Telah Dikawin Gantung

Telah Dikawin Gantung
55. Bye...


__ADS_3

Lelaki tampan dengan rambut hitam basah, sedang resah menonton televisi sendirian tanpa teman. Malam telah hampir dini hari namun matanya masih saja memicing dengan sangat tidak tahu diri. Mata yang seperti tengah membangkang pada kelelahan raga dan jiwa sang tuan itu masih demikian siaga terbuka.


Merasa serba salah dengan gadis dalam kamar. Panggilan dan ketukannya di pintu kamar tidak mendapat respon sekali pun. Niatnya untuk mengajak berbincang dengan secangkir susu hangat tidak mendapat apapun sambutan.


Hiingga berpindah dengan lelah kembali masuk ke dalam kamar dan merebah di atas tempat tidurnya yang empuk dan lebar. Memandangi set baju tidur dan baju dalamm yang teronggok di bantal samping dengan rasa yang galau. Kenikmatan bahagia yang sempat dirasakan beberapa jam yang lalu, kini berganti dengan sejuta rasa tak menentu. Antara bahagia, lega, bangga, sesal, penasaran, atau bahkan takut sedang silih berganti di kepala dan dadanya.


Beberapa jam yang lalu...


Erang nikmat dan desah pasrah yang menggoda hasrat kian kalap membara, terhenti tiba-tiba bersama nyala lampu yang terang benderang di kamar Syahdan. Manekin hidup yang indah menakjubkan tanpa sehelai benang pun sedang terlihat membelalak shock dan malu di bawah tubuhnya.


Yang tak disangka langsung memberi respon terbalik dari sikap pasrahnya barusan. Syahdan yang sedang menguasai engah panas nafasnya, dan berada rapat di atas tubuh Ratria, seketika mendapat tolakan tangan dan tendangan yang kuat. Syahdan yang tidak siap dengan reaksi sadis sang istri itu terjengkang terlentang di sampingnya.


Ratria dengan cepat menarik selimut dan menutupi tubuh berlekuk indahnya yang polos. Memandang lelaki tampan yang juga tanpa baju, namun masih sempat memandang takjub Ratria meski baru saja kena tendang sangat kuat.


"Pak Syahdan, maaf. Kamu tidak apa-apa kan? Aku hanya mendorong dada dan menendang kakimu saja, bukan yang lain kan?!" tanya Ratria dengan rasa bersalah. Namun merasa lega dengan reaksi Syahdan yang tidak nampak kesakitan dan.... Dan dengan meriam besarnya yang masih nampak siaga dan tegak. Ratria merasa sangat malu melihatnya.


"Ratria, apa kamu marah? Maafkan aku, Rat," ucap Syahdan sambil duduk dan tidak mempedulikan keadaan dirinya yang polos. Gadis cantik berbalut selimut dan nampak lebih menggoda itu menggeleng.


"Tidak, tidak masalah pak Syahdan. Maaf, aku hanya tidak siap. Lebih baik aku kembali ke kamarku saja sekarang," ucap Ratria dengan wajah merah padam. Dan berbalik cepat menuju pintu kamar dan keluar.


"Ratria,,!!" panggil Syahdan yang tentu saja terlambat. Dan merasa akan jadi lelaki yang lebih sadis lagi jiga berlari mengejar gadis itu di luar. Terpaksa dibiarkan saja meski rasanya tidak rela.


Syahdan dengan cepat menelungkup di ranjang dengan senyuman yang mesum. Namun membalikkan diri dengan cepat dan terlentang bersama ringisan sakit di wajahnya yang tegang. Memegangi meriam besarnya yang serasa patah sebab terjepit dirinya sendiri barusan. Merutuki kelalaian sendiri yang mendadak keterlaluan. Dengan senyum gembira yang nampak melekat di wajah kusutnya yang tampan.


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


Pukul empat pagi sebelum adzan subuh, Syahdan telah rapi dengan kemeja dan tas kerja yang ditenteng. Berdiri dari duduk di teras saat nampak sopir Arka telah datang. Syahdan bergegas menuju mobilnya digarasi. Dan sang sopir pun terburu masuk mengikuti.

__ADS_1


"Pagi sekali berangkatnya, pak?" tanya Arka penasaran.


"Kamu terganggu? Masih tidur?" Syahdan justru bertanya. Arka cepat-cepat menggeleng.


"Tidak, pak," sahut Arka kemudian.


"Direktur utama, CEO ku akan datang dari Singapura. Aku tidak ingin ditemukan kesalahan fatal pada cabang yang kupegang. Meski tua, dia itu teliti sekali,Ar," jelas Syahdan yang diam-diam sedang tertekan dengan pekerjaannya. Arka nampak manggut-manggut.


"Maaf, pak. Kenapa bapak tidak memimpin langsung perusahaan teh dari kakek anda di Blitar? Kan lebih nyaman dan semangat saat memeras otak untuk usaha milik pribadi, pak.," ucap Arka hati-hati. Syahdan memandang Arka lekat-lekat.


"Memang benar Arka. Tapi jiwa kerjaku sudah terbiasa di bandara. Sebenarnya agak nervous jika aku sendiri yang memegang pabrik kakekku. Aku khawatir jika pabrik yang dicintai kakekku itu justru jadi mundur di tanganku." keluh terbuka Syahdan pada sopir setianya.


"Sekarang sudah jadi milik anda, pak. Anda harus mencintai pabrik itu, maka anda akan mudah memegangnya. Bukankah istri anda orang sana? Andai saja pak Syahdan sudah mencintai mbak Ratria, pasti anda akan lebih memilih tinggal di pabrik daripada tinggal dan bekerja di manapun." Ulas Arka kembali dengan sangat hati-hati.


Nama Ratria yang baru saja disebut Arka, membuat Syahdan nampak gelisah dan resah.


"Iya, pak Syahdan. Terimakasih," sahut Arka di sampingnya.


Syahdan bersiap turun saat Arka membelok di jalan menuju bangunan bandara, khusus jalan untuk kendaraan milik para pegawai yang akan bertugas. Bersamaan dengan kumandang adzan subuh dari arah masjid di dalam area bandar udara Juanda, Sidoarjo.


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


Entah pukul berapa akhirnya tertidur. Yang jelas pagi ini terbangun lambat saat jarum pendek menunjuk angka lima dan jarum panjang di angka tujuh pagi.


Menyadari jika Syahdan telah pergi bekerja, ada rasa kecewa di benaknya . Meski salah sendiri jika semalam abai pada tiap panggilan dari lelaki itu di pintu kamarnya. Sebab sangat malu dan merasa begitu mudah berpasrah diri pada segala cumbuan Syahdan padanya semalam.


Tapi tak munafik, jika sentuhan Syahdan semalam terasa memabukkan. Meski segalanya gagal sebab lampu yang menyala benderang tiba-tiba.

__ADS_1


Baju yang tertinggal di kamar Syahdan ternyata sudah dicuci dan sedang dijemur di belakang. Sudah diambilnya dan dikemas untuk dibawa pulang pagi ini. Rasanya cukup mengharukan.


Bi Tina tidak datang juga pagi ini. Mungkin akan datang siang nanti.


Pintu kamar tidak dikunci, ada rasa berat dan sedih saat menutup dan melepas menjauhinya. Melangkahkan kaki dengan cepat demi menghempas pedih dan ragu atas perginya pagi ini.


Cukup terkejut saat melihat sopir Arka sedang rebah santai di salah satu bangku teras. Dan Arka juga menolehnya saat menutup kembali pintu rumah.


"Mbak Ratria, sudah mau berangkat?" tanya Arka dan segera duduk bangun.


"Iya, mas Arka. Ini mau ke Bungur,," Ratria tersenyum sambil melepas anak kunci dari pintu. Dan meletak di meja depan Arka.


"Mas, itu kunci yang kamu kasih padaku hari itu. Tolong kasih kembali ke pak Syahdan, ya." Ratria berpesan pada Arka dengan senyuman dan menyembunyikan rasa sedihnya.


"Iya mbak, tapi,,,"


"Terimakasih, mas. Aku pergi. Assalamu'alaikum," Ratria berjalan cepat menuju pagar. Tapi bag besar berisi baju yang dipegang, disambar orang dan ternyata Arka lah pelakunya.


"Mbak, ayo aku antar. Biar lebih gampang. Sambil sarapan saja di mobil, yaa. Ada nasimu di dalam. Akan kubawa mobil dengan pelan." Arka sambil berjalan menuju garasi buru-buru. Memasukkan bag besar Ratria ke dalam bagasi dengan cepat.


Ratria yang sempat bimbang pada ucapan Arka, hanya diam mengikuti. Diantar menuju terminal besar Bungurasih Surabaya, tentu saja akan lebih memudahkan perjalanannya. Ratria bergegas menyusul Arka masuk mobil dengan lebih bersemangat dan terhibur.


Namun merasa tetap sedih saat mengucap dalam hati 'bye,,, bye pak Syahdan...'


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱

__ADS_1


🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿


__ADS_2