Telah Dikawin Gantung

Telah Dikawin Gantung
56. Pulang


__ADS_3

Nasi kotak yang Arka kata adalah pembelian Syahdan, belum juga habis saat mobil hampir melintasi jalan menuju jalur ke terminal. Ratria buru-buru berkemas dan menutupnya dengan rapat. Namun terheran kala Arka terus membawa mobil berjalan lurus dan tidak membelok di jalur menuju dalam terminal.


"Mas, jalan masuk ke terminal Bungur, yang terlewat tadi kan,,?!" seru Ratria merasa was-was sebab terlewat.


"Iya, mbak. Betul,,!" seru Arka menjawab heran Ratria.


"Lhoh, lalu kenapa nggak belok, mas? Lupa,,?!" tanya Ratria semakin tak paham.


"Siapa yang akan ke terminal, mbak? Pak Syahdan nyuruh ngantarnya kamu sampek rumah. Bukan terminal situ, mbak," terang Arka tersenyum. Dan fokus pada laju mobilnya.


"Apa,,? Mas Arka akan mengantar aku hingga ke Blitar,,?!" seru Ratria tak percaya. Ada binar cerah di wajah dan matanya seketika.


"Iya,mbak. Betul," sahut Arka menegaskan.


Arka tersenyum menoleh Ratria sebentar. Merasa heran pada boss Syahdan. Bagaimana rela membiarkan sang istri yang cantik jelita pulang sendiri ke Blitar. Ah, andai saja dirinya yang dijodohkan dengan perempuan sesempurna Ratria. Akan dikawal rapat olehnya ke manapun!


🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Kota besar Macau...


Briefing oleh seluruh awak pesawat yang terlibat dalam penerbangan ke Macau dan diketuai oleh kapten pesawat, pilot Johan, baru saja usai pagi ini. Ini adalah hari terakhir maskapai mereka disewa oleh sebuah Group Tour besar di Macau. Sebelum besok malam pesawat membawa mereka kembali dan pulang ke daratan Indonesia.


Vario sedang membawa baki berisi makanan penuh gizi pilihan menuju kursi dan meja. Langkahnya sedikit melambat saat terlihat Judith nampak bingung dan mondar-mandir saja di depan outlet makanan yang beragam. Bergegas dihampirinya gadis itu.


"Hei, Dit. Kamu kenapa, nyari apa,,?!" tanya Vario dari luar outlet. Judith menoleh dan manyun pada Vario.


"Mas, ayam sayap kesukaanku habis,," keluh Judith sangat kecewa pada Vario.


"Coba minta sama pelayan yang jaga di situ, Dit. Siapa tahu belum dikeluarkan!" saran Vario dengan menyimpan senyumnya.


Judith justru semakin nampak manyun.

__ADS_1


"Aku sudah tanya. Tapi dia nggak ngerti ucapanku. Dia nggak paham bahasa inggris kayaknya. Terus pakai bahasa betawi dan itali juga nggak nyambung," protes Judith.


"Memang, penduduk di sini hampir tidak ingin menguasai bahasa lain. Apalagi bahasa betawi kamu, Dit,," Vario benar-benar tersenyum kali ini.


Vario melambai pada lelaki Macau yang berdiri tegak di depan outlet rumah makan itu. Menanyakan ayam goreng bagian sayap seperti yang sedang diinginkan Judith dalam bahasa mandarin Macau. Dan lelaki itu nampak mengangguk memahami serta berbicara pada Vario dengan wajah yang serius.


"Sudah, Dit,,, ayam goreng sayap kamu masih digoreng. Kamu bisa menunggu dan mengambilnya sebentar lagi jika masih ingin," terang Vario dengan pelan. Judith nampak tersenyum senang melihat usaha Vario demi mendapatkan lauk dengan bagian sayap yang digemarinya.


"Tapi lama, mas. Masak masih digoreng?" gerutu Judith. Berjalan pergi mengikuti Vario yang sudah maju meninggalkan dirinya di outlet.


"Padahal piring kamu sudah ada daging sama bola-bola ikan, Dit. Masih kurang,,?" tanya Vario tersenyum. Nasi di piring Judith memang sangat sedikit. Mungkin hanya lima sendok lebih sedikit. Tapi sayur dan lauk itulah yang membukit. Selera makan Judith benar-benar sudah bangkit.


"Tapi kurang aman tanpa sayap goreng." Judith menjawab sambil melirik baki makan milik Rio. Ada paha ayam serta sotong tepung di sana. Tiba-tiba Judith sangat ingin sotong goreng crispy di baki milik Rio.


"Mas, aku tukar sotong kamu sama bola-bola ikan punyaku, ya,," Judith izin pada Vario sambil menukarnya dengan cepat. Sotong dan bola ikan itu telah saling berpindah baki dengan sukses. Vario hanya mengangkat alis dan tidak tersenyum.


"Nakal kamu ini ya, Dit,," tegur Vario pada kelancangan Judith padanya. Wajahnya nampak serius.


Tangannya bergerak akan menyendok tepung sotong untuk dikembalikan ke tempat semula. Namun terhenti oleh sentilan kecil Vario di jarinya. Lelaki tampan itu sedang tersenyum samar padanya.


"Kenapa,,?" tanya Judith nampak bingung.


"Apa pak Syahdan sangat memanjakan kamu?" tanya Vario menyelidik dan masih tersenyum. Judith mengangguk dan langsung paham maksud tanyanya.


"Iya. Aku memang manja dengannya. Dia nurut saja dengan semua kelakuanku padanya. Mas Syahdan tidak pernah marah padaku," Judith kembali nampak sedih.


"Tapi aku tidak pernah mengambil makanan miliknya. Tapi lagi,, justru punyaku yang sering kuletak di piring dia," sambung Judith.


"Sebab kamu belum doyan makan, Dit,,?" tebak Vario. Dan Judith langsung mengangguk gembira.


"Aku juga tidak marah, Dit. Cuma ngetes kamu. Kamu ini ternyata usil, ya. Kamu anak nomor berapa?" tanya Vario. Merasa tertarik dengan latar belakang Judith yang manja.

__ADS_1


"Aku nggak ada saudara. Tapi aku kurang kasih sayang. Orang tuaku suka pergi jauh dan lama kembali," jelas Judith terdengar menyedihkan.


"Jadi kamu anak tunggal, Dit... Lalu?" kejar Vario menyimak sambil mulai menyendok makanan. Judith kembali mengangguk.


"Aku di rumah dengan para asisten rumahku. Dan mereka seperti juga bodyguardku. Aku bosan,,, dan kemudian ketemu sama mas Syahdan. Akhirnya aku pergi ke sini. Orang tuaku adalah teman bisnis orang tua mas Syahdan. Aku dipasrahkan keluarga pada mas Syahdan. Jadi aku merasa aman di sini. Tapi,,,aku sangat kecewa, aku sangat sakit sebab pernikahannya dengan adikmu, mas Rio," terang Judith dengan sedih.


Wajah cantiknya menunduk, juga mulai menyendok makanan di bakinya. Vario semakin merasa iba melihatnya.


"Sabar ya, Dit. Semua sudah ada yang mengatur. Ikhlaskan, Dit. Jika kamu ingin, kamu bisa menganggapku sebagai teman. Kamu boleh mengambil apa saja makanan dari piringku jika kita kebetulan sedang semeja. Okey, Dit,,?" Hibur Vario sungguh-sungguh. Judith memandangnya.


"Hanya jika kebetulan semeja,,?" ulang Judith bertanya. Vario menautkan alisnya.


"Apa kamu ingin saat kapan saja kamu mau,,?" tanya Vario tersenyum. Dan Judith pun tersenyum dengan cerah.


"Apa boleh? Tidak apa-apa? Tidak ada yang marah?" tanya Judith bersemangat. Vario terus tersenyum.


"Spesial buat kamu yang sedang patah hati, Dit, boleh,," sahut Vario mengangguk.


"Terimakasih, mas Rio. Aku nggak nyangka banget, kamu ternyata sangat baik." respon Judith.


"Memangnya kenapa,,?" tanya Vario dengan mulut yang sedang berisi makanan.


"Kami menganggap, kamu itu sombong, dingin, no care, dan,,," Judith tidak meneruskan ucapannya. Ghibah jika Vario adalah kaum gay, tidak tega dikatakannya.


"Kenapa tidak di teruskan, Dit? Kamu percaya jika aku pria gay?" tanya Vario terus terang menebaknya.


"Kok kamu sudah ngerti gosip seperti itu, mas?" tanya Judith salah tingkah.


"Mulai sekarang, jangan ikut mengghibahku seperti mereka, Dit." Vario sambil terus menyendok, mengunyah dan menelan.


"Maafkan aku ya, mas,," Judith nampak segan sekaligus merasa menyesal. Mengakui jika Vario adalah lelaki yang baik dan gentle. Merasa gembira, telah memiliki teman baru yang istimewa di penerbangan wisata mereka kali ini. Merasa diri adalah gadis beruntung meski orang yang dicinta telah tega menyakiti.

__ADS_1


__ADS_2