
Vario telah keluar dari kamar mandi dengan handuk terlilit di pinggang. Handuk Judith yang lembut itu terlalu mini di badan Vario yang lebar.
Judith tidak ada di kamar dan hanya baju miliknya saja yang nampak teronggok di ranjang. Segera dipakai bajunya dengan rapi dan cepat.
"Dit,,! Judith!" panggil Vario di luar kamar. Segera menuju balkon yang pintunya nampak membuka. Tapi Judith tidak ada juga di sana.
Ke mana Judith ..
Vario meletak pantat pinggulnya di sofa, menyambar remote televisi dan menyalakan. Hawa di ruang tivi jauh lebih hangat daripada hawa di dalam kamar Judith. AC kamar telah dinyalakan dengan sedang oleh pemiliknya.
Ceklerk!
Sedikit terkejut Vario. Bunyi pintu terbuka itu sangatlah mengejutkan. Dari pintu kamar yang tidak ditempati dan kosong. Dan ternyata Judith lah yang membuka pintu dan nampak keluar dari sana.
Judith sudah bertukar baju dan rambutnya sedang basah. Judith juga terkejut mendapati Vario tengah duduk di sofa dan mengamatinya.
"Kamu mandi di situ. Dit?" Vario memandang Judith dari tempat duduknya. Yang dibalas dengan anggukan dan senyum.
"Iya, mas. Aku merasa sesak dengan baju pengantin tadi. Nggak tahan lagi memakainya,," ucap Judith.
Baju pengantin Vario dan Judith di pesan dari butik langganan yang biasa dengan ukuran tubuhnya. Perancang di butik itu tidak menyangka jika Judith sudah berubah size dan ukuran, menjadi lebih padat di sana sini dari sebelumnya. Mereka sudah lama tidak saling bertemu. Hanya melalui panggilan telepon sajalah perbincangan baju pengantin itu disepakati.
Sehingga gaun pengantin model kebaya modern itu terasa sesak bagi Judith. Sebab waktu yang mendesak dan mepet saja Judith terpaksa tetap memakai. Tidak ada waktu lagi untuk menukar dan merevisi.
"Tadi kenapa kamu tidak minta duluan saja yang mandi?" tegur Vario dengan nada yang lembut.
"Takut...! Nanti mas Vario menyusul,,!." Judith tersenyum dan berbalik. Berjalan cepat menuju kamar dan meninggalkan Vario yang termangu memandangnya. Mungkin merasa konyol dengan ucapan Judith yang sengaja menggoda dirinya barusan.
Klik..! Klik..!
Judith tersenyum dan merasa aman sesaat. Vario sedang ingin membuka pintu yang tadi sempat dikuncinya.
Sebenarnya merasa cukup serba salah. Vario memang suami yang telah dipilihnya sendiri meski secara tak sengaja. Tapi tentu saja tidak biasa dan rasa malu tidak nyaman masih melekat di hatinya. Merasa perlu waktu menerima Vario untuk tinggal bersama di apartemen, bahkan tinggal di satu kamar berdua. Judith berusaha ikhlas namun tidak siap.
Segala baju dalaman telah lengkap terpasang di badan. Tadi lupa tidak dibawa sekalian ke kamar mandi di kamar sebelah. Alhasil Judith terpaksa memakainya ulang dan kini telah sukses ditukarnya.
__ADS_1
Ceklerk!
"Mass, tadi mau buka pintu? Sorry, aku menguncinya sebentar,," ucap Judith dengan segan. Vario menatap lekat wajahnya.
"Tidak apa-apa, Dit. Aku sangat paham perasaanmu. Kamu pasti merasa kurang nyamann, dan ini terlalu cepat dan mendadak bagimu. Tapi, kalo boleh tahu, kenapa dikunci? Kamu sedang apa?" tanya Vario. Perlahan melewati pintu dan kini berdiri begitu dekat pada Judith. Pintu telah bergerak menutup sendiri. Angin yang berhembus keluar dari AC itu cukup kuat.
Vario hanya mengajak sang istri untuk melakukan salat bagi pengantin baru berdua. Entah apa yang akan terjadi di antara mereka, yang jelas akan merasa lega dan aman setelah shalat sunah itu dilakukan. Itulah yang telah Vario bisikkan pada istri jelitanya. Dan Judith bersedia mengikuti dengan ekspresi yang nampak kikuk kembali.
🍃🍃🍃
Pasangan pengantin baru yang tenang dan tidak tergesa dalam berbulan madu itu, tengah melaju membelah jalan raya bersama mobil dinas. Vario ingin membawa Judith ke rumah kakak perempuan dari ayahnya, atau juga sang budhe. Orang yang begitu baik menampungnya selama ini di Surabaya. Dan telah tibalah mereka berdua di sana.
Rumah berlantai satu yang tidak kecil dan besar sederhana itu sedang terbuka lebar pintunya. Sang budhe tengah berdiri menghadang Judith dan Vario di sana.
"Assalamu'alaikum, budhe," sapa Vario pada perempuan berumur namun masih begitu enerjik dan sehat.
"Wa'alaikumsalam. Ya gitu, Rio. Istrinya dibawa pulang. Biar tahu dan paham dengan budhe kamu yang baik ini," ucap budhe dengan candanya. Mengambil tangan Judith dan membawanya masuk ke dalam.
Mereka sudah saling berkenalan. Budhe dan pakdhe Vario juga datang di acara nikahan Vario tadi pagi. Sebagai orang tua pengganti dari keluarga Vario di Sirah Kencong yang berhalangan untuk hadir. Dan budhe serta pakdhe telah mewanti-wanti Vario agar pulang membawa sang istri berkunjung.
"Ayo, Judith. Langsung makan dulu saja ya. Mudah-mudahan, kamu suka masakan budhe. Tadi begitu Vario telpon kalau kalian akan datang, budhe langsung masak yang enak-enak," sambut sang budhe yang bernama Utami dengan cerita semangatnya.
"Pakdhe mana, budhe?" tanya Vario. Pakdhenya yang seorang perawat di salah satu rumah sakit besar Surabaya, tidak juga muncul dari tadi.
"Pakdhemu terpaksa ndak bisa menyambut kalian. Maaf lho ya, Judith. Pakdhemu ada piket malam di rumah sakit. Jadi kebetulan sekali, malam ini kalian menginap saja di sini. Vario, ajak istrimu nginep semalam saja. Biar budhe tidak sendirian. Pakdhemu pun pulangnya juga agak siang. Bukan pagi-pagi pulang,," cerita budhe mengandung nada keluhan.
Judith terus tersenyum mendengarkan. Logat budhe Utami yang khas Surabaya totok medok itu terdengar lucu dan kocak. Tapi Vario menganggap biasa dan tentu saja tidak lucu. Sebab sudah terbiasa mendengarkan sang budhe berbicara.
"Dit, bagaimana? Apa kamu ingin menginap di sini?" tanya Vario pada Judith. Di depannya sudah ada piring yang menggunung dengan nasi dan lauk. Budhe utami telah mengambilkan makan untuknya.
"Iya, mas Rio. Aku ingin nginep di sini semalam." Judith menjawab dengan yakin. Sepertinya merasa suka dengan keramahan tuan rumah. Dan budhe utami juga telah mengambilkan makan segunung di piringnya.
"Wes makan dulu. Dihabiskan, biar kenyang. Itu sayap ayam gorengnya di habiskan lho, Dit. Kamu suka sayap kan?" tanya budhe dengan logat medok Surabayanya.
"Atau budhe suapi? Nggak pernah lho budhe nyuapi anak perempuan. Kalau sama Vario sudah tidak bisa dihitung lagi. Sudah besar pun, dia mangap saja kalo budhe kasih makan," ucap budhe dengan blak-blakan terbuka. Tidak peduli dengan perasaan Vario yang seperti runtuh harga diri di depan istrinya.
__ADS_1
"Sini, budhe suapi," budhe Utami berniat mengambil piring Judith. Namun ditahan pemiliknya.
Vario mengamati dengan terus tersenyum. Namun tidak ingin menimpali dengan perkataan apapun. Hanya merasa senang dengan raut wajah Judith yang nampak cerah dan gembira. Sangat lega dengan wajah cantik yang nampak terus saja tersenyum. Merasa tidak sia-sia telah merayu Judith untuk mau dibawa berkunjung ke rumah budhe dan pakdhenya malam ini.
"Enggak usah, budhe. Aku sudah besar. Terimakasih,," Judith menolak lembut dengan senyum meronanya. Merasa malu dan segan jika sampai disuapi. Sedang Vario terus saja memperhatikan.
"Ya sudah kalau ndak mau. Ayo cepat dimakan. Sayap ayamnya masih banyak di kulkas, Dit. Kalau kurang, budhe gorengkan lagi." ucap budhe Utami, mengusap pundak Judith dengan lembut. Kemudian berdiri dan berjalan pergi ke belakang. Budhe utami tidak ingin ikut makan, katanya masih kenyang.
Judith merasa haru diperlakukan sangat hangat oleh budhenya Vario. Selama ini merasa kurang kasih sayang dari sang mama. Kedua orang tua begitu sibuk berbisnis di tempat yang jauh. Seperti lupa jika ada anak gadis yang seringkali menangis karena rasa rindu dan sepi.
🍃
Kamar suaminya cukup luas, meski lebih luas dari kamar Judith di apartemen. Tidak tahu bagaimana menggambarkan apa yang sedang dirasainya, yang jelas wajah itu selalu saja berbinar.
"Mas, ini kamar kamu saat masih sekolah?" tanya Judith tersenyum. Ada beberapa pigura berisi foto-foto tampan tanpa senyum.
"Iya, Dit. Kenapa?" jawab Vario. Sedang melepas jam tangan dan meletaknya di meja.
"Kamu ini kalau difoto takut sekali. Nggak pernah ada senyum. Tidak menarik sama sekali," koment Judith.
"Senyum sama siapa? Kameramen? Dia itu lelaki," sahut Vario. Sedang duduk di pembaringan sambil mengamati istrinya.
"Jadi, pas disuapi sama budhe Utami, kamu tersenyum nggak mas?" tanya Judith bermaksud mengejek.
Tidak menyadari jika Vario sudah berdiri dan sedang sengaja mendekat.
"Sudah, jangan menjebak. Yang jelas, aku merasa beruntung, Dit. Meski jauh dari orang tua, aku tidak memiliki ibu, tapi ada budhe dan pakdhe yang tulus sayang padaku." Terang Vario.
Judith tidak lagi mampu berkata-kata. Vario telah memeluknya dari belakang tiba-tiba. Rasanya sangat susah bernafas. Merasa sangat hangat dengan dada yang riuh berdebar. Vario begitu rapat memeluk tubuhnya.
"Sudah lihat-lihatnya. Sudah malam. Tidak capek apa, ngobrol terus... Tadi kan sudah ngobrol lama dan panjang sama bude Utami. Masih kurang?" bisik Vario di atas kepalanya.
Judith merasa kian susah saja bernafas. Mendapat perlakuan oleh Vario semesra itu, adalah pertama kali dialaminya dalam hidup. Judith merasa seperti sedang mengawang menuju antariksa. Sangat bahagia!
🍃🍃🍃🍃
__ADS_1
Put ur Vote here, please.. 😘