
Pesawat masih terus berguncang dan bergetar untuk belasan menit lamanya. Guncangan pesawat atau dengan istilah turbulensi pesawat yang sebenarnya sangat wajar dan sering terjadi dalam sebuah penerbangan, tetap saja memberi efek was-was dan siaga pada siapa saja penumpang dalam pesawat. Termasuk juga seluruh awak pesawat yang sedang bertugas.
"Turbulensi apa ini, mas? Lama sekali,," tanya Judith. Tetap memegang tangan Vario erat-erat.
" Jika lebih lama seperti ini, biasanya sebab ketinggian pesawat, Dit. Kita tunggu dulu informasi dari pak Johan," jawab Rio dengan tenang. Berharap menyalurkan hawa aman juga pada empat rekan awak kabin yang lain yang sedang bersama dalam kabin rahasia, terutama bagi Judith.
Vario meluruskan badan agar berdiri lebih tegak lagi. sambil memandang alat informasi dan komunikasi yang belum juga berbunyi. Namun sangat yakin jika pak Johan pasti akan menyampaikan informasi sebentar lagi di sana.
Triiiiiiiiiingg,,,,!
Bunyi dering di alat komunikasi atau interphone system pesawat, pertanda akan ada penyampaian informasi penting dari sang pilot. Bisa disampaikan langsung sendiri oleh sang pilot atau juga melalaui perantara co-pilotnya.
Semua awak kabin bersiap mendengarkan informasi penting dari intercom mereka.
"Assalamu'alaikum, bismillah... Saya co-pilot Fahri.. Pada seluruh rekan awak pesawat di Boeing satu satu tujuh tujuh maskapai xxxxxx. Kita sedang terbang di ketinggian dua belas ribu meter di atas permukaan laut. Sedang mendapat thermal turbulence pada pesawat kita. Akan berlangsung beberapa jam ke depan. Harap tenang, berdoa dan melakukan tugas dengan baik. Wassalamu'alaikun,,,!!"
Informasi sangat berharga itu berakhir bersama datangnya dua pramugari ke dalam emergency hatch. Mereka berdua baru kembali dari tugas meronda di kabin penumpang dan ingin berrotasi tugas dengan awak kabin berikutnya. Dan Variolah yang kembali mendapat tugas itu.
__ADS_1
"Dit, kamu tenang saja sambil nunggu giliran kamu berjaga. Lepas tanganku, Dit. Guncangan ini hanya turbulensi panas saja. Kita sudah biasa dengan guncangan ini," ucap Vario bersiap. Menyeimbangkan diri sebab guncangan pesawat masih juga terjadi.
Judith buru-buru melepas tangan Vario dan membuang muka malu. Pergelangan tangan Vario hingga berubah kemerahan sebab erat dicengkeramnya. Merasa diri begitu lebay, padahal sebenarnya bukan hal baru lagi merasakan guncangan di penerbangan. Tapi kali ini guncangan pesawat memang terasa lebih keras dan lama.
"Penumpang di bawah, aman-aman saja kan, Mir?" tanya Vario. Merapikan diri sebantar di sebuah cermin besar. Mira, pramugari dari maskapai berdiri dekat di sampingnya berkaca. Memandang takjub Vario dan melirik Judith tidak suka.
"Aman-aman saja, mas. Mereka duduk manis di kursi masing-masing. Nggak butuh pegangan tangan," ucap Mira terdengar sinis dan menyindir. Kembali melirik Judith dengan tajam.
Yang dilirik bergegas melepas seat belt dan turun dari ranjang dengan cepat. Judith keluar dari emergency hatch mendahului Vario dengan diam. Bukan sekali dua kali dirinya mendapat berbagai sindiran atau perlakuan kurang baik dari rekan awak kabin dari maskapai. Dan Judith merasa tidak berguna untuk menanggapi. Memilih menghindar dan abai.
🍃
"Dit, kenapa kamu di sini?" tanya Vario berbisik. Tidak ingin terlalu banyak penumpang yang mendengar.
"Iya, mas. Sumpek. Mira tuh suka banget menyindirku. Dengan pak Johan, dengan kamu.. Padahal aku kan nggak berniat jelek," keluh Judith berbisik. Dengan mata memperhatikan wajah para penumpang yang juga sedang mamandang dirinya dengan ekspresi takjub, tegang dan takut. Pesawat masih terus mengalami turbulensi.
"Tapi jika kamu turun sekarang, kamu akan kecapekan. Kamu akan dobel tugas. Habis aku, tugas kamu berjaga, Dit. Acuhkan saja Mira itu, pergilah ke atas saja. Istirahatlah," bisik Vario agak kesal.
__ADS_1
"Privasi yang di atas, awak pesawat cowok lagi pada rebah juga di sana. Ogah banget,," ucap Judith malas.
Kembali berjalan hilir mudik mengabaikan Vario bersama seorang pramugari maskapai yang tengah sibuk memeriksa rekapan order makanan.
Judith nampak menikmati tugas relanya hingga satu jam berlalu. Dengan cara jalan yang terkadang anggun, terkadang sempoyongan dan juga tersandung beberapa kali.
Judith standby sambung di kabin penumpang untuk satu jam ke depan pada jam tugas miliknya. Dan merasa heran saat melihat Vario tetap standby di kabin pesawat bersamanya.
"Mas, kamu nggak mundur?" tanya Judith berbisik.
"Bayar hutang," sahut Vario pendek dan lirih.
"Hutang pada siapa ?" tanya Judith tidak paham.
"Sama kamu. Memangnya aku tidak merasa bersalah jika mundur sekarang dan tidak menemani kamu?" sahut Vario tersenyum dengan tulus.
"Terimakasih, mas," ucap Judith singkat.
__ADS_1
Berbalik dan meninggalkan Vario di kabin. Judith berjalan cepat menuju dapur pesawat dengan wajah berseri dan senyum. Sesekali berhenti untuk berpegangan sebab pesawat kembali terguncang lebih keras. Dan kembali berjalan saat pesawat agak terasa bertenang. Ada beberapa penumpang lelaki yang sedang memesan kopi botol padanya dan menunggu.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃