
Dingin beku hawa gunung saat malam yang tidak jauh beda dengan hawa di perkebunan, seperti tidak ada hubungan tempat dengan sebuah kamar hangat penuh debar di vila.
Degub kencang dari dua jantung yang saling merapat erat di kamar hangat, seperti sedang saling berlomba untuk lebih melaju berdetak.
"Ratria," panggil Syahdan pada pemilik nama di pelukan.
"Iya,," jawab singkat Ratria. Dengan wajah menengadah pada sang suami.
"Tentang pertanyaan teman-teman kamu di pesan biru, apa jawaban yang sudah kamu tulis untuk balasan pesan mereka?" Syahdan memandang redup wajah cantik Ratria yang berubah memerah.
"Apa yang lebih pantas untuk aku tulis balaskan selain kata mengaminkan?" jawab Ratria pada suaminya.
"Sudah kamu aminkan? Lalu bagaimana?" tanya Syahdan. Tangannya menyelip ke kulit pinggang Ratria. Dan membuat pemilik pinggang ramping itu menggeliat.
"Geli,,,pak Syahdan," keluh Ratria terdengar manja.
"Kamu sudah bilang amin, Rat. Itu sama dengan ucapan, juga doa. Kamu tidak boleh ingkar," desis Syahdan. Memeluk erat pinggang Ratria.
"Auwh geliii....Tapi itu hanya tulisan yang dibaca saja kaanhh,,," keluh Ratria sambil kegelian. Syahdan sengaja mengelus dan menggelitik pinggang lembutnya.
"Lalu apa gunanya ponselmu? Kamu sudah tak terhitung lagi menggunakannya untuk berbicara, janjian, diskusi dan lain-lain. Jangan berkelit, Rat,," bisik Syahdan. Tangannya telah berjalan menggerilya di seluruh kulit punggung Ratria.
"Tapi aku sebenarnya tidak ingin hamil, pak Syahdan. Aku takut...Aku tidak siap. Masih ingin bebas. Ingin seneng duluuhh..." Ratria terengah di akhir bicaranya. Syahdan tidak hanya mengelus kulit punggung, bahkan juga lehernya berulang kali. Ratria merasa debar geli menyenangkan.
"Apa menurutmu ini tidak menyenangkan, Rat? Sekarang kita juga sedang bersenang-senang, Ratria. Kita bisa melakukan hal menyenangkan ini tanpa hamil. Aku paham perasaan mudamu, Rat,," desis Syahdan. Begitu dekat di wajah Ratria. Yang lalu membisik rapat di telinga sang istri. Membimbing membaca doa penting dan keramat untuk dirapalkan bersama. Dan sepertinya Ratria pun tak keberatan untuk melafadzkannya kemudian.
__ADS_1
Syahdan pun kembali mulai beraksi..
"Ah, pak Syahdaaaannh,,,!" seru Ratria keras sebelum Syahdan melenyapkan bibir manisnya. Tidak lagi keluar kata kata dari suara di mulutnya. Terganti dengan bunyi lenguh dan decap dari bibir mereka berdua bersamaan.
Syahdan telah memberi ciuman yang dalam dan indah untuk kedua kalinya pada sang istri. Ciuman penuh hasrat untuk orang pertama dan orang terakhir di perjalanan biduk perkawinan dan rumah tangga mereka berdua selamanya. Ciuman yang belum pernah mereka lakukan satu kalipun dengan orang lain sebelum ini.
Ratria mengalung tangan dan mencengkeram rapat leher Syahdan tanpa sadar. Terseret oleh hasrat nafsu yang sedang mereka lakukan bersama-sama tanpa berakhir kepuasan. Semakin penasaran dan rasa menuntut lebih lagi. Jika mungkin, ingin saling di lummath habiskan saja bibir-bibir mereka tanpa sisa...
"Auhh,,pak Syahdan," engah Ratria merintih.
Mereka saling mendorong pelan dan saling menjauh sesaat. Keduanya sedang terengah bernafas bersamaan. Paru dalam dada telah kering kerontang kehabisan stok nafas cadangannya. Hingga mereka benar-benar tak bisa lagi bertahan tanpa nafas. Kini keduanya sedang mengambil nafas engah bersamaan. Dan saling tersenyum berpeluk kemudian.
"Rat, ini sangat menyenangkan. Aku ingin melakukannya malam ini. Sekarang, Ratria. Kamu bersedia melayani aku, kan?" ucap Syahdan berbisik. Dan sang istri tak kuasa lagi untuk bersuara menolaknya.
"Ahhh..Pak Syahdannhh,,!" jerit Ratria. Sedang melenting menggeliat tak terkontrol. Syahdan pun mengerang engah sebab sentuhan tangan dan kelakuannya sendiri.
Tangan Syahdan memang begitu gencar menyerang di bukit dan puncak dada Ratria degan sangat membabi buta. Bahkan begitu lihai melepasi baju tidur menggantung itu dengan gesit dan cepat. Berlanjut pada melepasi baju yang melekat di tubuh kekar besarnya sendiri.
Juga tanpa halangan saat tubuh seindah barbie itu direbahkan dan ditindih. Syahdan sangat bersemangat dalam hasrat nafsu untuk melakukan segalanya.
"Pak Syahdannhh,,, aku takut,,," rengek Ratria. Syahdan telah bersiap melakukan penyatuan. Sedang berbisik di telinga Ratria untuk mendapat izin serta memberi abanya sebelum meluncurkan meriam besar kebanggaannya.
"Aku akan pelan dan lembut melakukannya, Rat. Jangan takut ya. Aku sudah tidak bisa menahannya lagi, Rat. Percayalah, tidak akan sakit." Syahdan membujuk sambil tangannya tak berhenti menari-nari.
"Arrhhh,,,,!! Pak Syahdaaaaannnh,,,,!!!" Ratria menjerit histeris.
__ADS_1
Tak disangka, meriam besar itu meluncur dengan lancar menembusi benteng dan sarangnya. Rasanya begitu sakit tak terluah pada kata.
"Rat,,,maafkan aku. Sakit itu tidak akan lama. Hanya sangat sebentar. Tahan sedikit yaa..." bujuk Syahdan serba salah dan iba. Tapi juga tak ingin mundur mengalah, sebab merasa sudah berada di setengah jalan perjuangan. Dan yakin akan mendayung nikmat menuju puncak kemenangan yang pasti membawa rasa puas dan melegakan untuk dinikmati bersama Ratria kemudian....
🍃🍃🍃🍃🍃🍃
"Pak Syahdannh,, akkuuh,," sendat Ratria dengan sisa engahnya. Mata indah yang biasa jernih itu sedang mengeluarkan air mata.
"Ratria,,,Terimakasih, Ratria.. Aku merasa menjadi lelaki paling beruntung yang telah menikahimu. Kumohon jangan menangis lagi. Kamu istriku, Rat. Jangan menyesal telah memberikannya padaku," bujuk Syahdan. Mendekap istri cantiknya ke dalam pelukan.
"Aku tidak menyesal, pak Syahdan. Tapi sekarang aku tidak gadis lagi... Aku sudah tidak perawan... Aku telah kamu nodai,, hik,,hik,,," keluh Ratria dan berakhir dengan tangisnya.
Syahdan nampak gusar namun sedikit tersenyum. Berusaha paham pada perasaan sang istri.
"Sekali lagi maafkan aku, Ratria. Tapi aku suami kamu. Dan kamu adalah istriku. Sudah seharusnya kita melakukan apa yang baru saja sudah kita lakukan. Apa kamu tidak ingat bagaimana menyenangkan rasanya tadi?" Syahdan mempererat pelukannya.
"Iya, pak Syahdan. Sangat menakjubkan. Aku hanya tidak menyangka,,, dan seperti tidak percaya jika kita telah melakukannya. Maafkan aku..." sahut Ratria berbisik.
Membalas pelukan Syahdan lebih erat. Menyusupkan kepala dan wajahnya di dada keras sang suami. Mengakui jika dirinya adalah seorang istri yang harus senantiasa patuh pada setiap kebaikan sang suami. Penuh harap pada pernikahannya dengan Syahdan akan bahagia dan abadi selamanya hingga ke syurga bersama-sama!
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Vote here, please,,,😘
__ADS_1