Telah Dikawin Gantung

Telah Dikawin Gantung
83. Ayo Menikah


__ADS_3

Mereka berdua serasa jadi pasangan yang sedang kena razia, harus menikah dengan segera. Meski belum pernah mengalami bagaimana,,tapi kurang lebih begitulah kira-kira rasanya. Mendadak harus dinikahkan.


"Itulah syarat dariku jika kamu ingin aku menikahi kamu, Dit. Aku tidak ingin ada alasan apapun setelah kita menikah. Bukan sebab terpaksa, sandiwara, sementara, atau juga kontrak, seperti itu aku tidak suka. Aku tidak ingin sekedar dimanfaatkan. Jadi, menikah ya menikah, Dit. Bukan main-main," ujar Vario menambahkan. Judith terlihat gundah gulana di matanya.


"Sama sekali tidak boleh?" lirih Judith bertanya memandang Vario. Yang disambut dengan sebuah anggukan.


"Benar, kamu di rumah saja. Tapi aku juga tidak melarang jika kamu ingin ada kegiatan lain. Bekerja atau kamu bikin usaha yang kamu suka. Asal kamu tidak meninggalkan rumah dengan lama dan jauh," ucap Vario serius.


Dua syarat yang diberikan Vario jika Judith tetap ingin dinikahi olehnya. Yang pertama, Judith tidak perlu menjadi pramugari, yang mengharuskannya pergi jauh dan lama. Juga tidak perlu lagi menjalani profesi model, apapun alasannya.


Syarat yang kedua, Judith harus rela dan belajar untuk menjadi seorang istri yang sesungguhnya. Rela dengan nafkah yang diberikan Vario dari jerih payah kerjanya di bandara. Juga nafkah batin yang bisa jadi mereka saling menginginkannya kapan saja. On point, pernikahan mereka adalah sungguh-sungguh dan normal seperti pernikahan pada umumnya. Dengan saling menerima antara suami dan istri apa adanya.


"Maaf ya, Dit. Aku hanya ingin kita tidak merasa saling terpaksa dan tertekan. Kamu masih bisa menolak pernikahan ini. Aku sih terserah, tidak masalah. Jujur, dulu aku pernah beropsesi menikah dengan gadis yang bukan dari lingkungan bandara, apalagi model, Dit. Intinya bukan perempuan yang profesinya melenggok untuk umum. Maafkan aku ya, Dit," jelas Vario. Judith memandangnya segan dengan mata tak berkedip.


"Mas Rio membenciku? Maafkan aku, ya?" ucap Judith serba salah.


"Tidak. Aku tidak marah denganmu. Semua sudah terlanjur. Hanya lain kali, kamu jangan lagi asal bicara, Dit," sahut Vario dengan tegas pada Judith. Namun tidak bermaksud memarahi gadis itu.


"Sebenarnya, kenapa kamu enggan pulang ke Jakarta, Dit. Apa yang kamu hindari?" sambung Vario bertanya mendesak. Menatap Judith yang kemudian menunduk. Dan mendongak lagi menatap Vario.


"Sebenarnya masalahku ini entah berat entah tidak. Tapi aku sangat takut jika harus kembali ke Jakarta, Mas,," keluh Judith.


"Kenapa?" desak Vario kembali.


"Aku takut pada bekas pemilik agencyku yang dulu. Ya memang salahku, mau tanda tangan untuk kontrak modelku asal saja. Rupanya ketua agencyku minta imbalan. Dia menginginkanku. Berniat untuk meniduriku. Saat aku kenal dengan mas Syahdan. Aku nekat pergi ke sini. Pemilik agency, masih mengirimiku pesan di telegram. Aku telah meninggalkan kontrak sepihak. Ancaman dia itu tidak main-main. Aku takut pulang ke Jakarta." Judith menjelaskan yang sebenarnya. Wajahnya nampak lega.


"Serius juga itu, Dit," respon Vario. Sesaat wajah tampan itu menegang.


"Dit, aku ingin bertanya padamu. Kuharap kamu menjawab jujur dan tidak tersinggung," ucap Vario menyambung.


"Apa, mas Rio?" tanya Judith terheran menyimak.

__ADS_1


"Sorry ya, Dit. Tapi ini penting kutanyakan. Dan aku harus tahu."


"Judith, apa kamu masih virgin?" tanya Vario lirih, namun sampai dengan jelas di telinga Judith.


Wajah cantiknya sangat pias semu merah. Senyum tipis mengembang di bibir.


"Aku memang besar di Jakarta, mas. Teman cowokku juga banyak. Tapi, bukan berarti gaya hidupku jadi bebas. Asisten rumah mama nggak cuma satu dua, mereka cukup ketat mengawasiku. Bahkan seperti pengawal pribadi saja. Selain sebab diawasi, tapi akupun juga punya batasan sendiri dalam bergaul yang betul." terang Judith tersenyum. Wajahnya sedikit menunduk.


"Dit, jadi kamu masih tersegel,,,??" Vario bertanya lagi memastikan, meski rasanya segan dan kikuk.


"Ya, iyalah, mas Rio,,," terang Judith manyun.


"Sorry ya, Dit,," Vario tersenyum. Menutupi rahang wajahnya yang mengeras.


Mereka saling diam. Vario tidak lagi bertanya. Kekakuan di antara mereka terpecah oleh dering panggilan masuk di ponsel Judith yang nyaring.


Vario berdiri menuju belakang lobi, menyandarkan punggungnya sebentar. Ada teras dengan taman mungil di sana. Juga kolam renang super luas yang sepertinya sangat jernih dan bersih. Serta beberaba gazebo mewah bertebaran.


"Mas,,!!" seru perempuan yang adalah Judith.


"Papa. Kita disuruh cepat naik,,"


"Mas, kita menikah saja. Nikahi aku ya, mas. Maaf," ucap Judith nampak segan.


"Sudah bulat putusanmu? Kamu memilih mundur dari pramugari?" tanya Vario serius.


"Iya. Tidak masalah, mas Rio," jawab Judith dengan yakin.


"Kamu juga ninggalin modelling? Kamu nggak ada kontrak sama agency kan?" tanya Vario lagi. Judith menggeleng.


"Iya, nggak ada kontrak," Judith tersenyum.

__ADS_1


"Kamu nggak kembali ke Jakarta?" tanya Vario lagi.


"Ya, sementara tidak. Tapi entah kelak," jawab Judith dengan memandang Vario.


"Kamu rela meninggalkan semuanya demi menikah denganku?" desak Vario.


"Iya.. Eh,,aku,,aku,," Judith tergagap dengan jawaban dari pertanyaan Vario.


"Kamu siap menikah denganku untuk selamanya, Dit?" tanya Vario dengan memandang Judith dan mendekat.


"Iyyaa,," Judith menjawab gugup. Vario tersenyum.


"Baiklah. Aku akan menikahimu. Ayo kita menikah." Vario berkata sambil berjalan maju di depan.


Meninggalkan Judith yang tertegun di tempat. Merasa sangat tidak percaya. Hal yang sama sekali tidak pernah terfikir. Tiba-tiba menikah dalam hitungan jam saja. Sungguh ini tidak disangkanya!


🍃🍃🍃


Vario dan Judith kembali duduk di sofa berseberangan dengan pak Afandi, papanya Judith. Telah menyampaikan persetujuannya untuk menikahi Judith besok pagi. Calon ayah mertua dan ibu mertua nampak bahagia sekali.


Tidak menyangka juga, jika kepulangan mereka ke pulau Jawa kali ini sungguh sangat bermakna sekali. Mendadak jadi seorang ayah mertu serta ibu mertua yang diam-diam sudah mereka angankan dari dulu. Hanya saja dengan calon menantu yang berlainan, bukan calon menantu yang telah mereka aturkan sebelumnya.


Tapi mereka sudah merasa cocok sekali dengan calon mantu lelaki yang baru. Meski keluarga Vario jauh di Blitar, setidaknya ada adik perempuannya yang sudah sangat rekomendasi. Yaitu istrinya Syahdan, Ratria. Hal itu jugalah penyebab mereka menerima pilihan Judith dengan mudah. Bahkan ingin menikahkan mereka secepatnya.


Kini pak Afandi tengah sibuk menghubungi pak Adam, ayahnya Syahdan. Agar dibantu segala persiapan demi kelancaran pernikahan yang cukup sangat mendadak besok pagi. Pak Afandi siap mengeluarkan dana besar untuk melobi pihak-pihak yang terkait dengan pelaksanaan pernikahan. Sangat buru-buru, sebab kedua orang tua Judith harus segera kembali ke pulau Kalimantan.


"Dit, aku pulang dulu. Menyiapkan segala dokumen yang tadi dibilang papamu untuk acara kita besok. Istirahatlah. Assalamu'alaikum," pamit Vario pada Judith di pintu.


"Wa'alaikumsalam. Hati-hati. Maaf, mas Rio,,!" jawab Judith dengan sedikit keluar dari pintu.


Vario hanya mengangguk tak berkata. Memandang Judith sebentar dan kemudian berbalik. Berjalan cepat menuju lift yang akan mengantarnya turun ke lobi.

__ADS_1


Lelaki yang nampak tenang di luar itu sebenarnya sedang berserabut di kepala. Banyak keharusan penting yang harus dilakukan sedang menumpuk di dada. Diantaranya, menghubungi sang ayah di Sirah Kencong, juga kerabat penting dari pihak ayah yang menetap di Surabaya. Kakek dan nenek, Vario sudah tidak memiliki mereka satu pun. Sama hal dengan adik tirinya, Ratria.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃


__ADS_2