Telah Dikawin Gantung

Telah Dikawin Gantung
31. Dipecat


__ADS_3

Mobil yang terparkir di depan pagar, ternyata dibawa oleh asistennya Syahdan, pak Andi. Berkata akan menuju pabrik dengan singgah sebentar di rumah dinas dan menunggu Ratria pulang dari kerja.


"Ada apa ya pak Andi,?" tanya Ratria. Telah duduk di samping pak Andi tanpa singgah dulu di kamar.


Meski sangat kesal dengan boss lelaki itu, tapi tetap bicara dengan nada yang sopan. Sadar jika pak Andi hanyalah pegawai suruhan Syahdan. Lagipula pak Andi sudah berumur cukup tua. Tidak sopan jika berkata ketus pada orang setua bapak Andi.


"Aku cuma mengantar ini untukmu, Ratria. Simpanlah dengan baik. Bapak harap kamu bersabarlah," ucap pak Andi sambil mengulur sebuah map.


Ratria buru-buru meraih, segera membuka sampul map dan memeriksa isinya. Beberapa lembaran surat-surat penting yang di antaranya ada lembaran KK asli serta KTP terbarunya.


KTP dengan status bahwa dirinya sudah KAWIN. Juga lembaran KK yang menuliskan dua nama anggota keluarga di sana. Nama Ratria Asma Amoro di angka nomor dua, berada di bawah nama Syahdan Gemilang Achmad sebagai nomor satu.


Meski sempat menduga, tapi sangat sesak mendapati kenyataan seperti itu. Bukti nyata yang muncul tentang status resmi dirinya.


Kepala Ratria sedang berputar hebat tiba-tiba. Bayang pemecatan dari HRD Telkom telah mengganjal di dadanya. Ratria begitu kesal menghadapi kenyataan.


"Ada apa, Rat,?" tanya mbak Lusi memandang Ratria khawatir. Wajah jelita asuhannya itu nampak termenung dan pucat.


"Sepertinya aku akan dipecat, mbak," Ratria menjawab dengan pandangan kosong tanpa menoleh pada mbak Lusi.


"Memangnya kenapa, Rat,?" nampaknya mbak Lusi terkejut.


"Atasanku minta KTP, sedang pegawai magang dilarang berubah status selama magang. Setidaknya enam bulan. Tapi di KTP dan KK baru ini aku sudah kawin, mbak," keluh Ratria tanpa semangat.


"Aduh, masak begitu, Rat. Baru kemarin kamu bilang seneng banget mau gajian. Kok tiba-tiba ngomongin dipecat. Mudah-mudahan enggak lah, Rat."


Bujuk mbak Lusi merasa iba dan serba salah. Sangat paham dengan keresahan Ratria. Bagaimanapun dirinya sangat tahu perasaan bahagia gadis itu saat diterima kerja di Telkom waktu itu.


"Jika tempat kerjamu tidak terima dengan status kamu, kerja saja di pabrik, Rat. Bukan jadi buruh. Tapi sebagai wakil pak Syahdan. Kamu hanya perlu tanda tangan saja tiap hari, Ratria," ujar pak Andi sungguh-sungguh.


Kepala Ratria bertambah sakit mendengarnya. Dirinya yang buta akan kepemimpinan,,, diminta tanda tangan,,, memang pabrik teh tua itu akan dibawanya ke jurang kehancuran??!! Dan....Ratria tidak minat!!


"Pak Andi, terimakasih tawaranmu, tapi aku sangat lelah. Aku akan ke kamar dulu. Keburu maghrib," pamit Ratria dan langsung berdiri.


Melewati mbak Lusi tanpa menolehkan kepala lagi. Mungkin gadis itu akan menumpahkan kekesalan di kamar dengan isakan tangisnya.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


Tiga hari kemudian...


Lelaki tegap atletis dengan wajah tampan maksimal, sedang menghentikan mobil sport gunung di depan pagar sebuah rumah dinas yang cantik minimalis dan modern. Menutup pintu mobil dengan tergesa dan berjalan melewati pagar yang terbuka. Salah satu tuan rumah yang dicari sedang menyirami bunga dan tanaman.


"Assalamu'alaikum,,!!" seru tamu pada wanita penyiram bunga berkerudung.


"Wa'alaikumsalam,,!!!" sahut wanita itu dengan menolehkan kepalanya kemudian.


"Eh, pak Syahdan,,??!!" seru mbak Lusi terkejut. Merasa heran sebab Syahdan datang sendirian dan juga tanpa mengabari.


"Mbak Lusi, Ratria sudah pulang? Apa dia di dalam rumah?" tanya Syahdan bertubi.


"Ratria di rumah ibunya sejak kemarin, pak Syahdan," jawab mbak Lusi. Wanita itu mematikan kran di selang air.


"Apa dia telah benar-benar tidak bekerja,?" Syahdan mengikuti mbak Lusi ke teras.


"Iya, pak Syahdan. Ratria telah diberhentikan kerja. Dia nampak sedih, dan semalam izin untuk menginap di rumah ibunya," jelas mbak Lusi nampak muram.


"Baiklah, akan kujumpai dia di rumah ibunya," putus Syahdan sambil berdiri cepat dan berbalik melangkah.


Syahdan telah diberitahu pak Andi mengenai pemecatan Ratria. Dirinya merasa bersalah. Ingin menjemput gadis itu untuk diajaknya ke Surabaya. Pilihan kerja di kota itu sangatlah melimpah dan beragam. Mulai dari swasta atau juga BUMN.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


"Jadi kak Ratria tidak di sini, dek?" tanya Syahdan pada anak lelaki kecil. Dan Syahdan tahu jika itu adik Ratria lain ayah.


"Semalam datang. Tapi pagi tadi berangkat kerja dan belum datang lagi," terang anak itu.


"Baiklah, besok pagi-pagi aku akan datang lagi. Pesan untuk kakak kamu itu, Syahdan mencarinya. Juga salam buat ayah dan ibumu," pamit Syahdan.


"Iya. Terimakasih." Adik Ratria mengucapkan terimakasih sambil menerima uang dua lembar merah serta sebuah amplop untuk sang ibu dari tangan Syahdan.


Syahdan bergegas menghampiri mobil dan berputar balik menuju vila dan pabrik. Lelaki itu baru datang dari Surabaya dan langsung menghampiri rumah Ratria. Dan yang dituju entah ke mana rimbanya.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Tiga hari kemudian...

__ADS_1


Syahdan sedang di rumah Ratria dan habis berbincang dengan mbak Lusi. Merasa lega dengan kabar yang baru saja di terima oleh wanita itu dari Ratria.


"Mbak, aku ingin menumpang istirahat di kamar Ratria sebentar. Aku akan berangkat ke Surabaya dari sini," izin Syahdan pada mbak Lusi.


"Silahkan, pak. Tapi tolong jangan meninggalkan jejak apapun. Dia akan bersikap keras jika merasa tidak suka," ucap mbak Lusi dengan segan.


"Aku paham, mbak," sahut Syahdan sambil menuju kamar yang baru dituding mbak Lusi.


Kamar Ratria sangat bersih dan rapi. Dinding berwarna cat pink keunguan. Masih ada buku-buku yang berjajar rapi di meja belajar. Sebuah almari besar yang sepertinya terkunci.


Perhatian Syahdan tersangkut pada sebuah buku yang menyembul dari bawah bantal di ranjang. Diambil dengan mendudukkan dirinya di atas tempat tidur.


Sebuah buku alumni kelulusan dari kampus Ratria di Malang. Berisi foto-foto dan nama-nama, khusus dari fakultas dan jurusan yang dipilih Ratria beserta seluruh dosennya.


Syahdan membuka sekilas dan akan ditutupnya kembali. Namun tertarik dengan dua lipatan rapi yang sempat dilihatnya sekilas.


Syahdan menemukan sebuah foto lelaki muda dan tampan yang dilingkari dengan tambahan tulisan tangan di bawah nama Guntur Gumilang. Nama yang mirip miliknya, Syahdan Gemilang. Nampak senyum geli di bibir seksi Syahdan yang merah. Dan tulisan tangan itu dibacanya..


Playboy,,!! ha,,ha,,ha..!


Kali ini Syahdan tersenyum melebar. Mungkin itu adalah cowok playboy yang sempat disukai Ratria.


Beralih pada lipatan kedua, lingkaran pada foto dosen lelaki yang dewasa, berkharisma dan tampan. Ada tulisan tangan juga di bawah nama Jati Hutomobowo.


Missing u, pak dosen!❤.


Kali ini Syahdan menarik bibir merapat perlahan. Meski masih ada sisa senyum di bibirnya.


Buku itu segera ditutup kembali dan diletak semula di tempatnya. Bergegas keluar kamar untuk segera bertolak menuju kota Surabaya malam ini juga. Tidak berniat lagi untuk istirahat di kamar ungu itu.


Mulanya Syahdan berencana hanya satu malam saja stay di pabrik. Selain berniat menjemput Ratria, juga untuk membereskan urusan pabrik bersama pengacara Haris dan pak Andi.


Namun tanpa dijangka, keberadaannya di Sirah Kencong telah melebar hingga tiga malam lamanya. Sebab menunggu Ratria yang belum pulang dan tidak juga ada kabar.


Dan akhirnya Syahdan kembali ke Surabaya setelah mendapat kabar dari mbak Lusi, jika Ratria sudah ada di kota yang sama. Gadis itu mengatakan jika dirinya sedang menyusul Vario di Surabaya.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


__ADS_2