Syahdan tersenyum lebar- lebar. Ratria tidak marah, bibir cantiknya juga sedang tersenyum sangat lebar dan manis.


🍃🍃


Arka membawa pasangan pasutri yang nampak pedekate itu ke cinema 21 di Royal Plaza, Surabaya. Dan memilih tidur di mobil daripada menyambut tawaran pasutri untuk ikut nonton film di dalam. Arka masih merasa jika tubuhnya terkadang gemetaran.


"Filmnya seru, Rat. Terbaru,," Syahdan tersenyum meski ada ketegangan di wajahnya. Baru mendatangi Ratria yang dimintanya duduk menunggu di tepian. Sedang Syahdan ikut antrian guna mendapat tiket dan juga membeli banyak cemilan.


"Apa yang diputar? Kita nonton yang apa?" tanya Ratria sambil menerima tiket dari Syahdan dengan mengangkat pinggulnya berdiri.


"Kupu Malam,,," Ratria bergumam membaca. Dan memandang Syahdan yang juga memandangnya. Mereka saling memandang terpaku. Dan kemudian saling tersenyum dengan ekspresi serba salah.


"Bagaimana, Rat. Jadi nonton? Ini slot film terakhir malam ini," terang Syahdan berusaha melenyapkan senyumnya.


"Tapi filmnya dua satu ples banget, pak Syahdan," Ratria mengeluh lirih dan membuang mukanya. Dan Syahdan tidak bisa menahan untuk kembali tersenyum.


"Ya dilihat sajalah, Rat. Sudah terlanjur beli tiket, sayang dibuang. Lagian kamu kan sudah dua puluh tiga, bahkan lebih dari dua satu. Jadi kamu sudah dibebaskan melihatnya. Cepat, Rat," Syahdan berkata meyakinkan.


Ratria terbirit ragu menyusul Syahdan yang telah laju di antrian. Mereka akan menonton film Kupu Malam di bioskop 21 Royal Plaza dengan slot film kategori dewasa bertanda dua puluh satu plus plus plus...


Dan film belum diputar pun, Ratria sudah merasa galau dan resah...

__ADS_1


__ADS_2